
Selo berdecak saat ayahnya tertawa, begitu pun dengan Lyodra yang juga ikut tertawa karena perdebatan antara mereka yang membuat wajah Selo memerah, sedangkan Bianca menatap Selo dengan puas.
Tak lama, iring-iringan mobil masuk ke area restoran hingga Gabriel, Lyodra dan Bianca serta Selo menyingkir. Beberapa mobil itu langsung terparkir di dekat mobil Gabriel. Beberapa orang berpakaian biasa keluar dari sana, lalu menghampiri Gabriel.
"Tuan apa kita akan masuk sekarang?" tanya salah satu polisi. Mereka memang tidak memakai seragam karena tidak ingin membuat keributan di restoran tersebut.
Gabriel melihat ke arah Lyodra. "Kau tidak ingin masuk?" tanyanya.
"Aku akan ikut, Maria pasti akan terkejut," jawab Lyodra.
"Kita masuk sekarang," titah Gabriel.
Para polisi pun mengangguk lalu mereka masuk ke dalam diikuti dengan Gabriel dan Lyodra.
"Eh, kau mau ke mana? Tunggu saja di sini," kata Selo saat Bianca akan mengikuti masuk ke depan.
"Mana bisa begitu. Minggir, jangan mengaturku!" hardik Bianca. Dia melepaskan tangannya dari Selo, tapi dengan cepat Selo kembali menarik tangan Bianca.
"Kau akan terkejut nanti," ucap Selo.
"Terkejut maksudmu?" tanyanya.
"Kau tidak masalah melihat temanmu ditangkap seperti itu?" Selo menggoda Bianca membuat Bianca berdecih.
"Kau ini menyebalkan sekali, Selo," kata Bianca. Secepat kilat Bianca kembali menarik tangannya, lalu berbalik dan masuk ke dalam restoran diikuti Selo di belakangnya.
***
Saat menyantap makanan yang mereka pesan, Roland merasakan berada di atas awan. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah tampannya. Setelah sekian lama merasa gelisah karena permasalahannya belakangan ini, sekarang Roland seperti mendapatkan hidupnya kembali. Bisnisnya kembali berjalan lancar dan ada Maria yang akan mendukungnya.
"Bibi jika aku mendapatkan Bianca atau Bianca kembali lagi seperti dulu, bolehkah aku langsung menikahi Bianca saja? Tentu aku akan menjadi mualaf secepatnya," kata Roland di sela-sela makannya.
Maria menyimpan sumpit yang sedang dia pegang kemudian wanita paruh baya itu mengangguk. "Bibi senang. Lebih cepat lebih baik," jawab Maria hingga Roland pun kembali melanjutkan acara makannya.
Terdengar suara derap langkah sangat nyaring, pertanda bukan seorang dua orang yang berjalan membuat Roland menghentikan suapannya. Entah kenapa perasaan Roland mendadak tidak enak. Namun, dia menepis perasaan yang berkecamuk hingga pada akhirnya dia kembali melanjutkan makannya.
Semua polisi yang berada di luar private room terdiam sejenak. Mereka tidak langsung masuk. Mereka harus mengambil ancang-ancang dari Gabriel, dan Gabriel masih belum mengizinkan mereka untuk masuk hingga sepuluh menit berlalu, Gabriel mengangguk pertanda memperbolehkan mereka untuk masuk.
"Satu, dua, tiga," ucap polisi itu menghitung dan ketika berada di hitungan ketiga, pintu terbuka. Polisi mengacungkan pistol.
Maria dan Roland yang sedang menikmati makanan, langsung menoleh ke arah pintu ketika pintu dibuka dengan suara keras. Maria membulatkan matanya saat melihat beberapa orang masuk sambil menodongkan pistol, dan dia pikir orang-orang itu adalah orang yang merampok.
Mata Roland membulat ketika melihat orang yang menodongkan senjata padanya. Tiba-Tiba wajahnya langsung memucat, napasnya mendadak tidak beraturan saat menyadari bahwa dia sedang dikepung.
"Siapa kalian?" tanya Maria. Dia langsung berniat untuk meminta pertolongan dengan berteriak, tapi niatnya terhenti ketika melihat Lyodra ikut masuk ke dalam ruangannya dan itu membuat Maria semakin panik, sebab tadi dia berbohong pada Lyodra dan mengatakan akan pergi bersama temannya.
Lyodra menghampiri Maria kemudian dia mengelus lembut rambut istrinya. "Ayo keluar, biarkan polisi menangkap Roland," kata Lyodra.
"Kenapa polisi menangkap Roland?" tanya Maria. Dia langsung bertanya karena bingung, bahkan rasa malu yang tadi Maria rasakan pada Lyodra karena berbohong, menguap begitu saja berganti dengan rasa penasaran.
"Saudara, Anda kami tangkap atas dugaan penjualan organ tubuh manusia, pembunuhann, peenggelapan uang dan lain-lain," ucap salah satu polisi yang mendatangi Roland.
Maria menatap Roland tanpa berkedip, mencari jawaban dari mata lelaki itu, berharap apa yang didengarnya salah. Sementara Roland, dia memejamkan matanya. Sepertinya, sekarang tidak ada gunanya lagi untuk berbohong.
"Kau penjahat?" tanya Maria. Dia berbicara dengan bibir gemetar. Beberapa menit lalu, Roland meyakinkan dan beberapa menit lalu Maria benar-benar percaya pada lelaki itu, tapi sekarang dia malah mendengar hal yang mengejutkan.
Jangan ditanyakan betapa terkejutnya Maria, yang pasti dia benar-benar terkejut.
"Roland!" teriak Maria yang kali ini berteriak emosi. Roland tidak berniat menjawab. Lelaki itu bangkit dari duduknya, menutupi semuanya pun sudah percuma. Dia bukannya pasrah, tapi dia yakin dia akan kembali bebas.
"Anda berhak memakai pengacara dan melakukan pembelaan di kantor polisi, silakan ikut kami," ucap polisi tersebut.
Roland bangkit dari duduknya kemudian lelaki itu langsung diborgol oleh polisi, sedangkan Maria masih terdiam. Dia terpaku ketika melihat Roland diborgol. Ternyata, selama ini dia mendukung iblis.
Ketika akan dibawa, Bianca langsung masuk ke dalam ruangan. Dia langsung menghadap ke Roland hingga Roland mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Roland. "Dasar iblis!" teriak Bianca hingga Roland menyeringai.
"Aku berharap kau dipenjara seumur hidup!" teriak Bianca lagi. Kali ini, emosi menghantam Bianca hingga dia menampar Roland untuk yang kedua kalinya. Dia menatap Roland dengan tatapan benci sebenci-bencinya, hingga Maria menoleh ke arah Bianca.
Rasa bersalah langsung menghantam diri Maria ketika melihat Bianca seperti ini. Kemarin, dia begitu ingin menjodohkan Bianca dan Roland, tapi ternyata seperti ini.
Pada akhirnya, polisi meminta Bianca untuk menyingkir, memberikan jalan bagi Roland sedangkan Roland langsung berjalan tanpa menjawab amarah Bianca.
Setelah Roland dan para polisi pergi, Maria masih melamun. Dia benar-benar syok dengan apa yang terjadi, sedangkan Lyodra kembali mengelus rambut Maria menyadarkan Maria dari lamunannya.
"Dad, aku tidak bermimpi, 'kan?" tanya Maria.
Lyodra menggeleng. "Tidak Sayang. Ya sudah ayo kita pulang," ajaknya.
Maria mengangguk. Dia seperti orang linglung hingga Lyodra menarik lembut tangan istrinya dan mengajak Bianca untuk keluar.
Saat keluar dari ruangan, ternyata ada Selo dan juga Gabriel.
"Kau tidak apa-apa, Maria?" tanya Gabriel.
Maria tidak menjawab. Dia malah langsung pergi begitu saja. Bahkan wanita paruh baya itu juga melewati tubuh Selo. Biasanya dia akan menatap Selo dengan tatapan tak suka. Namun, karena sekarang dia benar-benar terkejut dia melewati tubuh mantan menantunya begitu saja.
Bianca yang berjalan, menghentikan langkahnya di depan Gabriel kemudian dia melihat ke arah mantan mertuanya. "Paman Gabriel, terima kasih sudah membongkar ini," ucap Bianca. Jika tidak ada Gabriel, mungkin dia akan terjebak dengan pria seperti Roland.
Mendengar ucapan Bianca, Gabriel tersenyum kemudian menepuk lembut bahu mantan menantunya. "Akhirnya kau terselamatkan, Bi," kata Gabriel.
"Ekhem," deham Selo tiba-tiba membuat Gabriel dan Bianca menoleh.
"Kau tidak berterima kasih padaku?" tanya Selo.
Bianca menatap Selo dengan aneh. "Berterima kasih untuk apa?" tanyanya.
Bianca kali ini tersenyum. "Selo, berhenti bersikap menyebalkan. Kkharismamu bisa hilang jika kau terus seperti ini," jawabnya.
"Paman Gabriel, bolehkah aku berbicara pada Selo?" tanya Bianca.
Gabriel mengangguk. Bianca meminta izin karena dia harus menyadarkan Selo di depan Gabriel.
"Kau memang tidak seratus persen bersalah, tapi jika kau tidak tergoda tidak akan ada perceraian di antara kita," kata Bianca.
Tiba-Tiba Gabriel memalingkan tatapannya ke arah lain ketika mendengar jawaban Bianca. Rasanya dia ingin sekali tertawa saat putranya di-roasting oleh Bianca, sedangkan Selo langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tapi kan itu ...."
"Paman Gabriel, sampai jumpa," ucap Bianca, dia berbalik kemudian wanita itu langsung pergi meninggalkan Gabriel dan Selo.
"Sepertinya harapanmu untuk bersatu dengan Bianca tidak akan terwujud," kata Gabriel yang meledek sang putra.
"Aish, Daddy, kenapa kau mengatakan seperti itu? Pasti Bianca kembali padaku. Aku ini cinta pertamanya," jawab Selo membuat Gabriel mengangkat bahunya tak acuh. Lelaki paruh baya itu pun keluar dari restoran diikuti Selo di belakangnya.
***
Lyodra mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan. Beberapa kali dia menoleh ke arah Maria yang tampak melamun. Dia juga menoleh ke arah Bianca yang duduk di belakang.
Suasana di dalam mobil begitu hening. Tidak ada yang berbicara. Maria dia membisu, antara malu marah dan kesal. Sedangkan Lyodra, tidak berani berbicara karena dia mengerti perasaan Maria.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Lyodra sampai di rumah.
"Maria," panggil Lyodra, menyadarkan Maria dari lamunannya hingga wanita paruh banyak itu tersadar.
Maria turun begitu saja, meninggalkan Lyodra dan Bianca.
"Bi, aku yakin Mommy sangat terpukul. Karena tadi Mommy berbohong pada Daddy, mengatakan akan pergi bersama temannya tapi ternyata menemui Roland. Mommy juga sepertinya malu padamu karena berusaha menjodohkanmu dengan Roland yang ternyata tidak baik," kata Lyodra.
__ADS_1
"Ya sudah kita bicara nanti malam, siapa tahu Mommy bisa merasa baikan," kata Lyodra lagi. Lyodra dan Bianca turun.
***
Waktu menunjukkan pukul delapan malam.
Maria dari tadi terus mengurung diri di kamar. Dia juga tidak mengizinkan Lyodra atau Bianca masuk ke dalam. Wanita paruh baya itu merasa malu pada anak dan suaminya, hingga dia memutuskan untuk diam di kamar.
"Sayang, Sayang," panggil Lyodra. Dia terus memanggil Maria, tapi Maria enggan untuk membuka pintu. Ini sudah lima belas menit berlalu Lyodra memanggil istrinya, tapi tidak ada sahutan dari dalam membuat Lyodra kebingungan.
"Sayang, ayo bicara. Tidak baik terus mengurung diri seperti ini," kata Lyodra lagi.
Namun, tetap tidak ada sahutan hingga Lyodra terpikirkan sesuatu. Dia lupa bahwa dia mempunyai kunci cadangan. Dia pun langsung pergi ke tempat kunci, tapi saat berada di tempat kunci Lyodra menghela napas kala dia harus mencari kunci satu persatu karena semua kunci cadangan disatukan.
"Kau sedang apa, Dad?" tanya Bianca yang melihat Lyodra yng sepertinya sedang sibuk memilih kunci.
"Mommy tidak mau keluar. Daddy harus membuka kunci dari luar," kata Lyodra.
"Biar aku yang berbicara pada Mommy," panggil Bianca ketika dia sudah berada di kamar kedua orang tuanya.
"Mom, Mommy akan terus seperti ini?" tanya Bianca lagi.
"Mommy sudahlah. Seharusnya aku yang marah di sini. Kenapa sekarang Mommy yang merajuk," ucap Bianca.
Sepertinya, sekarang ucapan itu sedikit menampar Maria hingga Maria yang sedari tadi duduk di sofa langsung bangkit dari duduknya, kemudian wanita paruh baya itu berjalan ke arah pintu. Lalu setelah itu dia membuka kunci untuk Lyodra dan Bianca yang sedang menunggu di luar.
Maria tidak membuka pintu dan hanya mengintip. "Apa?" tanya Maria seperti biasa. Dia masih terlalu gengsi mengakui dirinya salah membuat Bianca dan Lyodra kesal.
"Ayo kita bicara, tak baik jika terus seperti ini," kata Lyodra lagi hingga Maria membuka pintu dan Lyodra serta Bianca pun masuk ke dalam.
"Mom, sudahlah tidak usah merasa bersalah. Aku baik-baik saja," ucap Bianca.
"Mommy juga tidak tahu benar. Jadi Mommy tidak bersalah," jawab Maria membuat Lyodra menahan tawa.
Seperti biasa sikap istrinya tidak pernah berubah.
"Seperti biasa, Nyonya besar tidak pernah salah," lirih Bianca.
"Apa?!" pekik Maria ketika dia mendengar suara putrinya.
"Sudah, aku mau keluar dulu," kata Bianca.
"Bianca tunggu," ucap Maria.
Bianca menoleh. "Tidak, aku tidak akan dekat dengan Selo," kata Bianca lagi ketika Maria akan berbicara. Dia sudah tahu pasti ibunya akan membahas itu.
Setelah mengatakan itu, Bianca kemudian keluar dari kamar kedua orang tuanya hingga kini di kamar itu hanya menyisakan Maria dan Lyodra.
"Ada yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Lyodra ketika sudah tidak ada Bianca. Kali ini Lyodra sedikit tegas karena Maria mengatakan akan pergi bersama temannya, tapi malah makan bersama Roland.
"Aku minta maaf, tapi aku punya alasannya sendiri, dan kau tahu alasannya apa?" tanya Maria. Seperti biasa, dia selalu punya pembelaan di atas kesalahannya ke belakang.
Lyodra tidak menjawab hingga Maria yang sedang menunduk langsung menatap ke arah suaminya.
"Iya, iya aku salah. Maafkan aku. Tidak ada yang bisa di benarkan dari apa yang aku lakukan," katanya.
Lyodra menegakkan tubuhnya kemudian dia mengelus rambut Maria. "Jangan diulangi lagi," ucapnya.
Seperti biasa, Maria kembali merajuk dan saat ini Lyodra meminta maaf pada istrinya.
Sementara di sisi lain, Roland dia sedari tadi tidak menjawab pertanyaan dari polisi karena dia yakin pengacaranya akan datang untuk membelanya.
Sedari tadi polisi sudah kehilangan kesabaran karena Roland tidak menjawab, sedangkan Roland dia memang terlihat santai tapi di dalam lubuk hati dia sangat ketakutan. Bagaimana jika dia sampai tidak lulus dari hukum? Bagaimana nasib perusahaannya dan bagaimana nasib apa yang selama ini dia kumpulkan? Dari mulai aset dan lain-lain.
Tak lama, terdengar suara langkah muncul hingga Roland menoleh. Muncul pria berjas membawa tas, seperti seorang pengacara. Namun, Roland tahu itu bukan pengacaranya. Ya karena pengacaranya saat ini adalah pengacara yang diberikan oleh pihak kepolisian, agar Roland tidak bisa mengelak.
__ADS_1