
.
.
.
💞💞💞💞💞💞💞
Brian dan arumi sekarang sudah berada di rumah sakit sedang memeriksakan kandungan arumi. Dokter farah mengecek kandungan arumi dengan gugup, karena takut dengan ada kesalahan dan brian memarahi nya. Bahkan hampir semua dokter di rumah sakit ini takut dengan brian.
" Apa kah Nona mau mengetahui jenis kelamin anak Nona ?" Tanya dokter farah lembut.
" Saya datang kesini itu memang mau USG untuk mengerahui jenis kelamin anak saya ! Jadi kamu harus bertanya lagi? Bagas juga pasti sudah bilang sama kamu kan ?" Ucap brian dengan suara yang membuat dokter farah ketakutan.
" Maa.. Maaf tuan " Jawab dokter farah terbata - bata.
Melihat dokter farah yang ketakutan membuat arumi tidak enak hati. Brian memang seperti itu arogant nya tidak juga hilang.
" Iya dokter saya mau melihat jenis kelamin anak saya. Hemm... dokter farah belum di kasih tahu ya sama dokter bagas ?" Tanya arumi sambil melirik brian yang berdiri tidak jauh dari ranjang.
" Dokter bagas tidak memberitahu saya Non" Jawab dokter farah jujur.
Bagas memang tidak memberitahu dokter farah jika arumi dan brian akan datang untuk USG mengetahui jenis kelamin anak nya. Dokter farah hanya tahu arumi datang memang jadwal rutin cek kandungan.
" Dasar bagas mau ku pecat dia" Seru brian kesal.
Arumi pun meminta dokter farah untuk langsung melakukan pemeriksaan dan USG agar suami nya tidak semakin mengomel dan marah-marah.
" Keadaan kandungan nya baik dan sehat, ukuran dan berat janin nya juga sudah sesuai dengan umur kandungan nya. Dari hasil USG anak Tuan dan Nona laki - laki. " Seru dokter farah hati - hati dalam penyampaian nya.
" Alhamdulillah... Lelaki atau perempuan sama saja dokter. Yang penting sehat dan lahir tanpa kurang suatu apa pun " Ucap arumi.
" Nanti kalau mau perempuan kita bisa buat lagi sayang " Ucap brian tanpa malu bicara terlalu absurd.
__ADS_1
Arumi menelan saliva nya sendiri setelah mendengar perkataan absurd dari sang suami. Begitupun dokter farah dia hanya menyibuk kan diri nya pura - pura tidak mendengar apa yang di katakan brian. Pura - pura tidak mendengar memang lebih baik.
" Hubby kenapa bicara seperti itu disini, malu ada dokter farah" Seru arumi.
" Kenapa mesti malu ? Dia kan seorang dokter kandungan, hal seperti itu sudah biasa bagi nya . Benar kan dokter farah ?" Tanya brian sambil mata nya menatap tajam dokter farah.
" Iya tuan " Jawab singkat dokter farah.
Arumi hanya bisa menghela nafas melihat sikap suami nya, sudah pasti dokter farah bilang iya. Jika dia biang tidak sudah pasti brian akan marah dan dokter farah pasti akan di pecat nya, karena rumah sakit ini milik keluarga alexander.
* Dasar suami gila * Gerutu arumi hanya bisa membatin dalam hati nya saja.
********
Kedua orang tua arumi akhir nya pindah ke rumah brian yang dulu pernah di tempati nya. Rumuh satu lantai yang tidak terlalu besar namun sejuk dan hanyak tanaman bunga dan buah - buahan di pekarangan nya. Rumah yang dulu sering di jadikan brian untuk tempat menyendiri saat dia di tinggalkan oleh cinta pertama nya.
" Kenapa kita pindah di rumah ini sih buk ? Kenapa tidak tinggal di rumah nya arumi yang besar itu ? " Tanya laura tidak suka dengan tempat tinggal baru nya.
" Adik mu itu sudah berkeluarga laura jadi kita tidak bisa seenak nya tinggal disana. Apalagi itu kan rumah suami nya, yang nama nya sudah berkeluarga itu tidak bisa sembarangan lagi. Lagi pula rumah ini juga rumah brian, bapak dan ibu lebih senang tinggal di rumah ini. Suasananya lebih nyaman dan sejuk." Ucap ibu wati.
" Iya laura yang di katakan ibu kamu benar " Ucap pak suryo menambahi.
" Iya pak, buk. Ya sudah laura mau masuk kamar dulu. Laura capek mau istirahat, besok laura sudah mulai bekerja di perusahaan brian " Ucap laura.
" Loh kok bekerja ? Kamu itu sudah mau menikah apa tidak ingin mempersiapkan pernikahan mu ? " Tanya ibu wati heran dengan laura.
" Soal pernikahan mah gampang buk, lagi pula masih cukup lama. Aku tidak perlu repot - repot menyiapkan nya. Ada WO yang sudah mengurus semua nya , aku tinggal fitting baju saja selebih nya di urus orang WO " Seru laura sambil berjalan masuk ke kamar.
Laura masuk ke kamar dan meninggalkan kedua orang tua nya yang masih ingin berbicara banyak dengan nya. Namun apa boleh buat laura lebih memilih masuk kamar nya daripada mendengarkan nasehat orang tua nya.
" Pak, kok ibu ragu sih dengan laura. Apa benar dia itu serius dengan bak Ziko ? Dia terlihat santai begitu, padahal dia yang mau menikah. Bisa - bisa nya dia malah mau bekerja. " Ucap ibu wati.
" Semoga nak ziko bisa sabar menghadapi laura. Siapa tahu setelah menikah dengan nak ziko , laura bisa berubah dan menjadi sosok yang lebih dewasa. Selama ini laura tidak pernah berfikir untuk serius, lihat sekolah saja dia malas - malasan beruntung SMA dia bisa lulus " Ucap pak suryo.
__ADS_1
" Iya juga sih pak " Jawab ibu wati pasrah begitu saja.
Sedangkan di dalam kamar nya laura tiduran sambil memainkan ponsel nya dan memandangi foto brian yang dia ambil dari internet. Laura senyum - senyum sendiri seolah membayangkan sesuatu yang membuat nya bahagia.
" Seandainya aku yang menjadi istri nya brian , sudah pasti setiap hari aku akan memanjakan nya dengan permainan dan servisan ku. Huhhh... aku ingin sekali bermain dengan brian. Bagaimana ya cara nya agar aku bisa bermain dengan brian lagi" Gumam laura sambil mengusap foto brian dalam ponsel nya.
" Brian aku sangat merindukan malam panas yang pernah kita lalui bersama. Apakah kamu masih mengingat nya saat pertama kali kita bermain di club malam di kota XX ?" Tanya laura pada sebuah foto.
Saat sedang melamunkan brian tiba - tiba ponsel laura berdering, ada panggilan masuk dari arumi. Malas sekali laura mengangkat telepon dari arumi namun demi kepura - puraan nya akhirnya dia mengangkat nya.
[ Hallo rum ada apa ?] Tanya laura.
[ Kak sudah di rumah di daerah X ya ? ] Tanya arumi di seberang sana.
[ Iya baru sekitar satu jam yang lalu sampai , memang nya ada apa rum ? Sorry tadi saat kami pergi kamu belum pulang. Tapi yang penting tadi pagi bapak dn ibu kan sudah bilang sama kamu ]
[ Iya mbak tidak apa - apa. Aku hanya memastikan saja kok kak. Ya sudah salam saja untuk bapak dan ibuk nanti kapan - kapan arumi yang kesana menemui mereka. Titip ibu dan bapak ya kak, kalau ada apa - apa tolong kabari arumi. Tadi arumi sudah menghubungi ponsel mereka tapi tidak di angkat juga. ]
[ Oh mungkin mereka di kebun belakang ] Jawab laura karena mendengar suara kedua orang tua nya ada di belakang rumah .
[ Ya sudah arumi tutup ya kak telepon nya ]
[ Iya ]
Tut.. Tut... Tut..
Sambungan telepon pun berakhir dan laura langsung melemparkan ponsel nya di atas kasur. Dia ingin tidur agar nanti malam dia bangu badan sudah tidak capek lagi. Jam 7 malam ziko akan menjemput laura untuk dikenalkan kepada orang tua nya.
*******
LIKE,KOMEN,VOTE,FAVORITE, HADIAH DAN RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏❤❤
TERIMAKASIH 🙏❤❤
__ADS_1