Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Antusias


__ADS_3

Setelah membuang makanan itu, Adrian pun langsung melanjutkan langkahnya dia berjalan untuk pergi ke ruangannya. Sungguh, Adrian benar-benar tidak nyaman dengan apa yang Maira lakukan, dia sudah mencoba menolak halus dengan apapun yang Maira berikan tapi Maira tetap tidak mendengarkannya.


Hingga Adrian merasa lelah untuk menolak apa yang Maira lakukan dan pada akhirnya Ardian menerima yang Maira berikan tanpa protes dan tentu saja setelah Maira tidak ada, Adrian akan langsung membuangnya ke tempat sampah, dia juga kurang menyukai Maira yang sok dekat dengan Alice, dia berpikir Maira hanya memanfaatkan Alice untuk dekat dengannya.


Ya, sebagai pria dewasa tentu saja Adrian mengetahui betul tentang tatapan Maira padanya, dia menyadari bahwa Mayra mempunyai perasaan yang lain untuknya, tapi dia tidak bisa membuka hati walau bagaimanapun hatinya masih Milik Bianca.


Ardian adalah tipe lelaki yang sangat sulit untuk jatuh cinta, dulu butuh waktu bertahun-tahun untuk Adrian melupakan melupakan mendiang istrinya dan kemudian dia mulai menaruh perasaan pada Bianca, dan sekarang ketika dia sadar dia tidak akan bisa mendapatkan Bianca lagi, dia juga butuh waktu untuk melupakan wanita itu.


Setelah punggung Adrian tidak terlihat, Mayra langsung mengutak-atik ponselnya, karena ponselnya berdering. Satu panggilan masuk dari sekretarisnya yang mengatakan ada meeting mendadak, hingga mau tak mau Mayra kembali ke kantor. Padahal, tadinya Dia memutuskan untuk pulang karena mood-nya memburuk setelah melihat ekspresi Adrian.


Padahal Mayra sudah menebak ekspresi Adrian akan seperti ini. Tapi tetap saja dia merasa sesak, ini juga bukan pertama kalinya dia melihat ekspresi Adrian yang menatapnya tak suka, tapi entah kenapa hatinya mengatakan untuk terus berjuang menaklukkan lelaki dingin itu.


Mayra pun kembali melanjutkan langkahnya dan saat berbelok Maira kembali menghentikan langkahnya ketika ponselnya berdering lagi, hingga wanita itu langsung merogoh tasnya kemudian mengambil ponselnya kembali, lalu menerima telepon dan ternyata sekretarisnya menelpon lagi dan mengatakan bahwa klient meminta meeting dilaksanakan di luar, hingga Mayra pun menyetujuinya.


Saat dia akan melanjutkan langkahnya, tiba-tiba Maira menginjak sesuatu yaitu sebuah kertas. Sepertinya kertas itu terjatuh dari tasnya saat dia mengambil ponsel barusan, hingga Maira pun langsung mengambil kertas itu lalu melihatnya dan ternyata itu hanya kertas hanya struk pembelian bensin.


Maira pun langsung berjalan ke arah tempat sampah, dia menekan pedal yang ada di bawah hingga tempat sampah itu terbuka, lalu wanita itu membuang kertas yang dia pegang. Saat dia akan menutup tempat sampah, tiba-tiba Mayra menghentikan gerakannya, tubuh wanita wanita itu diam terpaku saat melihat paper bag yang barusan dia berikan pada Adrian ada di tempat sampah.


Dengan tangan yang gemetar, Mayra mengambil paper bag tersebut dari tempat sampah, memastikan bahwa itu adalah paper bag yang tadi dia berikan pada lelaki itu.


Sendi-sendi Mayra terasa lemas saat memeriksa paper bag tersebut, dan ternyata benar itu paper bag itu adalah paper bag yang barusan diberikan pada Adrian, dengan kata lain Adrian membuang pemberian darinya.


Maira memegang dadanya yang benar-benar terasa nyeri, dia menatap paper bag di tangannya dengan tatapan nanar, wanita itu tidak menyangka makanan yang dia bawa akan berakhir di tempat sampah.


Tubuh Mayra masih terdiam, satu kali kedipan saja mungkin air matanya akan menganak sungai, karena saat ini dia benar-benar merasakan rasa sakit yang luar biasa, bagi Mayra ini lebih menyakitkan daripada menghadapi sikap Adrian yang dingin dan tak pernah melihat ke arahnya.


Dengan hati yang hancur, Mayra menutup tempat sampah kemudian dia kembali menenteng paper bag yang tadi dibuang oleh Adrian. Lalu setelah itu Mayra pun berjalan dengan langkah yang sangat pelan.


Mayra merasa kakinya tidak berpijak pada bumi, karena rasa sakit yang dia alami benar-benar luar biasa. ‘Mayra, Kenapa kau bodoh sekali. Kenapa kau terus berharap pada orang seperti dia. Kenapa kau tidak melihat bahwa dia tidak menyukaimu.’


Mayra membatin, mengutuk dirinya sendiri yang benar-benar tergila-gila dengan Adrian mengabaikan rasa sakit hati yang dirasakannya, ini sakit sangat sakit.


Saat akan melewati tangga darurat, Mayra memutuskan untuk berdiam diri di tangga darurat, karena dia sudah tidak bisa menahan rasa sesak yang dia rasakan, wanita itu mendudukkan dirinya di anak tangga dan pada akhirnya, tangisnya luruh.


Beberapa hari kemudian


Sello menghela nafas lega kala dia sudah berhasil mendudukkan diri di brangkar, tubuh bagian atasnya sudah tidak kaku lagi. Namun, tubuh bagian bawahnya masih belum bisa digerakkan, terutama bagian kakinya sebab saat disekap oleh Roland,.Roland selalu menginjak kakinya dengan keras, belum lagi dia selalu dipukul oleh tongkat bisbol itu, sebabnya butuh waktu yang lebih lama untuk penanganan.


Sello melihat jam di dinding, ternyata waktu menunjukkan pukul 04.00 sore, rasanya dia tidak sabar untuk melihat Bianca. Setidaknya hubungan mereka saat ini sudah tidak canggung lagi, dan Bianca juga sudah tidak membahas tentang pernikahan begitupun juga Selo karena mereka tidak ingin merasakan canggung seperti kemarin .

__ADS_1


Dan tadi pagi, Bianca memutuskan untuk pulang sebentar, sepertinya wanita itu ingin beristirahat di kamarnya dan mengatakan akan kembali lagi ke rumah sakit pada pukul 04.00 sore.


Saat Sello melamun, pintu terbuka hingga Selo langsung menoleh wajah yang tadinya bersemangat seketika menjadi redup ketika bukan Bianca yang masuk melainkan sang ayah .


“Kenapa? apa kau berharap Bianca yang masuk?” tanya Gabriel saat melihat ekspresi putranya.


“Hmm, aku pikir itu Bianca,” jawabnya. Gabriel mendekat ke arah brangkar, kemudian lelaki paruh baya itu langsung menarik kursi dan mendudukkan diri di sebelah brangkar yang di tempati oleh Sello.


“Kau Masih betah di rumah sakit?” tanya Gabriel. Sebenarnya Sello sudah boleh pulang karena semuanya sudah membaik, dia tinggal menjalani terapi agar bisa kembali berjalan. Tapi, Sello menolak, sebab jika dia pulang dia tidak akan ada alasan untuk bertemu Bianca.


Mungkin, Bianca bisa saja datang ke mansion, kedua orang tuanya. Tapi Selo takut Bianca tidak datang, itu sebabnya dia lebih memilih di rumah sakit lebih lama.


“Aku tidak ingin pulang, nanti saja,” Jawab Sello, tiba-tiba lelaki itu terpikirkan sesuatu.


“Dad, berikan rumah itu untukku?” ucap Sello, membuat Gabriel mengerutkan keningnya.


“Rumah yang mana?”


“Itu, rumah canggih yang kau miliki yang kacanya bisa diajak bicara seperti orang hidup," kata Selo membuat Gabriel menggeleng.


“Kau meminta rumah itu seperti meminta permen, mana mungkin Daddy akan diberikan padamu, kau tahu Daddy mendirikan rumah itu dengan ratusan ahli, banyak sekali dana yang Daddy keluarkan untuk membangun rumah canggih itu, dan kamu mintanya? Oh tidak bisa," jawab Gabriel yang tidak mau kalah, membuat Selo berdecak kesal.


“Jika Daddy tidak mau memberikannya, buatkan saja aku lagi agar aku bisa terlihat keren." Gabriel menggeleng saat mendengar ucapan putranya, lelaki paruh baya itu butuh waktu 8 tahun untuk membangun rumah tersebut..


“Lalu, kenapa Daddy kemari?” tanya Selo karena biasanya sang ayah akan datang Bersama sang ibu.


“Daddy ada pekerjaan di atas. Banyak sekali hal harus Daddy urus.” Sello mengganggu-ganggukan kepalanya, kemudian dia terpikirkan sesuatu.


“Dad, apakah Roland sudah diserahkan ke kepolisian?" tanya Sello, Gabriel menggeleng.


“Belum, Daddy belum puas menyiksanya,” jawab Gabriel, lelaki paruh baya itu merogoh saku kemudian mengutak-atik ponselnya. Lalu setelah itu, dia memperlihatkannya pada Sello.


“Dad, ini ....” Selo menatap sang ayah dengan tatapan tak percaya. Sebab di foto itu seperti bukan Roland. Bagaimana tidak, dalam waktu 3 bulan tubuh Roland yang yang dulu gagah berubah menjadi hanya tinggal tulang, wajah Rolan terbakar dan hancur, hingga kondisinya benar benar memperihatinkan.


Gabriel mengangguk-anggukkan kepalanya, membuat Sello bergidik. Sello memang tahu ayahnya kejam. Namun dia tidak pernah melihat orang yang pernah berurusan dengan ayahnya dan sekarang dia melihat dengan jelas bagaimana cara sang ayah membalaskan dendam dan amarahnya, bahkan selama 3 bulan Roland kehilangan berat badan sekitar 40 Kg hingga kini, tubuhnya tinggal tulang.


Tak lama ponsel Gabriel berdering satu panggilan masuk hingga Gabriel pun langsung bangkit dari duduknya. Dia memutuskan untuk menerima telepon di luar.


***

__ADS_1


“Mom kau memasak apa?” tanya Bianca ketika sang ibu sedang berada di dapur, Maria mengerutkan keningnya karena biasanya ibunya paling anti masuk ke dapur dan selama ini mereka hanya memakan masakan koki. Tapi sekarang, Maria yang sedang menyiapkan semua.


Maria Langsung menoleh. “Bi, kau mau ke rumah sakit, kan? Tunggu dulu jangan dulu pergi, Mommy sedang membuatkan makanan kesukaan Sello," jawab Maria lagi, karena dia sedang memasak untuk mantan menantunya


Bianca menundukkan dirinya di kursi, kemudian dia menopang wajahnya dengan tangan, lalu menatap Maria dengan aneh. “Mommy, Mommy tidak pernah membuatkan makanan kesukaanku, dan selalu menyuruh koki. Lalu Kenapa Mommy repot-repot ingin memasakkan kesukaan Sello?” tanya Bianca Maria berdaham, dia langsung merasa gengsi untuk mengakuinya.


“ Mommy hanya iseng saja memasak, kebetulan kau akan pergi ke rumah sakit jadi sekalian saja," Jawab Maria membuat Bianca berdecih pelan. Tentu saja dia tahu bahwa ibunya berbohong.


Tiba-tiba Bianca terpikirkan sesuatu. “Mom, aku akan menikah dengan Sello seminggu," dusta Bianca.


“Apa!” Maria terpekik saat mendengar ucapan Bian.


“Kenapa Mommy terkejut, bukankah Mommy sudah merestuiku dengan Sello?" tanya Bianca.


“Bukan begitu maksud Mommy, ini terlalu mendadak. Bagaimana mungkin kalian menikah saat kami belum menyiapkan apapun, bagaimana kalian akan menikah saat Sello belum pulih, Mommy ingin kau menikah dengan pesta yang mewah dan juga ....” tiba-tiba Maria menghentikan ucapannya, kala dia terrdengar sangat antusias membuat tawa Bianca meledak


“Diam kau!” ucap Maria setelah itu wanita paruh baya itu pun kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu memasak untuk mantan menantunya


20 menit kemudian, makanan yang Maria buat untuk Sello pun siap wanita itu menyimpan di kotak makan. Lalu setelah itu menyimpannya dalam paper bag dan memberikannya pada Bianca.


“Itu untuk Sello, kau jangan memakannya,” kata Maria.


”Mommy, anakmu itu aku atau Sello,” kata Bianca lagi.


“Sudah, sudah pergi sana. Sello bisa kelaparan nanti," jawab Maria membuat Bianca tidak mengerti dengan pola pikir sang Ibu


Bianca pun langsung bangkit dari duduknya kemudian dia membawa paper bag dan berjalan ke arah luar.


Dan di sinilah Bianca berada, di depan depan rumah sakit, dia pun langsung turun dari mobil kemudian berjalan ke arah dalam dan langsung pergi ke ruang rawat Selo.


Saat membuka pintu dan akan masuk ke dalam, mata Bianca membulat saat mendengar suara kedua orang saling bersahutan. Rupanya, Selo sedang menonton video dewasa, lelaki itu sedang memastikan Apakah senjatanya masih berfungsi atau tidak.


“Selo Kau sedang apa?”


“Ah ..." Sello berteriak saat melihat Bianca ada di ruang rawatnya, dia bahkan menjatuhkan ponselnya, lelaki itu terlalu terkejut karena Bianca memergokinya.


Tak lama Sello melihat ke arah ponselnya yang berada di lantai, tentu saja ponsel itu masih menyala menampilkan video yang sedang ia tonton, dia ingin mengambil ponsel itu. Tapi tentu saja tidak bisa karena kakinya tidak bisa digerakkan


.

__ADS_1


Tapi dia juga tidak mungkin meminta Bianca yang mengambilnya, Wajah Selo langsung memerah, dia tidak menyangka dia akan terpergok seperti ini, begitupun Bianca dia tidak menyangka dia akan melihat Selo menonton adegan tersebut.


“Bi-bianca, bisa kau mengambilkan ponselku?” tanya Sello, dia tidak mungkin memperdengarkan suara itu lebih lama di hadapan Bianca, hingga Bianca tersadar dan Bianca pun langsung berjalan ke arah brangkar, kemudian wanita itu langsung mengambil ponsel dan melemparkan ke tubuh Selo. Namun naasnya,.ponsel Sello yang dilemparkan Bianca terjatuh tepat di atas senjatanya, hingga Selo langsung meringis membuat Bianca membulatkan matanya.


__ADS_2