Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Tangis dalam kebisuan


__ADS_3

Satu hari sebelum pernikahan


Bola mata Alessia seketika membulat saat dia melihat Kallan sudah berdiri didepan nya, laki-laki itu terlihat sangat berantakan, rambut nya mulai memanjang, kumis nya mulai tumbuh bahkan Kallan terlihat agak kurusan.


Alessia menelan salivanya saat dia melihat betapa tidak baiknya kondisi Kallan saat ini, seketika rasa bersalah menyergap dirinya, seandainya saja dia tidak bilang untuk putus dan berpisah, melupakan dirinya dan membuat laki-laki tersebut marah mungkin keadaan Kallan tidak seperti saat ini.


Tapi bukankah hidup tanpa pilihan? dia jelas tidak memiliki pilihan apapun untuk terus bertahan dengan Kallan, ada begitu banyak alasan yang tidak bisa dijabarkan atau dia sampaikan pada laki-laki tersebut.


meskipun Kallan memiliki uang sekalipun untuk membantu dirinya dan Agnes pada akhirnya hubungan mereka tidak akan berhasil, karena dia dan kawan tidak mungkin bertahan dalam hubungan dimana dirinya memiliki kekurangan.


Tuan Khalid jelas tidak membutuhkan itu, sedangkan kallan pasti membutuhkan nya, jika dia dan Kallan menikah maka pada satu hari kekurangannya akan menjadi bahan cemoohan orang-orang dan juga keluarga laki-laki tersebut.


"Kamu terlihat begitu kurus dan..."


Alessia bicara sembari menatap dalam wajah Kallan, dia tidak melanjutkan kalimatnya karena dia takut kalimat penuh perhatiannya malah akan membuat laki-laki tersebut menjadi salah paham.


dia tidak mungkin lagi memberikan kesempatan atau mengulur hati untuk Kallan lagi.


"kamu yang menyebabkannya jadi jangan merasa bersalah saat melihatku seperti ini, Alessia"


laki-laki itu menjawab dengan cepat dia meraih rokok yang ada di atas meja dan pamatik, Kallan sengaja menyulut rokok di hadapan Alessia ingin membuat gadis itu marah, dia tahu Alicia paling membenci laki-laki perokok yang tidak menghargai uang gimana katanya merokok itu membakar penghasilan.


dia meletakkan rokok berwarna putih itu di ujung bibirnya dan mulai menyalakan pamatik besi di tangan nya kemudian menyulut api di sana.


Bohong jika Alessia tidak bergetar melihatnya, dia ingin marah dan protes namun gadis itu mencoba untuk menggenggam erat telapak tangannya, dia tidak punya kekuasaan lagi dan juga sudah tidak pantas lagi untuknya memperingati laki-laki tersebut soal rokok yang tidak baik dan juga tidak sehat untuk kehidupan Kallan.


"Katakanlah apa yang ingin kamu katakan, aku cukup sibuk hari ini karena ada yang harus aku lakukan bersama dengan saudara kembarku"


Gadis tersebut bicara cepat, meminta Kallan segera menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, laki-laki itu menghubunginya meminta untuk bertemu terakhir kali nya, Alessia sebenarnya ingin menolaknya tapi rasa rindu yang mengganggu membuat dia pada akhirnya menyetujui permintaan Kallan untuk bertemu.


dia sangat merindukan wajah laki-laki yang ada di hadapanmu itu, ini adalah mimpi untuk dia di mana laki-laki tersebut kembali duduk di hadapannya, hampir 10 hari mereka berpisah Kallan jelas telah berubah total.


Alih-alih menjawab ucapan Alessia untuk membicarakan apa yang ingin dia bicarakan, laki-laki tersebut berkata.


"Apa keadaan mu baik-baik saja? bagaimana dengan pekerjaan mu? aku dengar kamu berhenti bekerja di kafe dan juga mini market itu"


Kallan mencari tahu dan mendengar kabar jika Alessia tidak lagi bekerja di sana di dua tempat di mana gadis itu selalu ada selama ini, selama mereka berpisah Alessia seolah-olah hilang ditelan bumi, pertemuan terakhir mereka di depan rumah sakit menyisakan rasa sakit yang mendalam hingga membuat tangan tidak pernah keluar dari apartemennya dan memilih untuk mengerem diri di dalam sana.


beberapa hari kemudian dia mencoba untuk mencari Alessia ke tempat kerjanya namun dia baru tahu semua orang berkata gadis itu telah berhenti bekerja.


mendengar pertanyaan Kallan membuat alesia menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya aku telah berhenti bekerja disana"


Ucap nya pelan.


"Sudah mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik rupanya? apakah berkat channel dari kekasih baru kamu?"


tanya Kallan sedikit meng'intimidasi Alessia, dia yang tidak pernah mencurigai gadis di hadapannya tersebut seketika memasang kecurigaan besar.


sangat aneh ketika gadis itu berkata dia membutuhkan uang namun tiba-tiba saja Alessia berhenti dari pekerjaannya, di zaman saat ini seseorang yang membutuhkan uang dan memilih berhenti dari pekerjaannya biasanya terjadi karena mereka sudah memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih mapan atau bahkan akan menikah.


mengingat Alessia hanya tamatan sekolah menengah atas, Maka sangat aneh jika dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaan yang kemarin, seketika pemikiran buruk menghantam Kallan, dia takut berandai-andai jika Alessia memilih untuk bekerja menjual harga dirinya atau menjadi simpanan seorang om-om tua seusia ayah nya.


entahlah Kallan tidak ingin berasumsi dan berandai-andai tapi dia tidak bisa menepis pemikiran buruk tersebut dari dalam dirinya dan juga hatinya.


pertanyaan Kallan cukup membuat alesia merasa sakit, satu realitanya orang kelas bawah dan rendah sepertinya pantas untuk mendapatkan pertanyaan seperti itu dan lagi memang realitanya seperti itu juga, dia berhenti dari pekerjaannya karena telah mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik berkat channel seseorang.


apa dia harus berkata jika dia menerima sebuah pernikahan kontrak demi uang yang banyak juga kesetaraan hidup untuk dirinya terutama saudaranya dan juga bibinya.


Alessia ingat berapa jumlah uang yang dia terima, dia langsung menyewa sebuah tempat untuk membuat mimpi Agnes agar menjadi kenyataan, perempuan itu ingin membuka sebuah usaha desainnya yang dirintis dan dimulai dari kecil-kecilan kemudian menjadi besar seperti perusahaan-perusahaan impian Agnes pada umumnya.


Dia mencoba untuk mengabulkan impian saudara kembar nya dengan sekuat tenaga, memastikan saat Agnes setelah kembali sehat dari keadaannya perempuan itu tidak perlu bingung untuk mencari pekerjaan dalam menyambung hidupnya, Agnes bisa menggapai cita-citanya yang tertunda setelah perempuan itu boleh dari sisa operasinya bersama putri kecilnya.


dia ingin Agnes menebus rasa malu atas apa yang terjadi pada perempuan tersebut.


Jawab Alessia pelan.


Mendengar ucapan Alessia kallan terlihat diam, dia menelisik bola mata gadis yang ada di hadapannya itu untuk beberapa waktu kemudian laki-laki tersebut berkata.


"Sebahagia Itu kah memilih untuk putus dengan ku?"


tanya laki-laki tersebut kemudian.


Alessia sama sekali tidak menjawab dia memilih untuk kembali meremas telapak tangannya.


"Pertanyaan mu terasa begitu begitu meng'intimidasi, Kallan"


Ucap gadis itu pelan.


mendengar ucapan dari Alessia membuat Kallan terkekeh kecil, suara tawanya terdengar begitu tidak mengenakkan dan sangat tidak bersahabat seolah-olah Kallan kini menjadi orang asing bagi dirinya.


"aku tidak mengintimidasi sama sekali, tapi hanya berpikir kamu begitu bahagia dengan perpisahan kita, terkadang aku berpikir jika aku telah salah mengenal gadis, yang kusangka berlian rupanya hanya sanggup sampai yang tidak bedanya dengan para perempuan yang pernah ku temui sebelumnya"

__ADS_1


tiba-tiba suara Kallan terdengar begitu dingin dan datar, bola mata laki-laki tersebut menatap dirinya dengan tatapan yang begitu menusuk serta penuh dengan kemarahan di dalamnya.


"aku dengar kau akan menikah dengan laki-laki tua"


ucap Kallan lagi kemudian.


mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika membuat Alessia terkejut, dia langsung membelalakkan bola matanya.


"Ya?"


Bibir gadis tersebut seketika bergetar.


*******


Beberapa jam sebelum pernikahan


"Aku tidak ingin melihat wajah pengantin perempuan nya sama sekali"


suaranya terdengar memecah keheningan dia menatap ke arah Erlan dan juga seorang laki-laki yang akan menjadi wali nikah Alessia mengingat gadis itu sudah tidak memiliki orang tua bahkan keluarga lainnya.


"pastikan dia hanya mendengar ucapan pernikahan dari ruangan yang berbeda, setelah itu bahwa dia pergi sejauh mungkin dariku, pastikan aku akan tinggal bersamanya jika istriku telah menemui ajalnya, jika belum bahkan sampai langit runtuh sekalipun aku tidak ingin melihat wajahnya"


itu adalah perintah mutlak yang diberikan oleh Yash kepada sekretarisnya, dia bersiap untuk melangkah keluar melewati pintu yang ada di hadapannya tersebut di mana yang dia tahu di ujung sana istrinya tengah menunggu dirinya.


"Tapi tuan..."


Erlan bicara pelan.


"Kau ingin membantu ucapanku?"


Yash terlihat melotot tajam kearah laki-laki tersebut.


"Lakukan atau aku akan memecat mu dan mencari orang lain yang jauh lebih kompeten dalam mengurusi semua urusanku"


setelah berkata seperti itu Yash langsung bergerak menjauhi kedua orang tersebut dia melangkah ke depan di mana laki-laki itu telah menggunakan jas rapi dan penampilan karismatiknya.


Erlan terlihat menelan salivanya, dia dan sang wali nikah dari Alessia hanya bisa saling menatap untuk beberapa waktu.


"ini bukan masalah"


Suara seseorang memecah keadaan.

__ADS_1


"Alessia memang harus melewati operasi nya, lebih baik mereka tidak bertemu setelah pernikahan, aku pikir Alessia akan butuh waktu lebih dari 3 bulan untuk masa pemulihan nya"


Mendengar ucapan orang tersebut seketika membuat Erlan terdiam.


__ADS_2