
Maira menatap langit-langi, sesekali dia meringis ketika perutnya terasa nyeri.
“Kak!" Panggil maira hingga Selo yang sedang mengutak-atik ponselnya menoleh
“Hmm.”
“Apa kata dokter?” tanya Mayra.
“Kau terkena dehidrasi, dan kau penyakit lambungmu kumat," jawab Sello. "Kenapa kau sampai drop seperti ini?" tanya Sello lagi, dia menatap sang ibu Lekat-lekat.
Maria menyimpan tangannya di kening. "Ya sudah, cepat ambil jabatanku. Aku ingin menikmati hidupku seperti kemarin," kata Maira. Ternyata, menjadi pemimpin perusahaan sungguh melelahkan, Maira dipaksa untuk fokus, dipaksa untuk tepat dan dia juga kehilangan waktu untuk bersantai.
Ketika sudah berada di kantor, Maira hanya fokus pada pekerjaan, hingga wanita itu selalu mengabaikan jam makan. Dia juga sebenarnya enggan memimpin perusahaan.
"Ya sudah, biar Kakak yang ambil alih, tapi nanti setelah Kakak menikah," ucap Sello. Maira tidak berbicara lagi. Wanita itu menatap lurus ke depan, lagi-lagi hatinya terasa sedih ketika mengingat apa yang terjadi di restoran.
Jika memang Adrian bersama Saira dan Adrian menjadi iparnya, itu berarti Maira harus terus menguatkan dirinya.
"Ada yang kau pikirkan?" tanya Selo ketika melihat Maira melamun. Belakangan ini dia melihat Maira berbeda, Maira lebih sering menyendiri bahkan wajah Maira yang tadinya berseri-seri berubah menjadi layu, dan Selo bisa melihat adiknya seperti kehilangan semangat hidup.
Maira menoleh kemudian menggeleng. "Aku tidak apa-apa," jawabnya.
"Kau sudah mengabari Mommy dan Daddy?" tanya Maira.
Selo menggeleng. "Belum, aku akan mengabari mereka," jawabnya.
"Tolong jangan," ucap Maira.
Selo menghentikan gerakan tangannya yang hampir saja menelepon Gabriel, lalu menoleh ke arah Maira. "Kenapa?" tanya Selo.
"Tidak apa-apa. Kesehatan Mommy Daddy juga sedang tidak baik, aku takut menambah pikiran mereka," ucap Maira hingga Selo mengangguk-angguk kepalanya.
"Pulanglah, Kak. Aku tidak apa-apa di sini sendiri," titahnya.
"Matamu! Kau pikir aku bisa tenang saat kau melihat seperti ini?" kata Selo lagi.
"Aku tidak apa-apa sendiri," ucap Maira. Dia rasa dia lebih baik sendiri untuk merenungi semuanya, daripada ada Selo.
__ADS_1
"Tunggu Saira datang. Kakak sudah menelponnya," ucap Selo.
"Apa?" Maira terpekik ketika mendengar ucapan Selo, padahal melihat Saira membuat dia merasa sesak, tapi kakaknya malah menyuruh Saira datang kemari.
"Kenapa Kakak menyuruhnya datang kemari?" tanya Maira, nadanya terdengar seperti protes membuat Selo mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Apa ada masalah di antara kalian?" tanyanya.
"Mana mungkin begitu, tapi aku hanya ingin sendiri. Harusnya Kakak tidak usah memanggilnya," kata Maira lagi, ekspresinya tetap cemberut.
Belum Selo menjawab, pintu terbuka dan muncul sosok Saira membuat Maira memejamkan matanya.
"Akhirnya kau tiba juga," ucap Selo pada Saira.
"Kau tadi baik-baik saja, kenapa kau sekarang terbaring di sini?" tanya Saira. Tadi Maira makan dengan lahap, tapi sekarang lihatlah, kakaknya malah terbaring di sini.
"Panjang ceritanya, jangan berbicara. Aku tidak ingin berisik," ucap Maira, langsung mengatakan hal seperti itu membuat Saira menggeleng, dan Selo pun langsung bangkit dari duduknya karena sudah ada Saira.
"Kakak pulang," kata Selo hingga Maira mengangguk. Setelah itu Selo pun langsung keluar dari ruang rawat sang adik, hingga kini di sana menyisakan Saira saja.
"Maira, apa kau menyukai Dokter Adrian?" tanya Saira. Maira yang sedang melamun membulatkan matanya saat mendengar ucapan Saira. Awalnya, Saira hanya iseng menanyakan itu, tapi dari raut wajah, Saira yakin tebakannya benar.
"Mau kupanggil Adrian kemari? Dia ada di sini. Barusan dia mengantarkanku," ucap Saira. Dia meneliti wajah Maira dan sepertinya dugaannya memang benar, Maira menyukai Adrian.
"Tidak perlu, aku ingin istirahat," ucapnya. Perasaan Maira semakin mellow saat Saira mengatakan itu, hingga perlahan dia mengubah posisinya menjadi menyamping.
***
Selo menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah lelaki itu. Rasanya dia tidak sabar untuk besok, di mana dia akan mengajak Bianca untuk fitting gaun pengantin, dan membicarakan mereka akan menikah di mana, karena sampai saat ini belum ada pembicaraan tentang pernikahan mereka.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di mansion kedua orang tuanya. Selo pun kemudian masuk ke dalam.
***
"Bi," panggil Lyodra saat Bianca sedang berdiri di balkon.
Bianca menoleh. "Ya, Dad?" jawab Bianca berbalik, kemudian wanita cantik itu langsung mendudukkan diri di balkon di disusul Lyodra yang juga ikut duduk, hingga kini posisi mereka bersebelahan.
__ADS_1
"Kau sudah membicarakan hal-hal apa yang kau ambil dengan Selo?" tanya Lyodra.
Bianca nampak terdiam. Pikirannyaq melanglang buana. Dia memang sudah menerima permintaan Selo untuk kembali menikah lagi, tapi terkadang ada sebersit ragu yang dia rasakan. Walau bagaimanapun, Selo pernah memberikan luka yang sangat dalam untuk Bianca.
"Kau masih ragu?" tanya Lyodra yang melihat ekspresi Bianca, hingga Bianca mengangguk.
"Aku masih ragu," jawabnya.
Lyodra menggerakkan tangannya kemudian dia mengelus rambut Bianca. "Jika kau ragu, jangan terlalu cepat untuk melangkah, menjalani saja secara bertahap," kata Lyodra lagi.
Seandainya Bianca bisa melakukan itu, tentu saja Bianca akan melakukannya, hanya saja Selo sudah mendesaknya untuk segera menikah dan Bianca tidak punya pilihan lain. Karena walau bagaimanapun, dia mempunyai hutang budi pada lelaki itu. Entah apa yang Bianca rasakan pada Selo, entah mencintai ataupun hanya sekadar merasa bersalah, tapi untuk melangkah rasanya Bianca benar-benar takut.
"Aku ingin seperti itu, Daddy. Tapi Selo selalu ingin segera menikah. Aku takut gagal lagi," jawab Bianca.
"Kau berdoa saja agar semuanya baik-baik saja," ucap Lyodra.
Saat Bianca akan membalas ucapan sang ayah, tiba-tiba ponsel di tangannya berdering membuat Bianca langsung melihat siapa yang menelponnya. Helaan napas terlihat dari wajah cantik Bianca, siapa lagi jika bukan Selo.
"Kenapa kau tidak mengangkatnya?" tanya Lyodra.
"Ya sudah Daddy pergi," ucap Lyodra, bangkit dari duduknya karena dia tahu putrinya akan menelepon Selo.
"Ada apa?" tanya Bianca.
"Kau sedang apa Bi?" tanya Selo.
"Bernapas," jawabnya.
"Cih, kau ini tak acuh sekali padaku," ucap Selo.
"Aku mengantuk, aku ingin tidur," dusta Bianca.
"Bianca," panggil Selo, kali ini Selo sudah mulai serius. Sepertinya Selo mempunyai firasat bahwa Bianca masih ragu padanya.
"Apa?" tanya Bianca.
"Kau pasti masih ragu, 'kan padaku?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Selo jika aku boleh jujur ak—"
"Tidak boleh, kau tidak boleh jujur, jangan jujur. Aku tidak ingin mendengar kejujuranmu. Pokoknya besok aku akan datang, dan mengajakmu untuk fitting baju pengantin. Selamat malam," ucap Selo, menutup panggilannya membuat Bianca kesal.