
Bianca mengambil ponselnya, kemudian Ia memutuskan untuk menelepon Roland.
“Hai, Roland. Apa aku mengganggumu?” tanya Bianca saat Roland mengangkat panggilannya.
“Tidak, Bi. Aku senang kau menelpon. Tadinya, aku ingin meneleponmu. Tapi aku takut mengganggumu,” jawab Roland di sebelah sana.
“Ada apa, apa ada yang ingin kau sampaikan, atau kau ingin berbicara sesuatu padaku?” tanya Roland lagi
Bianca tampak terdiam. “Terima kasih untuk tadi Roland. Kata-katamu menamparku, benar aku terlalu sempurna untuk lelaki seperti dia.” Hanya ini yang ingin Bianca katakan pada Roland. Sedangkan Roland terkekeh di seberang sana.
“Kenapa aku baru menyadarinya Bianca,” balas Roland, dan mereka pun melanjutkan berbincang-bincang.
•••
Sello menempelkan kupingnya ke pintu, ia berusaha mempertajam pendengarannya. Tapi tidak bisa, ia tidak bisa mendengar apapun. Ia hanya bisa mendengar suara Bianca sedang mengobrol dengan seseorang.
Sello mengusap wajah kasar, ia benar-benar bingung dengan perubahan Bianca. Bianca tidak seperti biasanya, dan ia takut Bianca sedang merencanakan hal lain.
Selo berbalik, kemudian memutuskan untuk kembali dalam kamar. Setelah sampai di kamar, Sello membaringkan tubuhnya di ranjang. Sungguh, ia benar-benar takut dengan perubahan Bianca, ia takut Bianca melakukan hal di luar dugaannya .Bianca yang awalnya dingin, berubah. Bukankah itu menjadi sebuah tanda tanya.
Tak lama, ponsel Sello berdering, satu panggilan masuk dari Mayra, adiknya. Ia pun langsung mengangkatnya.
“Hmm, ada apa?” tanya Sello.
“Tidak, aku hanya ingin memastikan apa kondisimu baik-baik saja,” jawab Mayra di seberang sana, lagi-lagi membuat, Sello mengurutkan kening.
“Apa maksudmu? apa ada yang terjadi?” tanya Sello, setelah itu Mayra mematikan panggilannya, membuat Selo semakin bingung. “Entahlah, kenapa juga aku harus memikirkan mereka berdua!” Sello menarik selimut kemudian Ia pun lebih memilih untuk tidur.
pagi berganti malam, Sello keluar dari kamarnya dan ternyata Bianca sudah ada di meja makan. “Apa kau tidak membuatkan sarapan untukku?” tanya Sello.
“Sudah, Jika kau mau, hangatkan saja sendiri. Jika tidak buang saja!” kata Bianca.
“ Kenapa kau tidak sekalian menghangatkannya untukku?”
“Kau punya tangannn bukan?” Jawab Bianca, lihatlah wanita ini kembali berubah. Kemarin, Bianca berubah baik tapi sekarang ... Bianca kembali seperti semula. Tapi setidaknya, Sello bisa menghela nafas lega, ia tidak perlu menakutkan apapun lagi, jika Bianca sudah bersikap seperti ini.
Sello pergi ke dapur, kemudian ia menghangatkan makanan yang sudah dibuat oleh Bianca dan memasukannya ke dalam microwave. Lalu, 10 menit kemudian, Sello mengambil makanan di microwave tersebut dan setelah itu , ia membawa ke meja makan.
Sello menarik kursi, kemudian menududukkan dirinya di sebelah Bianca. “Mommy dan Daddy meminta kita untuk datang, bisakah kita bersandiwara seolah kita baik-baik saja?” tanya Sello,.Bianca mmengangguk-nganggukkan kepalanya
__ADS_1
“Kapan?” tanya Bianca.
“Dua hari lagi.”
“Baiklah.”
Sello menghela nafas lega, saat Bianca tidak mendebatnya ataupun tidak menolak apa yang ia ucapkan.
“Ah, ia seminggu lagi kita akan pergi ke pesta di sana juga ada keluarga kita," jawab Sello, lagi-lagi Bianca menggangguk. Padahal kemarin, mati-matian Bianca menolak untuk pergi ke pesta.
dua hari kemudian
Sello mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia menoleh ke arah Bianca yang tampak asik dengan ponselnya. Saat ini, Sello sedang berada di mobil dan pergi untuk ke mansion Gabriel dan Amelia, mereka berencana menginap di sana sesuai permintaan Gabriel.
Setelah melewati perjalanan cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Sello sampai di mansion, Bianca pun mendahului Sello untuk turun, disusul Sello.
•••
Acara makan malam pun selesai, Saat ini Bianca sedang berada di kamar Sello, kamar yang dulu sering Sello tempati sebelum mereka menikah.
Bianca merebahkan tubuhnya di ranjang, kemudian Sello yang baru saja keluar dari kamar mandi pun ikut merebahkan tubuhnya di sisi Bianca.
“Kenapa kau tidur disampingku?” tanya Bianca.
waktu menunjukkan pukul 12.00 malam, Bianca sama sekali tidak bisa tertidur, gelisahnya muncul lagi. Entah kenapa, malam ini moodnya tiba-tiba memburuk. Ia lupa, ia tidak membawa obatnya.
Ketika ia berbalik ke arah Sello, Bianca menghentikan aktivitasnya saat melihat mata Sello masih terbuka. Hingga kedua pasangan itu saling mengunci. Sello menatap irish mata Bianca dalam-dalam.
Bianca memutuskan untuk bangun dan memilih untuk tidur di sofa karena ia mendadak salah tingkah saat ditatap oleh Sello.
“Bianca, apa kita tidak bisa berbaikan saja?’ tanya Sello, ia mulai melancarkan aksinya untuk merayu Bianca. Ia sudah memikirkan ini dari kemarin, apalagi kemarin ia melihat berkas perceraian di kamar Bianca dan ia baru menyadari bahwa berkas yang saat itu ia Sobek ternyata hanya sebuah copy-an.
Bianca menarik sudut bibirnya, lalu tersenyum sinis. “Dalam mimpimu!”
Sello menggenggam tangan Bianca. “Bianca, aku berjanji, aku akan berubah. Ayo kita mulai semua dari awal!” dusta Sello, jelas-jelas dia hanya ingin posisinya aman.
Bianca menarik tangannya dari tangan Sello.
“Tidak, aku tidak mau.” Sungguh, rasanya Sello begitu kesal dengan ucapan Bianca. Namun, sebisa mungkin ia menahannya.
__ADS_1
”Aku bersumpah, Bianca. Kali ini, aku akan berubah,” jawab Sello, lagi-lagi Bianca tertawa.
“Cukup sello, Aku muakk mendengarnya,” jawab Bianca, tanpa membalas ucapan Bianca, Sello mendidihhhh tubuhh Bianca.
“Sello mau apa kau?” tanpa aba-aba, Sello menarik selimut, kemudian memulai serangannya.
4 bulan kemudian.
Sello keluar dari kamar, kemudian ia menghampiri Bianca yang sedang memasak. Lalu, ia memeluk Bianca dari belakang.
Setelah kejadian malam itu, Sello begitu gencar mendekati Bianca, melakukan hal manis hingga Bianca terbuai. Ia seolah lupa dengan tekadnya, Apalagi Sello membangkitkan kenangan manis di antara mereka, hingga akhirnya Bianca benar-benar Luluh..
Setelah Sello berubah, Bianca melalui hari-harinya dengan kebahagiaan, karena Sello benar-benar berubah, menjadi Sello yang seperti dulu. Sayangnya, Bianca tidak tahu, bahwa Sello sedang menutupi sesuatu yang sangat besar.
“Sello kau pulang jam berapa nanti?” tanya Bianca.
“Sepertinya aku harus keluar kota, Bianca. Tapi aku akan terus meneleponmu, ada pekerjaan di sana. Setelah itu aku akan mengambil cuti yang panjang," jawab Sello, Bianca tampak cemberut membuat Sello, mencium pipi Bianca dari samping
“Hanya satu hari," ucapnya Bianca mengambil piring yang berisi sarapan yang telah Ia buat, kemudian ia membawanya kemeja makan disusul oleh Sello.
•••
Waktu menunjukkan pukul 10.00 siang, Bianca merasa bosan, ia pun memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke mall. Dan di sinilah Bianca, ia berada di sebuah mall, ia berencana untuk membeli sesuatu.
Saat berada di mall, ia bingung harus membeli apa, hingga ia berjalan tanpa arah. Tiba-tiba, tubuh Bianca diam mematung, dadanya berdegup dua kali lebih cepat, dunianya seakan berhenti berputar saat melihat suaminya sedang digandeng oleh wanita.
Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, itu bukan Sello," lirih Bianca. Namun, kakinya melangkah untuk mendekat ke arah suaminya. Ternyata Sello pun sedang berada di mall yang sama dengan Bianca.
“Sello .... ” Dengan bibir bergetar, Bianca memanggil Sello hingga Sello yang sedang membelakangi Bianca menoleh. Mata Sello membulat saat melihat Bianca di depannyan
“Bi-Bianca,” ucap Sello, tiba-tiba wajah Sello memucat. Kini, Bianca langsung mengalihkan tatapannya ke arah Agnia yang sedang menggandeng tangan suaminya
“Ada apa ini?” Tiba-tiba, semua menoleh ke arah samping, di mana ada Amelia di sana. Rupanya, Amelia pun sedang berada di mall yang sama dan ia langsung menghampiri anak dan menantunya.
Namun yang membuat Amelia terkejut, adalah saat ia melihat tangan Sello sedang digandeng oleh seorang wanita.
“Se-Sello, bisa kau jelaskan ini.”
“Dia dan wanita itu berselingkuhh Mom ...." Tiba-tiba maira datang dari arah belakang, karena Ia memang sedang menemani Amelia berbelanja.
__ADS_1
“Apa maksudmu Maira?”
”Dia dan wanita ini berselingkuhh dan menghianati kak Bianca, dan aku baru mengetahuinya kemarin malam.” Tiba-tiba lutut Amelia melemas saat mendengar ucapan Mayra, hingga pada akhirnya, Amelia tidak sadarkan diri.