
Agnia menunduk, ia meremas jari-jarinya. Jujur saja, ia begitu gugup dan tak tahu bagaimana harus menghadapi Mayra.
Saat ini, mereka sedang duduk di kafe yang ada di mall tersebut. Entah kenapa feeling Mayra mengatakan ada yang tidak beres dengan semua ini, hingga ia mengajak mantan kakaknya untuk menikmati secangkir kopi berdua. insting maira tidak pernah salah, ia selalu akurat dalam apapun.
“ Kenapa kau begitu gugup duduk denganku?” tanya Mayra pada Agnia. Ia bisa melihat wajah 0Agnia begitu gugup saat menatapnya. Ini semakin menguatkan, bahwa ada yang terjadi di antara kakaknya dan Agnia.
“Aku tidak gugup, aku hanya terkejut saja bertemu denganmu. Ternyata kau sedang berada di luar kota!” balas Agnia. Mayra menyeruput kopi yang tadi ia pesan sambil menatap Agnia dengan tatapan waspada, gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Apa kau masih menjalin komunikasi dengan kakakku?” tanya Mayra tanpa basa-basi. Agnia menggeleng cepat. Namun wajahnya tampak terlihat panik.
“Tidak, kami sudah lama tidak berkomunikasi,” jawab Agnia. Mayra mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ah, baguslah!” Mayra berucap seolah ia percaya dengan ucapan Agnia, dan ia bisa melihat Agnia menatapnya seraya menghela nafas yang lega.
“Memangnya kenapa?” tanya Agnia.
“Aku hanya ingin memastikan saja bahwa kau tidak mengganggu lagi hubungan kakakku dan istrinya,” jawab Mayra membuat Agnia menelan saliva, karena Mayra menatapnya dengan tatapan menyelidik.
“Mana mungkin aku masuk lagi ke dalam hidup Sello," jawabnya lagi. Mayra mengangguk-anggukan kepalanya.
Seolah dia percaya dengan apa yang diucapkan oleh Agnia
__ADS_1
“Baguslah jika kau berpikir begitu!” kata Mayra.
“Oh, aku lupa. Aku ingin melihat detail blazer yang kau kau kenakan, sepertinya itu bisa menjadi referensiku untuk desain nanti!” kata Mayra, Agnia mengangguk, tanpa curiga, ia mulai melepaskan blazernya dan dengan senang hati langsung memberikan blazernya pada Mayra.
Seketika itu juga Mayra langsung memeriksa blazer Agnia. Tiba-tiba tubuh Mayra diam mematung, nafasnya memburu. Ia langsung menatap ke arah Agnia dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
“Ma-Mayra, kenapa kau menatapku begitu?” tanya Agnia. Mayra tersadar, kemudian tersenyum. Lalu setelah itu, ia langsung memberikan blazernya pada Agnia kembali.
“Tidak apa-apa, aku sudah mendapatkan referensinya!” Mayra mengembalikan blazer itu pada Agnia, kemudian ia mengambil tasnya lalu ia bangkit dari duduknya.
“ Terima kasih banyak atas waktumu!” kata Mayra
“Kalau begitu aku permisi, aku juga sudah membayar pesanan ini!” Setelah itu, Mayra pun pergi meninggalkan Agnia begitu saja.
•••
“Berani sekali dia! Bagaimana jika keluarga kita melihat kelakuannya,” cap Sello tanpa berkaca pada dirinya sendiri, bahwa dia pun lebih parah dari Bianca. tapi tak lama, Sello memejamkan matanya, rupanya tak lama dia tersadar tentang apa yang dilakukannya lebih parah daripada Bianca yang hanya menumpang di mobil orang lain.
“Ah udahlah!” ucap Sello, ia pun berjalan ke arah mobilnya dan menjalankannya untuk pergi ke kantor
•••
__ADS_1
suasana di dalam mobil Roland begitu hening..
Roland fokus ke mengemudi, sedangkan Bianca melihat ke arah jendela dan tak lama, Roland berdehem, Hingga pada akhirnya Bianca menoleh.
“Roland, Terima kasih sudah mau mengantarku. jika tidak ada kau, mungkin aku akan terlambat,” kata Bianca.
Roland pun menggangguk. “Tenang saja Bi,” jawabnya. Roland menggigit bibirnya kala ia ingin menanyakan tentang hal yang membuat ia penasaran sedari kemarin.
“Bi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Bianca. Kali ini, Bianca menggangguk.
“Apa yang ingin kau tanyakan Roland?”
“Apa kalian masih tinggal seatap?” tanya Roland dengan ragu, karena kemarin saat mereka menghabiskan waktu bersama di cafe, Bianca mengatakan akan segera berpisah dengan suaminya.
Ini kabar baik untuk Roland, dan sejak mengetahui Bianca akan berpisah dari Sello. Roland rela menunda pekerjaannya di luar negeri, Ia memutuskan untuk tetap di Rusia untuk mengejar Bianca.
Bianca tampak berpikir, “ kami masih berada satu atap aku akan mengajukan perceraian saat nanti waktunya tiba!” balas Bianca, setelah menjawah, Bianca langsung menatap wajah Roland.
Saat melihat wajah Roland, Bianca merasa bahwa Roland bahagia dengan kabar perpisahannya, dan Entah kenapa Bianca justru sedikit senang, saat melihat ekspresi Roland. Ia. merasa dicintai, ia merasa dihargai dan ia merasa ada yang menginginkannya.
••••
__ADS_1
Mobil yang di kendarai Sello sampai di basement perusahaannya. Saat Sello turun dari mobil, Sello mengerutkan keningnya saat melihat mobil mewah milik ayahnya sudah terparkir di tepat biasa. Sial! ayahnya datang lagi ke kanto dan pasti kedatangannya kali ini untuk menyidaknya.
Gans satu bab dulu ya, bsok update lagi yu gas komen Yo