
Saat melihat ibu mertua ada di depannya, jantung Sello berdebar tak karuan, rasa panik langsung menderanya, wajahnya sudah memucat. Bagaimana tidak, ia harus menghadapi ibu mertuanya saat tidak ada Bianca di apartemennya.
“Sello!” Panggil Maria.
“I-ia, Mommy,” jawab Sello dengan terbata-bata. Maria mengerutkan keringnya saat melihat ekspresi Sello tidak biasanya Sello menatapnya seperti ini.
“Sello da apa?” tanya Maria lagi yang bingung dengan ekspresi Sello. Sello mengela nafas, kemudian menghembuskannya, lalu berusaha menenangkan dirinya.
“Mommy, kenapa kau tidak memberitahu bahwa kau akan kemari?" tanya Sello membuat Maria tersenyum.
“Mommy, mengantarkan makanan untuk kalian, mommy akan memanaskannya dulu.”
Mendengar jawaban mertuanya, Deguban jantung Sello lebih mengencang dari sebelumnya, sekarang bagaimana dia menghadapi mertuanya.
“Sello!” panggil Maria lagi menyadarkan Selo dari lamunannya, hingga Sello menoleh ke arah Maria..
“Dimana Bianca?” tanya Maria.
”Bi-Bianca sedang ada operasi mom di rumah sakit,” jawab Sello Ia tidak mampu memikirkan alasan apapun lagi,.selain mengatakan hal tersebut pada Maria Maria.
__ADS_1
Maria mengangguk-nganggukkan kepalanya, “Ya, sudah Mommy akan menelepon Bianca, siapa tau operasinya sudah selesai!” kata Maria.
“Jangan!” tiba-tiba Sello menghentikan Maria yang akan menelpon Bianca, bisa habis jika Maria menelpon Bianca.
“Emm, maksudku Mommy biar aku saja yang menelponnya,” ucap Sello. Maria pun menggangguk.
“Kalau begitu, Mommy akan memanaskan makanan untuk kalian.
Dengan berat hati, Sello mengangguk, setelah Maria pergi ke dapur, Sello pergi ke kamar untuk mengambil ponsel dan menelpon Bianca.
“Bianca, aku mohon angkat!” ucap Sello saat sudah memanggil Bianca, ia berjalan ke sana kemari karena gugup, apalagi Bianca tidak menjawab panggilannya.
“I-ia, Mommy," jawab Sello dengan terbata-bata.
“Kau sudah berhasil menghubungi Bianca?” tanya Maria lagi.
“Bianca akan pulang sebentar lagi," jawab Sello dengan refleks. Pada akhirnya Sello menjawab dengan jawaban yang asal. Padahal, Ia tidak tahu kapan Bianca akan pulang.
Sello langsung mengutak-atik ponselnya kembali, ia mengirim pesan.
__ADS_1
“Bianca ada Mommymu disini, cepat pulang!” tulis Selo dalam pesannya. Sello menggertakan giginya, karena Bianca tak kunjung
menjawab pesannya. Sekarang, bagaimana ia harus menghadapi ibu mertuanya.
••••
Bianca menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia menoleh ke arah ponselnya sekilas kemudian kembali fokus melihat ke depan. Ia tahu Selo meneleponnya, tapi ia sengaja tidak mengangkatnya.
Dan saat Sello mengirim pesan, Bianca hanya membaca pesan itu sekilas, walaupun tidak membukanya, tapi Bianca bisa melihat isi pesan itu dari layar, hingga ia tau isi pesan Sello yang mengatakan bahwa ada Maria di apartemennya
Jika biasanya Bianca akan panik ketika sang ibu atau ayahnya ada di apartemennya. Tapi sekarang, ia tidak ingin lagi seperti itu, ia lebih baik menghadapinya dengan santai. Ia juga tidak ingin Sello semakin bersikap semena-mena padanya,.dan ia yakin saat ini Sello sedang panik. Tapi apa pedulinya.
Saat melewati cafe, Bianca memutuskan untuk singgah sejenak sebelum pulang ke apartemennya, ia ingin menikmati secangkir kopi
Bianca turun dari mobil, kemudian ia langsung masuk ke dalam. Lalu setelah itu, memanggil pelayan dan memesan cemilan, serta kopi kesukaannya.
15 menit berselang, akhirnya pesanan Bianca datang, Bianca langsung menyeruput kopi itu. Namun tak lama, Bianca langsung menghentikan gerakannya, saat mendengar seseorang yang berdehem di belakangnya. Hingga Bianca menoleh.
“Ro-roland!”
__ADS_1
Biar ga bingung, Roland munculnya ada di bab bab awal ya