
Saat mobil mulai melaju, Alice yang duduk di belakang bersama Maira terus memeluk pinggang Maira, menyalurkan Kerinduan pada Mayra sedangkan Mayra terus mengelus punggung Alice.
“Tidak apa-apa, Alice. Ada Mommy di sini. Jangan takutkan apapun lagi," ucap Mayra. Bukannya berhenti menangis, Alice malah mengencangkan tangisannya. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tommy pun sampai di kediaman mereka.
Tommy melihat ke arah belakang, di mana dia melihat Alice sedang tertidur di pelukan Mayra, sedangkan Mayra menyimpan telunjuknya di bibir mengisyaratkan Tommy untuk diam, hingga Tommy pun mengangguk. Lalu setelah itu Tommy kembali berbalik ke depan dia mengambil ponsel kemudian mengutak-atiknya.
Maira mengerutkan keningnya kala melihat dari kaca depan, dimana Tommy tampak tersenyum dia pun langsung menendang pelan kursi depan karena takut Tomi melakukan macam-macam hingga pada akhirnya Tommy kembali menoleh.
“ Why?” tanya Tommy tanpa suara.
Mayra dengan wajahnya menunjuk ponsel yang dipegang oleh Tommy, hingga Tommy pun langsung memberikan ponsel itu pada istrinya dan setelah itu Maira pun mengambilnya. Mayra mengutak-atik dengan satu tangan, karena satu tangannya sedang memegang Alice.
Seketika wajah Maira memerah, dia tersipu malu ternyata Tommy sedang melihat foto pernikahan mereka tadi di gereja. Dengan wajah kaku, Maira memberikan lagi ponselnya pada Tommy hingga Tommy pun langsung kembali berbalik.
Setengah jam kemudian, Alice mengerjap, dia membuka matanya lalu tak lama dia menegakkan tubuhnya dan melihat ke sekelilingnya, hingga tatapannya berhenti pada Maira.
“Mom, kenapa kau tidak membangunkanku, pasti aku membuat Mommy kesal?” tanya Alice. Maira kemudian mengelus rambut putri sambungnya, kemudian
“Ayo kita masuk,” ajak Maira, hingga Alice pun tampak terdiam, dia langsung menunduk.
__ADS_1
“Mommy, boleh aku masuk, boleh aku menginap beberapa hari, tidak sehari saja.”Alice dengan cepat meralat ucapannya, karena takut Maira tidak mengabulkan keinginannya hingga Maira kembali terkekeh.
“Alice, Kau boleh tinggal bersama Mommy, Iya kan Daddy?” tanya Mayra pada Tommy.
“Tentu Ayo kita turun.” Semua pun turun dari mobil kemudian mereka pun langsung masuk ke dalam dan setelah mereka masuk, Adrian langsung menyadarkan tubuhnya ke belakang.
Ya, pada akhirnya Adrian pun mengikuti mobil Tomi dan ketika melihat interaksi semuanya Ardian benar-benar merasakan nyeri yang luar biasa, rasanya lelaki itu ingin menenggelamkan dirinya apalagi dia teringat ucapan Tommy di mana Tomi mengatakan Maira mencintainya selama bertahun-tahun tapi hanya dalam hitungan bulan, Maira bisa jatuh cinta pada Tommy.
Setelah semua tidak terlihat Adrian menegakkan tubuhnya, kemudian lelaki itu memilih menyalahkan mobilnya dan menjalankannya untuk pulang mungkin dia akan menunggu saran dari Tommy untuk meluluhkan Alice
Cinta untuk Maira masih besar dan begitu menggebu-gebu, tapi dia sudah tidak ingin lagi mengejar Maira, karena Mayra sudah ada dengan orang lain. Tapi Alice, Tentu saja dia ingin terus mengejar maaf putrinya karena alis adalah salah satu bagian hidupnya.
“Sebentar Mommy akan panggilkan pengasuh adikmu. Mommy akan berganti Pakaian dulu.”
“Mommy, jika ingin istirahat istirahat saja aku tidak apa-apa di sini bermain bersama adikku," ucap Alice karena dia melihat mata Maira yang terlihat mengantuk.
“Kau tidak apa-apa jika Mommy istriahat ?” tanya Mayra.
“Hmm, Mommy.”
__ADS_1
''Ya sudah kau tunggu di sini. Daddy juga akan menyuruh pelayan Untuk mengantarkan makanan padamu.” Kali ini Tommy yang berbicara, tidak ada kecanggungan dalam diri Tommy ketika dia harus memanggil dirinya sendiri Daddy pada Alice.
***
“Kau tidak keberatan kan Alice terus berada di sini, aku tidak tega melihat Alice seperti ini?” tanya Maira ketika mereka masuk ke dalam kamar.
Tommy yang sudah berjalan mendahului langsung berbalik, kemudian dia menggendong tubuh istrinya Lalu setelah itu berlari ke arah ranjang membuat Maira tertawa, hingga kini mereka sudah berbaring di ranjang dengan posisi Tommy yang menindih tubuh Maira.
“Kenapa aku harus keberatan Sayang," jawab Tommy. Maira menatap Tommy dengan lekat, sungguh dia bersyukur setelah lepas dari pernikahan Toxic bersama Adrian, hingga dia bisa bersama lelaki yang sangat baik seperti Tommy. bertahun-tahun dia mencintai Adrian tanpa lelah tapi hanya dalam hitungan bulan, Tomi merubah segalanya, seolah semua cinta yang dia punya berpaling dan hanya ada nama Tommy di hatinya.
“Why? kenapa kau menatap aku seperti itu?” tanya Tommy.
“Kenapa Tuhan menciptakan lelaki yang sangat baik sepertimu, Dad?” tanya Maira lagi mungkin aku hanya diciptakan untuk Bidadari sepertimu dan seperti Salsa," tanya Tommy, membuat Maira tersenyum dan dengan pipi yang bersemu merah.
Maira mengalungkan tangannya pada leher Tommy. “Sepertinya menyenangkan jika bermain seperti semalam," cap Maira tiba-tiba membuat Tommy menyeringai.
“Kau tidak mengantuk?” tanya Tommy.
“Kantukku hilang karena membayangkan hal semalam,” jawab Maira, ketika dengan Adrian mungkin Maira tidak pernah mendapatkan sebuah kepuasan, karena Adrian begitu kaku. Tapi ketika menikah dengan Tommy, Tommy begitu membuatnya melayang dan menjadikannya seperti Ratu tentu saja Maira ingin membalas, dan sekarang mereka pun melakukan ....
__ADS_1