
Setelah air di gelas penuh, Darren langsung berjalan kembali ke arah kamar Theresia. Ketika berjalan, jantung Darren berdetak dua kali lebih cepat. Dia memang sudah mulai mencintai Shelby, tapi dia tidak menyangka dia akan seperti ini ketika mencium wanita itu, antara bahagia, senang dan untuk pertama kalinya mungkin Darren merasakan hal seperti ini selama hidupnya.
Darren masuk ke dalam kamar, kemudian lelaki itu langsung memberikan minum pada Theresia.
"Daddy tidak makan?" tanya Theresia.
Darren menggeleng.
"Daddy belum lapar," dusta Darren. Jika dia mengatakan lapar, dia harus kembali lagi ke meja makan dan dia harus makan dengan Shelby lagi. Tentu saja itu situasi yang membuat canggung.
Darren mendudukkan diri di sofa kemudian dia langsung menepuk pahanya hingga Theresia pun kembali seperti tadi, duduk di pangkuan Darren. Setelah itu, Theresia merebahkan kepalanya di dada Darren.
"Besok Daddy tidak akan pergi ke kantor, bagaimana jika kita main bersama Tristan? Mungkin Mommy tidak bisa ikut karena Mommy harus bekerja. Apa kau mau?" tanya Darren.
Theresia menegakkan kembali tubuhnya, kemudian dia menatap Darren. "Boleh aku memilih tempat?" tanyanya.
"Boleh," ucap Darren.
"Aku ingin berbelanja, membeli barang-barang kesukaanku, membeli mainan yang sudah lama aku impikan," jawab Theresia.
Hati Darren terasa tertusuk saat mendengar itu. Di masa lalu, dia memberikan semuanya untuk Tristan, tapi dia melupakan Theresia dan sekarang dia mengangguk, menyutujui usul putrinya.
"Tentu, kau boleh membeli apapun yang kau mau. Mau itu mainan yang mahal sekali pun. Daddy sedang membangun rumah yang sangat besar untuk kita dan kau bisa mempunyai ruangan untuk menyimpannya," kata Darren.
Theresia kembali merebahkan kepalanya di dada sang ayah. Kemudian dia menempelkan tangannya pada tangan sang ayah, lalu menautkan tangannya pada tangan sang ayah, dan Darren langsung mencium punggung tangan putrinya dan memeluk Theresia.
"Daddy," panggil Theresia, nadanya sangat rapuh, seperti terdapat kesedihan di dalam nada putrinya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Darren.
"Harusnya, Daddy menambahkan fotoku juga di kantor Daddy," kata Theresia dan kali ini, tangisnya kembali berlinang. Theresia seperti sedang bernostalgia dengan rasa sakitnya hingga jika dia membahas masa lalu, dia tidak bisa untuk tidak menangis.
Darren mengelus rambut putrinya. "Of course, kita akan berfoto bersama Mommy t dan Daddy akan menyimpannya di kantor Daddy," ucap Darren.
Setelah itu, Theresia memejamkan matanya.
"Semalaman ini aku tidak ingin tidur di ranjang, aku ingin tidur di pelukan Daddy," kata Theresia.
"Daddy akan selalu memelukmu," jawab Darren.
Cinta pertama Theresia sudah kembali sekarang, dia mempunyai cinta pertama seutuhnya tanpa harus iri pada sang kaka.
Setengah jam kemudian.
Napas Theresia sudah teratur. Setelah Theresia tertidur, Darren meringis. Dia merasakan perutnya nyeri karena dia belum makan malam.
Tak lama, terdengar suara derap langkah, ternyata Tristan yang masuk.
"Tristan, bisa ambilkan makanan? Daddy lapar. Daddy akan makan di sini. Kau bisa suapi Daddy?" tanyanya, tiba-tiba satu ide muncul di otak Tristan hingga Tristan pun mengangguk. Lelaki itu langsung berbalik kemudian dia keluar dari kamar. Beberapa menit berlalu, terdengar kembali suara derap langkah. Darren pikir itu Tristan dan ternyata itu Shelby. Rupanya, barusan Tristan mengatakan bahwa Darren meminta sang ibu untuk membawakan makanan, seolah Darren menyuruh Shelby melalui Tristan.
"Ka-kau ingin disuapi?" tanya Shelby dengan terbata. Raut wajahnya masih memerah ketika berhadapan dengan Darren.
Mata Darren membulat saat melihat Shelby yang masuk ke dalam kamar.
"Apa Tristan yang menyuruhmu datang?" tanya Darren.
Shelby mengangguk. "Tristan yang menyuruhku datang," ucap Shelby.
Darren memejamkan matanya, putranya ini benar-benar. Namun tunggu, sepertinya Tristan bisa diajak kerja sama. Bagaimana jika dia meminta putranya untuk mendekatkan Shelby padanya? Siapa tahu benih-benih cinta tumbuh di hati Shelby untuknya.
"Shelby, maaf bukan aku ingin merepotkanmu, tapi tanganku tidak bisa bergerak. Bisakah kamu menyuapiku?" tanya Darren hingga Shelby mengangguk.
Shelby dengan ragu berjalan ke arah sofa kemudian dia mendudukkan diri di sebelah Darren, lalu setelah itu dia mulai menyuapinya.
Selama menyuapi Darren, Shelby sama sekali tidak mau melihat ke arah Darren, karena dia masih merasa malu dan masih merasa canggung, sedangkan Darren yang awalnya canggung, mendadak berubah. Di pandangannya, dia rasanya begitu gemas ketika melihat wajah Shelby yang seperti ini. Biasanya Shelby akan mengomel ataupun berceloteh, tapi sekarang ketika Shelby seperti dia sangat terlihat manis.
"Kenapa menatapku begitu," kata Shelby dia mengangkat kepalanya karena merasa diperhatikan oleh Darren.
Darren berdeham.
"Tidak, kau cantik," ucap Darren, tanpa sengaja dia mengatakan itu. Jujur saja dia tidak sengaja mengatakan hal itu, karena tadinya dia hanya memuji Shelby dalam hati. Namun, dia tidak menyangka ternyata dia malah mengatakannya.
"Maksudmu?" tanya Shelby.
"Iya, kau cantik. Bukankah semua perempuan cantik?" kilah Darren membuat Shelby menggeleng. Entah kenapa, Shelby merasa kecewa ketika Darren mengatakan itu, padahal jika Darren yang benar-benar memujinya, mungkin Shelby akan sedikit senang.
"Cepat makan, habiskan. Aku ingin istirahat, biar aku tidur di kamarmu kau tidur di sini." Tiba-Tiba, Shelby berbicara dengan ketus. Dia berbicara seperti itu tanpa sadar hingga Darren mengerutkan keningnya.
"Kemapa kau tampak kesal?" tanya Darren.
Shelby kembali tersadar kemudian menggeleng.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," jawab Shelby. Dia pun langsung menyendokkan kembali makanan dan menyuapkannya pada mulut Darren, hingga akhirnya acara makan pun selesai.
Shelby langsung mengambil minum di bawah yang diletakkan di lantai, kemudian membantu Darren untuk minum. Lalu setelah itu, dia pun keluar dari kamar. Tepat ketika dia keluar dari kamar, Shelby memegang jantungnya yang terasa berdetak dua kali lebih cepat.
Sedari tadi, Shelby merasa ada yang aneh dengan perasaannya.
"Tidak Shelby, kau tidak boleh terjerat dengan apapun yang para lelaki lakukan." Shelby bermonolog. Ya, ya inilah prinsip Shelby. Dia tidak ingin jatuh cinta pada siapa pun, dia tidak ingin terpikat pada siapa pun, sekali pun itu pada Mario yang juga tidak kalah tampan dari Darren.
Shelby pun langsung berjalan ke arah kamar dan dia memutuskan untuk tidur bersama Tristan, karena dia tidak ingin berada di satu kamar yang sama dengan Darren.
***
Malam berganti pagi.
Theresia terbangun dari tidurnya dia tersenyum ketika dia berada dipelukan sang ayah, dia pikir Darren berbohong dan akan membaringkannya di ranjang ketika dia tertidur, tapi ternyata salah, sang ayah tetap memeluknya.
Theresia mengangkat kepalanya kemudian dia melihat ke arah sang ayah, lalu setelah itu dia langsung menciumi pipi ayahnya membuat Darren terbangun. Darren membuka mata kemudian tersenyum saat melihat apa yang dilakukan Theresia, karena Theresia tidak berhenti mencium pipinya dan setelah itu, Theresia kembali memeluk sang ayah.
"Kita jadi, 'kan, pergi hari ini?" tanya Theresia.
"Kita jadi pergi hari ini,"Ingin pergi sekarang atau nanti?" tanya Darren.
"Sekarang saja, aku akan siap-siap dengan cepat." Sepertinya, Theresia benar-benar semangat hingga gadis itu langsung turun dari pangkuan sang ayah, lalu setelah itu dia pun langsung berjalan ke arah kamar mandi membuat Darren menggeleng. Setelah itu, Darren pun langsung bangkit dari duduknya dan saat dia keluar dari kamar, ternyata Shelby sedang berada di dapur. Sepertinya, wanita itu sedang memasak untuk sarapan.
"Ekhem." Darren berdeham ketika sudah berada di depan Shelby, karena DIA memutuskan untuk menghampiri istrinya sebelum dia pergi ke kamar.
"Kau membuatku terkejut," kata Shelby sambil memegang dadanya, karena barusan wanita itu melamun.
Darren terkekeh.
"Kenapa kau melamun? Apa ada yang kau pikirkan?" tanyanya lagi.
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Shelby.
"Oh iya, aku ingin mengajak main Theresia dan Tristan, jika kau bisa ikut itu akan lebih bagus, tapi jika kau ingin bekerja, tidak apa-apa. Nanti aku dan anak-anak akan menjemputmu," kata Darren.
Shelby tampak berpikir. "Maafkan aku Darren, hari ini aku akan menandatangani berkas dari Mario yang akan membuka cabang lukis yang baru, dan aku yang akan memegangnya," ucap Shelby.
Darren menarik kursi pantry kemudian dia mendudukkan diri di sana. "Memegang galeri lukis yang lain?" tanya Darren dengan antusias, tentu saja dia senang karena setidaknya intensitas pertemuan Mario dan Shelby berkurang.
"Kenapa kau yang tampak antusias?" tanya Shelby yang mengerutkan keningnya.
"Tidak, tidak apa-apa," jawabnya.
***
Akhirnya, persiapan Darren, Tristan dan juga Theresia sudah selesai. Mereka sudah rapi dan bersiap untuk pergi, sedangkan Shelby, dia sudah berangkat terlebih dahulu karena harus mengejar meeting bersama klien.
"Ayo kita pergi," ajak Darren, dia menggenggam tangan Theresia dan Tristan secara bersamaan.
Sekarang, di sinilah mereka berada, di sebuah pusat perbelanjaan. Tristan ingin mencari robot, sedangkan Theresia sedang mencari pakaian gaun dan lain-lain.
"Daddy, ayo masuk ke sana," kata Theresia yang menarik lengan Darren, hingga Darren langsung mengangguk.
"Darren!" Tiba-Tiba, terdengar suara seseorang yang memanggilnya membuat Darren menoleh. Dia memejamkan matanya menahan geram ketika Mia memanggilnya. Ya, ternyata Mia-lah yang memanggil Darren.
Sedari tadi, Mia terus mengikuti mantan kekasihnya. Tentu saja dia mengikuti karena laporan dari anak buah Darren, dan ketika anak buahnya mengatakan Darren pergi ke mall, dia pun langsung menyusul. Dia ingin menyapa Darren seolah tanpa sengaja.
Mata Theresia membulat saat melihat wanita yang memanggil ayahnya, dia ingat betul wanita itu adalah wanita yang dipanggil sayang oleh Darren beberapa tahun lalu saat di restoran. Seketika, Theresia langsung menghempaskan genggaman tangan Darren membuat Darren dilanda kepanikan.
"Halo Darren," kata Mia lagi.
Darren dengan cepat menggenggam kembali tangan Theresia.
"Bukankah sudah kuperintahkan untuk jangan menyapaku?" tanya Darren tanpa basa-basi.
Bukannya menjawab, Mia malah semakin mendekat. Rasanya dia begitu senang ketika melihat Darren seperti ini.
'Lihat saja, Darren. Mungkin nanti kau akan bertekuk lutut memohon agar aku membebaskan kedua anakmu.' Mia membatin saat melihat tatapan Darren yang begitu beringas padanya. Dia memang gentar ketika Darren menatapnya seperti ini karena Darren benar-benar terlihat sangat kejam, tapi dia menyamarkan dengan senyuman karena dia tidak ingin mengintimidasinya.
Mia membungkuk kemudian menyetarakan diri dengan Theresia, matanya menatap Theresia dengan tatapan mengejek.
"Halo, Anak Manis," kata Mia sambil mengelus rambut Theresia, dan dengan cepat Theresia langsung menghempaskan tangan Mia.
"Jangan menyentuh rambutku!" Theresia berteriak sedangkan Darren langsung mengangguk-nganggukkan kepalanya pertanda bangga ketika Theresia berteriak di hadapan wajah Mia, hingga Mia langsung menegakkan kepalanya kemudian dia melihat ke arah Darren.
"Ya sudah kalau begitu, maaf jika mengganggu waktu kalian," kata Mia.
Setelah itu, Mia pun langsung berlalu begitu saja. Rasanya dia tidak sabar untuk segera melihat Darren merintih, merasakan sakit dan memohon padanya.
Saat Mia sudah pergi, Theresia langsung melepaskan tangannya dari tangan Darren. Dia masih ingat tentang masa lalu hingga itu membuatnya kesal dan setelah itu, Theresia pun langsung berjalan mendahului ayah dan kakaknya.
__ADS_1
"Dia itu kenapa, sih?" tanya Tristan yang gemas dengan tingkah Theresia.
"Sudah tidak apa-apa, ikuti saja dia," ucap Darren.
Dua jam berlalu.
Tidak ada barang yang cocok untuk Theresia. Selama dua jam ini, mereka sudah berputar-putar mengikuti gadis itu, tapi tidak satu pun barang yang dipilih oleh Theresia membuat Tristan benar-benar kesal sekali pada adiknya. Beberapa kali dia ingin menegur Theresia, tapi Darren melarang karena sebenarnya dia tahu sedari tadi Theresia tidak benar-benar memilih barang, Theresia seperti sedang kesal karena bertemu Mia.
"Theresia," panggil Tristan, sepertinya kesabaran Tristan sudah habis karena kakinya sudah pegal, tapi dia terpaksa harus ikuti sang adik.
"Apa?" tanya Theresia. Dia malah menatap Tristan semakin galak membuat Tristan menghela napas. Sudah dipastikan jika dia protes, Theresia akan lebih meradang
"Aku lapar, ayo kita makan," kata Theresia.
"Lihat Dad, anak itu begitu menyebalkan," kata Tristan hingga Darren terkekeh. Walaupun di mata orang lain ini tampak merepotkan, tapi entah kenapa dia merasa senang, karena ini untuk pertama kalinya dia bisa berjalan bersama kedua anak kembarnya secara bersamaan.
Saat sudah duduk di sebuah restoran yang ada di mall tersebut, Theresia tidak mau melihat ke arah Darren, sedangkan Tristan sedang anteng dengan ponsel miliknya.
"Kau masih marah pada Daddy?" tanya Darren.
"Daddy pikir saja sendiri," jawab Theresia dengan ketus.
"Oh Tuhan, anak ini," ucap Tristan.
Tiba-Tiba, Darren mengelus rambut Tristan lalu menggeleng pelan, pertanda Tristan tidak boleh mengatakan apapun lagi. Akhirnya, makanan mereka pun tiba.
Darren langsung memotongkan makanan untuk Theresia, lalu setelah itu dia menyuapi putrinya. Sepertinya, mood Theresia membaik ketika Darren menyuapinya membuat Tristan berdecak kesal.
'Wanita ini benar-benar drama.' Tristan mengumpat sang adik.
Beberapa hari kemudian.
Darren yang sedang menyetir, tersenyum ketika melihat dan mendengar perdebatan Theresia dan Tristan yang sedang berdebat tentang kegiatan yang akan mereka lakukan saat liburan nanti. Tristan ingin pergi ke gunung, sedangkan Theresia ingin pergi ke pantai dan kedua anak kembarnya terus berdebat, dari mulai berangkat sampai sekarang akan tiba ke sekolah.
"Tristan, Theresia," panggil Darren hingga keduanya langsung menghentikan perdebatan.
"Kita akan berlibur ke pantai, 'kan, Dad?" tanya Theresia.
"Tidak, kita akan camping di gunung," jawab Tristan.
"Kita akan menggabungkan keduanya," jawab Darren agar kedua anaknya tidak berdebat
"Memangnya bisa?" tanya Theresia dan Tristan secara bersamaan. Tentu saja dia hanya berbohong, itu guna untuk menghentikan perdebatan kedua anak kembarnya dan pada akhirnya, mobil yang dikendarai Darren pun sampai di sekolah karena memang saat ini dan untuk selamanya, dia ingin mengantarkan kedua anak kembarnya sendiri, tidak ingin melibatkan sopir.
Darren turun dari mobil kemudian dia membuka pintu untuk Theresia dan Tristan, lalu setelah itu dia mengulurkan tangannya pada kedua anak kembarnya, dan setelah anak kembarnya tidak terlihat, Darren pun kembali berbalik lalu berjalan ke arah mobil.
Darren menjalankan mobilnya menuju ke kantor, dan entah kenapa selama perjalanan, Darren dilanda perasaan tidak tenang, seperti akan ada hal yang terjadi. Namun tak lama, Darren menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin, memangnya apa yang akan terjadi? begitulah pikir Darren.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Darren sampai di kantor.
Darren turun dari mobil. Entah kenapa hari ini dia ingin masuk lewat lobi, padahal biasanya dia langsung masuk ke dalam lift yang ada di basement yang menghubungkan ke ruangannya.
Saat masuk ke dalam lobi, Darren mengerutkan keningnya saat beberapa staf yang menatapnya dengan tatapan berbeda. Biasanya para staf memang akan selalu menunduk hormat, begitu pun sekarang. Namun ada yang aneh, setelah menunduk hormat pada Darren, staf itu seperti menatap seolah mengatakan ada yang terjadi, sehingga dengan cepat Darren pun langsung berjalan ke arah lift untuk naik ke ruangannya.
"Tuan, ada berita gawat," ucap sekretaris Darren.
"Ada apa?" tanya Darren.
"Lihat ini, Tuan." Sekretaris Darren menyerahkan sebuah surat kabar pada Darren, dan seketika Darren langsung menjatuhkan surat kabar tersebut di mana di sana banyak sekali foto syur dirinya bersama seorang wanita. Wajah wanita itu di blur, hanya wajah Darren saja yang diperlihatkan.
"Siapa yang menyebarkan ini?" tanya Darren dengan bibir bergetar, lelaki itu langsung menatap sekretarisnya.
"Ini mantan sekretaris Anda, Tuan," kata Marco yang tak lain sekretaris Darren yang baru.
"Maksudmu Mia?" tanyanya.
"Kau tahu dari mana?" tanya Darren lagi.
"Karena Mia sendiri yang mengantarkan surat kabar ini pada saya dan yang lain," ucap Marco.
"Sial, awas saja kau!" Saat Darren akan menyusul Mia dan memberi pelajaran pada wanita itu, tiba-tiba ponsel Darren berbunyi hingga dia menghentikan niatnya. Dia langsung merogoh saku kemudian mengambil ponsel dan ternyata sang ayah yang menelepon Darren. Darren memejamkan matanya, sudah dipastikan ini sudah menyebar. Tommy pasti sudah tahu.
"Ada apa, Dad?" tanya Darren dengan bibir gemetar. Jujur saja, dia takut pada ayahnya.
"Apa kau bilang?!" teriak Tommy di seberang sana.
"Maafkan aku, aku akan berusaha untuk memperbaiki semua," ucap darren.
"Memperbaiki katamu?!" teriak Tommy lagi.
"Jangan bergerak apapun, biar Daddy mengurusnya." Setelah itu, Tommy pun langsung mematikan panggilannya kemudian membuat Darren menghela napas. Tak lama, Marco yang tak lain sekretaris Darren, merogoh sakunya. Mata Marco membulat saat melihat apa yang dikirimkan oleh Mia. Dia pun langsung melihat ke arah Darren.
__ADS_1
"Tuan, coba lihat ini," kata Marco.