Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Keberadaan Aghnia


__ADS_3

"Ayo Selo, cepat sebelum Bianca pulang dari rumah sakit," kata Amelia.


Selo tampak terdiam. "Mom, sepertinya aku tidak ingin bertemu dengannya dulu," jawab Sello.


"Kenapa?" Amelia menatap bingung pada Selo, bukankah putranya ini ingin kembali pada Bianca?


"Aku hanya takut Bianca risih," jawab Selo. Dia memang menginginkan Bianca, tapi dia ingin wanita itu lebih dulu merasa nyaman padanya.


"Kau yakin tidak ingin menemui Bianca?" tanya Amelia memastikan.


"Ya, aku ingin istirahat. Apalagi besok aku harus memimpin kantor, biar makanan ini untukku saja," balas Sello di iringi


Amelia membuka kotak makan itu, lalu memindahkan ke piring khusus untuk digunakan Selo yang berbeda dengan anggota keluarga lainnya. Mereka benar-benar menghormati keputusan Selo untuk menjadi seorang mualaf.


"Terima kasih, Mom." Selo pun berbalik pergi ke arah lift untuk naik ke kamarnya.


Setibanya di kamar, Selo menyimpan makanan di sofa kemudian menyalakan TV dan mencari channel ceramah yang ada di Rusia. Setelah itu, dia menonton sambil menyantap makanan buatan Amelia.


Tak lama, ponsel Selo berdering karena panggilan masuk dari Maira, sang adik.


"Ada apa?" tanya Selo.


"Kau ini bagaimana? Cepat datang, aku sedang menahan Bianca untuk terus di rumah sakit.” Maira hampir saja berteriak karena kakaknya begitu lelet.


"Biarkan saja dia pulang, Kakak tak ingin membuatnya risih. Ya sudah, Kakak tutup teleponnya." Selo langsung mematikan panggilan dan menurunkan ponselnya.

__ADS_1


Sebenarnya, keinginan Selo untuk menemui Bianca sungguh meronta-ronta, tapi dia tidak ingin terlalu kentara mendekati wanita itu. Dia hanya ingin semuanya mengalir seperti air.


***


"Aish, kurang ajar sekali dia. Padahal aku sudah mati-matian menahan Bianca!" Mayra menggerutu kakanya.


"Kenapa kau menyebut namaku?" Tiba-Tiba, terdengar suara Bianca dari arah belakang.


"Tidak, kau salah dengar," jawab Mayra dengan gugup.


"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang, bukankah kau mengajakku berbelanja?" tanya Bianca membuat Maira menghela napas.


"Eh tidak, aku lupa, aku harus segera pulang karena kucingku belum diberi makan," ucap Maira membuat Bianca menggeleng.


"Oh halo, Dokter Adrian." Bianca menyapa dengan ramah.


Maira menoleh, dia menyipitkan mata saat melihat tatapan Adrian pada Bianca, yang menyiratkan bahwa Adrian memiliki perasaan pada mantan kakak iparnya itu.


"Ayo Bianca, sepertinya kucingku sudah diberi makan oleh orang rumah, jadi ayo kita berbelanja saja," ajak Maira, tidak membiarkan Bianca dekat dengan siapapun.


Ajakan itu kini membuat Bianca menggeleng bingung karena tingkah Maira.


***


Keesokan harinya.

__ADS_1


Sello mematut diri di cermin. Dia menatap kagum pada wajahnya yang kembali seperti tampan dan tubuhnya yang kembali gagah.


Seketika itu juga pikirannya melanglang buana, memikirkan saat dia masih hidup dengan Agnia. Dulu dia kehilangan berat badan yang sangat signifikan, bahkan wajahnya pun terlihat sangat sayu. Tapi, sekarang semuanya sudah kembali seperti dulu.


"Kau sudah siap?" tanya Gabriel yang menyusul ke kamar Selo membuat pria itu langsung keluar dari walk-in closet dan menghampiri sang ayah.


"Daddy, aku sudah siap."


Gabriel tersenyum saat melihat gagahnya sang anak. Lalu ketika dia akan berbalik, tiba-tiba Selo, memanggil Gabriel, dan setelah itu Sello menghampiri sang ayah lalu memeluk Gabriel dengan erat.


“Terimakasih, Dad.”


Gabriel membalas pelukan Selo. "Sudah, lupakan yang berlalu. Berdoa saja agar kau dimaafkan oleh Bianca."


***


"Apa kalian sudah menemukan wanita itu?" tanya Roland pada anak buahnya.


Bukan hanya Gabriel saja yang mencari Agnia, dia pun sama. Sebab, banyak sekali rahasia yang dibawa oleh wanita itu, dan sebelum semuanya bocor dia harus lebih dulu melenyapkan Aghnia. Dia tidak mau masalah melebar kemana-mana.


Roland ingin rahasianya tetap tertutup rapat, karena selain bekerja untuk menggoda Selo, Agnia juga mempunyai tugas yang lain darinya.


Satu-satunya cara untuk membuat semu tetap aman adalah menemukan Agnia. Namun sayangnya, Roland dan Gabriel tidak menyadari bahwa Aghnia ada di sekitar mereka.


Pada kenyataannya, Agnia tidak pergi jauh, dan tanpa sepengetahuan siapapun, dia masih berada di sekitar tempat tinggalnya dulu, karena dia yakin Gabriel ataupun Roland akan berpikir bahwa dia pergi ke luar negeri.

__ADS_1


__ADS_2