
Saat Daren masuk, rasanya dia ingin mendorong tubuh Darren agar tidak masuk. Dia takut kondisi Theresia drop lagi ketika melihat Darren. Shelby berjalan ke arah Darren kemudian dia menghadang langkah suaminya.
"Tolong pergi dari sini, jangan buat Theresia drop." Shelby sengaja berbicara pelan karena dia tidak ingin mengejutkan Theresia, hingga Darren langsung menoleh ke arah istrinya. Bukannya menjawab, Darren malah tersenyum membuat Shelby kebingungan, hingga pada akhirnya Darren melanjutkan langkahnya dan kini tatapan Theresia dan Darren saling menatap.
Theresia langsung memejamkan mata ketika melihat Darren, dia takut sekali pada sang ayah. Namun, sepersekian detik, Theresia membuka mata ketika merasakan elusan di rambutnya.
Theresia mengerutkan keningnya. Dia pikir ini adalah mimpi, ayahnya mengelus rambutnya dan tersenyum padanya. Ternyata, ini nyata sebab dia tidak tertidur.
"Theresia," panggil Darren. Setitik bulir bening terjatuh dari pelupuk mata Darren ketika memanggil nama Theresia, begitu pun Theresia yang cukup terpana saat Darren memanggilnya dengan nada yang lemah lembut, bahkan tatapan Darren penuh dengan ketulusan. Theresia bingung, di satu sisi dia takut pada Darren, tapi di satu sisi lain dia bahagia Darren seperti ini.
Shelby memalingkan tatapannya ke arah lain saat melihat Darren berinteraksi pada Theresia. Bolehkah dia berharap bahwa Darren benar-benar menyayangi Theresia seperti Tristan? Mungkin jika Darren memang berubah, Shelby akan membantu Darren untuk mendapatkan hati Theresia.
Mungkin orang pikir Shelby bodoh karena mengizinkan dekat lagi dengan Theresia setelah apa yang lelaki itu lakukan, tapi percayalah jika Shelby menjauhkan Darren dan Theresia serta tidak memberikan kesempatan Darren untuk menebus kesalahannya pada Theresia, itu hanya akan memperburuk keadaan.
Karena dia yakin, Cepat atau lambat, Theresia pasti akan memaafkan Dareen dan pada akhirnya Theresia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, yaitu dekat dengan Dareen.
waktu menunjukan pukul 9 malam.
Saa ini Darren dan Theresia sedang di restoran. Darren sengaja meminta Shelby untuk berbicara di restoran yang ada di dekat rumah sakit, sedangkan Theresia sedang ditunggu oleh Tommy dan Mayra.
"Kita pesan makanan terlebih dahulu," kata Darren, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun menikah, mungkin inilah pertama kalinya Darren mengajak Shelby untuk makan malam bersama,
begitu pun dengan Shelby. Tidak ada raut marah, dia tidak ingin ada konflik lagi dengan Darren karena sepuluh tahun ini, dia yakin mental Tristan dan Theresia dihajar habis-habisan karena permasalahan mereka berdua.
Darren menekan tombol untuk memanggil pelayan, karena memang mereka menempati VIP room dan tidak ada siapa pun di sana, hingga tak lama pintu terbuka. Pelayan pun datang membawakan menu dan setelah mereka memilih, pelayan pun kembali keluar hingga kini kedua pasangan itu kembali terdiam.
Setengah jam berlalu.
Satu persatu makanan pesanan Darren dan Shelby pun datang. Keduanya fokus pada makanan mereka, hingga akhirnya acara makan pun selesai.
"Kau ingin Bicara apa?" tanya Shelby yang memulai pembicaraan.
Darren menghela napas kemudian mengembuskannya. Dia menunduk kemudian menggigit bibirnya. Jari-jarinya saling bertautan, dia bingung harus mulai dari mana.
Tidak, Darren tidak gengsi untuk meminta maaf, hanya saja dia tahu kesalahannya sudah terlalu banyak.
"Apa kau menyesal?" tebak Shelby ketika mengetahui Darren kesulitan untuk bicara hingga Darren mengangguk.
"Apa kau ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Darren membuat Shelby mengerutkan keningnya karena sampai saat ini Shelby belum mengetahui apa yang terjadi hari kemarin tentang Rush.
"Ada apa?" tanya Shelby, dan Darren pun langsung menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, tidak ada yang terlewat sedikit pun termasuk tentang masa lalunya hingga menimbulkan dendam.
Shelby menutup mulut tak percaya saat mendengar ucapan Darren. Dia menatap Darren dengan tatapan tak percaya.
“Ka-kau tidak bercanda?" tanya Shelby dengan terbata sebab, apa yang di ucapkan Dareen tentang Rush benar-benar tak masuk di akal.
"Itu benar, inilah kenapa Rush mendekati Theresia selama setahun ini," kata Darren.
Shelby benar-benar percaya pada Rush, tapi sekarang?
"La-lalu, Bagaimana dia sekarang?" tanya Shelby.
"Anak buah Daddy sudah mengurusnya," katanya, "Shelby, entah kau menyangka ini menggombal atau berbohong, tapi aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu. Saat Theresia disandera oleh Rush, aku menyadari bahwa sebenarnya aku menyayangi Theresia, hanya saja rasa sayangku tertutup oleh gengsi. Sebenarnya aku mungkin sudah menyayangi Theresia setahun lalu, tapi egoku masih terlalu tinggi dan ketika melihatnya disandera oleh Rush, aku merasa benar-benar takut kehilangannya. Aku tidak tahu Theresia memaafkanku atau tidak, tapi aku ingin memulai mendekatinya. Kau tidak keberatan, 'kan?" tanya Darren.
Shelby menghela napas kemudian menghembuskan.
"Darren, kau tahu betapa tersiksanya Theresia selama ini? Aku rasanya tidak perlu menjabarkan rasa sakit yang Theresia tanggung karena kau tidak pernah mau mengakuinya. Jika aku egois menuruti hawa nafsuku, mungkin aku tidak akan mengijinkanmu dekat dengan Theresia setelah apa yang kau lakukan, tapi aku juga lelah jika harus terus berkonflik. Masih ada Tristan dan Theresia yang harus kita bahagiakan. Di sini juga bukan Theresia saja yang menjadi korban, melainkan Tristan. Aku memang mengijinkanmu untuk menebus kesalahan pada Theresia, tapi jika Theresia tidak mau, aku pun tidak bisa berbuat apapun. Kau mengerti, 'kan, maksudku?" tanya Shelby hingga Darren mengangguk.
"Terima kasih sudah memaafkanku dengan dosa masa laluku. Aku berjanji aku tidak akan menyakitimu lagi dan Theresia," ucap Dareen dia berbicara dengan penuh ketulusan.
Shelby terkekeh.
"Kau tidak perlu memikirkan aku, pikirkan saja Theresia. Aku hanya ingin berdamai dan tidak ingin ada konflik lagi ke depan," kata Shelby, menyiratkan bahwa dia tidak ingin memperbaiki hubungannya dengan Darren dan dia hanya ingin terus berteman. Dia sudah tidak peduli lagi dengan ikatan pernikahan.
***
Darren masuk ke dalam rawat Theresia, kedua orang tuanya sudah pergi sedangkan Shelby juga ikut pulang bersama Mayra dan Tommy karena ternyata Tristan demam, Awalnya Shelby tidak percaya pada Darren bisa menjaga Theresia, tapi Darren meyakinkan, karen dia ingin lebih dekat dengan Theresia.
Saat Darren masuk, Theresia yang sedang melamun, menggerakkan kepalanya. Dia kira ibunya yang masuk, tapi ternyata bukan. Mungkin Shelby bisa berdamai dengan Darren, tapi tidak dengan Theresia.
__ADS_1
Rasa sakit yang dialami sudah sangat dalam, terlebih lagi saat dia melihat Darren dan Mia di restoran setahun lalu, ditambah lagi saat kemarin di mana Darren membentak dan berteriak padanya. Di dalam hati, gadis kecil itu sudah bertekad tidak akan pernah memaafkan sang ayah. Setelah keluar dari rumah sakit, dia tidak ingin bertemu dengan ayahnya lagi, begitulah pikir Theresia.
Darren mendekat ke arah brankar, dia menatap Theresia yang sedang menatap ke arahnya. Theresia menatapnya dengan tatapan benci, lalu setelah itu gadis kecil itu memalingkan tatapan ke arah lain.
Perlahan Darren mengangkat tangannya kemudian lelaki tampan itu langsung menggenggam tangan Theresia, dan ketika tangannya bersentuhan dengan Theresia, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata lelaki tampan itu. Tangan ini begitu mungil, tangan yang selalu ingin menjangkaunya tapi dia selalu mengabaikannya.
Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Theresia ketika Darren menyentuh tangannya. Rasanya dia ingin menarik tangannya agar tidak disentuh oleh sang ayah, tapi dia tidak bisa menggerakkan tangannya hingga pada akhirnya dia membiarkan Darren memeluknya, menggenggam tangannya.
Darren melepaskan penyangga brankar, hingga dia langsung naik brankar tersebut karena memang Theresia memakai brankar yang sangat besar, hingga kini Darren bisa berbaring di sebelah putrinya.
Theresia yang sedang memalingkan tatapannya ke arah lain, benar-benar kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh sang ayah. Namun, karena Theresia tidak ingin memikirkan apapun dan tidak ingin berbicara apapun, Theresia tidak menoleh lagi ke arah Darren.
Setelah Darren naik ke brankar. Dia memeluk putrinya. Sungguh, demi Tuhan, hati Darren terasa nyeri ketika merangkul tubuh Theresia di dalam pelukannya. Semua dosa yang dia lakukan pada Theresia selama sepuluh tahun ini menubruk otak Darren, hingga rasanya Darren begitu malu untuk menatap putrinya.
"Theresia," panggil Darren. Sejenak, lelaki itu menghentikan ucapannya. Dia berusaha untuk tidak menangis.
"Daddy tahu semua apa yang Daddy lakukan selama ini sangat menyakitimu," kata Darren lagi, Theresia semakin aneh dengan ucapan Darren. Namun, gadis kecil itu memutuskan untuk tidak merespon apa yang Darren lakukan dan malam ini, Darren sama sekali tidak tertidur. Dia terus mengelus rambut Theresia. Matanya tidak lepas menatap putrinya.
***
"Mommy, apakah Theresia akan segera pulang?" tanya Tristan ketika mereka sedang sarapan di meja makan l.
"Hmm, Theresia akan segera pulang," jawab Shelby walaupun dia tidak tahu kapan Theresia sembuh, bahkan dibutuhkan waktu selama berbulan-bulan untuk memulihkan kondisi Theresia jika Theresia sedang drop seperti ini.
"Mommy," panggil Tristan lagi. Dia sedikit ragu untuk bertanya..
"Kenapa? Ada yang kau pikirkan?" tanya Shelby.
Tristan mengangguk. "Mommy bilang Daddy sedang bersama Theresia, apa itu berarti ...."
Shelby menyimpan roti yang sedang dia pegang kemudian dia menoleh ke arah putranya. "Pikiranmu benar, Daddy sudah menyadari bahwa selama ini Daddy keliru.”
“Apa sekarang dia akan menyayangi Theresia?" tanyanya lagi. Wajah bocah kecil itu begitu berbinar saat mendengar ucapan Shelby.
Helaan napas terlihat dari wajah tampan Tristan ketika melihat anggukan Shelby Dia mengepalkan tangannya kemudian menyatukannya lalu menyimpannya di bawah dagu. "Terima kasih, Tuhan. Kau mendengar doaku," ucap Tristan.
Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Shelby ketika mendengar doa Tristan, karena dia tahu sebenarnya bukan Theresia saja yang korban di sini, melainkan Tristan juga. Dia bisa melihat Tristan sangat menyayangi Theresia, tapi adakalanya Tristan tidak bisa bersama Theresia karena larangan dari Dareen dan sekarang semuanya selesai.
Darren, Theresia dan Tristan akan saling menyayangi, sedangkan dia tentu tidak berniat untuk menjalin hubungan pernikahan seperti pada umumnya walaupun saat ini statusnya menikah dengan Darren, karena jujur saja dia tidak percaya dengan kata cinta apalagi dengan sebuah ikatan setelah ayahnya mengusirnya ketika usianya dua belas tahun.
"Ya sudah, ayo kita makan," kata Shelby hingga keduanya pun langsung meneruskan sarapan mereka.
Tiga bulan kemudian.
Tidak terasa ini sudah tiga bulan berlalu dan selama tiga bulan ini pula, Theresia dirawat di rumah sakit dan setelah tiga bulan dirawat, akhirnya hari ini Theresia diizinkan untuk pulang.
Selama tiga bulan ini, Darren sama sekali tidak pernah meninggalkan Theresia. Dia terus menemani putrinya, dia juga tidak pergi ke kantor. Dia hanya pulang untuk mengambil pakaian, sedangkan Theresia satu patah kata pun sampai detik ini tidak ada yang keluar dari mulutnya untuk menjawab ucapan Darren.
Dia menganggap Darren hanya angin lalu, walau tak dipungkiri ada rasa senang yang menghinggapi gadis kecil itu ketika Darren sudah berubah padanya. Namun, tetap saja rasa kecewa lebih mendominasi hingga pada akhirnya, dia lebih memilih untuk tetap diam dan tidak pernah menggubris apa yang Darren lakukan.
Darren masuk ke dalam ruangan Theresia. Dia tadi keluar untuk mengambil kursi roda. Theresia yang sedang duduk di sofa, langsung menoleh, rasanya dia begitu kesal melihat ayahnya.
Tadi malam Shelby mengatakan tidak enak badan, hingga tidak bisa menemani Theresia padahal Theresia ingin pulang bersama ibunya. Namun karena Shelby ingin memberikan waktu untuk Darren dan Theresia, Shelby berpura-pura tidak enak badan hingga kini Darren bisa pulang bersama putrinya. Dia ingin mengajak putrinya untuk makan di luar sebelum mereka pulang.
"Ayo naik, Daddy akan mendorongmu," ucap Darren. Apapun yang diucapkan oleh Darren, rasanya begitu memuakkan di telinga Theresia. Gadis kecil itu bahkan bangkit kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Darren membuat Dareen menghela napas hingga lelaki itu pun langsung menyusul putrinya.
Darren mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan, sesekali dia melihat putrinya yang sedang duduk melamun. Setelah tadi dia mengejar Theresia yang mendahului keluar dari ruang rawat, akhirnya dengan paksa Darren menggendong tubuh putrinya karena Theresia tidak mau diikuti olehnya dan setelah sampai di mobil, Theresia masih terdiam, tidak mau sama sekali melihat ke arahnya.
Dan sekarang, di sinilah mobil Darren terparkir, di sebuah restoran, dia sengaja mengajak Theresia makan bersama, Shelby sudah membuatkan banyak sekali list untuknya, dari mulai makanan dan minuman yang disukai oleh Theresia hingga lain-lain.
"Ayo kita makan, kau boleh memesan apapun yang kau mau," kata Darren.
Bukannya menjawab, Theresia malah menyandarkan tubuhnya ke belakang. Gadis kecil itu memalingkan tatapannya ke arah lain, mungkin jika saat itu Darren tidak membentaknya, tidak berteriak padanya, Theresia tidak akan seperti ini. Dia pasti akan memaafkan ayahnya dengan cepat.
"Theresia," panggil Darren lagi, tapi Theresia tidak menjawab. Dia malah memejamkan matanya.
"Ya sudah kalau begitu, kita tunggu saja di sini sampai kau lapar," ucap Darren. Dia merogoh saku kemudian mengutak-atik ponselnya.
"Apa kita jemput Tristan untuk makan bersama?" tanyanya yang berusaha untuk memancing Theresia berbicara, lagi-lagi Theresia tidak menjawab.
__ADS_1
Satu jam berlalu.
Theresia merasakan perutnya begitu lapar karena ini sudah lebih dari jam makan siang, tapi rasanya dia begitu gengsi untuk berbicara pada.
Sedangkan Darren mengembangkan senyumnya ketika mendengar suara perut Theresia, lelaki itu pun langsung turun dari mobil kemudian memutari mobilnya, lalu setelah itu dia membukakan pintu untuk Theresia.
"Ayo kita makan," ucap Darren, tapi Theresia malah memalingkan tatapannya ke arah lain, hingga pada akhirnya dia menggendong Theresia dengan erat karena Theresia terus memberontak.
"Turunkan aku!" Theresia berteriak dan untuk pertama kalinya Theresia berbicara pada Darren, hingga Darren langsung menurunkan tubuh Theresia.
"Ya, sudah ayo kita masuk" ajak Darren.
Theresia yang tidak ingin disentuh lagi oleh sang ayah, berjalan mendahului masuk dan ketika masuk, Theresia langsung duduk di kursi yang dekat dengan jendela disusul Darren yang juga ikut duduk.
Darren mengangkat tangannya, memanggil pelayan dan meminta buku menu hingga tak lama pelayan pun datang menghampiri meja yang mereka tempati.
"Theresia, kau ingin makan apa?" tanya Darren sambil menyerahkan buku menu. Setelah melihat dan setelah memilih, Theresia melihat ke arah pelayan.
"Aku ingin semua menu yang ada di sini," kata Theresia membuat mata pelayan membulat, dia langsung menoleh ke arah Darren hingga Darren mengangguk.
"Tidak apa-apa, pesan semua menu dan satukan dua meja kemari," kata Darren karena memang satu meja tidak akan cukup menampung semua menu yang tersedia.
Mata Theresia membulat saat mendengar jawaban Darren, dia pikir ayahnya tidak akan setuju tapi ternyata ayahnya setuju dan itu membuatnya kesal.
"Tidak usah, pesan menu satu saja," kata Theresia.
Pelayan memberikan lagi buku menu pada Theresia, hingga Theresia pun langsung memilih dua menu dan setelah itu, Darren pun mulai memesan.
Setelah mereka memesan, Theresia menyimpan kepalanya di meja, dia menatap ke arah jendela. Untuk pertama kalinya dia bisa menikmati waktu bersama sang ayah. Dulu, dia selalu ingin makan bersama ayahnya dan ketika semua sudah terwujud, entah kenapa rasanya berbeda.
Setengah jam kemudian.
Makanan yang dipesan oleh Darren dan Theresia pun datang. Theresia memesan steak, dan Darren pun langsung mengambil piring yang berisi steak pesanan putrinya dan memotongnya, agar Theresia makan dengan mudah.
Entah kenapa, Theresia merasa marah ketika Darren melakukan itu, teringat ketika kejadian satu tahun lalu, dan Theresia juga baru ingat bahwa dulu dia makan di restoran yang dikunjungi saat ini.
Tiba-Tiba, Theresia dilanda amarah. Dia langsung menarik piring yang ada di tangan Darren kemudian menghempaskannya piring ke bawah hingga piring pun pecah, tentu saja apa yang dilakukan Theresia membuat Darren sangat terkejut.
"Theresia," panggil Darren.
"Apa? Kau mau memarahiku?" tanya Theresia, dan untuk kedua kalinya Theresia berbicara pada Darren. Mungkin di masa lalu Darren akan emosi ketika Theresia seperti ini, tapi di masa sekarang dia malah merasa sedih karena dia tahu putrinya sedang melampiaskan amarah padanya.
Theresia bangkit dari duduknya kemudian dia memutuskan untuk keluar dari restoran, membuat Darren menggeleng. Dia juga ikut bangkit kemudian membayar ke kasir, lalu setelah itu menyusul Theresia.
"Theresia," panggil Darren ketika Theresia sedang berjalan. Theresia tidak menoleh, entah kenapa dia merasa marah dan mood-nya tiba-tiba memburuk. Dia pun langsung masuk ke dalam mobil dan sengaja duduk di belakang hingga lagi-lagi Darren menghela napas.
***
Darren menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melihat ke arah Theresia.
"Theresia, apa kau ingin bermain ponsel? Menonton tayangan YouTube?" tanya Darren walaupun dia tahu Theresia tidak akan menjawab, tapi tetap dia akan bertanya seperti tadi.
Theresia tidak menjawab, dia memalingkan tatapannya ke arah lain karena tahu sang ayah sedang melihatnya, sedangkan Darren kembali menghela napas, dan pada akhirnya mereka pun sampai di basement apartemen. Dia berencana untuk membawa Theresia pergi ke apartemennya karena Shelby juga sudah setuju, bahwa mereka akan pindah lagi ke apartemen Dareen Tentu saja agar Darren bisa menggapai hati Theresia.
Setelah sampai di basement, Theresia pun turun. Lalu ketika berada di depan lift, Darren langsung menggendong tubuh Theresia membuat mata Theresia membulat. Kakinya dengan kencang menendang-nendang ke arah perut Darren. Sesekali, Darren meringis ketika kaki Theresia mengenai senjatanya.
Darren sengaja menggendong Theresia agar Theresia tidak pergi ke apartemen yang di atas, dan akhirnya lift pun berhenti. Darren langsung turun dan berjalan dengan cepat karena Theresia terus meronta.
"Kenapa kau membawaku kemari?!" teriak Theresia ketika mereka sampai di apartemen Darren.
"Sekarang kalian tinggal di sini lagi, Theresia. Mommy pun akan di sini," jawab Dareen dengan nafas terengah.
Theresia membulatkan matanya saat mendengar ucapan Darren, dan entah kenapa tiba-tiba rasa kesal langsung menghampiri gadis kecil itu. Tiba-Tiba, Theresia berjalan ke arah dalam membuat Darren menghela napas. Akhirnya, Thersia tidak protes.
Namun, kelegaan Darren tidak bertahan lama saat mendengar suara kaca pecah dari arah dalam, hingga dengan cepat lelaki itu pun langsung berlari. Mata Darren membulat saat melihat apa yang dilakukan oleh Theresia, ternyata Theresia melempar semua barang.
Alam bawah sadar Theresia kini sedang mengeluarkan emosinya dan amarahnya. Selama tiga bulan ini, dia begitu muak ketika Darren bersikap baik dan ketika sekarang Dareen memaksanya untuk tinggal bersama, Theresia seolah melampiaskan rasa marah dan rasa kesalnya.
Theresia tidak hanya melemparkan semua barang-barang, dia pun juga berteriak menatap Darren dengan penuh amarah, memaki ayahnya. Mungkin inilah titik terendah yang Theresia rasakan.
__ADS_1
Sedangkan Darren, lelaki itu sama sekali tidak bergerak. Dia menatap putrinya dengan tatapan berkaca-kaca. Dia membiarkan Theresia mengeluarkan amarahnya, tidak peduli barang-barang di apartemennya harus rusak karena dilemparkan oleh putrinya.
Sepuluh menit kemudian, Theresia sepertinya sudah mulai lelah, dan ketika putrinya selesai melemparkan semua barang-barang Dareen berjalan ke arah Theresia, kemudian dia menekuk kakinya menyetarakan diri dengan putrinya. Lalu setelah itu dia ....