Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Abi


__ADS_3

Untuk menuju ke perusahaan mau tidak mau Abizard terpaksa membawa Indri melewati pintu belakang villa nya.


Dia tidak menyangka apa yang terjadi antara dirinya kemarin bersama dengan Indri akan menjadi berita besar hari ini, dia terlalu bergerak ceroboh kemarin saat mengejar Indri secara terang-terangan di depan muka umum ketika mereka tiba di sebuah mall untuk menyulap Indri dalam pertemuan makan malam bersama keluarga nya.


Mungkin Abizard bisa menghadapi semua situasi ini, sebab dia jelas telah terbiasa dengan ratusan kamera yang menyoroti dirinya bahkan juga telah terbiasa dari kejaran para paparazi yang acapkali hilir mudik ingin tahu berita kebenaran nya.


Bahkan dia jelas sudah terbiasa mendapatkan berita yang tidak sesuai dengan fakta yang ada, kadang banyak media yang mengada-ada, menambah-nambah berita agar menjadi panas dan pecah.


Indri jelas akan shock berat saat menghadapi kenyataan soal gosip yang tengah beredar saat ini.


Bisa Abizard lihat senyum terus mengambang dibalik wajah cantik itu, Indri bahkan tidak melepas kan bola matanya dari pemandangan baru yang mereka lewati saat ini.


"Ini seperti jalan rahasia?"


Tanya Indri pelan sambil bola mata nya terus menatap kearah sekitar jalanan.


"Hmm"


Abizard hanya ber Hmm ria, memperhatikan dengan seksama lekuk wajah gadis itu untuk beberapa waktu.


"Aku ingin bertanya soal sesuatu"


Ucap Abizard tiba-tiba.


"Ya?"


Indri buru-buru menoleh, membuang pandangannya dari keindahan jalanan pagi di sekitar mereka.


"Soal?"


Tanya Indri masih sambil mengembangkan senyuman nya, begitu manis dan indah.


Abizard selalu terpesona Dengan senyuman polos gadis dihadapannya itu, lepas seperti tanpa beban.


Dibandingkan kehidupan mereka, dia fikir kehidupan tenang tanpa gosip ini dan itu serta beban fikiran berat jelas ada di dalam diri Indri dan keluarga nya, dia yakin kehidupan sederhana gadis itu jelas begitu harmonis dan baik-baik saja, cukup berbanding terbalik dengan kehidupan mereka yang sarat akan konflik kiri dan kanan yang bisa mencuat atau bahkan memanas dalam sewaktu-waktu.

__ADS_1


Dia fikir bisakah dia hingga akhir terus membuat senyuman itu merekah ketika gadis itu berada di sisi nya nanti?.


"Loh kok diam, pak?"


Tanya Indri cepat.


"Bukankah sudah aku bilang jangan panggil aku pak ketika kita tidak dikantor, terutama saat hanya ada kita berdua, Indri"


Protes Abizard cepat.


"Eh.. iya"


Indri menjawab sambil mengulum senyuman nya.


Dia lupa.


"Aku agak bingung harus memanggil bapak apa?"


Indri mencoba untuk mencari panggilan yang pas.


Wkwkwkwkkw bule di panggil mas kok aneh yah.


Batin Indri.


Bang? Abang? bangggg.


Ishh... kenapa terdengar menjijikkan saat aku memanggilnya Bang... bangggg.


Indri bicara sambil membayangkan dia memanggil kata bang dengan gaya lemah gemulai, sedikit manja dengan kata akhir sedikit men de..sah.


Huekkkkk.


Indri seketika mual membayangkan nya.


Aak...?.

__ADS_1


Aihhh tidak cocok.


Batin Indri.


"Abi.. kamu bisa memanggil ku begitu"


Tiba-tiba suara Abizard mengejutkan dirinya.


"Ah... Abi?"


Indri jelas mengerutkan keningnya.


"Terdengar manis"


Ucap Abizard cepat.


"Itu terdengar aneh, bukan kah itu berarti ayah? biasa nya anak-anak memanggil papa nya begitu, atau itu sebutan kata sayang untuk seorang istri kepada suaminya"


Protes Indri cepat sambil meraih gelas Aqua di sisi kanan nya, dia mencoba menyeruput minuman itu dengan cepat.


Dia fikir bukan kah aneh saat dia harus memanggil laki-laki itu dengan kata Abi.


"Aku sedang memikirkannya, anggap saja itu latihan untuk memanggil ku sebelum kita menikah"


Apa?.


Uhukkkkk


Uhukkkkk


Seketika minuman yang Indri seruput serasa tersedak dilehernya, Indri terbatuk-batuk secara tiba-tiba, dia cukup kaget dengan ucapan Abizard barusan.


"Minumlah secara perlahan"


Abizard langsung mendekati Indri, menepuk-nepuk punggung nya secara perlahan.

__ADS_1


__ADS_2