
Mayra berdiri di depan jendela. Tatapan matanya lurus ke depan, menatap gedung-gedung yang ada di depannya. Sesekali, dia menyeruput susu yang di gelas yang sedang dia pegang. Netranya menatap keluar dengan dalam.
Ini sudah sebulan berlalu semenjak kepergian Adrian ke Korea, dan sudah sebulan ini pula Mayra terus pergi ke kantor. Namun walaupun begitu, dia tidak mengurangi waktunya bersama Alice. Dia tetap menempatkan anak itu sebagai prioritas di atas segalanya, bahkan terkadang Alice pun diam di kantornya.
Dan sudah sebulan ini pula, Mayra memutuskan untuk menjadikan dirinya pusat kebahagiaan, fokus menikmati hidup tanpa peduli lagi dengan apapun yang Adrian lakukan. Ternyata, selama sebulan ini Mayra mampu menekan perasaannya hingga dia merasa jauh lebih tenang.
Mayra yang awalnya selalu ingin berkirim kabar dengan Adrian, mulai membiasakan dirinya untuk tak lagi berkomunikasi meski hanya saling menyapa dengan pria itu. Walaupun tak dipungkiri, sebagai perempuan yang mencintai Adrian, tak ada interaksi di antara mereka membuatnya terjebak dalam kerinduan. Maka dari itu, bukan sekali dua kali dia ingin mengirim pesan pada Adrian, yang sekarang sudah berhasil dia tahan.
Entah kenapa, selama sepekan ini Mayra merasa benar-benar lelah dengan kondisi yang seperti ini. Dia enjoy ketika dia tidak memikirkan Adrian lagi, tapi di sisi lain, dia tidak ingin statusnya digantung, hingga kemarin sore ketika dia berkonsultasi dengan kuasa hukumnya, Mayra memutuskan untuk menggugat cerai Adrian. Tidak ada gunanya hidup rumah tangga seperti ini. Dia masih muda, dia cantik dan masih bisa bahagia, walaupun dia tahu butuh waktu yang lama untuk melupakan Adrian.
Mayra melihat jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul empat sore, hingga wanita itu pun langsung berbalik kemudian menyimpan gelas yang berisi susu di meja, kemudian dia mengambilnya lalu mendudukkan diri di kursi kerja.
Sudah berkali-kali dia ingin menelepon Adrian, dan mengatakan keinginannya untuk bercerai, tapi tak ada satu pun yang terwujud. Setiap kali niat itu ada, dia senantiasa mengurungkannya.
Alasan Mayra adalah, otaknya masih kekurangan waktu untuk menghasilkan kata-kata yang tepat agar bisa berbicara dengan lelaki itu. Dia juga sudah memikirkan tentang cara untuk mengungkapkan ini pada Alice, dan satu-satunya cara yang dia dapatkan adalah menutupi perceraiannya.
Mayra akan merahasiakan perceraiannya dari putri sambungnya, agar Alice tidak terkejut.
Setengah jam berlalu, akhirnya Mayra pun mengutak-atik ponselnya kembali, kemudian dia menelepon Adrian dan setelah tiga kali berdering, barulah Adrian mengangkat panggilannya.
"Halo Mayra?" panggil Adrian dari seberang sana.
Mayra tak bisa berbohong, jantungnya masih berdebar ketika mendengar suara Adrian. Namun, dia tidak ingin terus terjebak dalam perasaan seperti ini.
"Boleh aku minta waktumu sepuluh menit? Ehm, tidak. Lima menit saja," ucap Mayra.
"Kau ingin berbicara apa?" tanya Adrian terdengar dingin.
Mayra menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebagai persiapan. Dia kemudian memejamkan matanya, dengan tangan yang memegang dada karena terasa nyeri.
"Adrian, ayo kita bercerai," ucap Mayra.
Akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulut Mayra. Sebuah ajakan yang tak pernah dia bayangkan akan terucap dari mulutnya. Perasaan wanita itu begitu campur aduk, antara lega dan nyeri.
Hening.
Baik Mayra ataupun Adrian, keduanya sama-sama diam. Sepertinya, lelaki itu masih syok dengan apa yang dia dengar.
"Halo, Adrian?" panggil Mayra ketika sudah berapa menit berlalu, tapi telinganya sama sekali tidak mendengar respon dari Adrian.
"Kita bicara nanti," ucap Adrian. Dia langsung mematikan panggilannya, hingga Mayra menghela napas. Dia sungguh tak nyaman berbicara hal sepenting itu melalui telepon, tapi dia tak punya pilihan. Oleh karenanya, sekarang dia berharap Adrian akan pulang, agar mereka bisa berbicara secara empat mata.
Mayra pun melanjutkan langkahnya setelah menyimpan ponsel. Dia memutuskan untuk pulang. Saat berada di lift, tiba-tiba ponselnya berdering, satu panggilan masuk dari Tommy.
Mayra tidak mengangkatnya, karena dia tidak ingin menghancurkan hubungan Tommy. Karena faktanya, sejak satu minggu lalu, dia tahu bahwa Tommy telah dijodohkan oleh ayahnya dengan rekan bisnis dari ayah Tommy.
Tommy tidak bisa menolak, tapi Tommy pun memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Mayra. Jika saja Mayra menerimanya, maka Tommy akan melepaskan semua dan lebih memilih Mayra.
Namun, tentu saja Mayra tidak menerima Tommy. Selain karena dia tidak ingin menghancurkan hubungan ayah dan anak, dia juga tidak mungkin menerima karena dia sendiri masih bersuami. Faktor lainnya, dia juga tak bisa mengelabui hatinya, yang tidak punya perasaan apapun pada Tommy.
Sejatinya, Mayra sedang berada dalam fase trauma, hingga dia merasa tidak ingin terikat dengan pernikahan lagi. Dia ingin melajang, dan ingin menikmati hidupnya. Pernikahan dengan Adrian memberikan trauma, dan sebulan ini benar-benar membuat hidup Mayra enjoy, hingga dia berpikir lebih baik sendiri daripada mempunyai komitmen bersama siapa pun.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Mayra sampai di rumah. Wanita itu pun turun dari mobil, kemudian berjalan masuk ke dalam.
Ketika masuk ke dalam, Mayra langsung berjalan ke arah kamar Alice. Tadi, Alice tidak pergi ke kantornya karena tidak enak badan. Saat masuk, ternyata Alice sedang menonton televisi.
__ADS_1
"Mommy," panggil Alice. Dia langsung bangkit dari duduknya kemudian berlari ke arah Mayra, lalu setelah itu memeluk ibunya.
"Kenapa kau tidak menelepon Mommy?" tanya Mayra.
"Aku takut Mommy sibuk," jawabnya.
"Kau sudah makan?" tanyanya lagi sambil membelai rambut Alice.
Alice menggeleng. "Tidak mau, lidahku pahit."
"Mau Mommy buatkan sesuatu?" tawar Mayra.
"Jika Mommy lelah, tidak usah. Nanti saja," jawabnya yang tak ingin memberatkan.
"Tidak, Mommy tidak lelah. Mommy akan buatkan makanan untukmu," ucap Mayra.
Alice mengangguk. "Terima kasih, Mommy."
Alice kemudian langsung melepaskan pelukannya, hingga Mayra berbalik. Ada sedikit rasa sedih membayangkan bahwa sebentar lagi dia akan bercerai dengan Adrian, itu berarti cepat atau lambat, Alice juga akan mengerti semuanya, walaupun pada awalnya mungkin mereka akan menutupi perceraian mereka.
Mayra pun berbalik, kemudian berjalan ke arah kamar untuk mengganti pakaian, lalu setelah itu dia membuatkan makanan untuk Alice.
Satu jam kemudian.
Acara memasak pun selesai, Mayra langsung membawa hasil masakannya ke meja makan, kemudian dia menyuruh pelayan untuk memanggil Alice. Tak lama, terdengar suara derap langkah dan ternyata Alice baru saja turun.
"Wah, lezat sekali." Alice langsung menarik kursi kemudian dia mendudukkan diri di sebelah Mayra.
"Lezat sekali," ucap Alice ketika makanan itu melewati mulutnya. Alice terpikirkan sesuatu, dia pun langsung mengambil piring kosong kemudian menyimpan separuh makanan yang dimasak oleh Mayra ke piring kosong tersebut, membuat Mayra mengerutkan keningnya.
"Makanan ini enak, Mommy. Setengah lagi aku akan simpan di kulkas untuk bekalku besok," jawab Alice. Mata gadis remaja itu berkaca-kaca, tapi dengan cepat dia langsung menunduk dan memakan masakan Mayra.
Selama sebulan ini, Alice dihinggapi ketakutan. Dia takut Mayra meninggalkannya karena sikap sang ayah. Ya, inilah alasan kenapa saat ini Alice masih marah dengan Adrian atas kejadian di restoran, di mana sang ayah mempersilakan wanita lain duduk di meja yang sama. Memang terkesan sederhana, tapi itu membuat Alice takut. Bagaimana jika Mayra marah dan berujung meninggalkan ayahnya, yang pasti akan meninggalkan dirinya?
Sementara Mayra, benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Alice. Biasanya, Alice tidak seperti ini hingga tiba-tiba Mayra teringat sesuatu. Selama sebulan ini, saat dia mulai aktif lagi di kantor, Alice memang selalu mengikutinya tapi Alice tidak pernah meminta sesuatu lagi padanya.
Biasanya, Alice akan meminta dibuatkan makanan ataupun hal lain, tapi selama sebulan ini Alice hanya akan mengikutinya dan bahkan sangat menurut. Tentu saja Alice takut membuat Mayra marah dan berujung meninggalkannya.
Mayra mengelus rambut putri sambungnya, hingga Alice mendongak. Dia bertanya, "Ada yang kau sembunyikan dari Mommy?"
Alice menggeleng.
"Mommy akan marah jika kau bohong," ancamnya.
"Aku takut," ucap Alice.
"Kau takut kenapa? Memangnya, ada apa?" tanya Mayra, dia memberikan Alice minum agar Alice bisa bercerita.
Pada akhirnya, Alice pun menceritakan ketakutannya, hingga Mayra tertegun. Dia langsung membawa Alice ke pelukannya.
"Kenapa kau bisa berpikir begitu? Siapa yang akan meninggalkanmu?" tanya Mayra, tapi dalam hati dia mengingkari ucapannya, karena jelas-jelas dia berniat bercerai dengan Adrian.
Mayra melepaskan pelukannya, kemudian dia mengelus rambut Alice. "Alice, walaupun Mommy bekerja, Mommy tidak akan pernah menolak apapun yang kau mau. Mommy akan selalu memasakkan makanan kesukaanmu, menemanimu tidur dan melakukan hal lain," ucapnya.
"Tapi aku takut merepotkan Mommy dan Mommy jengkel padaku," ucap Alice membuat Mayra menggeleng lagi.
__ADS_1
"Sudah, jangan pikirkan macam-macam. Mommy tidak akan seperti itu. Ayo makan lagi," titah Mayra. Dia menarik piring yang tadi diisi setengah makanan oleh Alice, kemudian menyatukan lagi dengan piring yang sedang berada di depan putrinya, hingga Alice mengembangkan senyumnya. Wanita itu makan dengan lahap, karena sudah sebulan ini dia tidak memakan masakan Mayra.
Akhirnya, acara makan malam pun selesai. Mayra mengantar Alice untuk ke kamarnya, dan juga memberikan obat untuk Alice, lalu setelah itu dia pergi ke kamarnya sendiri.
Saat sudah berganti pakaian, Mayra mengutak-atik ponselnya. Tidak ada pesan apapun dari Adrian, hingga dia kembali menelepon Adrian. Dia penasaran apa respon lelaki itu, apakah lelaki itu akan pulang untuk membicarakan semuanya?
Karena jujur, Mayra ingin semuanya segera selesai, dan jika Adrian memang tidak datang ataupun tidak berbicara, Mayra sendiri akan mengambil keputusan dengan mendaftarkan gugatan cerai ke pengadilan tanpa seizin Adrian.
Beberapa kali panggilan dilakukan, tapi Adrian tidak mengangkat panggilan darinya membuat Mayra menghela napas berat, hingga Mayra memutuskan untuk berhenti menelepon Adrian. Dia akan mencoba lagi besok.
***
Adrian terus melihat ponselnya, di mana ponselnya terus berdering. Dia sengaja tidak menjawab, karena menghindari perdebatan. Lelaki itu masih bimbang memutuskan langkah yang diambil. Jujur saja, ini terlalu mendadak. Dia terlalu terkejut dengan keinginan Mayra untuk bercerai.
Walaupun sikapnya dingin pada Mayra, tapi tentu saja dia tidak menghendaki perceraian. Bukan karena Adrian mencintai wanita itu, tapi karena dia pasti akan melihat luka di mata Alice, itu sebabnya dia harus memikirkan langkah apa yang harus diambil ke depan, yang pasti dia tidak menceraikan Mayra.
Sekarang, Adrian tengah memutar otak, mencari cara bagaimana meyakinkan kembali Mayra, agar Mayra tetap bersamanya dan bersama Alice.
Tak lama setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, dia mendapat ide untuk kembali berakting seperti semula, di mana dulu mengejar-ngejar Mayra hingga Mayra luluh. "Ya, sepertinya aku harus melakukan itu," ucap Adrian.
Namun tetap saja, walaupun begitu dia akan tetap berpura-pura pergi ke Korea, hanya saja mungkin dia akan lebih memperhatikan Mayra.
***
Beberapa hari kemudian.
Adrian turun dari mobil. Pada akhirnya, Adrian pun memutuskan untuk pulang setelah beberapa hari berlalu, di mana Mayra meminta cerai.
Saat masuk ke dalam, rumah tampak sepi. Tidak ada siapapun di sana. "Ke mana Mayra dan juga Alice, Pamela?" tanya Adrian pada Pamela.
"Oh, Nona Alice masih sekolah, sedangkan Nona Mayra sepertinya sedang berada di kamar. Nona tidak ke kantor hari ini," ucap Pamela hingga Adrian pun mengangguk, membuat Adrian menghela napas lega mengetahui ternyata Mayra ada di rumah, dan tidak pergi kemana pun.
Adrian pun berjalan ke arah lift, kemudian naik ke kamarnya, lalu setelah itu dia langsung membuka pintu kamar dan tepat ketika membuka pintu kamar, ternyata Mayra sedang mendudukkan diri di ranjang sambil memangku laptop. Sepertinya, wanita itu sedang mengerjakan pekerjaannya.
Saat pintu terbuka, Mayra melihat ke arah pintu dan ternyata Adrian yang masuk. Jika biasanya Mayra akan menyambut lelaki itu, tapi sekarang berbeda. Dia bahkan menatap Adrian dengan sorot biasa saja, seolah kehadiran Adrian tidak berpengaruh padanya. Walaupun tentu saja, dia ingin memeluk suaminya.
"Kau sudah datang," ucap Mayra dengan singkat. Wanita itu kembali fokus pada laptopnya, sedangkan Adrian memutuskan untuk menyegarkan dirinya terlebih dahulu, lalu setelah itu berniat berbicara dengan Mayra sebelum Alice pulang.
Dua puluh menit kemudian, Adrian sudah keluar dari walk-in closet. Dia sudah memakai pakaian santai.
"Mayra," panggil Adrian.
Mayra yang sedang fokus pada laptopnya, menoleh kemudian dia langsung menyimpan laptopnya di bawah. Dia rasa ini waktu yang pas untuk berbicara, dan kini kedua insan itu sudah duduk di sofa dengan posisi saling berseberangan.
"Kenapa kau ingin bercerai dariku?" tanya Adrian. Dia langsung mulai pembicaraan.
"Adrian, kita sudah sama-sama dewasa. Seharusnya kau menyadari kenapa aku meminta cerai padamu," ucap Mayra, "kau tidak perlu mengkhawatirkan soal Alice. Aku tidak akan memberitahu perceraian kita."
Adrian bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Mayra, lalu setelah itu dia menekuk kakinya di hadapan istrinya, membuat mata Mayra membulat.
"Aku tahu aku salah, aku mohon maafkan aku. Selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku," ucap Adrian.
"Adrian, jadi dokter tidak sesibuk itu sampai kau tidak mempunyai waktu untukku. It's okay, mungkin kau tidak mencintaiku atau kau punya alasan lain. Tapi, aku rasa aku tidak ingin bertahan dengan pernikahan yang seperti ini," ucapnya.
“Keputusanku sudah bulat. Aku ingin kita bercerai.”
__ADS_1