
.
.
.
.
💞💞💞💞💞
Arumi mendapat telepon dari ibu nya jika saat ini mereka sudah ada di terminal kota. Orang tua arumi datang menjenguk arumi, mereka sudah sangat rindu dengan anak gadis nya. Tidak menunggu masa panen lagi, mereka pun akhir nya berangkat ke kota.
[ Apa ? Ibu sama bapak sudah ada di terminal ?] Tanya arumi kaget.
[ Iya rum. Kami bingung mau naik angkutan umum yang mana ? Karena kami tidak tahu arah di kota ini ] Ucap ibu arumi.
Arumi bingung harus bagaimana, sedangkan saat ini dia masih di hukum oleh brian tidak boleh pergi kemana - mana selain kuliah. Dan saat ini dia juga ada di apartemen, tidak mungkin dia keluar menemui orang tua nya.
[ Rum kamu masih ada di situ kan rum?]
[ Ehh iya bu. Ibu dan bapak tunggu saja di situ, kalau ada orang yang menawarkan bapak dan ibu untuk mengantar kalian ke tempat arum jangan mau ya bu]
[ Iya rum, kami tunggu kamu disini saja rum ]
[ Iya buk ]
Sambungan telepon terputus. Arumi bingung harus bagaimana, apakah dia harus keluar tanpa sepengetahuan brian. Tapi pasti brian akan memarahi nya lagi dan akan lebih memperlakukan nya dengan kasar.
" Aku harus bagaimana ? Sedangkan aku tidak bisa keluar dari apartemen ini " Seru arumi bingung.
Arumi mondar - mandir di dalam kamar nya, dia mau menghubungi brian pun tidak bisa karena dia tidak mempunyai nomor ponsel brian.
Arumi mencoba membuka - buka laci yang ada di kamar, siapa tahu ada petunjuk nomor ponsel brian. Arumi menemukan kartu nama brian dan di sana tertulis nomor ponsel brian. Arumi langsung mengetik nomor yang tertera di kartu nama pada ponsel nya dan langsung menekan tombol memanggil.
Cukup lama arumi menghubungi brian tetapi tidak ada jawaban juga. Arumi terus menghubungi nya tanpa perduli jika telepon nya mengganggu brian yang sedang meeting dengan klien.
[ Ada apa ? Kamu sudah mengganggu meeting ku !!] Jawab brian marah.
Brian sudah tahu jika yang menghubungi nya adalah arumi. Karena brian sudah menyimpan nomor ponsel arumi.
[ Maaf tuan ini saya arumi ]
[ Saya sudah tahu. Ada apa kamu mengganggu ku, apa kamu tidak ada kesibukan lain selain mengganggu ku bekerja ]
[ Maaf tuan, saya terpaksa menghubungi tuan. Saya mau izin keluar apartemen ]
[ Berani keluar apartemen aku pastikan kamu tidak selamat ]
__ADS_1
[ Tapi tuan, saya mau menemui orang tua saya tuan. Mereka sudah ada di kota dan saat ini ada di terminal. Tolong izinkan saya keluar, kasihan orang tua saya. Mereka tidak tahu seluk beluk kota ini. Saya hanya ingin menjemput nya saja ]
[ Aku tidak perduli !! Memang nya kalau kamu aku izinkan keluar, mereka mau kamu bawa kemana ? ]
Arumi diam, dia juga tidak tahu mau membawa orang tua nya kemana karena kostan nya pun sudah tidak dia pakai lagi dan sudah di isi oleh orang lain. Mau di bawa ke apartemen lebih tidak mungkin lagi.
" Kenapa aku bisa lupa jika aku sudah tidak kost lagi. Aku harus bagaimana ? " Gumam arumi.
[ Hallo tuan.. hallo .. Hallo om tuan brian, om brian ]
Ternyata sambungan telepon itu sudah di putuskan oleh brian secara sepihak.
" Dia sudah mematikan telepon nya. Bagaimana aku keluar dari sini, pasword nya sudah di ganti oleh pria sialan itu " Seru arumi kesal.
******
Tanpa sepengetahuan arumi, setelah mematiksn sambungan telepon. Brian dan tomi langsung pergi menuju terminal menjemput orang tua arumi.
" Sebenar nya kita ini mau kemana ?" Tanya tomi yang tidak tahu dia mau dibawa kemana.
" Terminal kota " Jawab brian singkat.
Tomi melonggo saat brian mengatakan tempat tujuan nya.
Terminal ?
" Ngapain ke terminal ?" Tanya tomi penasaran.
" Brisik !! Kamu diam saja , cukup duduk dan menemani ku saja " Seru brian.
Kalau brian sudah bertitah tidak bisa lagi di bantah. Tomi pun diam di samping brian, membiarkan brian kali ini menjadi sopir pribadi nya.
" Shiittt... kenapa aku yang menjadi sopir nya ? Seharus nya kamu yang menyopir mobil ini " Gerutu brian.
" Mana aku tahu " Jawab tomi singkat.
Mobil yang di kendarai brian sudah sampai di terminal kota. Brian dan tomi langsung turun dari mobil dan masuk ke area terminal dimana banyak bus dan angkutan umum yang lain nya terparkir. Mata brian menatap sekeliling terminal dan mencari sosok kedua orang tua arumi.
" Kamu mencari siapa sih Bri ?" Tanya tomi yang sudah kesal mengikuti langkah kaki brian.
" Cari orang lah masak cari kambing " Jawab brian ketus.
" Iya orang tapi siapa ?" Tanya tomi lagi.
" Orang tua arumi " Jawab singkat brian.
Hah ? Orang tua arumi ?
__ADS_1
* Kenapa brian mencari orang tua arumi di terminal ?* Gumam tomi heran.
Brian terus mengedarkan pandangan nya sampai pandangan mata nya berhenti di sudut toko, tempat ke dua orang tua arumi duduk sambil menunggu kedatangan arumi.
* Kenapa aku jadi gugup seperti ini. Padahal aku tidak mengenal mereka * Gumam brian.
Tomi melihat brian yang terlihat gugup , tomi pun memgikuti arah pandangan brian.
" Kamu gugup karena mau bertemu mertua ? Cihhh cemen banget sih begitu saja gugup " Ucap tomi menggoda brian.
" Kamu saja yang menemui mereka dan ajak mereka ke mobil. Aku tunggu kalian di mobil " Ucap brian lalu memutar badan nya untuk menuju mobil.
Namun tomi menghalangi langkah brian, dia tidak mau brian kembali ke mobil. Dia mau brisn juga ikut menemui orang tua arumi.
" Tidak bisa begitu, bagaimana pun kamu harus ikut aku kesana. Mereka itu mertua mu, bukan mertua ku. Kecuali kalau kamu membiarkan aku menikahi arumi " Seru tomi.
Bugh..
Brian langsung memukul perut tomi, dia tidak tahu kenapa dia bisa reflek memukul tomi. Saat tomi mengatakan soal arumi tiba - tiba brian langsung memukul tomi begitu saja.
" Kalau cemburu bilang boss jangan main pukul " Seru tomi sambil memegang perut nya yang terasa sakit.
" Ayok cepat !" Ucap brian sudah berjalan lebih dulu tanpa menghiraukan tomi yang masih merasakan sakit di perut nya.
Mereka berdua langsung menghampiri kedua orang tua arumi, banyak pasang mata yang memandang ke arah mereka berdua. Dandanan mereka yang memalaon setelan jas membuay orang - orang yang ada di terminal menatap kagum.
" Apa bapak dan ibu orang tua nya arumi ?" Tanya brian sedikit kaku.
" Iya nak. Kamu kenal dengan arumi " Jawab pak suryo ramah.
" Oh kalau begitu mari saya antar ke tempat arumi " ajak brian.
Kedua orang tua arumi saling pandang, mereka ingat pesan arumi jika jangan mudah percaya dengan orang yang baru di kenal. Apalagi ini di kota besar, banyak penjahat yang pura - pura baik.
" Tidak perlu nak, biar kami menunggu arumi saja " Jawab ibu arumi.
" Iya kami menunggu arumi saja " jawab pak suryo, ayah arumi.
Brian dan tomi paham apa yang di takutkan kedua orang tua arumi. Mereka pasti waspada dengsn orang yang baru saja mereka kenal. Apalagi di kota besar seperti ini. Banyak orang jahat yang pura - pura baik. Tomi berusaha menyakinkan kedua orang tua arumi agar mau ikut dengan nya.
******
BRIAN MULAI BUCIN NIH ❤❤❤
TETAP DUKUNG KARYA - KARYA AUTHOR YA KAK. LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORITE SERTA BERIKAN HADIAH DAN RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏🙏❤
TERIMAKASIH 🙏🙏
__ADS_1