Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Dua lelaki aneh


__ADS_3

"Maksud Daddy apa?" tanya Bianca. Tidak biasanya sang ayah seperti ini, sebab jika dia pergi dengan Roland, Lyodra tidak pernah bertanya kapan pulang apalagi menyuruh dia pulang cepat.


Lyodra yang baru saja datang langsung menghampiri Roland, Bianca dan Maria. "Tidak, maksud Daddy jangan terlalu malam, apalagi sekarang sering terjadi hujan badai."


Roland menghela napas saat mendengar ucapan Lyodra. Dia tadinya sudah berpikir pria itu akan mengatakan hal yang aneh-aneh, tapi ternyata alasannya menyuruh Roland dan Bianca jangan pulang terlalu malam karena mengkhawatirkan akan terjadi hujan badai.


"Ya sudah kalau begitu, kami pergi," ucap Bianca.


"Kami pergi Paman, Bibi." Roland dan Bianca pun berbalik pergi dari rumah, hingga kini menyisakan Maria dan Lyodra berdua.


"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Lyodra saat Maria menatapnya dengan aneh. “Jangan bilang kau mencurigaiku lagi?"


"Aku benar-benar merasa ada yang aneh denganmu, kau seperti menjauhi Roland dan kau seperti setuju Bianca kembali pada Selo."


Lyodra menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Sayang, sebenarnya aku ini harus bagaimana? Kenapa kau menganggap semua yang aku lakukan salah? Apalagi jika menyangkut Roland dan Selo. Apa aku salah memperingati mereka karena takut ada hujan badai nanti?"


"Sudahlah, awas aja jika kau melakukan sesuatu di belakangku," ucap Maria. Setelah mengatakan itu, Maria pun berbalik meninggalkan Lyodra.


***


Roland mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, beberapa kali dia menoleh ke arah Bianca yang tampak terdiam. Biasanya jika pergi bersama, wanita itu selalu menceritakan tentang apa yang terjadi di rumah sakit, tapi sekarang dia malah melamun.


Sejujurnya, Bianca malas untuk pergi dengan Roland, tapi dia sudah beberapa kali menolak lelaki itu, hingga pada akhirnya dia setuju. Namun setelah pergi, dia merasa ingin kembali lagi ke rumah karena tak nyaman.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Roland.


Bianca menoleh. "Aku hanya lelah."


"Oh, tidurlah, nanti aku akan membangunkanmu."


Walaupun gemas dengan sikap Bianca yang diam saja, tapi Roland tetap seperti dulu. Dia bersikap sok pengertian pada wanita itu, hingga sekarang Bianca kembali diam.


***

__ADS_1


"Kenapa dia membawa mobil cepat sekali?" tanya Selo, dia terus mengejar Roland yang sudah terhalangi oleh beberapa mobil lain. Ya, faktanya saat ini dia mengikuti pria itu.


Sedari tadi, sebenarnya Selo menunggu di depan rumah mantan mertuanya, berharap Bianca pergi ke suatu tempat agar dia bisa mengikuti kemudian berpura-pura tidak sengaja bertemu dengannya.


Keinginannya memang tercapai, tapi sayang Bianca malah pergi bersama Roland. Lalu tak lama, Selo memacu mobilnya sedikit cepat ketika melihat mobil pria itu, hingga sekarang dia berada tepat di belakangnya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Roland dan Selo sampai di tempat tujuan, di mana mereka sampai di restoran pinggir pantai yang menjadi tempat makan seafood favorit Bianca.


Roland dan Bianca pun turun dari mobil, kemudian masuk ke dalam restoran. Wanita itu duduk di meja samping ruangan yang menghadap langsung ke laut.


Saat Roland akan menarik kursi untuk Bianca, dia dengan cepat menarik kursi untuk dirinya sendiri membuat pria itu menghentikan gerakannya. Diam-Diam, rahang Roland mengeras.


'Jika aku sudah mendapatkanmu, maka aku tidak akan membiarkanmu melawan seperti ini,' batin Roland ketika melihat Bianca tidak menerima apa yang dilakukan.


Roland dengan cepat menormalkan ekspresinya kemudian dia pun duduk di seberang Bianca. Lalu setelah itu, dia meemanggil pelayan.


Tidak seperti biasanya, Bianca tampak memilih menu dengan malas, padahal perutnya sudah sangat lapar. Namun entahlah, dia merasa begitu berbeda.


"Kau ini apa-apaan? Kenapa kau tidak sopan sekali?" tanya Roland, dia meradang ketika melihat Selo menarik kursi dan bergabung bersama mereka.


"Maaf, bolehkah aku bergabung? Aku lupa dompetku tertinggal sedangkan aku sudah sangat lapar. Tidak apa-apa, 'kan? Toh Bianca juga saudaraku," ucap Selo sambil menahan malu.


Bianca menatap Selo dan Roland dengan malas. Sungguh, kedua lelaki ini benar-benar membuatnya gila. Saat dia akan bicara, pandangannya lebih dulu beralih pada pintu, di mana dia melihat dokter Adrian dan Alice masuk ke dalam restoran.


Seketika, Bianca mempunyai ide agar bisa terlepas dari dua lelaki ini.


"Dokter Adrian!" panggil Bianca, hingga Selo dan Roland menoleh ke padanya, lalu mengikuti arah tatapan Bianca yang tertuju pada Adrian.


Adrian langsung tersenyum saat melihat Bianca, lalu membawa putrinya untuk berjalan ke meja yang ditempati oleh wanita itu.


Bianca bangkit dari duduknya, kemudian menekuk kaki, menyetarakan diri dengan Alice. "Halo Alice."


"Oh, kau sedang di sini?" tanya Adrian.

__ADS_1


"Jika dokter mau, dokter bisa bergabung bersamaku,” ucap Bianca.


"Daddy, ayo kita makan bersama Bibi Bianca."


Mata Selo dan Roland membulat saat mendengar Alice mengajak Adrian untuk makan bersama, hingga mereka pun sama-sama menghela napas karena sejak tadi Bianca terlihat malas, tapi kini tampak sangat antusias.


"Apakah tidak masalah aku bergabung?" tanya Adrian.


"Tidak, ini saudaraku, ini temanku, jadi tidak apa-apa," ucap Bianca. Dia pun memanggil pelayan kemudian menggabungkan meja lalu meminta kursi tambahan, hingga sekarang Bianca kembali duduk dengan Alice di tengah-tengah mereka. Sementara Selo dan Roland, duduk bersebelahan.


'Cukup berat rupanya,' batin Selo saat melihat kedekatan mereka bertiga, 'seharusnya aku bawa kawin lari saja wanita ini.'


Sungguh, Selo takut perjuangannya akan sia-sia karena Bianca menyukai orang lain. Dia tidak pernah khawatir jika Roland mendekati wanita itu, karena kartu Roland ada padanya, tapi jika Adrian tentu saja dia merasa takut.


Akhirnya pesanan pun datang, Roland dan Selo makan dengan hening, karena mereka hanya menjadi pendengar Bianca yang sedari tadi terus berceloteh dengan Alice. Sementara Adrian pun lebih fokus pada makanannya.


Acara makan pun selesai, mereka mengobrol-ngobrol sejenak. Lebih tepatnya, Selo dan Roland hanya mendengarkan, karena sedari tadi Bianca lebih fokus berbicara dengan Adrian dan putrinya hingga mereka pun memutuskan untuk pulang.


"Bibi, ayo ikut ke mobilku saja. Biar Ayah yang mengantar Bibi," ucap Alice ketika mereka sudah berada di luar restoran.


"Halo gadis kecil, Bibi akan pulang bersama Paman," kata Roland menyahut.


"Sepertinya Bibi lebih memilih untuk pulang bersama Paman." Kali ini, Selo yang berbicara membuat Bianca memejamkan matanya.


"Roland, terima kasih atas tumpangannya tapi aku ada hal yang harus didiskusikan dengan Dokter Adrian, jadi aku memilih untuk pulang bersama Alice dan Dokter Adrian. Kalau begitu, sampai jumpa." Bianca berbalik kemudian menarik lengan Alice.


"Aku permisi," pamit Adrian pada Selo dan juga Roland, hingga kedua lelaki itu hanya bisa menatap punggung mereka bertiga.


"Sungguh menyebalkan!” umpat Sello


Roland menoleh. "Kau yang lebih menyebalkan. Kenapa kau mengikutiku?"


"Itu bukan urusanmu." Selo berbalik, begitupun dengan Roland dan mereka pun masuk ke dalam mobilnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2