
Masih di beberapa Bulan sebelum nya
Sebelum Misca berpindah Posisi
Sebelum Indri diterima bekerja
(Sebelum tim kantor tahu dia laki-laki)
Palembang
Hotel xxxxxxx
Misca menelan salivanya untuk beberapa waktu saat melihat bo..kong seksi, kulit putih bak batu pualam, paha mulus, betis indah dan.....
Akhhhhhh
Laki-laki itu benar-benar merasa gila saat ini.
Bolehkah aku khilaf?!.
Tanya laki-laki itu didalam hati nya.
Sial, seharusnya aku tidak menggunakan riasan di jakun ku agar ketahuan kalau aku ini Laki-laki.
Misca menyentuh jakun nya yang tersembunyi karena menggunakan cream nose wax yang biasanya di gunakan mbak-mbak yang memiliki hidung mancung tertunda alias pesek agar tertutupi dan menjadi mancung.
Dia menggunakan cream tersebut agar bisa mendatarkan posisi jakun nya dan terlihat setara dengan bagian leher nya.
Misca fikir seharusnya dia tidak menggunakan cream seperti itu agar Meisya tahu dia bukan perempuan tulen.
__ADS_1
Tapi ketakutan misca adalah jika dia mulai membuka jati dirinya pada satu orang maka dia takut hal buruk akan terjadi pada nya untuk kedepannya.
Dengan perasaan ragu-ragu misca duduk di samping Meisya yang telah berbaring sejak tadi, misca mencoba untuk menggerakkan tangannya agar naik ke atas tubuh Meisya.
Nafasnya terasa begitu berat tidak beraturan, otak nya mulai tidak berfungsi dengan baik, saat ini seolah-olah ada dua sosok yang terus menghasut dan mengingat kan Diri nya.
"Pegang sedikit, raba sedikit, Elus sedikit, kan tidak banyak, cuma sedikit-sedikit"
Syetan merah berkata dibalik telinga kirinya.
"Sedikit juga dosa, sebab dari sedikit-sedikit lama-lama bisa jadi bukit"
Protes malaikat putih di telinga kanan nya.
"Itu bukan masalah, sesekali kan tidak masalah, yang penting jangan sering-sering Om"
"Alahhhhhhh nanti baru mikir dosa, terus, naikkan tangan ke atas paha nya"
"Tidakkkkkkk bayangkan bagaimana jika kamu khilaf? dari paha bisa merambah kemana-mana"
"Bukan masalah, dari paha ayam giring bisa dimakan bareng Upin Ipin, icip-icip sedikit rasa nya bisa dap...dap....dap...nyam...nyam..."
Sang syetan terus merayu, meminta misca membayangkan paha ayam goreng yang sedap.
"Yakkkk jangan.... paha ayam guring memang lezat, kalau paha ini gadis mana bisa di makan, yang ada kepala mu di getok sama gagang sapu karena coba-coba menggigit nya"
Malaikat bersayap putih terus membujuk agar misca tidak khilaf.
__ADS_1
"Kau ini kenapa lamban sekali mengambil keputusan? buruan... pegang"
"Tidak boleh, itu berdosa"
"Ggrrhhhhhh"
Sang syetan merah mulai marah dan berubah di ikuti oleh malaikat putih.
Misca yang masih galau tampak menaikkan bola mata nya ke arah plafon.
Sedang kan si syetan dan malaikat malah berdebat di hadapannya.
"Kau ini kenapa selalu mengganggu pekerjaan ku?"
Syetan merah terlihat begitu marah
"Kalau tidak diganggu, kamu bakal Terus rese mengganggu manusia"
Protes malaikat putih.
Mereka terus berdebat bagaikan suara kaset kusut yang memenuhi gendang telinga Miska.
Syetan dan malaikat bahkan saling beradu tidak ingin kalah, mereka terus berdebat bahkan saling berkacak pinggang, bahkan beradu perut tidak mau saling mengalah.
Ditengah pergelutan batin, misca pada akhirnya kabur dari sana, membuka pintu depan dengan cepat dan mencoba mendongak kan kepalanya.
Seketika bola mata nya membulat, sebuah ide terlintas di atas kepalanya.
__ADS_1
"Maafkan hamba mu Ya Allah"
Ucap misca pelan.