
mobil yang dikendarai Roland sampai di rumah sakit dan Bianca pun langsung menoleh ke arah Roland.
“Terima kasih sudah mengantarkanku, Roland,” ucap Bianca Roland mengangguk-anggukkan kepalanya
“Bi!” panggil Roland.
“Hmm, Roland!” Bianca yang akan turun langsung menoleh.
“Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?” tanya Roland, karena memang saat itu mereka belum sempat bertukar nomor ponsel.
Bianca menggangguk, kemudian ia mengadakan tangannya dan Roland langsung memberikan, ponselnya pada Bianca. “Di sini ada nomorku!” kata Bianca.
“Terima kasih, Bi. Apa kau ingin aku menjemputmu lagi nanti?” tanya Roland lagi. Bianca menggeleng. “Tidak usah Roland, aku juga tidak tahu kapan aku selesai!” Setelah mengatakan itu, Bianca tersenyum kemudian berbalik lalu masuk ke dalam rumah sakit.
Saat Bianca pergi, Roland tersenyum. Ia tidak melepaskan pandangannya dari Bianca yang sudah berjalan menjauh untuk masuk ke dalam rumah sakit, dan tepat saat Bianca sudah tidak terlihat Roland kembali menjalankan mobilnya keluar, untuk pergi ke perusahaannya.
•••
waktu menunjukkan pukul 05.00 sore, Bianca keluar dari rumah sakit, kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya. Bianca mempunyai dua jadwal operasi yang cukup berat dan ketika ia keluar, ia merasakan rasa lega yang luar biasa.
Bianca berjalan ke arah depan untuk mencari taksi, karena dia tidak membawa mobil. Setelah ia mendapatkan taksi, Bianca pun langsung naik, kemudian menyuruh supir mengantarkannya ke alamat orang tuanya.
Ya, hari ini, ia tidak mau menginap di apartemen, ia tidak ingin bertemu dengan Sello karena ia yakin, Sello masih ada di apartemen mereka. Itu sebabnya, ia lebih memilih untuk pergi ke rumah orang tuanya. Jika orang tuanya bertanya, dia tidak akan menutupi apapun, begitulah pikir Bianca.
__ADS_1
Dan di sinilah Bianca berdiri, ia berdiri di depan mansion mewah kedua orang tuanya. Penjaga membukakan gerbang, dan Bianca pun langsung masuk ke dalam.
“Daddy!” Panggil Bianca. Bianca langsung memanggil sang ayah ketika melihat ayahnya sedang bermain ponsel di sofa.
Lyodra mengalihkan tatapannya ke arah Bianca, ia melebarkan senyum saat melihat sang putri. “Tumben sekali kau ke sini, mana suamimu?” tanya Lyodra. Bianca tidak menjawab, ia mendudukkan diri di sebelah sang ayah, kemudian ia merebahkan kepalanya di bahu Lyodra.
Sejenak Bianca merasa nyaman, ia merasa aman saat ia menyadarkan kepalanya di bahu sang ayah. Ia tersenyum getir saat mengingat kenangan lalu. Ia tidak pernah sedamai ini setelah menikah, dan ia juga baru mengingat betapa bahagianya ia sebelum ia menikah dengan Sello.
Bianca menggeleng pelan, ia tidak boleh menyalahkan takdir, ini semua keputusannya. “Dad, mana Mommy?” tanya Bianca.
“Mommy, di mungkin sedang menyiram tanaman.”
Tiba-tiba, Bianca terpikirkan sesuatu. “Dad, bagaimana masa lalumu dan Mommy, maksudku bagaimana bisa kalian saling mencintai dan menikah lalu sampai bertahan sejauh ini?” tanya Bianca, karena seingatnya ia tidak pernah melihat orang tua berdebat, tidak pernah melihat orang tuanya berselisih paham, dan orang tuanya begitu harmonis.
Bianca menyadarkan Lyodra dari lamunannya. “Hubungan kami cukup rumit, dari itu melibatkan bibi Stevia dan paman Ferhad. Tapi Mommy mu di masa lalu tidak sebaik yang kau kira. Dulu Mommy ....”
“Tutup mulutmu, Dad. Kau mau aku membeberkan rahasia masa lalu pada Bianca ....” tiba-tiba Lyodra menggigit bibirnya kemudian ia menoleh ke arah Maria. Lalu tersenyum.
“Bukankah itu faktanya, Kau pernah mendiamkanku lima tahun.”
“Bianca kau ingin tau alasan Mommy melakukan itu, karena ....” Tiba-tiba Lyodra bangkit, kemudian ia langsung menutup mulut Maria, membuat Bianca tertawa karena kelakuan orang tuanya.
Inilah yang membuat Bianca iri, orang tuanya masih bisa bercanda, romantis dan harmonis ketika usia mereka sudah tidak lagi muda, tapi kenapa pernikahannya ... Lagi-lagi Bianca geleng-gelengkan kepalanya, ia tidak boleh terus berpaku pada masa lalu.
__ADS_1
Bianca masuk ke dalam kamar, ia menghirup aroma kamarnya dalam-dalam. Hari ini, ia tidak ingin pulang ke apartemennya, ia tidak ingin bertemu Sello. Terlebih lagi dia harus mengurus sesuatu di sini, ia harus mengumpulkan semua dokumen untuk menggugat cerai Sello ke pengadilan.
Ya, mungkin tidak sekarang, tapi yang pasti Bianca akan menggugat Sello setelah waktunya tiba. Dia tidak akan memberitahu pada Sello, ia akan mengurus semuanya sendiri.
•••
Sello mondar-mandir di depan apartemennya, ini sudah pukul 08.00 malam dan Bianca belum juga pulang. Ia sudah menyusun rencana dan akan mempraktekkannya malam ini. Tapi yang terjadi, Bianca masih juga belum kembali.
Sello mengambil ponsel, kemudian menelpon Bianca, dan tak lama Bianca mengangkatnya.
“ Di mana kau?” tanya Sello.
“Memangnya kenapa?” Jawab Bianca di seberang sana, membuat Sello memejamkan matanya
“Kenapa kau belum pulang, aku khawatir?” jawab Sello, ia bergidik saat harus berkata begitu pada Bianca.
. “Kau berbuat baik padaku pun percuma, aku tidak akan mau menurut apapun lagi padamu. Aku sedang berada di mansion orang tuaku, jika kau berani datang saja!” setelah mengatakan itu Bianca pun langsung menutup panggilannya.
“Tunggu, apa dia memberitahu semuanya pada ayah ibunya!” Tubuh Sello diam mematung
Sial!
Gengs aku tuh pengen udpate setiap hari tapi komennya dikit banget 😔 yu gas lah 200 komen
__ADS_1