
Selo terdiam di tempat ketika melihat mobil yang mencurigakan. Dia sungguh takut mobil itu adalah mobil Roland. Entah kenapa, perasaannya mengatakan bahwa Roland akan melakukan sesuatu yang membahayakan Bianca.
Namun tak lama, Selo menghela napas ketika melihat logo yang ada di mobil tersebut, yaitu logo perusahaan mantan ayah mertuanya. Sepertinya, Lyodra sedang mengawasi Bianca.
Selo pun berbalik kemudian pergi untuk mencari taksi.
***
Di sisi lain, Roland menunduk. Dia tidak berani mengangkat kepala, apalagi di depannya ada Kaisar Morone, yang tak lain bos besarnya.
Suasana di ruangan itu menegang. Semua tim Kaisar Morone duduk di ruangan tersebut. Meeka sama seperti Roland yang menunduk karena mereka tidak berani menatap bos mereka.
Sementara Kaisar Morone, sedari tadi berusaha untuk menetralkan emosi. Bagaimana tidak, dia baru mengetahui bahwa sebenarnya Gabriel adalah musuh sang kakak, bahkan beberapa kali ada orang yang mencurigakan datang ke rumahnya dan itu adalah anak buah Gabriel.
Kaisar tahu bahwa Gabriel bukan tipe orang yang akan diam saja, dan ini semua gara-gara Roland, tangan kanannya yang ceroboh karena menyuruh Aghnia. Karena tidak mampu untuk mengaturnya, hingga semuanya bocor dan Kaisar juga mempermasalahkan hubungan asmara Roland yang melibatkan pekerjaan, hingga sekarang semuanya jadi terbongkar.
"Roland!" panggil Kaisar.
Roland mengangkat kepala. Dia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
"Berapa stok kita di markas?" tanya Kaisar. Walaupun dia emosi, tapi dia tidak bisa sembarangan untuk memarahi Roland, sebab jika ada dendam di antara mereka, bisa saja Roland melakukan hal yang lebih parah daripada Aghnia, apalagi dia memegang peran yang besar di balik bisnis yang sudah dia geluti selama bertahun-tahun.
"Masih ada beberapa stock kontainer lagi, dan itu akan disuplai ke Amerika. Beberapa ginjal juga akan dioperasikan malam ini untuk rumah sakit di Jerman," jawab Roland dengan bibir gemetar.
Kaisar berpikir, jika mereka berurusan dengan hukum, mereka harus secepatnya menyuplai organ-organ yang telah mereka berhasil kumpulkan, agar mendapatkan keuntungan dan juga agar tidak ada barang bukti.
"Percepat waktu pengiriman sekarang juga. Jangan tunda lagi, kita tidak akan tahu kapan pihak kepolisian bergerak," titah Kaisar.
Semua anak buah Kaisar langsung bangkit dari duduknya, termasuk Roland. Mereka pun keluar dari ruangan tersebut.
***
Roland menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Lelaki itu langsung pergi ke markas yang selama ini dia jaga. Setiap anak buah memiliki markasnya masing-masing, dan juga memiliki target masing-masing.
Lalu sekarang, Roland ingin mempercepat proses pengiriman ke rumah sakit yang ada di Jerman.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Roland sampai di sebuah rumah yang tak lain adalah markasnya. Beberapa anak buah langsung menyapa Roland hingga dia masuk ke dalam.
Saat masuk ke dalam, Roland merasa ada yang aneh. Dia menoleh ke arah anak buahnya. Namun setelah dipikir, tidak ada yang berubah. Semuanya tetap sama saja, hanya perasaannya mengatakan ada yang berbeda, tapi Roland pun tidak tahu di mana perbedaan itu.
Tak ingin ambil pusing, Roland kembali melanjutkan langkah. Lelaki itu memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan, di mana merupakan laboratorium tempat penyimpanan organ-organ yang sudah dia kumpulkan.
Roland menampakkan sidik jari. Lelaki itu langsung masuk ke dalam dan ternyata, sedang ada dokter yang bertugas untuk memantau semuanya.
"Bisa kita supply sekarang?" tanya Roland.
"Sekarang?" ulang dokter tersebut.
"Dan setelah itu, kau bisa pergi ke luar negeri untuk menghilangkan jejak kita. Semua sepertinya sudah terkepung," ucap Roland.
Dokter itu langsung panik, dan mereka pun mulai bekerja hingga akhirnya dua jam kemudian, semua sudah selesai. Truk pengantar yang akan mengantarkan barang-barang tersebut ke pelabuhan sudah datang, hingga satu persatu
anak buah Roland mengangkat dengan hati-hati box yang berisi organ-organ tersebut.
Tiga jam kemudian, semua sudah selesai. Tidak ada barang bukti yang ditinggalkan di markas Roland, hingga dia yang sudah lelah dari tadi, langsung mengistirahatkan tubuh.
Lelaki itu memutuskan untuk beristirahat, karena apa yang dia lakukan barusan begitu melelahkan. Belum lagi dia berpacu dengan waktu. Ketakutan membayangi Roland. Dia memikirkan bagaimana nasib perusahaannya ke depan, sebab jika ini terbongkar, perusahaan yang dia bangun pun pasti akan hancur. Roland mengusap wajah kasar kemudian memejamkan mata.
***
Gabriel tersenyum saat melihat truk kontainer datang ke belakang rumah sakit.
Ya, kontainer yang tadi berisi organ-organ yang akan diselundupkan lewat pelabuhan, ternyata tidak datang ke pelabuhan melainkan datang ke rumah sakit milik Gabriel. Sebenarnya tadi yang berada di markas Roland bukan anak buah Roland, melainkan anak buah Gabriel. Supir yang membawa kontainer pun diturunkan secara paksa, hingga anak buah Gabriel yang mengambil kontainer tersebut.
__ADS_1
Gabriel berencana untuk menyimpan organ tubuh tersebut di laboratorium miliknya, agar organ tersebut masih bisa dijadikan barang bukti, dan setelah dijadikan barang bukti Gabriel akan memberikannya pada orang yang membutuhkan tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Mustahil bagi Gabriel untuk mencari tahu siapa pemilik organ-organ tersebut, hingga Gabriel memutuskan untuk memberikan pada orang yang membutuhkan secara gratis.
Anak buah Gabriel langsung membuka kontainer tersebut, hingga Gabriel bisa melihat isinya. Dia meringis ketika melihat banyak sekali box yang berjajar. Lelaki itu memegang jantungnya yang terasa ngilu, membayangkan berapa orang yang menjadi korban akibat Kaisar Morone juga Roland serta Aghnia.
"Masukkan lewat jalur belakang agar tidak ada yang melihat," titah Gabriel hingga semua anak buahnya mengangguk.
Setelah itu, anak buahnya membawa satu persatu box dengan hati-hati dan mereka pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Setelah selesai, Gabriel langsung menyuruh untuk kontainer itu disimpan di tempat aman, karena kontainer itu juga salah satu barang bukti yang akan menjadi bukti di kepolisian.
Gabriel menyandarkan tubuh ke belakang. Dia bernostalgia dengan masa lalu. Dia bersyukur Selo tidak mengikuti jejaknya sebagai mafia.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Gabriel sampai di mansion.
Sopir membukakan pintu untuk Gabriel, lalu setelah itu dia pun langsung masuk ke dalam.
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam.
Roland terbangun dari tidurnya. Tidak terasa, dia tertidur selama dua jam. Roland pun langsung bangkit dari duduknya, karena berpikir anak buahnya sedang beristirahat di belakang.
Saat keluar, tidak ada siapapun di sana. Roland melihat jam, dan berpikir anak buahnya mungkin sedang melakukan pergantian shift hingga lelaki itu memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut. Tanpa dia tahu, anak buahnya sudah dijemput paksa oleh polisi untuk dimintai keterangan, sebelum polisi menangkap Roland dan juga Kaisar, dan yang tadi adalah anak buah Gabriel.
Roland mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikiran lelaki itu mengembara entah ke mana. Jujur saja, saat ini Roland dalam ketakutan yang luar biasa. Dia takut bisnis terbongkar, perusahaannya bangkrut dan akan membawa pengaruh pada sang ayah yang sekarang sedang mencalonkan diri sebagai anggota politik.
Tak lama, Roland diam sejenak. Lelaki itu lupa bahwa dia tidak makan siang karena begitu panik saat mendengar panggilan dari Kaisar Morone, hingga dia memutuskan untuk pergi ke restoran.
Lalu, di sinilah mobil Roland berada, di sebuah restoran. Lelaki itu pun langsung masuk ke dalam dan memilih meja. Saat menunggu, tiba-tiba Roland merasa ada yang memperhatikannya hingga Roland menolehkan kepalanya ke sana kemari. Namun, tidak ada yang mencurigakan.
'Ah, mungkin hanya perasaanku saja, apalagi aku sedang ketakutan.' Roland membatin. Dia menyangka ini adalah efek ketakutan, padahal tidak. Ada polisi yang sedang mengincarnya. Mereka harus benar-benar menangkap Roland dengan penangkapan yang sangat rapi agar lelaki itu tidak bisa kabur.
Lalu ketika Bianca masuk, Bianca juga melihat ke arah Roland. Tatapan keduanya saling mengunci. Bianca tersenyum padanya.
Roland dengan cepat menunduk, kembali menyuapkan makanannya. Saat ini dia tidak ingin makan. Dia akan menunda urusannya dengan Bianca, dan akan fokus pada bisnisnya.
Sementara Bianca, dia mengerutkan kening ketika melihat reaksi Roland. Namun tak lama, dia menggeleng dan sedikitnya wanita itu merasa bersalah. Dia pikir dia telah melukai Roland hingga Roland berubah tak acuh.
"Ayo," ajak Amora. Mereka pun memilih meja kemudian langsung memesan.
***
Bianca turun dari mobil. Dia baru saja sampai di rumah kedua orang tuanya setelah mengantarkan Amora ke apartemen, dan ternyata ibunya sedang berada di taman belakang hingga sebelum masuk, dia langsung menghampiri sang Ibu.
“Mom!" panggil Bianca.
Maria menoleh. Raut wajah gelisah tidak bisa disembunyikan dari wanita paruh baya itu, membuat Bianca semakin yakin ada yang mengganggu pikiran ibunya.
"Mommy kenapa?" tanya Bianca. Wanita itu mendudukkan diri di sebelah ibunya.
"Bianca, Mommy ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Maria. Sedari tadi yang membuat Maria gelisah adalah soal Selo.
Barusan ada kiriman bunga dari Selo untuk Bianca, dan Maria tidak suka itu hingga itu menjadi pikiran bagi wanita paruh baya tersebut. Dia takut putrinya tergoda lagi walaupun putrinya sudah menegaskan, bahwa dia tidak akan kembali pada Selo, tapi tetap saja Maria ketakutan. Belum lagi selama beberapa hari ini, dia tidak melihat Roland.
Setidaknya jika ada Roland, Selo tidak akan berani. Namun lihatlah, mantan menantunya malah secara terang-terangan mengirimkan bunga.
"Mommy, ada apa?" tanya Bianca lagi yang heran dengan reaksi Maria.
"Kau dan Selo menjalin hubungan?" tanya Maria.
"Kenapa harus membahas itu, sih?" tanya Bianca yang mulai kesal karena sang ibu terus membahas Selo seolah tidak percaya padanya.
__ADS_1
Maria berdeham saat mendengar kekesalan Bianca. Dia sadar bahwa dia terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak mungkin. Dia tidak percaya pada putrinya.
"Mommy gelisah karena memikirkan Selo?" tanya Bianca.
"Tidak, mana mungkin Mommy seperti itu. Tidak ada gunanya sekali memikirkan lelaki itu," elak Maria. Namun dari wajahnya mengatakan sebaliknya.
Bianca tidak ingin tidak ingin berdebat dengan sang ibu, Bianca pun bangkit dari duduknya. "Ya sudah aku masuk dulu," katanya.
Saat akan berbalik, Maria langsung memanggil Bianca hingga Bianca kembali menoleh.
"Ayo duduk di sini," kata Maria yang menyuruh Bianca untuk duduk hingga dia pun kembali duduk di sebelah ibunya.
"Kenapa, Mom?" tanya Bianca.
"Mommy perhatikan Roland sudah jarang kemari, bahkan beberapa waktu ini dia tidak menampakkan batang hidungnya. Apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Maria. Wanita paruh baya itu berpikir untuk secepatnya menikahkan Bianca dan Roland, toh Roland juga mengatakan bahwa siap menjadi mualaf. Belum lagi, dia yakin bahwa Roland adalah pasangan yang terbaik bagi Bianca, sebab dia sudah meneliti Roland.
Semenjak Bianca bercerai dengan Selo, Roland menjadi garda terdepan Bianca dan Maria tidak mempunyai keraguan lagi untuk menerimanya. Tanpa Maria sadari, sebenarnya Roland tidak sebaik yang ia pikir. Entah bagaimana reaksi Maria ketika mengetahui bahwa sebenarnya Roland adalah seorang penjahat kelas kakap.
"Bi," panggil Maria ketika Bianca tidak menjawab ucapannya.
Bianca menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Entah bagaimana cara dia mengatakannya pada ibu, sebab jika dia jujur meminta Roland untuk menjauh, pasti Maria akan murka sebab dia tahu bagaimana sayangnya sang ibu pada Roland.
"Mungkin Roland sedang sibuk, Mom," jawab Bianca. Dia lebih memilih untuk tidak bercerita pada Maria.
Maria mengerutkan keningnya saat melihat wajah Bianca yang gugup. Wanita itu langsung bertanya, "Sibuk?"
"Hm, Roland sedang sibuk," ucap Bianca.
"Tidak mungkin. Sesibuk-sibuknya Roland, dia masih selalu mempunyai waktu untuk mengantar jemputmu dan untuk main kemari, lalu kenapa sekarang dia tidak pernah datang?" tanya Maria lagi.
"Roland sedang pergi ke luar negeri, Mom. Ada perusahaan baru di sana," dusta Bianca yang memilih untuk mengakhiri pembicaraan, dan sepertinya Maria terlihat percaya dengan apa yang Bianca ucapkan.
"Oh ya sudah kalau begitu, ayo kita masuk," ajak Maria membuat Bianca menggeleng. Ternyata, hanya itu yang ingin disampaikan oleh ibunya.
***
Setelah masuk ke dalam kamar, Maria menundukkan diri di sofa. Wanita itu mengotak-atik ponsel. Dia mencari nomor Roland. Sekarang dia ingin menelpon Roland, meminta Roland untuk terus mendekati Bianca agar Bianca luluh, karena dia tidak ingin menantu selain Roland.
Namun jika ingin menelepon, dia takut mengganggu pada lelaki itu.
Maria terdiam sejenak. Jika menundanya, dia tidak akan tenang, hingga pada akhirnya Maria menekan tombol hijau lalu menelepon Roland.
Satu kali, dua kali, tiga kali berdering, Roland tidak kunjung menjawab panggilannya membuat Maria pesimis, karena dia tahu perbedaan waktu di luar negeri.
Namun saat panggilan keempat, Roland mengangkat panggilannya membuat senyum Maria begitu mengembang.
Roland di seberang sana berdeham hingga dia pun langsung bertanya, "Halo, ini siapa?"
"Roland, kenapa kau jarang kemari?" tanya Maria tanpa basa-basi.
Roland di seberang sana mengelus dada saat mendengar ucapan Maria. Setidaknya Maria tidak berubah, berbeda dengan Lyodra yang sekarang menatapnya dengan aneh.
"Oh Bibi, aku sedang banyak pekerjaan. Mungkin aku akan bermain ke rumah Bibi dan bertemu dengan Bianca ketika pekerjaanku sudah selesai," jawab lelaki itu.
Maria menggigit bibir. Dia mencari cara untuk berbicara pada Roland.
"Roland," panggil Maria.
"Bibi, katakan saja," pinta Roland.
Sebenarnya, jantung Roland berdegup dua kali lebih kencang di seberang sana. Walaupun sikap Maria terlihat masih sama, tapi ada kalanya dia takut bahwa Maria mengetahui bisnisnya yang lain.
"Bisa kita bicara di luar setelah kau pulang dari luar negeri?" tanya Maria pada Roland yang baru saja tenang.
__ADS_1
“Luar negri? aku tidak pergi ke luar negri bibi.”