Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Duka Alice


__ADS_3

Mayra menoleh ke arah jendela. Dia merasa ada yang memperhatikannya. Sayangnya, ketika Mayra menoleh, Alice sudah tidak ada di sana.


"Kenapa?" tanya Tommy.


"Tidak, aku merasa ada yang memperhatikan," jawab Mayra.


"Itu hanya perasaanmu," jawab Tommy hingga Mayra pun mengangguk. Akhirnya, acara makan siang bersama pun selesai. Semua keluarga sudah kembali, begitu pun dengan Mayra dan juga Tommy. Kini, mereka memutuskan untuk pulang ke villa milik Tommy dan akan ada di sana selama beberapa hari. Sementara Salsa tentu saja bersama ibu Tommy.


Tommy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tersenyum ketika melihat Mayra tampak menikmati pemandangan karena memang jalan ke villa Tommy melewati pemandangan yang sangat indah.


"Kau suka?" tanya Tommy.


"Aku suka," jawab Mayra.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tommy sampai di villa. Dia pun langsung mengajak Mayra untuk turun, dan mereka pun masuk ke dalam villa. Setelah masuk ke dalam villa, tentu saja mereka langsung melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Kali ini lebih bebas dan lebih leluasa.

__ADS_1


***


"Nona Alice, Anda tidak apa-apa?" tanya sopir pada Alice yang menangis sesenggukan.


"Tidak apa-apa," jawabnya. Dia masih tidak bisa menghentikan tangisnya.


Alice menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia memegang dadanya yang terasa nyeri. 'Apa Mommy tidak merindukanku? Apa secepat itu Mommy melupakanku?' Alice membatin hingga pada akhirnya, tangisnya lebih mengencang.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi Alice sampai di kediaman neneknya karena memang, sampai detik ini Alice belum mau kembali ke rumah ayahnya. Dia juga belum mau berbicara dengan sang ayah, padahal ini sudah hampir satu tahun berlalu.


"Paman, tolong antarkan aku ke tempat lain," ucapnya.


"Anda ingin ke mana, Nona?" tanya sopir.


"Tolong antarkan aku ke makam ibuku," jawab Alice. Jujur, dia benar-benar merasa sendiri, dia kesepian. Kepergian Mayra seolah merenggut jiwa gadis remaja itu.

__ADS_1


"Anda yakin, Nona?" tanya Alice.


"Aku yakin," kata sopir karena makam mendiang ibu Alice berada di tempat yang sangat jauh, bahkan memerlukan waktu dua jam untuk pergi ke sana.


"Apa Anda tidak ingin pamit pada nenek Anda?" tanya sopir.


"Nanti saja. Aku akan menelpon nenek," jawab Alice hingga pada akhirnya sopir pun mengangguk. Dia pun langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di pemakaman.


"Paman, tolong tunggu di sini. Jangan pergi ke mana-mana, aku hanya ingin diam sebentar di makam ibuku," kata Alice.


Ketika sampai Alice pun turun dari mobil kemudian tak lupa, dia membawa bunga yang sudah dia beli, lalu setelah itu dia berjalan masuk ke area pemakaman.


"Halo Mommy," kata Alice. Dia membungkuk, menaburkan bunga ke makam ibunya.

__ADS_1


Alice tidak berbicara. Dia berjongkok sambil memeluk lututnya, lalu menatap nisan sang ibu dengan mata yang membasah. Jangan ditanyakan betapa hancurnya hati Alice. Hari ini, pertama kalinya dia melihat Mayra setelah setahun berlalu dan ketika datang ke pemakaman ibunya, tentu saja Alice ingin menangis sekencang-kencangnya tapi dia berusaha menahannya.


__ADS_2