Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Keluh kesah


__ADS_3

Berapa saat berlalu, dokter keluar dari ruang rawat yang ditempati oleh Bella hingga Tristan yang sedang melamun, langsung bangkit dari duduknya. Dia menghapus air matanya lalu menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Tristan, kakinya seolah tidak berpijak pada bumi ketika melihat wajah dokter. Entah kenapa dari wajah dokter saja Tristan bisa menilai bahwa kondisi Bella tidak baik-baik saja.


"Kondisi istri Anda bisa dibilang lumayan parah, bahkan jika istri Anda tidak sadar istri Anda akan dinyatakan koma," ucap dokter. Tubuh Tristan limbung, dia bahkan hampir saja terjatuh. Namun, beruntung dia bisa mengendalikan dirinya. Apa yang diucapkan oleh dokter sangat mengejutkan.


Rupanya, Bella mengalami overdosis. Bagaimana tidak, dia memakan semua obat lalu setelah itu dia menyayat urat nadinya. Bella masih bisa bernapas saja itu sudah suatu keajaiban, apalagi Bella kehilangan banyak darah.


"Maksud dokter, istri saya akan koma?" tanya Tristan yang masih berusaha menguatkan dirinya untuk bertanya. Hatinya benar-benar tidak kuat untuk mendengar jawaban dokter.


"Kita doakan saja yang terbaik. Kami pun akan melakukan yang terbaik untuk mengeluarkan racun dari tubuh istri Anda. Kalau begitu kami permisi." Dokter pun langsung pamit pada Tristan m, sedangkan di ruangan yang ditempati oleh Bella, masih ada suster dan tak lama suster pun keluar dari ruang rawat.


"Jika Anda menjenguk, silakan. Dokter akan kembali memantau satu jam sekali," ucap perawat pada Tristan hingga Tristan mengangguk. Tristan tidak langsung masuk. Dia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian lelaki itu membuka pintu.


Saat masuk, Trsitan menghela nafas berat. Nafasnya tersendat saat melihat Bella terbaring di brankar. Dengan langkah yang super pelan menghampiri istrinya. Dia menatap wajah Bella dan sialnya, dia menyadari bahwa sekarang tubuh Bella sangat kurus, wajah istrinya sangat tirus bahkan terlihat jelas bahwa tubuh Bella hanya tinggal tulan.


Bagaimana Bella tidak kurus, Cobaan Bella bertubi-tubi, dia ditempa rasa sakit yang terus menghadangnya itu sebabnya Bella berada di pada titik lelahnya, Bella berpikir Tristan tidak akan pernah kembali lagi seperti dulu. Tristan sudah mencintai wanita lain dan apa yang dia lakukan semuanya sia-sia, bertahan di sisi Tristan menyakitkan tapi pergi dari sisi Tristan lebih menyakitkan hingga pada akhirnya melakukan hal nekat seperti tadi.


Tristan menarik kursi, lalu setelah itu dia menggenggam tangan Bella. Bahkan tangan Bella pun hanya tinggal tulang. "Tuhan." Hanya itu yang bisa Tristan katakan, menyesal pun percuma dan mungkin jika barusan Tristan tidak pulang ke apartemen, dia sudah kehilangan Bella. Tak lama, Tristan tersadar ketika ada yang mengelus punggungnya dan ternyata itu adalah Shelby.


Rupanya sesudah Bella ditangani oleh dokter, Shelby menelpon Tristan dan karena Shelby terus bertanya, Tristan langsung mengatakan bahwa dia sedang di rumah sakit karena menemani Bella, hingga Shelby langsung menyusul ke rumah sakit. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Bella, tapi ketika melihat menantunya terbaring seperti ini, dia yakin apa yang terjadi dengan menantunya pasti sangat parah.


"Kenapa dengan Bella?" tanya Shelby dengan suara yang sangat pelan. Dia menatap Bella dengan lekat, dia tah masalah Tristan dan Bella sangat besar


Tristan menjelaskan garis besarnya saja entang apa yang dia lakukan dan Bely engerti walaupun Tristan hanya mengucapkan garis besarnya saja. Dia berbicara dengan suara yang pelan dengan nafas yang tersendat.


"Ayo ikut Mommy," ajak Shelby yang mengajak Trsitan untuk duduk di luar. Sepertinya, Tristan tidak bisa diberitahu dengan kekerasan walaupun sebenarnya dia juga ingin mengamuk sama seperti tadi Darren mengamuk pada Tristan. Bagaimana mungkin putranya melakukan kesalahan seperti ini?


Pada akhirnya walaupun berat untuk meninggalkan ruang rawat Bella, tapi Tristan langsung menyetujui ucapan ibunya untuk berbicara di luar dan sekarang Tristan dan Shelby sedang duduk di kursi tunggu. Tidak ada yang berbicara, kedua anak dan ibu itu sama-sama terdiam hingga pada akhirnya, Shelby mengelus rambut Tristan.


"Katakan pada Mommy apa alasannya? Apa kau pernah berbuat lebih dengan Flora?" tanya Shelby dia langsung berbicara secara tho the point.


Tristan dengan cepat menggeleng. "Kami hanya berpelukan, saling menggandeng tangan. Sesekali Flora mencium pipiku, itu saja sudah," ucap Tristan seraya mengusap wajah kasar, jika ingat itu, rasanya Tristan ingin mengutuk dirinya sendiri. Dia sengaja tidak mengatakan bahwa dia hampir tergoda, jual dia mengakan mengatakan pada ibunya. Jika dia mengatak itu pada ibunya, tentu saja ibunya akan murka, toh dia juga tida sampai melakukan hal seperti itu dengan Flora dan dia juga baru mencium bibir Flora satu kali ketika Flora menggodanya.


"Kenapa kau sampai melakukan ini? Kau melakukan ini pada Bella karena kau terlalu kesal?" tanya Shelby, memastikan. Dia mencoba untuk memberikan Tristan nasihat dan Tristan pun mengangguk, mengiakan ucapan Bella.


"Aku lelah. Setiap hari berkutat dengan pekerjaan, belum menghadapi Bella. Aku juga ingin mempunyai hiburan, aku ingin mempunyai anak tapi Bella tidak bisa diajak kerja sama. Tapi aku sadar itu bukan salah Bella," jawab Tristan, dengan suara yang pelan.


"Kau tahu betul bagaimana saat kita kehilangan Daddy. Bagaimana hancurnya Mommy, kau melihat bukan? Selama dua tahun Mommy depresi, lalu kenapa kau masih tidak bisa mengerti perasaan istrimu? Kenapa setelah istrimu berubah, kau malah semakin menjadi-jadi?" cecar Shelby yang berusaha mengingatkan putranya.


Mendengar ucapan ibunya, Tristan tertunduk. Dia tidak berani membantah karena apa yang diucapkan oleh ibunya benar. Sekarang, dunia Tristan benar-benar menggelap. Dia teringat soal tadi, di mana dia melihat Bella bersimbah darah. Sungguh, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu dengan istrinya.


Waktu menunjukkan pukul dua malam.


Dari tadi, Tristan melihat wajah Bella. Apa yang dia rasakan hanyalah rasa takut kehilangan Bella yang lebih besar daripada rasa sakit yang dia terima karena hajaran ayahnya.


"Bella, aku mohon bangun," ucap Tristan, " aku mohon jangan tinggalkan aku." Trsitan berucap pelan. Namun, penuh dengan perasaan.


Tristan terus menggenggam tangan Bella hingga beberapa saat berlalu, rasa kantuk langsung menyerang Tristan hingga pada akhirnya, dia terlelap sambil menggenggam tangan istrinya.


Keesokan harinya.


Bella mengerjap, wanita itu membuka mata. Saat dia membuka matanya, rasa sakit langsung menderanya. Kepalanya terasa nyeri, tenggorokannya terasa perih bahkan dia merasakan seluruh tubuhnya remuk.


Sejenak, Bella tidak mengingat apapun yang terjadi. Wanita itu bingung dia ada di mana dan kenapa dia seperti ini, kenapa dia da di sini.


'Tunggu, apakah aku ada di surga sekarang?' batinnya karena dia mengingat semuanya. Dia pikir dia sudah meninggalkan dunia karena dia ingat betul dia mengunci pintu, memakan obat, menyayat nadinya dan dia yakin tidak ada yang menemukannya hingga dia sekarang berpikir bahwa dia sudah meninggal. Apalagi saat itu Trsitan tidak ada.


Namun tak lama, Bella menoleh ke arah tangan yang dipasangi selang infus. Sekarang dia sadar dia selamat. Beberapa pertanyaan berputar-putar di otak wanita itu. Bagaimana dia ada di sini? Siapa yang membawanya ke rumah sakit dan siapa yang menyelamatkannya?


Tiba-Tiba, terdengar suara pintu terbuka hingga Bella langsung memejamkan matanya karena dia ingin tahu siapa yang datang. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat menyadari siapa yang datang, karena dia mengenal betul aroma parfum wangi yang di pakai oleh Tristan.


'Tunggu, apa Tristan yang membawaku?' batinnya. Entah kenapa rasa sesak semakin menjadi-jadi ketika menyadari itu, padahal sebelum dia melakukan itu, Tristan menghardiknya habis-habisan.


Tristan yang baru saja menelepon, belum menyadari bahwa sebenarnya Bella sudah tersadar hingga Bella kembali mendudukkan dirinya di sebelah brankar yang ditempati oleh istrinya, kemudian dia menggenggam tangan Bella. Hati Bella terasa mencelos saat Tristan menggenggam tangannya.


Dia lupa kapan terakhir kali Tristan menggenggam tangannya seperti ini. Mungkin jika dia belum mengetahui hubungan Tristan dan Flora, dia akan merasa sangat senang ketika Tristan mau membuka hati lagi, mau memaafkannya. Namun entah kenapa, hatinya berbeda. Bayangan Tristan menggenggam tangan wanita lain membuat Bella rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya.


Tristan terharu saat melihat ada air yang jatuh di bantal, hingga Tristan melihat ke arah wajah Bella, ternyata Bella mengeluarkan air mata. Hingga Tristan pun langsung bangkit dari duduknya.


"Bella," panggil Tristan hingga Bella tidak bisa berpura-pura lagi. Wanita itu membuka mata kemudian menoleh ke arah Tristan.


"Sayang, kau sudah sadar?" tanya Tristan dengan tatapan terkejut dan tak percaya.


'Aku rindu sekali dengan tatapanmu yang seperti itu, tapi entah kenapa rasanya menyakitkan.' Bella membatin, tapi dia hanya bisa tersenyum samar. Entah kenapa, dia merasa tatapan saat Triztan berbeda.


"Sebentar, aku akan panggilkan dokter," ucap Tristan yang langsung berbalik untuk memanggil dokter dan memberitahukan bahwa Bella sudah sadar.


“Tunggu sebenatar, dokter akan kemari sebenayt lagi," ucap Tritan ketika dia sudah memanggil dokter. Rasa canggung langsung menghinggapi Bella dan Trsitan. Jujur Tristan bingung harus mulai dari mana untuk meminta maaf.


***


Dokter sudah selesai memeriksa Bella. Kondisi Bella sepertinya sudah jauh lebih baik daripada hari pertama dia dibawa ke rumah sakit. Dokter juga berhasil mengeluarkan racun-racun yang ada di tubuh Bella, racun yang disebabkan oleh obat penenang yang Bella minum hingga kini di ruangan itu hanya ada Tristan dan Bella.


Bella memejamkan matanya karena dia masih enggan berbicara dengan Tristan, begitu pun dengan Tristan yang bingung harus memulai dari mana. Begitupun dengan Tristan yang juga bingung harus mulai berbicara apa.


"Bella," panggil Tristan dengan nada yang berat, hingga akhirnya dia memberanikan diri memanggil istrinya. Walaupun dia ragu untuk berbicara dan takut melihat respon Bella. Tapi, dia tetap teguh untuk berbicara


Bella membuka mata dan lagi-lagi dia hanya tersenyum. Tristan lupa Bella adalah tipe wanita yang tidak pernah memperlihatkan apapun yang dia rasa. Bella akan tetap seperti ini, sesakit apapun istrinya.


" Hmm, Tristan," jawab Bella tanpa suara, tentu saja karena tenggorokannya masih perih dan sedetik kemudian, Tristan tidak kuasa menahan tangisnya hingga dia membungkuk kemudian memeluk tubuh Bella, lalu setelah itu menangis memeluk istrinya menggumamkan kata maaf sebanyak-banyaknya.


Lagi-Lagi, harusnya Bella senang, tapi rasanya berbeda. Namun inilah Bella, tidak pernah mengungkapkan apa yang dia rasa pada siapapun, entah sedih, senang, Bella akan tetap sama. Terlalu berat untuk menyimpan sendiri, tapi terlalu berat untuk di bagikan ke orang lain.


Satu bulan kemudian.


Tidak terasa, ini sudah satu bulan berlalu semenjak Bella dirawat di rumah sakit selama satu bulan ini pula, Tristan selalu menemani Bella. Dia bahkan tidak pergi ke kantor. Dia tidak pergi kemana pun, lelaki tampan itu benar-benar fokus mengurus istrinya. Bisa dibilang masalah mereka sudah clear. .


Tristan sudah menjelaskan semuanya, dia sudah meminta maaf, bahkan dia juga bersumpah bahwa dia tidak berbohong bahwa dia dan Flora tidak mempunyai hubungan apa-apa, mereka hanya sebatas teman yang nyaman satu sama lain.


Tristan mengatakan bahwa sekarang dia tidak akan bertemu dengan Flora lagi. Dia tidak akan menemui wanita itu. Tristan juga meyakinkan Bella bahwa dia dekat dengan Flora karena Flora mengingatkan padanya ketika Bella masih ceria, itu sebabnya dia nyaman.


Satu bulan lalu ketika dia melihat Bella terkapar di lantai, detik itu pula Tristan menyadari kekeliruannya, menyadari bahwa dia hanya kurang sabar menghadapi Bella. Dia tak sadar bahwa ini bukan kesalahan Bella, tapi kesalahannya sebab Bella sudah berusaha merubah, tapi dia malah tetap tak acuh pada istrinya hanya karena sebatas ego.


Pada akhirnya, setelah satu bulan dirawat, Bella diizinkan pulang. Mungkin bagi Tristan semua masalah sudah selesai, Bella sudah memaafkannya. Namun, tidak bagi Bella. Walaupun tetap bersikap baik-baik saja, tetap saja rasa sakit itu sudah ada. Bella hanya ingin menjalani semuanya seperti air, entah apa yang akan terjadi ke depannya.


Bella yang sedang melamun, langsung tersadar ketika Tristan masuk ke dalam ruangan. Sepertinya, Tristan baru saja mengurus administrasi.


kita pulang sekarang," ajak Tristan hingga Bella mengangguk.

__ADS_1


Tristan mengulurkan tangannya pada Bella, hingga Bella langsung menerima uluran tangan Tristan walaupun hatinya meronta-ronta agar melepaskan tangannya dari tangan Tristan Jika boleh dibilang, mungkin saja Bella sedikit jijik dengan suaminya, teringat bahwa tangan ini pernah digandeng oleh wanita lain.


Jika ditanya apakah Bella percaya dengan apa yang diucapkan Tristan, jawabannya tidak. Bella tidak percaya, mana mungkin seorang lelaki dekat dengan seorang wanita tidak melakukan apapun? Apalagi Tristan sering datang ke apartemen Flora.


Saat Tristan meminta maaf beberapa waktu lalu, dia tidak menyebutkan pada Bella bahwa dia sering datang ke apartemen Flora.. Dia memang sengaja tidak mengatakan itu karena dia takut Bella semakin terluka. Biarlah Tristan tidak mengatakannya, asal semuanya sudah baik-baik saja, begitulah pikir lelaki itu.


Tristan menjalankan mobilnya dengan kecepatan pelan. Hari ini, dia mengendarai mobilnya untuk pulang ke apartemen lainnya. Dia tidak ingin pulang ke apartemen yang sebelumnya mereka tempati, karena tentu saja memberikan banyak luka untuk Bella.


"Sayang, kau ingin membeli sesuatu?" tanya Tristan sambil menoleh


Bella langsung menoleh dan menggeleng. "Terima kasih, aku hanya ingin istirahat," jawab Bella. Tristan mengangguk.


Walaupun Tristan sudah tak menganggap ini, berpikiran Bella baik-baik saja, tapi Tristan juga tahu tidak mudah untuk Bella menerima semua. Dia hanya harus terus membuktikan bahwa dia benar-benar menyesal.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tristan sampai di basement apartemen. Bella langsung melihat kesana kemari Tristan.


"Kita di mana?" tanya Bella.


Tristan menggenggam tangan Bella dan lagi-lagi, Bella rasanya dia ingin menepis tangan suaminya.


"Apartemen kemarin terlalu banyak memberikan luka, jadi aku ingin memulai suasana baru," jawab Tristan.


"Oh begitu," jawab Bella.


Setelah itu, Tristan pun turun dari mobil diikuti Bella.


"Tristan, aku ingin istirahat, boleh aku tidur duluan?" tanya Bella. Walaupun sudah pulih, tapi wajah Bella masih terlihat pucat, belum lagi selama di rumah sakit sampai saat ini, Bella benar-benar kehilangan banyak berat badan. Bella juga belum mau memakan makanan yang berat, tentu saja itu semua karena guncangan hebat yang dia terima.


"Aku akan mengantarkanmu ke kamar," kata Tristan hingga Bella mengangguk, lalu setelah itu Bella pun langsung berjalan ke arah kamarnya.


Bersama Tristan, Bella membaringkan tubuhnya di ranjang kemudian dia menarik selimut. Tatapan matanya menatap lurus ke depan. Sungguh, dia merasa asing dengan situasi ini. Tristan suaminya, tapi entah kenapa perasaannya jauh berbeda walaupun tak dipungkiri cinta itu masih ada untuk suaminya. Bella mendadak merasa rindu ayahnya.


'Ayahmu tidak akan pernah hidup kembali.'


Bella memejamkan matanya, tangisnya berlinang ketika mengingat ucapan Tristan saat itu. Bahkan sekarang, Bella tidak berani datang lagi ke makam ayahnya karena takut mendengar hal yang menyakitkan, padahal saat ini Bella ingin sekali pergi ke sana untuk sekadar meluapkan kesedihannya.


Keesokan harinya.


Tristan menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara pintu diketuk, hingga dia pun mempersilahkan sekretarisnya untuk masuk.


"Ada apa?" tanya Tristan.


"Tuan, ada Nona Flora," ucap sekertarisnya.


Tristan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Padahal setelah Bella masuk rumah sakit, dia sudah berkata tegas pada Flora bahwa dia tidak ingin lagi bertemu dengan wanita itu dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Bella. Entah kenapa sekarang wanita itu datang lagi.


"Suruh dia masuk," ucap Tristan. Sepertinya dia harus menegaskan sesuatu pada Flora, dan tak lama Flora pun masuk ke dalam.


"Silakan duduk," ucap Tristan.


"Tristan, kenapa kau tega mencabut kuasaku untuk bekerja di kantor ini? Aku sudah menangani beberapa kasus untukmu," ucap Flora.


"Flora, maaf seperti yang sudah aku sampaikan, aku tidak ingin membuat Bella terluka," ucap Tristan.


"Aku yang korban di sini, bukan kau. Kau yang membuat aku begini dan dulu kau bersikap seperti menyukaiku. Aku terima dicampakkan olehmu, tapi kenapa sekarang harus menghentikan pekerjaanku?" tanya Flora dengan berapi-aoi.


"Aku minta maaf soal itu. Jujur karena selama bersama denganmu, aku tidak pernah menganggapmu sebagai wanita lain. Dalam artian kata, aku seperti melihat Bella di masa lalu. Aku merindukan Bella yang ada pada dirimu, itu sebabnya aku mendekatimu. Tapi kemarin saat Bella di rumah sakit, aku sadar aku tidak mau kehilangan dia," kata Tristan.


"Sudah aku bilang, aku tidak ingin membuat Bella curiga. Aku tidak ingin membuat Bella merasakan sakit lagi, jadi kumohon, tolong jangan bahas ini lagi. Aku akan mengirimkan kompensasi yang besar sebagai tanda permintaan maafku," ucap Tristan.


Flora bangkit dari duduknya kemudian Flora keluar dari ruangan Tristan, membuat Tristan menghela napas kasar. Dia pun langsung bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah ruang kerjanya.


Tristan mengotak-atik ponselnya, berniat untuk menelepon Bella. Namun tak lama, Tristan teringat sesuatu bahwa dia tidak mempunyai nomor istrinya.


"Tristan, kenapa kau bodoh sekali?" Tristan mengusap wajah kasar merutuki kebodohannya. Sekarang, bagaimana dia minta nomor istrinya? Tidak mungkin dia meminta pada keluarganya, apalagi pada Theresia karena pasti semua akan kembali kacau.


Pada akhirnya, Tristan memutuskan bangkit dari duduknya kemudian lelaki tampan itu langsung keluar dari ruangannya. Dia berniat untuk mengajak istrinya makan siang dan sekarang di sinilah Tristan berada, di unit apartemen miliknya. Dia pun langsung bergegas untuk keluar dari mobil lalu setelah itu dia berjalan dengan cepat ke arah unit apartemennya.


Saat dia berjalan, terdengar suara dari arah dapur hingga Tristan langsung menoleh dan ternyata Bella yang memasak. Tristan tersenyum getir ketika mengingat saat itu dia sering mengabaikan Bella yang sudah memasak untuknya, dan dia tidak pernah memakan masakan istrinya. Dia rindu pada masakan Bella. Aroma wangi langsung tercium membuat Tristan langsung maju ke arah istrinya. Tiba-Tiba, Tristan berdeham membuat Bella langsung menoleh. Dia memegang dadanya.


"Tristan, kamu mengagetkanku," ucap Bella sambil memegang dadanya.


Tristan menarik kursi kemudian dia mendudukkan dirinya di depan Bella yang sedang memasak.


"Kau hanya memasak satu porsi?" tanya Tristan.


"Kau mau?" tanya Bella dia berharap Trsitan tidak mau, karena dia enggak berbagi.


Walaupun percakapan keduanya terlihat sangat normal, tapi Tristan merasakan bahwa hubungannya sekarang dan Bella penuh dengan kecanggungan. Seandainya Tristan bisa memilih, dia ingin Bella marah padanya. Dia ingin Bella memakinya daripada Bella tetap berpura-pura baik-baik saja.


Tristan pikir bahwa Bella sudah baik-baik saja, tapi setelah mereka pulang dari rumah sakit, Tristan yakin istrinya masih menyimpan luka, itu terbukti ketika Bella tidak pernah mau melihat ke arahnya, selalu menghindar ketika dia akan menyentuhnya dan Tristan bingung harus bagaimana.


"Aku mau," jawab Tristan.


"Ya sudah, kau bisa tunggu di meja makan," ucap Bella hingga Tristan mengangguk.


Setengah jam kemudian, akhirnya acara memasak pun selesai.


Bella langsung membawanya ke arah meja makan lalu menyiapkannya pada Tristan. Kini, dia pun langsung melahap makanannya.


"Apa ada yang kurang?" tanya Bella ketika Tristan terdiam setelah menyuapkan satu suapan ke dalam mulutnya. Tristan dengan cepat menggeleng. Memakan makanan Bella rasanya Tristan ingin sekali menangis. Dia membayangkan bagaimana jika saat itu Bella tidak selamat. Dia tidak lagi memakan masakan istrinya.


"Tidak, ini sangat enak," jawab Tristan. Dia pun langsung menyuapkan makanannya kembali.


Akhirnya, acara makan pun selesai. Bella bangkit dari duduknya dan Tristan sebenarnya masih banyak pekerjaan di kantor, tapi entah kenapa dia ingin menghabiskan waktunya dengan Bella.


"Tristan, kau tidak pergi lagi ke kantor?" tanya Bella ketika Tristan membuka jasnya dan kemejanya, hingga kini lelaki itu bertelanjang dada.


Bella bingung dengan apa yang akan dilakukan suaminya, hingga tak lama Bella mengikuti langkah Tristan yang mengajaknya untuk ke kamar lalu setelah itu, Tristan naik ke ranjang diikuti juga Bella.


"Tristan, apa yang kau lakukan?" tanya Bella, sungguh dia takut Tristan menyentuhnya. Bella belum siap untuk melayani Tristan, Bella belum mau melayani suaminya karena tentu saja dia merasa jijik karena terbayang saat Tristan menyentuh Flora.


"Tidak, aku hanya ingin memelukmu. Sudah lama sekali aku tidak memelukmu," kata Tristan hingga Bella langsung berbaring lalu dia membelakangi Tristan, dan dia langsung memeluk istrinya dari belakang.


"Sayang, bagaimana jika kita berlibur? Sudah lama sekali kita tidak pergi berdua," ucap Tristan.


'Karena kau tidak pergi denganku, melainkan dengan Flora.' Sayangnya, Bella hanya bisa mengatakan itu dalam hati.


"Aku mengikutimu saja, Tristan," jawab Bella membuat Tristan menghela napas. Dia pikir Bella akan menolak, tapi ternyata tidak.

__ADS_1


Satu tahun kemudian.


"Bella, kau hamil?" tanya Tristan, dia menatap Bella dengan terkejut. Raut wajah Tristan langsung berubah, air mata keluar dari pelupuk mata lelaki itu. Tanpa sengaja dia menemukan testpack di kamar mandi dan dia langsung bertanya pada istrinya.


Setahun ini, tidak ada yang berubah. Hubungan mereka tetap dihiasi dengan rasa canggung, tapi Tristan pernah berhenti untuk tetap meyakinkan Bella setiap hari dengan cinta dan akhirnya setelah menunggu selama beberapa bulan, Bella mau disentuh olehnya walaupun dengan sedikit pemaksaan. Sebelum kembali berhubungan badan dengan Bella, Tristan sengaja diam-diam memasukkan obat penyubur ke minuman istrinya. Dia melakukan ini agar Bella tetap berada di sampingnya dan tidak berpikir untuk pergi dari sisinya karena dia takut Bella memutuskan untuk menyerah dan pergi dari kehidupannya, sebab sudah setahun berlalu Bella masih tetap sama, masih melayaninya dengan baik, tapi Tristan juga menyadari bahwa ada setitik luka yang masih belum sembuh dan pada akhirnya perjuangan Tristan tidak sia-sia. Sekarang, Bella mengandung. Dia berharap jika Bella sudah mengandung, Bella sedikit bisa berubah seperti dulu, Bella yang ceria karena terkadang diam-diam Tristan sering melihatnya melamun.


Namun ketika dia datang, Bella akan bersikap seperti biasanya, tidak ada raut bahagia termasuk ketika dia mengandung. Entahlah semua begitu hambar. Dulu dia sangat berharap dia bisa sifatnya mempunyai anak dan pada akhirnya ketika pernikahannya menginjak umur ke delapan, Tuhan baru memberikan kepercayaan sekarang.


Namun entah kenapa, rasanya berbeda, tidak sama lagi. Seperti ada yang hilang. Bukan Bella tidak mau mengandung saat ini, hanya saja luka masa lalunya saja belum sembuh.


Saat Tristan bekerja, Bella selalu berpikir mungkin Tristan bertemu Flora di belakangnya. Terkadang jika Tristan pulang terlambat, Bella selalu berpikir mungkin Tristan sedang ada di apartemen Flora. Bayangan menakutkan itu masih membekas dalam benak Bella hingga dia begitu sulit untuk memaafkan.


Mungkin jika Tristan mau meninggalkan negara ini atau tinggal di negara lain yang tidak ada jejak Flora, Bella akan sedikit sembuh atau paling tidak dia akan mulai melupakan sedikit demi sedikit apa yang terjadi di masa lalu, tapi sayangnya Tristan tidak peka akan hal itu dan Bella m pun juga tidak ingin mengatakan keinginannya, karena dia takut Tristan akan menganggapnya mendramatisir keadaan saya.


"Kau tidak senang?" tanya Tristan ketika melihat ekspresi Bella yang tampak biasa-biasa saja. Bella tersenyum samar.


"Aku senang," jawabnya. Setelah itu, Bella pun langsung mendudukkan diri di sofa dan disusul juga Tristan.


Setelah berada di dekat Bella, Tristan menekuk kakinya kemudian dia menyetarakan diri dengan berlutut di hadapan istrinya.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih, aku bahagia akhirnya kita bisa memiliki anak," ucap Tristan


Bella tidak menjawab, dia bahkan tidak bereaksi sama sekali, hingga akhirnya Tristan menegakkan tubuhnya.


"Kau tidak pergi ke kantor?" tanya Bella ketika sedari tadi Tristan terus di posisi yang sama.


"Tidak, aku tidak akan pergi ke kantor. Aku ingin bersamamu," jawab Tristan.


"Tristan, pergi saja. Aku sudah berjanji pada Theresia untuk belanja bersama," kata Bella. Sebenarnya dia tidak mempunyai janji dengan Theresia, hanya saja entah kenapa semenjak dia tahu mengandung, dia enggan dekat dengan Tristan.


"Kau sudah janji dengan Theresia?" Tristan mengangkat kepalanya kemudian menatap Bella.


"Aku sudah berjanji dengannya," kata Bella.


"Ya sudah, biar aku ikut dengan kalian," usul Tristan.


"Tidak, aku ingin belanja engan Theresia." Nada suara Bella mulai tegas, hingga Tristan tidak berkutik.


"Ya sudah kalau begitu.”


“Kau ,tidak pergi ke kantor lagi," tanya Bella lagi.


"Tidak, aku akan tetap di sini," ucapnya hingga pada akhirnya Tristan menegakkan tubuhnya kemudian dia bangkit dari berlututnya, lalu setelah itu dia langsung mendudukkan diri di sebelah Bella dan ketika Tristan akan mencium pipi Bella, Bella langsung bangkit dari duduknya. Wanita cantik itu berencana untuk mengganti pakaian dan menelepon Theresia, meminta Theresia untuk menjemputnya.


Beberapa saat berlalu.


Theresia membuka pintu apartemen kakaknya, kebetulan dia berada di area sini hingga ketika Bella meneleponnya, Theresia langsung datang.


"Kau tidak pergi ke kantor?" tanya Theresia ketika melihat ada Tristan yang sedang duduk di sofa.


"Tidak," jawabnya.


"Mana Bella?" tanya Theresia.


"Dia di kamar," ucapnya lagi hingga Theresia mengganggukan kepalanya.


"Katakan pada Mommy dan Daddy, Bella sedang mengandung," ucap Tristan.


"Apa?!" Theresia terpekik saat mendengar ucapannya dan tak lama, Bella keluar dari kamar.


"Bella, kau sedang hamil?" tanya Theresia dengan antusias.


Bella mengangguk.


"Aku sedang mengandung," kata Bella.


Tiba-tiba, Theresia mengurungkan niatnya yang akan kembali berbicara kalau melihat wajah Bella yang aneh. Harusnya bukankah seorang yang mengandung senang? Apalagi Tristan dan kakak iparnya sudah lama menikah. Tunggu, Theresia yakin ada yang aneh.


"Ya sudah kalau begitu, berangkat," ucap Bella.


"Kau yakin tidak ingin aku temani?" tanya Tristan hingga Bella menggeleng.


"Tidak, aku akan pergi bersama Theresia saja," jawabnya dan setelah itu, Theresia dan Bella pun keluar dari apartemen dan sekarang di sinilah mereka berada, di sebuah cafe. Theresia sengaja mengajak Bella untuk duduk di kafe, karena dia ingin bertanya lebih lanjut tentang perasaan Bella.


"Bella," panggil Theresia ketika mereka sudah memesan hidangan di cafe tersebut.


"Aku tahu bahwa sebenarnya hubunganmu dan Tristan tidak terlalu baik, dalam artian kata kau masih dibayangin rasa sakit akibat tingkah. Apakah tebakanku benar?" tanya Theresia.


Bella terkekeh. "Tidak, kenapa juga harus merasakan itu? Jika aku masih menyimpan rasa sakit, aku tidak akan mengandung anaknya," jawab Bella, dia tidak berani menatap Theresia karena apa yang diucapkan adalah bohong dan Theresia mengerti itu.


"Bella, terkadang jika kau tidak bisa jujur pada dirimu sendiri, kau hanya akan terjebak dalam luka. Kau akan jadi seorang ibu, jika kau belum menyembuhkan traumamu, maka dampaknya akan kepada anakmu," kata Theresia. Apa yang dikatakan oleh Theresia memang benar, dia belum jujur pada dirinya sendiri dan belum mampu berdamai dengan masa lalu, tentu saja karena sampai saat ini dia masih belum percaya suaminya sejujurnya.


"Ya Theresia, aku belum sepenuhnya memaafkan Tristan. Awalnya aku pikir Tristan seperti itu memang karena ulahku yang lalu larut dalam luka, aku sudah berusaha untuk menggapai maafnya, tapi dia malah menyalahkanku atas apa yang dilakukan. It's oke, aku memang salah tapi aku pikir setelah kita berbicara hari itu setelah aku minta maaf, Tristan akan berubah dan membuka maafnya untukku, tapi ternyata tidak, dia selalu memojokkanku atas kesalahannya. Dia selalu menghardikku ketika aku bersedih tentang ayahku. Kau tahu Theresia, bahkan selama setahun ini aku belum pernah datang lagi ke makam orang tuaku karena aku takut mendengar kata-kata yang menyakitkan." Bella menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dia menjeda sejenak ucapannya karena tangisnya hampir meledak.


”Mungkin Tristan bisa mengatakan bahwa dia dan Flora tidak ada hubungan apapun, xalam arti kata mereka tidak pernah berbuat hal macam-macam.


"Aku juga pernah memergoki Tristan masuk ke dalam apartemen Flora, apa menurutmu itu adalah hal yang normal? Tristan lelaki normal, Flora cantik dan seksi. Mereka sering menghabiskan waktu berdua, apakah kau bisa percaya jika menjadi aku?" Bella mengakhiri ucapannya dengan air mata yang turun, dan sekarang Theresia mengerti titik akar masalahnya.


"Jadi kau tidak percaya pada Tristan?" tanya Theresia.


"Entahlah, aku bingung harus bagaimana. Aku hanya ingin semuanya mengalir seperti air, tapi terkadang aku juga tidak bisa mengontrol diriku yang selalu berpikiran buruk pada Tristan. Dalam benak aku selalu berpikir bahwa mungkin Tristan dan Flora bertemu di belakangku. Mereka mungkin tertawa di atas rasa sakit yang aku rasakan, dan juga ...." Bella menghentikan ucapannya, suaranya hampir saja tenggelam dengan tangisan. Untuk pertama kalinya dia mengeluarkan semua keluh kesahnya pada adik iparnya. Theresia menepuk-nepuk tangannya, kemudian wanita cantik itu langsung tersenyum.


"Aku mengerti semuanya, tidak usah diteruskan lagi." Kali ini, Theresia yang harus berbicara pada kakaknya agar kakaknya mengerti tentang apa yang ditakutkan oleh Bella.


***


Bella masuk ke dalam apartemen. Dia baru saja pulang berbelanja bersama Theresia walaupun dia tidak membeli apapun saat dia pulang. Terdengar suara isahkan dari Tristan membuat Bella mengerutkan keningnya. Dia berjalan ke dalam dan ternyata Tristan sedang membungkuk dengan bahu yang bergetar, pertanda Tristan sedang menangis.


Rupanya saat Bella turun dari basement, Theresia menelon Tristan dan mengatakan garis besarnya tentang kenapa Bella tidak kunjung berubah padahal ini sudah sagu tahun berlalu.


Pada akhirnya, Tristan menyadari bahwa selama ini dia hanya berbicara tanpa membuktikan. Dia benar-benar berubah, bahwa dia juga tidak memberitahukan Bella bahwa Flora sudah tidak bekerja lagi di kantornya. Seharusnya dia memberitahukan itu agar bila tidak curiga, tapi ternyata Tristan keliru. Dia pikir dengan meminta maaf semua akan membaik, ternyata tidak


"Tristan, kau kenapa?" tanya Bella hingga Tristan tersadar kemudian dia menoleh ke arah belakang.


Tristan menghapus air matanya kemudian menarik lengan Bella, hingga kini Bella duduk di sebelah suaminya.


"Sayang," panggil Tristan membuat Bella bingung. Entah kenapa suaminya malah seperti ini, padahal tadi sebelum dia pergi dengan Theresia, Tristan baik-baik saja. "Kau dengar aku " Pada akhirnya, Tristan menjelaskan semuanya dari mulai dia yang memecah Bella, sampai dia juga sering ke apartemen Flora.


Trish bahkan bersumpah' tidak melakukan apapun, ahkan Tristan jika perlu, dia akan meminta rekam CCTV yang ada di apartemen.

__ADS_1


Theresia percaya setelah mendengar penjelasan Tristan. Dia sedikit tersenyum. Hs, inilah yang Bells butuhkan, penjelasan dari semuanya.


"Tristan kau tahu setelah aku keluar dari rumah sakit, pikiranku hanya berpusat pada bagaimana jika kalian bertemu di belakangku? Bagaimana jika kalian masih menghabiskan waktu tanpa sepengetahuanku. Jika ditanya apa sampai saat ini aku sakit, ya, jawabannya aku masih sakit, jawabannya aku masih kecewa.”


__ADS_2