Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Lagi


__ADS_3

"Jadi maksudmu, itu bukan pengacara yang kau tunjuk untuk menggugat ceraiku?" tanya Adrian.


Mayra menarik ponselnya dari tangan Adrian, kemudian dia langsung berjalan ke ranjang tanpa menjawab ucapan lelaki itu, membuat Adrian mengusap wajah kasar. Lelaki itu pun langsung berjalan ke walk-in closet untuk mengganti pakaian, lalu setelah itu dia bergabung bersama Mayra di ranjang dan memeluk Mayra dari belakan.


Mayra yang lelah, tidak menyingkirkan tangan Adrian dari pinggangnya, toh ini juga hari terakhir dia menjadi istri Adrian. Karena besok, dia akan memaksa Adrian untuk menandatangani surat cerai, begitulah pikir Mayra.


"Mayra," panggil Adrian dengan suara yang lemah lembut, membuat Mayra muak.


"Tolong tarik kembali keputusanmu. Aku sungguh bersumpah, aku tidak akan pernah mengecewakanmu lagi. Sekali saja beri aku kesempatan. Jika aku tidak berubah, aku tidak akan melarangmu untuk menceraikanku," ucap Adrian, dia berbicara dengan nada mengiba, berharap Mayra luluh.


"Tutup mulutmu, Adrian. Aku mengantuk. Keputusanku sudah bulat, aku tetap ingin bercerai," balas Mayra dengan sadis.


"Tidak, aku tidak akan menandatangani apapun," kata Adrian dengan kekeh.


"Aku bisa menggunakan surat kuasa," kata Mayra lagi, dia kembali memejamkan matanya berharap Adrian tidak berbicara lagi.


"Mayra, aku mohon," pinta Adrian terdengar memelas.


Mayra menghela napas kemudian setelah itu dia berbalik, hingga kini kedua pasangan suami-istri itu saling menatap.


"Adrian, kau tahu perasaan macam apa yang aku rasakan selama lima tahun ini? Selama menjadi istrimu?" tanya Mayra, dia rasa dia harus mengeluarkan unek-uneknya.


Adrian menunduk.


"Kau pasti menganggap ini hanya angin lalu, kau pasti akan memasukkan ucapanku ke dalam telingamu tapi tidak meresap ke dalam otakmu. Tapi aku mohon, dengarkan ini. Aku dibesarkan di keluarga yang penuh kasih sayang. Aku tidak kekurangan apapun dari kecil. Hak, materi, kasih sayang, kehangatan selalu aku dapatkan dan ketika aku menikah denganmu, aku berharap aku akan mendapatkan itu juga darimu. Oke tidak masalah jika memang itu sikapmu, atau memang karaktermu yang bersikap dingin pada siapa pun termasuk padaku. Tapi, dalam waktu lima tahun aku tidak pernah merasakan sikap hangatmu sedikit pun. Lalu, kau pikir aku bisa bertahan dengan pernikahan semacam ini? Kemarin-Kemarin aku bertahan karena masih memikirkan Alice, tapi aku sadar hidupku lebih berarti. Aku menyayangi Alice lebih dari apapun dan walaupun kita bercerai, tidak akan ada yang berubah. Alice akan tetap menjadi anakku. Jadi, kumohon jangan persulit ini," ucap Mayra. Beban yang ditanggung Mayra hilang seketika saat mengutarakan semua keluh kesahnya pada Adrian. Walaupun tidak semua dia keluarkan, tapi setidaknya dia sudah mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Bukannya menjawab, Adrian malah membawa Mayra dalam pelukannya. "Maka dari itu, izinkan aku menebus kesalahanku. Beri aku waktu satu bulan saja, jika aku tidak berubah, kau boleh menceraikanku. Aku akan menandatangani semuanya," pintanya, "aku mohon, Mayra."


Adrian melepaskan pelukannya lagi, kemudian menatap Mayra hingga tatapan keduanya saling mengunci. Mayra menghela napas dalam.


"Oke, aku memberi waktu satu bulan," jawab Mayra, "tapi jangan berharap aku akan bersikap seperti semula."


"Aku tidak peduli bagaimana sikapmu, karena aku yang harus berjuang lagi mendapatkan hatimu," ucap Adrian, wajahnya terlihat bersungguh-sunguh. Tapi tentu saja itu hanya kebohongan.


Mayra tidak membalas ucapan lelaki itu, dia memilih kembali berbalik dan Adrian memeluk Mayra dari belakang.


"Apa aku tetap boleh berdinas di Korea?" tanya Adrian.


"Terserah kau saja," jawab Mayra.


"Tidak, aku akan tetap di sini," kata Adrian lagi. Dia akan pergi dari rumah sakit itu dan berdinas di rumah sakit lain, setidaknya dia harus membuat Mayra yakin terlebih dahulu.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Alice baru saja pulang dari rumah temannya. Suasana tampak sepi hingga Alice langsung berjalan ke arah kamarnya.


"Alice." Tiba-Tiba terdengar suara Adrian dari arah belakang, hingga Alice menoleh. Gadis remaja itu hanya menoleh sekilas, kemudian masuk ke dalam kamar membuat Adrian menggeleng.


Adrian pun dengan cepat menyusul sang putri kemudian dia ikut masuk ke kamar Alice. "Alice, Daddy sedang berbicara denganmu," ucapnya.


"Bicara saja," jawab Alice. Ini sudah satu bulan berlalu, tapi Alice masih tidak berubah, dia masih bersikap dingin pada sang ayah


"Alice duduk, Daddy ingin berbicara denganmu," titahnya.


Pada akhirnya, Alice menghentakkan kakinya kemudian dia melepaskan tasnya lalu melemparkannya, dan setelah itu dia mendudukkan diri di sofa disusul Adrian yang duduk di sampingnya.


"Kau masih marah?" tanya Adrian.


"Daddy pikir saja sendiri," kata Alice. Dia langsung membelakangi Adrian.


"Iya tahu Daddy salah, Daddy minta maaf. Mommy Mayra juga sudah memaafkan Daddy," ucap Adrian yang berusaha meyakinkan putrinya.


Wajah Alice yang tadinya dipenuhi kekesalan, langsung berubah. "Daddy sudah minta maaf pada Mommy Mayra?" tanya Alice.


"Hm, sudah. Daddy sudah minta maaf pada Mayra," kata Adrian.


"Daddy berbohong," tuduh Alice, "mana mungkin Daddy mau minta maaf duluan."


"Kau bisa tanyakan pada Mommy Mayra," saran Adrian.


"Aku akan tanyakan nanti," jawab Alice.


"Daddy sudah minta maaf, kenapa kau masih cemberut?" tanya Adrian karena putrinya masih terlihat marah padanya.

__ADS_1


"Daddy, apa Daddy tahu apa yang sebulan ini aku pikirkan? Sedari kecil kita hidup berdua. Sedari kecil aku tidak punya siapa pun, bahkan saudara pun tidak ada. Teman-temanku pun jarang ada yang mau bergaul denganku karena aku introvert. Lalu ketika Mommy Mayra datang, aku merasa mempunyai rumah. Aku merasa mempunyai teman, aku merasa hidupku berwarna. Lalu ketika kau membuat kesalahan, aku takut. Bagaimana jika Mommy Mayra pergi dari kita? Aku takut kesepian lagi. Aku menyayangi Mommy Mayra sama dengan aku menyayangi Daddy. Jadi, tolong jangan membuat Mommy kecewa karena aku tidak mau lagi kehilangan sosok ibu," ucapnya panjang lebar.


Adrian menghapus air mata Alice yang sedang berlinang, hingga dia pun langsung membawa Alice ke dalam pelukannya. "Tidak akan, Mommy tidak akan meninggalkan kita. Daddy berjanji," ucapnya.


Helaan napas terlihat dari wajah Adrian. Setidaknya kali ini, dia menekan egonya dan berakhir baik-baik saja.


***


Makan malam berlangsung dengan hening. Sesekali, Adrian berbicara, sedangkan Mayra tetap diam. Tentu saja itu menjadi perhatian Alice. Ketika melihat Mayra seperti ini, jujur saja Alice ketakutan walaupun tadi sang ayah sudah menenangkannya.


"Mommy," panggil Alice hingga Mayra menoleh.


"Mommy baik-baik saja? Mommy tidak apa-apa?" tanya Alice khawatir.


Mayra tersadar, seketika dia mengingat ucapan Alice kemarin. "Mommy tidak enak badan, jadi Mommy tidak menghabiskan makanan," jawabnya.


"Mommy benar-benar tidak enak badan?" tanya Alice memastikan.


"Sayang, istirahatlah. Biar aku nanti bawa makanan ke kamar," ucap Adrian. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri karena mengatakan hal itu pada Mayra, sedangkan Mayra sama sekali tidak tersentuh dengan apapun yang dilakukan Adrian, bahkan ucapan manis Adrian sama sekali tidak mampu menembus hati wanita itu.


"Mommy, istirahatlah," ucap Alice. Hingga Mayra pun mengangguk, kemudian dia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang makan.


"Daddy benar-benar tidak melakukan apapun pada Mommy," ucap Adrian ketika Alice menatapnya dengan tatapan menyelidiki, hingga Alice pun langsung melanjutkan makannya.


***


Adrian masuk ke dalam kamar kemudian dia berjalan ke arah ranjang, di mana Mayra sedang berbaring.


"Kau baik-baik saja?" tanya Adrian ketika melihat Mayra meringis.


"Kakiku sakit," ucap Mayra.


Adrian dengan cepat melihat kaki Mayra, kemudian dia menelitinya lalu setelah itu menanyakan beberapa hal pada istrinya.


"Kau punya penyakit liver?" tanya Adrian hingga Mayra mengangguk. Mata Adrian membulat saat mendengar ucapan istrinya.


"Kau punya penyakit liver, tapi kau tidak memberitahuku?" tanya Adrian. Sepertinya, Adrian memang bukan khawatir, dia sama sekali tidak terkejut, hanya berpura-pura terkejut supaya terkesan peduli.


"Aku lupa, tapi aku tidak terlalu parah," jawab Mayra.


"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Mayra.


"Kau cantik sekali," puji Adrian membuat Mayra berdecak kesal. Tidak ada satu pun ucapan Adrian yang masuk ke dalam hati Mayra, sekalipun itu ucapan manis. Justru yang ada Mayra merasa aneh dengan perasaannya sendiri.


"Kau tidak akan lagi kembali ke Korea?" tanya Mayra.


Adrian menggeleng. "Tidak, aku tidak akan kembali lagi ke Korea. Aku akan tetap bersamamu dan bersama Alice. Siapa tahu, bulan depan Alice akan mempunyai adik," ucapnya jahil.


Mata Mayra membulat saat mendengar ucapan Adrian. "Tidak akan. Alice tidak akan mempunyai adik," tolaknya.


"Kenapa kau tidak ingin punya anak?" Adrian tampak penasaran.


'Bagaimana aku ingin mempunyai anak, sedangkan aku ingin berpisah denganmu? Dasar bodoh,' umpat Mayra dalam hati.


"Jangan bilang kau sudah mengumpatku," ucap Adrian yang bisa menebak raut wajah Mayra. Mayra berdeham, menetralkan wajahnya kemudian dia pun berbalik lalu membelakangi Adrian.


"Aku sudah membawakan makanan untukmu, ayo makan," titah Adrian.


"Nanti saja," kata Mayra hingga Adrian pun tidak berbicara lagi. Adrian menatap Mayra.


"Terima kasih karena kau sudah menyanyangi Alice. Maafkan aku yang hanya memberikan luka untukmu," ungkap Adrian seraya menatap punggung Mayra.


***


Satu bulan kemudian.


Ini sudah satu bulan berlalu semenjak Adrian meminta kesempatan pada Mayra, dan selama satu bulan ini pula, Adrian benar-benar membuktikan ucapannya, yaitu membuktikan bahwa dia menjadi suami yang baik bagi Mayra walaupun dia mengingkari hatinya sendiri. Karena tentu saja, itu hanya sandiwara.


Lalu, selama satu bulan berlalu, Mayra tetap bersikap dingin. Dia hanya bersikap baik pada Adrian di depan Alice dan keputusannya seperti semula, yaitu bercerai dengan Adrian. Namun sepertinya, keinginan Mayra untuk bercerai dari lelaki itu harus tertahan karena suatu hal, di mana saat ini Mayra sedang mengandung.


Selama satu bulan full Adrian tidak berhenti menyentuhnya. Adrian melakukan itu karena dia benar-benar ingin Mayra mengandung, sebab jika Mayra mengandung, Mayra tidak akan pernah lagi berpikir untuk bercerai. Sepertinya, harapan Adrian terwujud karena sekarang Mayra sedang mengandung anaknya.


Mayra mendudukkan diri di toilet. Wanita itu menatap testpack di tangannya. Tidak, bukan dia tidak senang dengan kehadiran calon anak yang sedang dia kandung, hanya saja ini semua melenceng dari dugaannya. Setiap malam Mayra selalu meminum pil pencegah kehamilan, tapi entah kenapa dia masih mengandung. Tanpa Mayra sadari, ternyata pil itu sudah ditukar oleh Adrian di mana Adrian mengganti pil itu dengan obat kesuburan.

__ADS_1


"Sayang, Sayang," panggil Adrian dari arah luar. Lelaki itu begitu berbinar ketika mengetahui Mayra hamil. Sebenarnya, Adrian sudah mengetahui bahwa Mayra mengandung, sebab kemarin dia menemukan testpack samar di kamar mandi, dan hari ini Mayra ingin kembali mengetes dan ternyata garis dua itu benar-benar terlihat pertanda Mayra benar-benar mengandung.


Mayra tersadar kemudian dia pun bangkit dari duduknya, lalu setelah itu berjalan ke arah luar. "Apa?" tanya Mayra.


"Apa ada yang terjadi? Kenapa kau tampak kesal?" tanya Adrian.


"Tidak apa-apa," jawabnya.


Mayra pun langsung berjalan ke arah ranjang. Rasanya, tubuh Mayra langsung tidak bertenaga ketika dia mengetahui bahwa dia mengandung, hingga Adrian pun langsung berbalik kemudian lelaki tampan itu mengikuti Mayra dan berbaring di sebelah wanita itu.


Adrian memeluk Mayra dari belakang, kemudian lelaki tampan itu langsung mengelus perutnya. "Kenapa kau sedih? Kau tidak bahagia mengandung?" tanyanya lemah lembut.


Tiba-Tiba Mayra melepaskan pelukan Adrian, kemudian menoleh ke arahnya. "Kau tahu aku sedang hamil?" tanya Mayra dengan membulatkan matanya.


"Aku tahu," jawab Adrian.


Mayra tidak bertanya lagi. Dia terlalu malas dan terlalu mual menatap suaminya.


"Kenapa? Apa kau tidak senang mengandung? Kau pikir aku wanita yang jahat tidak senang aku mengandung?" Tiba-Tiba Mayra berkata dengan nada tidak terima hingga Adrian dilanda kepanikan.


"Lalu, kenapa kau terlihat kesal?" tanya Adrian.


Mayra bangkit dari berbaringnya. "Aku ini berniat bercerai denganmu, lalu kenapa aku harus mengandung anakmu?" tanyanya.


Mata Adrian membulat saat mendengar ucapan itu. "Kenapa kau kukuh bercerai? Aku, 'kan, sudah membuktikan bahwa aku akan berubah, lalu kenapa lagi?" tanya Adrian dengan lemah lembut, padahal saat ini dia ingin sekali mengutuk Mayra yang sok-sokan ingin menceraikannya.


"Dengar, aku sama sekali tidak terpengaruh dengan perubahanmu. Tidak mungkin waktu lima tahun bisa ditebus dengan waktu hanya satu bulan. Kau mengerti, 'kan, maksudku? Aku ingin bebas. Aku tidak ingin terus terperangkap dalam rumah tangga yang tidak bernyawa. Tapi lihatlah, kau malah menghamiliku!" teriak Mayra membuat Adrian mengusap wajah kasar. Dia juga ikut bangkit dari berbaringnya, hingga kini kedua orang itu duduk bersila sambil berhadap-hadapan.


"Mayra, aku tahu waktu satu bulan tidak akan bisa menebus waktu lima tahun, tapi bukankah kita akan melewati waktu yang lama? Lalu kenapa kau masih tidak percaya padaku? Kau boleh ambil apapun hartaku atau apapun, tapi tolong jangan tinggalkan aku," ucap Adrian tapi dalam hati dia mengatakan sebaliknya.


'Jika bukan karena Alice, aku tidak mau membujukmu seperti ini.' Adrian membatin sedangkan Mayra menunduk.


"Aku takut kau mengecewakanku lagi, jadi daripada ...." Belum Mayra meneruskan ucapannya, Adrian sudah membawa Mayra ke dalam pelukannya.


"Kau tidak akan percaya padaku? Kau tahu saat kau mengatakan akan bercerai, rasanya aku menyesali sikapku padamu. Pernah dengar pepatah bahwa orang akan berubah ketika kehilangan? Itulah yang aku rasakan, Mayra." Adrian terus mengumamkan kata manis, bahkan dia menatap Mayra dengan penuh ketulusan. Tanpa Mayra tahu, itu hanyalah topeng.


Mayra menunduk, sepertinya ucapan Adrian barusan benar-benar membuat Mayra sedikit luluh, hingga pada akhirnya Adrian menggenggam tangan Mayra.


"Kau mau, 'kan, memberi aku kesempatan?" tanya Adrian.


Mayra mengangguk. "Tapi jika kau berubah lagi seperti dulu, aku benar-benar akan pergi," ucapnya lagi hingga Adrian kali ini yang mengangguk, lalu membawa Mayra ke dalam pelukannya.


***


Tiga bulan kemudian.


Ini sudah tiga berlalu dan usia kandungan Mayra sudah menginjak empat bulan. Selama empat bulan ini, Adrian benar-benar memperlakukan Mayra dengan baik, hingga Mayra terlena. Dia sudah tidak memikirkan lagi kesalahan Adrian selama lima tahun ke belakang, karena Adrian benar-benar layaknya seorang suami.


Namun, berbeda dengan Adrian. Setelah empat bulan berlalu, sepertinya Adrian mulai lelah bersandiwara. Bagaimana tidak, setiap hari dia harus mempunyai dua kepribadian. Dia lelah meladeni omelan Mayra, dia lelah meladeni kekecewaan wanita itu. Dia juga lelah ketika Mayra terus menuntut tanpa mau mendengarkan. Dia lelah, dan sepertinya setelah empat bulan berlalu, Adrian ingin sejenak menikmati waktunya dengan berpura-pura pergi ke Korea lagi.


"Kenapa kau harus pergi ke Korea lagi? Bukankah kau sudah berjanji tidak akan pergi lagi ke sana?" protes Mayra ketika Adrian meminta izin kepadanya untuk pergi.


"Ini hanya satu bulan. Aku ada tugas di sana. Setelah satu bulan, aku akan kembali lagi ke sini," jawab Adrian. Tentu saja dia berbohong, sebab setelah satu bulan berlalu, dia akan meminta izin lagi untuk memperpanjang pekerjaannya di rumah sakit yang ada di luar kota yang Mayra tahu itu rumah sakit Korea.


Adrian bangkit dari duduknya kemudian dia langsung menghampiri Mayra yang sedang berdiri. Sepertinya, wanita itu akan merajuk.


"Sayang, ini hanya satu bulan. Aku mempunyai tanggung jawab. Selama empat bulan aku mengambil cuti dan setelah satu bulan di sana, aku akan langsung keluar dari rumah sakit itu," ucap Adrian.


"Kalau begitu aku ikut," pinta Mayra. Sejatinya, dia hanya ketakutan bahwa sikap Adrian akan kembali berubah hingga dia tidak mengizinkan Adrian untuk pergi.


Mata Adrian membulat saat mendengar Mayra ingin ikut. Dia memutar otak, bagaimana caranya untuk mengelabui?


"Sayang, kehamilanmu masih sangat rawan untuk berpergian menggunakan pesawat. Apalagi, jarak Korea dan Rusia itu sangat jauh. Jadi, kau tidak bisa ikut," ucapnya.


Mayra tampak berpikir. Sepertinya tidak ada gunanya melarang Adrian untuk pergi. "Baiklah, aku izinkan. Tapi kau harus selalu mengabariku, kau harus selalu membalas pesanku, kau harus selalu mengangkat panggilanku," ucap Mayra bertubi-tubi.


Adrian menghela napas. Belum pergi saja Mayra sudah menuntutnya sebanyak ini, tapi mau tak mau dia mengangguk, yang penting dia jauh terlebih dahulu dari wanita di depannya ini.


"Pasti Sayang, mana mungkin aku tidak menghubungimu. Kau pikir aku tidak akan rindu padamu?" tanya Adrian hingga Mayra langsung memeluk suaminya.


"Kapan kau pergi?" tanya Mayra ketika dalam pelukan Adrian.


"Mungkin dua hari lagi," jawabnya.

__ADS_1


"Ayo temani aku berbelanja. Aku ingin membeli pakaian bayi," kata Mayra lagi hingga Adrian mengangguk dengan helaan napas kasar.


__ADS_2