Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Bagai mimpi buruk


__ADS_3

"Kenapa kau tiba-tiba ingin menginap di apartemenku?" tanya Maira ketika mobilnya sudah berjalan.


Bianca yang sedang mengemudi, menoleh sekilas. Helaan napas terlihat dari wajah cantik wanita itu. "Entahlah aku bosan dengan pertanyaan Mommy. Kenapa dia selalu memaksakan kehendaknya?" Bianca menggerutu, karena setiap sarapan sang ibu akan terus membahas hal yang sama


"Memaksakan apa?" tanya Mayra, dia menatap Bianca dengan tatapan tanda tanya.


"Dia selalu memaksakan ...." Bianca menghentikan ucapannya. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Maria menjodohkannya dengan Adrian, sebab barusan dia melihat bahwa Maira menyukai Adrian.


"Menekan apa memangnya?" tanya Maira lagi yang penasaran, karena Bianca tidak menjawab ucapannya


"Mommy terus menyuruhku untuk mencari jodoh. Aku tidak mau menikah lagi," dusta Bianca.


Seketika Maira tertawa. "Dia itu, 'kan tidak salah. Bibi Maria hanya ingin mencarikanmu lelaki yang terbaik," jawab Maira lagi.


Bianca mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Sudahlah, jangan dibahas. Aku selalu bad mood ketika mengingat Mommy membahas itu. Apa aku terlihat tidak laku?’ Hingga Mayra mengangkat bahunya acuh.


Pada akhirnya, Maira pun sibuk kembali dengan ponselnya, sedangkan Bianca fokus mengemudi. Namun ketika berada di jalanan yang sepi, Bianca meraba pundaknya. Entah kenapa dia merasa bergidik, hanya ada beberapa mobil yang melintas bersamanya dan tiba-tiba perasaannya mendadak tidak enak saat melihat ada mobil hitam berada di belakang mobilnya. Tidak menyalip atau tidak mendahului, dan malah berada di belakang, padahal jalanan cukup luas untuk mobil itu mendahului.


"Maira," panggil Bianca.


Maira tidak menggubris. Gadis itu anteng dengan ponselnya. Entah kenapa Bianca ketakutan, hingga pada akhirnya Bianca mencubit Maira.


"Bianca, kenapa kau mencubitku?" tanya Maria sambil mengaduh kesakitan.


"Maira, lihat ke belakang. Bukankah mobil itu mengikuti kita?" tanya Bianca.


Maira menoleh ke belakang. Dia menyempitkan matanya. "Tidak, mana mungkin dia mengikuti kita," ucap Maira lagi yang tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Bianca.


"Tapi lihat, kenapa dia tidak menyalip mobilku? Kenapa dia tidak mendahuluinya?" tanya Bianca lagi hingga Maira kembali menoleh, dan ketika Maira menoleh, mobil yang tadi berada di belakang Bianca, mendahului mobil wanita itu.


"Lihat, mana mungkin dia mengikuti kita? Dia sudah berjalan terlebih dahulu," ucap Maira hingga Bianca menghela napas lega.


Entah kenapa, semenjak melihat lelaki yang mirip dengan postur tubuh Roland, Bianca merasa tidak tenang. Bahkan ketika tadi dia sedang praktek pun, dia rasa tidak sendiri. Dia tidak mengerti, seperti ada kejadian besar akan menimpanya. Tak lama, Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia harus tetap berfirasat dan berpikiran baik.


Pada akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai oleh Bianca sampai di basement apartemen.


Maira turun dari mobil, begitu pun dengan Bianca hingga mereka pun berjalan ke arah lift untuk naik ke unit apartemen milik Maira. Saat mereka ada di basement, tidak ada siapa pun di sana. Lagi-Lagi perasaan itu pun muncul, di mana Bianca merasa diikuti.


"Maira tunggu," ucap Bianca hingga Maira yang sudah berjalan terlebih dahulu, menghentikan langkahnya kemudian menghampiri Bianca.


"Why?" tanya Maira.


"Lihat sekelilingmu, apa ada yang mengikuti kita?" tanya Bianca dengan berbisik, hingga Maira pun langsung menolehkan kepalanya ke sana kemari, dan ternyata di sana tidak ada siapa pun.


"Tidak ada siapa pun," ucap Maira yang menolehkan kepalanya kesana kemari.


"Kau yakin tidak ada siapapun?" tanya Bianca. lagi.


Secepat kilat, Bianca langsung menarik lengan Maira dan mengajak Maira berlari, hingga Maira yang kebingungan dengan apa yang terjadi pada Bianca, hanya bisa mengikuti langkah wanita itu.


Napas Bianca terengah-engah, hingga Maira langsung menekan tombol. "Bianca, sebenarnya kenapa? Ada apa?" tanya Maira. Dia melihat wajah Bianca yang memucat.


"Aku merasa ada yang mengikuti kita tadi," jawab Bianca lagi, dia mengelus dadanya, guna menetralkan degupan jantungnya.


Maira menggeleng. "Tapi aku tidak merasa diikuti," jawab Maira, "ya sudahlah Bi, itu hanya perasaanmu saja."


Bianca tidak menjawab. Wanita itu menyadarkan tubuhnya ke belakang. 'Ya Allah lindungi aku. Lindungi aku jika ada yang berniat jahat padaku.' Bianca membatin. Dia hanya bisa berdoa di tengah ketakutannya. Dia ingin mengelak bahwa tidak ada yang mungkin terjadi padanya, tapi feelingnya tidak bisa dibohongi. Dia merasa aneh dan merasa ada yang mengawasinya.


Akhirnya, Bianca dan Maira pun sampai di unit apartemen. Maira langsung mebuka pintu hingga mereka pun langsung masuk ke dalam.


"Kau ingin langsung tidur atau kau ingin menonton televisi?" tanya Maira.


"Aku ingin langsung tidur saja," kata Bianca guna meredam keresahannya hingga Maira pun mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah, aku ingin menonton televisi dulu," jawab Maira.


Setelah itu, Bianca masuk ke dalam kamar Maira. Dia langsung membanting tubuhnya di ranjang. Tatapan Bianca menatap ke arah langit-langit. Dia memegang dadanya yang terasa aneh, hingga pada akhirnya wanita cantik itu terlelap.


***


Malam berganti pagi. Bianca dan Maira sudah sarapan. Hari ini, Bianca akan langsung pergi ke rumah sakit, sedangkan Maira akan pergi ke kantor, karena Maira sudah memimpin perusahaan yang Selo tinggalkan.


"Bianca, kau baik-baik saja?" tanya Maira ketika melihat Bianca melamun.


Bianca semalam hanya tertidur sebentar, lalu dia tidak tertidur lagi sampai pagi hari. Itu sebabnya wajah Bianca terlihat sangat layu, belum lagi dia memikirkan hal semalam.


"Aku mengantuk sekali," kata Bianca, dia menopang wajahnya dengan tangan, lalu memejamkan matanya, karena dia benar-benar mengantuk.


"Kau libur saja," jawab Maira.


"Banyak sekali yang harus aku siapkan. Tidak mungkin aku libur," kata Bianca lagi.


Akhirnya acara sarapan pun selesai. Bianca dan Maria langsung keluar dari apartemen. Saat mereka berjalan, dia melihat ke sana kemari memastikan tidak ada orang yang mengikutinya, hingga Maira yang berdiri di sampingnya, menoleh karena sikap Bianca begitu aneh.


"Bi, kau ini kenapa?" tanya Maira, dia merasa dari selaman Bianga begitu aneh.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Ayo," ajak Bianca.


Lalu akhirnya, mereka pun melanjutkan langkah mereka menuju ke basement.


"Kau akan menginap di apartemenku lagi nanti?" tanya Maira.


Bianca tampak berpikir. "Nanti saja aku telepon," ucap Bianca.


Setelah itu, Bianca masuk ke dalam mobilnya, begitu pun dengan Maira lalu kedua perempuan itu, langsung mengendarai mobilnya keluar dari basement.


Roland menyeringai saat melihat Bianca masuk ke dalam mobil. Ya, sedari kemarin dia mengikuti Bianca, membayang-bayangi wanita itu. Dia sengaja menampakkan dirinya lalu menghilang agar Bianca ketakutan dan tak lama lagi, dia akan membuat Bianca merasakan apa yang dia rasakan. Dia tidak akan melepaskan wanita itu. Obsesi yang tadinya ingin memiliki Bianca, berubah terobsesi untuk membuat wanita itu menangis memohon ampun.


Setelah mobil Bianca pergi, Roland pun kembali menyalakan dan menjalankan mobilnya, memutuskan untuk mengikuti Bianca karena dia akan menculik Bianca nanti malam.


***


Selo menyadarkan tubuhnya ke belakang. Mata Lelaki itu langsung tertuju pada bingkai fotonya bersama Bianca. Entah, ada desiran aneh ketika melihat foto mantan istrinya. Tak lama, Selo menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menepis perasaan yang berkecamuk. Namun, tetap saja dia merasa akan ada hal besar yang terjadi. Pintu diketuk hingga Selo tersadar dan, ternyata James yang masuk.


"Tuan, ada meeting bersama klien," ucap James.


"Bisakah kau menundanya? Aku ingin beristirahat sejenak," ucap Selo. Walaupun dia baru saja sampai ke kantor, tubuhnya begitu lemas. Selo meminta untuk menunda jam meeting, sebab dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam.


Bianca keluar dari rumah sakit. Entah kenapa suasana di rumah sakit saat ini begitu hening, ditambah lagi hujan sedang turun walaupun tidak terlalu besar.


Bianca melihat ke sekelilingnya yang tampak sepi, hanya ada beberapa orang yang melintas. Bianca tidak langsung meninggalkan rumah sakit seperti tadi. Dia meneliti sekitarnya, memastikan ada yang mengikutinya atau tidak.


Tidak yang aneh dari sekitarnya, tapi entah kenapa Bianca masih merasa takut.


"Dokter Bianca," panggil salah satu perawat hingga Bianca menoleh.


"Oh, kau belum pulang?" tanya Bianca.


"Aku mau pulang, Dok," ucap suster.


Bianca menghela napas lega ketika mendengar suster di depannya ini ingin pulang. Setidaknya dia bisa berjalan bersama ke arah parkiran yang sepi.


"Ayo ke parkiran bersama," ajak Bianca hingga suster itu menyeringai lalu mengangguk.

__ADS_1


Setelah itu, mereka pun berjalan ke arah parkiran. Suster yang berjalan di depan Bianca, menolehkan kepalanya ke sana kemari, hingga terlihat sosok Roland.


Ya, ternyata suster itu sudah dibayar oleh Roland. Roland tahu Bianca ketakutan, hingga itu sebabnya dia membayar suster untuk mengajak Bianca ke parkiran.


"Dokter, aku ketinggalan sesuatu. Tidak apa-apa, 'kan, aku kembali lagi?" tanya suster.


Mata Bianca membulat saat mendengar ucapan suster tersebut. Parkiran masih sedikit jauh dan sekarang suasana benar-benar begitu hening.


"Aku ikut," kata Bianca.


"Tidak usah Dokter Bi, aku akan berlari," ucap suster.


Belum Bianca menjawab, suster itu sudah berlari membuat Bianca bergidik. Lalu dengan cepat, Bianca langsung berbalik kemudian berniat berlari untuk ke mobilnya.


Namun baru saja dia berbalik, langkah Bianca terhenti saat melihat lelaki berdiri di depannya, memakai masker dan juga memakai topi. Walaupun dalam kegelapan dan juga hujan rintik, Bianca mengenali lelaki itu yang tak lain adalah Roland.


Tiba-Tiba Bianca berteriak ketika dia melihat sosok Roland di depannya, dan tak lama Roland membuka topi. Setelah itu, dia mebuka masker hingga Bianca semakin memucat.


"Kenapa Kau ada di sini?" tanya Bianca. Dia mundur selangkah. Bianca mundur selangkah, Roland maju.


Jangan ditanyakan betapa takutnya Bianca saat ini, yang pasti ketakutan Bianca sudah berada di level akut. Saat dia akan berbalik dan berlari, tiba-tiba tubuh Bianca terkulai ketika seseorang dengan sarung tangan yang sudah diolesi obat bius hingga Roland menyeringai.


"Akhirnya, pembalasanku dimulai," ucap Roland. Setelah itu, Roland langsung membawa Bianca ke mobil, hingga Roland pun juga ikut masuk ke dalam mobil.


***


"Selo, tolong aku. Selo cepat datang kemari," teriak Bianca.


Selo langsung membuka matanya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya ketika barusan dia bermimpi tentang Bianca yang terikat di meja, dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


Selo mengusap wajah kasar. Ternyata itu hanya mimpi. Entah kenapa Selo merasa itu adalah sebuah tanda. Selo menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, begitulah pikir Selo.


Selo kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Lelaki itu berbaring dengan posisi menyamping. Beberapa kali dia mencoba untuk memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Wajah Bianca terus terbayang di otaknya.


Selo melihat jam. Dia langsung mengambil ponsel kemudian mengutak-atiknya lalu menelepon Maira, karena di Rusia mungkin baru sekitar pukul delapan malam.


"Ada apa?" tanya Maira ketika dia mengangkat panggilan dari sang kakak.


"Bianca baik-baik saja?" tanya Selo.


"Semalam dia menginap di apartemenku," kata Maira.


"Apa sekarang dia menginap di apartemenmu lagi?" tanyanya.


"Entahlah, dia tidak menjawab pesanku. Mungkin aku akan menelepon nanti. Sekarang aku sedang bertemu dengan klien di luar," jawab Maira, "ya sudah aku tutup dulu panggilannya."


Selo menarik napas kemudian mengembuskannya. Entah kenapa, mendengar apa yang diucapkan Maira, dia tidak lantas merasa tenang hingga pada akhirnya Selo pun bisa terlelap setelah beberapa jam melamun.


***


Bianca membuka mata, dia mengerjapkan pandangannya. Kepala Bianca terasa nyeri hingga wanita itu pun meringis. Tak lama, Bianca menyadari sesuatu bahwa tubuhnya diikat, hingga Bianca menegakkan kepalanya.


Gelap, tidak ada cahaya sedikit pun. Bianca sadar betul bahwa benar, tubuhnya benar-benar diikat. Rasa takut langsung menjalar di diri Bianca. Dia mengingat apa yang terjadi sebelum dia terbangun.


Tiba-Tiba napas Bianca mendadak tidak beraturan ketika dia mengingat apa yang terjadi. Tadi dia akan pergi ke mobil, tapi langkahnya dicegat oleh Roland.


"Tolong! Tolong!" teriak Bianca. Rasa takut langsung menjadi-jadi ketika menyadari bahwa Roland yang menculiknya.


Tak lama, Bianca menghentikan teriakannya ketika ada yang tertawa sambil menepuk tangan. Lalu tak lama, lampu menyala hingga Bianca bisa melihat sosok yang ada di depannya ini, yang tak lain adalah Roland.


"Bianca, apa kabarmu?" tanya Roland sambil mendudukkan diri di seberang Bianca. Dia bersidekap, menatap Bianca dengan tatapan puas.


"Bagaimana, apakah senang bertemu denganku lagi?" tanya Roland.

__ADS_1


Bianca langsung memejamkan matanya. Suara Roland bagai irama yang menakutkan. Roland bangkit dari duduknya kemudian dia maju, lalu setelah itu dia mencengkeram erat leher Bianca hingga Bianca kesulitan untuk bernapas.


Bianca masih memejamkan matanya. Dia bahkan tidak menatap lelaki yang ada di depannya. Dia berteriak dalam hati meminta tolong, berharap ada keajaiban yang datang.


__ADS_2