
Bella dia mematung ketika mendengar ucapan Molly, bagaimana tidak, barusan Molly mengatakan bahwa ternyata ayahnya selama ini ada di gudang bawah tanah.
"Kau bercanda, 'kan?" tanya Bella dia menatap Molly dengan tatapan tak percaya.
"Tidak, aku bercanda," jawabnya, "mana mungkin aku bercanda ketika aku ingin menikah dengan Tristan. Aku kan harus menepati janjiku jika ingin menikah dengan Tristan
Seketika, seluruh sendi-sendi Bella terasa remuk. Bagaimana tidak, ruang bawah tanah adalah ruang yang sangat lengkap bahkan tidak ada celah cahaya sedikit pun dan selama bertahun-tahun, ayahnya disimpan di sana.
"Kau pasti berbohong, 'kan?" Bella kembali bertanya karena dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Untuk apa juga aku berbohong? Kau ingin menghampiri ayahmu? Cepat hampiri sana sebelum Mommyku datang," kata molly hingga Bella mengangguk, dengan cepat Bella pun langsung berlari ke arah ruang bawah tanah.
"Cih, dasar bodoh," umpat Molly karena sebenarnya dia berbohong, dia tidak mungkin mengatakan bahwa akan memberitahukan keberadaan ayah sambungnya pada Bella. Bisa-Bisa jika ayah sambungnya di selamatkan m, dia dan ibunya akan diusir dan sekarang dia berencana untuk mengunci Bella di ruang bawah tanah dan dia akan mengatakan pada Tristan bahwa Bella menghilang setelah Dia menepati janjinya.
Di pikiran Molly, tentu saja Tristan akan percaya karena nanti Bella tidak akan bisa dihubungi, sebab di ruang bawah tanah tidak akan ada sinyal. Dia masih berpikir Tristan masih mencintainya dan Tristan pasti akan percaya dengan apa yang dia ucapkan.
Bella berjalan dengan cepat. Rasanya dia tidak sabar untuk segera sampai di pintu yang menghubungkan ke ruang bawah tanah.
Setelah sampai di depan pintu yang menghubungkan ke ruang bawah tanah, Bella menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Matanya sudah membasah. Bagaimana tidak, setelah bertahun-tahun berlalu, akhirnya dia akan bertemu dengan ayahnya.
Perlahan Bella menggerakkan tangannya kemudian wanita cantik itu langsung memegang gagang pintu dan saat masuk, Bella terbatuk-batuk. Wanita cantik itu merasakan dadanya begitu sesak, karena saat masuk debu langsung menghinggapinya, hingga dia tidak bisa bernapas. Penerangan di ruang bawah tanah begitu minim, hingga Bella langsung merogoh saku kemudian mengambil ponsel lalu mengutak-atiknya dan menyalakan senter setelah itu dia berjalan untuk masuk.
"Ayah, Ayah," panggil Bella, dia terus mengucapkan nama ayahnya, tapi tidak ada sahutan dari dalam.
Tiba-Tiba, terdengar suara dari arah luar hingga Bella langsung berlari ke arah pintu lalu dia memutar gagang pintu agar bisa keluar, tapi sayang pintu dalam keadaan terkunci dari luar, tentu saja Molly yang menguncinya.
"Buka! Buka!" Bella berteriak dengan panik. Wanita cantik itu langsung menarik-narik gagang pintu, berharap pintu segera terbuka, tapi sayang apa yang diharapkan Bella tidak terkabul.
Bella langsung berusaha menelepon Tristan, tapi sialnya ternyata ponsel Tristan tidak bisa dihubungi karena tentu saja tidak ada sinyal, hingga pada akhirnya Bella memutuskan untuk berbalik kemudian wanita cantik itu mencari ayahnya terlebih dahulu.
Bella menyusuri lorong yang tampak sepi dan lembab. Sesekali dia mengusap tengkuknya karena terasa merinding.
"Ayah, Ayah," panggil Bella dengan was-was. Dia sudah hampir sampai di ujung ruang bawah tanah, tapi tidak terlihat ayahnya di mana pun, bahkan di ruang bawah tanah ini tidak ada apa-apa, hanya beberapa barang yang tidak berguna.
Bella mencapai ujung di mana tidak ada jalan lagi.
"Di mana Ayah?" Lirihnya. Tiba-Tiba, wajah Bella memucat saat tidak ada ayahnya di mana pun. Wanita cantik itu langsung melihat ke sekelilingnya.
"Tunggu, apa aku dikerjai?"
Sepertinya dia menyadari bahwa Molly mengerjainya, dan sekarang dia juga mengerti kenapa pintu tiba-tiba tertutup. Pada akhirnya, tubuh Bella ambruk di lantai. Dia menangisnya sejadi-jadinya, menelpon orang lain untuk menyelamatkan pun percuma karena tidak ada sinyal.
***
"Molly, kau dari mana?" tanya Peni ketika Molly tampak girang
"Aku sudah mengurung bela diri ruang bawah tanah. Aku tidak ingin dia mengacaukan hubunganku, sesuai dengan yang tadi aku bicarakan dengan Tristan," ucap Molly dengan antusias.
"Apa? Memangnya kau membicarakan apa?" tnya Peni lagi
Molla langsung menarik dengan ibunya kemudian mendudukkan ibunya di sofa, lalu setelah itu dia berkata, "Ternyata Tristan juga menyukaiku," ucap Molly, wajahnya tampak bahagia ketika menjabarkan apa yang terjadi di cafe tadi.
"Wah, hebat sekali, ternyata kalian saling menyukai," kata Peni yang juga turut ikut senang, tentu saja agar dia bisa bekerja sama dengan perusahaan milik Trsitan
"Tapi yang jadi masalahnya, bagaimana jika Tristan menanyakan apakah aku sudah menepati janjiku atau belum," ucap Molly.
"Tunggu, kenapa Tristan harus mengatakan itu, kenapa dia harus menuntutmu untuk menepati janjimu pada Bella?" tanya Peni penasaran.
"Tadi Tristan menanyakan kenapa Bella tiba-tiba menyuruhnya untuk menikah denganku, dan aku menjawab bahwa aku meminta tolong pada Bella agar bisa dekat dengan Tristan. Dan aku juga mengatakan aku akan mengambulkan keinginan Bella karena sudah menyatukan kamu. Dan rupanya Tristan juga berterima kasih pada Bella karena telah menjadi perantara di antara kami Tristan mengatakan dia tidak akan menikah denganku jika aku tidak menempati janjiku pad Bella."
Peni sedikit aneh dengan apa yang diucapkan oleh Molly. "Kenapa Tristan harus mengajukan syarat itu?" tanya Peni.
"Maksud Mommy?" tanya Molly yang tidak mengerti.
__ADS_1
"Kenapa Tristan harus ikut campur? Kau menuntaskan janjimu pada Bella atau tidak, toh jika kalian saling menyukai itu tidak penting, bukan?" tanya Peni lagi.
Molly tampak berpikir, apa yang diucapkan ibunya ada benarnya.
"Mommy tidur usah berpikir jauh-jauh, toh yang terpenting sekarang Tristan menjadi milikku. Kami sepakat untuk mulai berkencan besok," naab Molly lagi, hingga dia terpikirkan sesuatu.
"Tapi Mommy, apakah di sana dia masih bisa bertahan? Apa akan membahayakan nyawanya," ucap Molly yang membahas Bella di ruang bawah tanah.
"Tidak apa-apa, kita masih bisa menahan dia selama dua hari jawabannya lagi," ucapnya, walaupun dia sendiri tidak yaiin, "ya sudah, Mommy akan naik ke atas."
Setelah itu, Peni pun bangkit dari duduknya kemudian dia meninggalkan ruang tamu sedangkan Molly langsung mengutak-atik ponselnya kemudian dia langsung menelepon Tristan. Beberapa kali berdering tapi Tristan tidak mengangkat panggilannya.
"Bukankah dia menyukaiku, lalu kenapa dia tidak mengangkat panggilanku?" tanya Molly yang bergumam lirih.
***
Tristan melihat ke arah ponselnya, dia berdecak malas saat melihat nomor tersebut Molly. Tristan sama sekali tidak menyimpan nomor wanita itu, tapi dari foto profilnya Tristan tahu itu adalah nomor Molly. Ponselnya tidak berhenti berdering karena Molly terus meneleponnya, hingga mau tak mau Tristan langsung mengangkat panggilannya.
"Hallo Baby, kau sedang apa?" tanya Molly di seberang sana.
Tristan bergidik saat Molly memanggilnya baby.
"Halo Baby," panggil Molly ketika Tristan tidak menjawab.
"Oh iya aku masih di sini," jawab Tristan dengan malas.
"Kau sedang apa?" tanya Molly lagi.
"Aku hanya sedang bermain dengan lukisanku," jawab Tristan.
"Bisa kita melakukan panggilan video?" tanya Molly lagi membuat Tristan semakin muak.
"Aku mengantuk, nanti saja, oke?"
"Aku sudah menepati janjiku pada Bella," ucap Molly, mengejutkan Tristan.
"Maksudmu kau sudah menepati janjimu pada Bella?" tanya Tristan. Jantung Tristan berdegup dua kali lebih cepat, dia yakin ada yang tidak benar. Sebab jika apa yang diucapkan adalah benar tentu saja sekarang Bella sudah menghubunginya aku sudah memberitahukannya
Sebab jika apa yang diucapkan adalah benar, tentu saja sekarang Bella sudah menghubunginya. tapi sampai sekarang, Bella tidak menghubunginha.
"Hmm, sekarang Bella sedang pergi untuk membeli sesuatu," ucap Molly.
"Membeli sesuatu? Memangnya kau menjanjikan apa pada Bella?" tanya Tristan lagi.
"Oh, aku hanya memberikan uang yang banyak untuk dia berbelanja, sebab aku merasa dia terlalu mengirit jadi aku memberikan separuh uang tabunganku untuk Bella."
Mata Tristan membulat saat melihat itu, benar ada yang tidak beres.
"Bolehkah aku main ke rumahmu sekarang?" tanya Tristan, tangannya mengepal karena dia yakin ada yang tidak beres.
"Boleh silakan, aku juga ingin mengenalkanmu padamu Mommy," kata Molly lagi dengan antusias, akhirnya dia tidak jadi menunda waktu kencannya besok karena Tristan akan datang sekarang.
Tristan dengan cepat mematikan panggilannya.
'Bella, aku harap kau ingat apa yang harus kau lakukan.' Tristan membatin.
***
Bella membuka tasnya kemudian dia langsung mengeluarkan satu benda, yaitu penggeser besi yang biasa dilakukan untuk membuka pintu yang terkunci dan tentu saja benda itu diberikan oleh Tristan. Tristan takut Bella disekap di suatu tempat atau tidak, Bella dikurung oleh Molly dan ibunya, itu sebabnya Tristan memberikan benda itu pada Bella, benda yang selalu ada di tempat ayahnya dan sekarang Bella sedang mencobanya. Tadi, dia sempat bingung bagaimana caranya keluar dari sini, tapi dia teringat bahwa dia mempunyai alat ini.
Bella tanpa pikir panjang lalu langsung memasukkan benda kecil dengan beberapa fitur, lalu setelah itu Bella menekan tombol hingga beberapa bagian keluar dari alat tersebut, lalu menekan bagian dalam kunci hingga pintu bagian dalam yang ada di pintu langsung longgar dan setelah itu, yerdengar suara 'klik', pertanda pintu sudah tidak terkunci dan bisa dibuka.
Bella dengan pelan memutar gagang pintu kemudian wanita cantik itu menghela napas saat pintu terbuka. Dia melihat ke sekelilingnya. Tidak, dia tidak boleh sampai ketahuan. Biar saja kakak dan ibu tirinya menganggap dia masih berada di ruang bawah tanah, hingga Bella pun berjalan dengan mengendap-endap. Beruntung, tidak ada siapa pun di rumah itu yang melihatnya hingga Bella bisa keluar lewat pintu belakang.
__ADS_1
Setelah keluar, Bella langsung merogoh saku kemudian mengutak-atik ponselnya lalu setelah itu dia menelepon Tristan.
"Halo Bella," panggil Tristan, wajahnya tampak khawatir.
"Tristan aku sedang berada di luar rumah, bisa kamu menjemputku sebentar?" tanya Bella dengan suara yang terengah.
"Kebetulan aku sedang menuju rumahmu, kau dimana?" Tristan lagi yang memang sudah berada di perjalanan dan tak lama, Tristan melihat Bella sedang berdiri hingga Tristan pun memajukan mobilnya lebih cepat dan setelah itu, Bella masuk ke dalam mobil dan Tristan kembali melajukan mobilnya.
Ketika berada di dalam mobil, Bella menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Tristan, dia menghentikan mobilnya sejenak untuk memberikan minum pada Bella.
Bella menerima tumbler dari tangan kekasihnya, lalu setelah itu dia meneguknya hingga handas.
"Kau tahu Tristan, aku hampir saja melupakan benda ini," ucap Bella yang memperlihatkan benda di tangannya.
Tristan mengelus rambut Bella. "Beruntung kau ingat, jika tidak mungkin kau akan terjebak tapi kau dikurung di mana memangnya?" tanya Tristan lagi.
"Aku dikurung di rumah di gudang bawah tanah,"jawabnya.
"Apa?!" Tristan terpekik saat mendengar itu, raut wajahnya memerah tapi dia berusaha meredam emosinya. Seandainya dia bisa, tentu saja dia akan menghancurkan Molly dan ibunya Tristan.
"Ayo kita pergi, aku ingin beristirahat," ucap Bella hingga Tristan mengangguk, dia pun langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya kembali.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tristan sampai di basement apartemen. Tristan turun dari mobil, kemudian dia membukakan pintu untuk Bella karena terlihat jelas wajah Bella terlihat lesu, Bella seperti orang tertidur tapi matanya terbuka.
"Bella," panggil Tristan hingga Bella mengerjap.
Tristan membungkuk kemudian memberikan punggungnya pada Bella, hingga Bella pun langsung menaiki ke punggung Tristan dan kini berjalan sambil menggendong tubuh kekasihnya.
"Tristan," panggil Bella.
"Iya," jawab Tristan sambil terus berjalah.
"Terima kasih karena kau tetap ada di sampingku, tetap menolongku dan tetap mencintaiku," ucap Bella dengan suara yang pelan
Tristan terkekeh.
"Kau harus membayarnya," jawab Tristan, "kau harus mencintaiku seumur hidupmu."
Bella langsung memajukan wajahnya kemudian mengecup Tristan dari samping
dan pada akhirnya, mereka pun sampai di unit apartemen Tristan.
Tristan menurunkan Bella kemudian dia langsung berjalan ke arah dalam lalu membanting tubuhnya di sofa dan setelah itu, Tristan juga mengikuti langkah kekasihnya.
"Tidak ada yang tahu kau keluar, 'kan?" tanya Tristan.
"Tidak, aku tadi keluar dengan mengendap-ngendap." Tiba-Tiba, Bella terpikirkan sesuatu.
"Tadi aku meneleponmu saat kau sedang di perjalanan? Memang kau ingin datang ke rumahku?" tanya Bella lagi.
"Tadinya aku ingin menyusul Molly, mencari tahu di mana kau karena dia mengatakan hal yang tak masuk akal. Beruntung kau menelponku," jawab Tristan, dia langsung mendudukkan diri di sebelah Bella kemudian memegang bahu Bella kemudian menarik kepala Bella agar bersandar di bahunya. Lelaki itu menggenggam tangan Bella, seolah menguatkan kekasihnya.
"Tidak usah berkecil hati, cepat atau lambat kita pasti akan menemukan ayahmu, anak buahku juga sedang selalu mengikuti ibu tirimu," ucapnya.
"Aku takut, Tristan. Bagaimana jika mereka memberikan obat pada ayahku? Bagaimana jika ayahku tidak selamat di tangan mereka?" tanya Bella.
"Aku jamin, itu tidak akan sebab mereka masih membutuhkan ayahmu. Jika ayahmu meninggal, otomatis semua harta jatuh kepadamu. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun," ucap Tristan lagi.
***
Molly berjalan ke sana kemari wanita cantik itu terus merasa gelisah, sebab Tristan belum datang. Ini sudah dua jam berlalu, Tristan mengatakan bahwa lelaki itu sedang berada di perjalanan.
__ADS_1
Namun, setelah dua jam berlalu, lelaki yang dianggap kekasihnya tidak datang. Beberapa kali Molly menelepon Tristan, tapi Tristan tidak mengangkat panggilannya hingga pada akhirnya Molly kembali lagi untuk mengutak-atik ponselnya kemudian menelepon Tristan.