
Setelah memastikan Syahnaz masuk ke mobil nya, sang sopir Limousine Abizard bergerak sedikit ke depan.
Tidak lama kemudian Kalan dan Meisya secepat kilat keluar dari sana dengan menggunakan kain yang menutupi kepala dan setengah wajah mereka.
"Loh Mbak Nur dari mana?"
"Pak Tora, buk Nur ada banyak wartawan disekitaran rumah"
"Mbak Indri bakal nikah sama orang kaya?"
"Pak..."
Beberapa orang yang sibuk memesan nasi uduk di sisi kanan gagang Tampak terkejut melihat pasangan suami istri tersebut datang dari arah belakang.
Yang dipanggil Nur dan Tora hanya mengangguk kan kepala mereka, memilih tidak menjawab melainkan cuma angguk-angguk saja sambil melambai-lambaikan tangan mereka.
Mereka bergerak tergesa-gesa menuju ke arah belakang rumah keluarga Indri, mencoba menyeruak ke arah rumah tetangga di sisi kanan rumah keluarga sederhana Indri.
"Loh buk Nur, kemana? ini para wartawan pada kumpul"
Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan semua orang.
"Itu orang tua nya calon pengantin"
Begitu seorang wanita ikut bicara, seketika barisan wartawan menoleh, menatap dua sosok orang tersebut untuk beberapa waktu.
Seolah-olah sadar dengan apa yang terjadi, mereka secepat kilat bergerak mengejar langkah pasangan pasutri tersebut yang Berusaha kabur dari hadapan semua orang.
Bisa dibayangkan bagaimana ricuhnya keadaan, Meisya dan Kalan secepat kilat kabur ke sembarang arah, berlarian ala mak-mak Rempong dan bapak-bapak yang berperut buncit dengan tubuh tambun tak terkira.
Diiringi musik siru dengan tempo cepat yang membuat mereka saling mengejar antara satu dengan yang lainnya.
"Ohhhh my god"
Pekik Meisya sambil terus berlarian bersamaan dengan Kalan.
"Ini benar-benar gila, ide yang luar biasa"
Lanjut Kalan.
Seketika bola mata laki-laki itu mencari sesuatu, didepan mereka terdapat bangunan gedung yang menjulang tinggi, entah kemana tujuan nya yang jelas mereka harus mencapai tempat tersebut, berbelok dengan terburu-buru dan menyelinap ke dalam nya.
Secepat kilat Kalan membuka kulit kepala tambahan dan perut tambahan nya, membuka pakaian luar nya, kemudian membuang pakaian tersebut ke arah sebuah drum bekas di sistem kiri mereka.
Meisya juga melakukan hal yang sama,. membuang pakaian luar nya, membuang kain yang menutup kepala mereka dengan cepat lantas membenahi rambut nya.
__ADS_1
Sepersekian detik kemudian dengan gerakan cepat kedua orang tersebut langsung berjalan menuju kearah depan.
Dimana terlihat puluhan wartawan berlarian ke arah dalam melewati mereka, celingak-celinguk mencari keberadaan sepasang manusia yang ingin mereka liput berita nya.
"Lihat ibu-ibu dan bapak-bapak lewat tidak? mereka lari ke arah mana?"
"Kedalam"
Jawab Meisya cepat.
Setelah itu mereka langsung melangkah pergi dari sana, awal nya sih santai biasa-biasa saja sambil menahan tawa mereka, selanjutnya terkekeh-kekeh geli lantas berlarian kabur dari tempat tersebut dengan penuh kesenangan.
*********
Kembali ke kediaman
Rumah sederhana Indri
Mama dan papa Indri terlihat menyembul kan kepala mereka dari arah pintu belakang, menoleh kekiri dan ke kanan bak polisi yang akan melakukan penyergapan.
Diiringi musik tegang ala detektif Conan.
"Musuh sudah pergi?"
Papa Indri bertanya sambil menaik turunkan alisnya.
"Aman"
"Mama, Papa buruannnn..."
Pekik Indri tiba-tiba sambil berusaha menyeret langkah sang Mama.
Seketika musik seram ala detektif Conan dan keseriusan sepasang suami istri itu buyar.
"Papa lagi serius loh, biar seperti film-film detektif yang memegang kan itu loh"
Laki-laki tua itu bicara cepat, sedikit Protes karena akting mereka di ganggu oleh sang putri.
"Papa ah ini serius"
Indri buru-buru ikut menarik tangan sang Papa.
Setelah memastikan para wartawan banyak yang bubar, hanya tersisa beberapa saja di bagian halaman depan, Mereka secepat kilat kabur melalui pintu belakang.
Mama Indri sejak tadi kesulitan menggunakan sandal nya, sempat juga bingung mengikuti langkah semua orang.
__ADS_1
Abizard tanpa fikir panjang langsung menggendong sang calon Mama mertua dibelakang nya tanpa Fikir panjang.
Akhhhhh di gendong calon mantu tampannnn.
Alih-alih marah atau tidak enak hati, sang Mama Nur malah keriangan, bersandar di punggung sang calon mantu sambil mengulum senyuman.
Sang suami terlihat cemberut sepanjang perjalanan, dia fikir memang nya dia sudah tidak sanggup lagi menggendong istri nya.
Biar dikata perut sudah membuncit dengan berat badan sedikit melebihi timbangan, dia masih bisa menggendong istri nya.
Walaupun dia tidak bisa menjamin bakal terjengkang atau tidak setelah nya.
Masing-masing dari mereka Berlarian sambil menjinjing sandal dengan gaya cepat bak putaran kaset kusut yang takut ketahuan musuh di belakang mereka.
Bisa dibayangkan bagaimana kesiruan terjadi, kala keluarga kecil itu mencoba kabur menyelamatkan diri diiringi musik konyol dan tingkah konyol yang saling mengisi.
Beberapa tetangga dibelakang sana tampak terbengong-bengong melihat mereka semua, saling menjulurkan kepala mereka menatap bingung dan heran bersama-sama.
Dan pada akhirnya mereka tiba di samping sebuah mobil mendominasi berwarna hitam, begitu seorang laki-laki berusia sekitar 45 tahunan membuka pintu, mereka langsung masuk kedalam sana.
Satu persatu langsung mencari posisi terbaik mereka.
Laki-laki yang membukakan pintu tadi langsung menutup pintu mobil tersebut kemudian berlarian ke arah belakang masuk ke arah mobil lainnya.
Hingga akhirnya Dimas masuk ke arah sisi samping pintu kemudi, membenahi posisi duduknya dengan cepat.
Saat dia menarik sabuk pengaman nya, seketika tanpa sadar bola matanya menatap ke sisi kanan nya.
"Kita akan ke..."
Laki-laki itu seketika menghentikan kata-kata nya saat dia sadar siapa yang duduk disampingnya, telah siap menginjak pedal gas nya.
"Kamu?"
Yang di tanya seketika ikut menoleh, Tampak terkejut dengan sosok laki-laki disampingnya itu.
"Syahnaz, kita harus bergegas"
Ucap Abizard tiba-tiba dari arah belakang.
"Ya, kak"
Gadis itu menjawab cepat.
Apa?.
__ADS_1
Seketika Dimas mengerut kan keningnya saat gadis disampingnya itu memanggil Abizard dengan sebutan kakak.
Tunggu dulu.