Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Dia yang tanpa Keluarga lainnya


__ADS_3

Rumah sakit xxxxxxx


Alessia menatap notifikasi yang masuk kedalam handphone nya untuk beberapa waktu dengan tangan bergetar, begitu melihat jumlah uang yang dia terima didalam rekening nya, seketika air mata nya tumpah.


$40.000.


entah bagaimana perasaan nya saat ini ketika melihat jumlah uang yang dikirimkan untuk diri nya tersebut dari Nyonya Khalid, perempuan tersebut benar-benar menepati janjinya seperti permintaan alesia.


"Aku akan mengirim Sisanya setelah pernikahan"


Dia menangis lirih tanpa mengeluarkan suaranya, dada dan tubuh nya bergetar diiringi air mata nya yang turun tanpa ingin berhenti.


Begitu uang masuk, dia tahu masa depan nya telah terikat dan terbelenggu, dia mau tidak mau dan siap tidak siap harus menerima semua keadaan dan keputusan yang telah dia sepakati Kemarin bersama nyonya Khalid.


Seberat apapun beban hidup, dia pikir bukankah dia harus menerimanya dengan lapang hati?!.


tidak peduli suka atau tidak, yang jelas dia harus tetap tersenyum demi Agnes yang memang membutuhkan uang untuk biaya operasi nya malam ini dan dia juga membutuhkan uang tersebut saat ini.


"Nona, anda bisa membayar tagihan nya"


Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan Alessia, gadis itu seketika tersentak dari pemikiran nya.


Alessia buru-buru membalikkan tubuhnya, mencoba menghapus air mata nya cepat dengan punggung tangannya.


"Iya, berikan total nya"


Ucap Alessia masih dengan bola mata yang memerah dan suara nya yang serak.


Perempuan dihadapan Alessia hanya melirik gadis itu sejenak, dia menghela pelan nafas nya kemudian mencoba melebarkan senyumannya sambil menyerahkan sebuah kertas kearah Alessia.


"Anda bisa menyelesaikan nya"


Perempuan tersebut bicara pelan, sembari dia masih terus menatap bola mata Alessia yang terlihat memerah.


"Aku akan mengambil uangnya"


Ucap Alessia pelan.


Mendengar jawaban Alessia, perempuan tersebut hanya mengangguk kan kepalanya perlahan.


Bagi diri nya di rumah sakit melihat para pengunjung dengan mata memerah karena menangis atau wajah yang menampilkan ekspresi cemas sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, karena hal seperti itu telah menjadi makanan sehari-hari para perawat dan dokter yang ada disana.


siapa yang ingin terkena musibah dan berada di tempat seperti ini? tentu saja tidak ada seorangpun yang berada di tempat ini karena tempat ini lebih tepat seperti sebuah tempat yang mendekati pada kematian, hanya dua pilihan yang ada ketika mereka masuk ke tempat seperti ini.


untuk keluarga pertama mereka harus kehilangan banyak uang, bahkan mereka harus berkutat pada tangis atau kekhawatiran selama 24 jam penuh menunggu salah satu daripada keluarga mereka yang ada di rumah sakit tersebut, bahkan tidak dipungkiri mereka harus bersiap pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi


Atau bahkan tidak sedikit daripada mereka yang harus berjuang untuk mencari biaya dalam perawatan berobat atau melewati operasi di berbagai macam rumah sakit.


sedangkan untuk pasien jelas mereka harus memilih salah satu berusaha bertahan mati-matian untuk hidup atau pasrah dan pergi secara perlahan dalam lingkaran kematian.


tinggal di rumah sakit tersebut jelas sama sekali tidak akan menyisakan kebahagiaan, mereka harus benar-benar berjuang diantara banyak hal.


Tapi melihat gadis yang kini berbalik dan melangkah kan kakinya dengan terburu-buru menuju ke arah ATM depan sana membuat perempuan berpakaian serba putih tersebut terlihat menatap punggung gadis cantik tersebut sembari menarik pelan nafasnya.


Dia menatap iba gadis cantik itu untuk beberapa waktu, kasus Alessia membuat dia iba dan kehilangan kata-kata.


"Nona Alessia sudah datang?"


Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan dirinya, itu adalah dokter Rick, Laki-laki berusia melewati kepala 4 tersebut bertanya sembari menunggu jawaban dari nya.


"Ya?"


seperti orang bingung perempuan itu tersentak dari pemikirannya, pada akhirnya perempuan itu menjawab dengan sedikit gelagapan.


"Ah iya dia akan kembali dalam beberapa menit lagi"


Perempuan itu menjawab dengan cepat.


Mendengar Jawaban Perempuan dihadapan nya, membuat dokter laki-laki tersebut mengerutkan keningnya.


"apa ada hal yang buruk terjadi? kamu seperti orang yang kebingungan"


tanya laki-laki itu dengan cepat.


"kamu seperti baru saja melihat hantu"


Ucap dokter Rick lagi.


"Tidak dok, aku bukan melihat hantu hanya sedikit melamun"


jawab perempuan itu cepat.


"Tidak baik melamun di dalam rumah sakit dalam keadaan sendirian, itu cukup berbahaya"


ucap dokter Rick kemudian.


"Jika Alessia sudah kembali minta dia untuk masuk ke ruanganku dengan segera"


dia bicara sembari mengembangkan senyuman, laki-laki tersebut berniat melangkah pergi menjauhi Perempuan tersebut dan masuk ke ruangan nya namun tiba-tiba Perempuan itu berkata.

__ADS_1


"Apa itu baik-baik saja?"


Tanya Perempuan itu kemudian, kata-katanya membuat dokter Rich langsung menghentikan gerakannya.


"Ya?"


Laki-laki tersebut langsung berbalik sambil mengerutkan keningnya.


"Aku cukup mengkhawatirkan Alessia, apakah semua akan baik-baik saja? aku pikir nyonya Khalid sudah bertindak melampaui batasan nya, memanfaatkan anak polos yang..."


Perempuan itu bicara cepat namun didetik berikut nya dia menghentikan kalimat nya, dia sepertinya mungkin telah salah bicara tapi dia tidak bisa menahan perasaannya untuk memprotes persoalan tersebut.


rasanya seolah-olah ada batu hambatan yang menghantam perasaannya tiap kali dia melihat sosok alesia yang begitu polos dan tidak tahu apa-apa.


mendengar ucapan perempuan yang ada di hadapannya tersebut membuat dokter Rich seketika Monata bola mata perempuan itu untuk beberapa waktu, dia tidak bicara sejenak, hingga akhirnya laki-laki tersebut berkata.


"Tidak, Hana tidak berlebihan dan tidak memanfaatkan Alessia, dia tahu mana yang terbaik untuk gadis tersebut atau bukan"


Jawab laki-laki itu cepat sembari mencoba menyakinkan perempuan yang ada di hadapannya tersebut.


"Tapi tetap saja..."


Dia seolah-olah merasa ini sangat tidak adil tapi dia ingat, awalnya memang tidak adil tapi kedepannya jelas hal ini sangat terlihat adil.


"kita bisa menggunakan cara lain namun tidak membuatnya seperti ini, dia akan meyakini apa yang terjadi padanya dan marah besar ketika tahu jika kita..."


"Jangan terlalu jauh ikut campur, tugas kita tidak lebih dan tidak kurang hanya sebatas apa yang kita bisa lakukan"


Dokter Rich berusaha untuk mengingatkan Perempuan tersebut soal bahasa nya.


"Sejak awal semua orang tahu sudah ada benang merah yang mengikat Yash dan gadis itu, Hana juga tahu betul soal itu"


Potong Dokter Rick cepat.


"Tapi tetap saja dia..."


"Saat kebenaran terbuka, Yash dan Alessia pasti tidak akan pernah menyesali pernikahan mereka, cukup diam dan jangan keluarkan suara kita, sebab kita tidak punya hak untuk buka suara"


Setelah berkata begitu, laki-laki tersebut buru-buru langsung bergerak pergi meninggalkan perempuan tersebut secara perlahan.


Perempuan itu diam mematung, menatap punggung laki-laki dihadapan nya itu yang kini bergerak menjauh.


Dia menghela berat nafasnya untuk beberapa waktu, kemudian dia memijat pelipisnya sejenak tanpa mengeluarkan sedikit pun suaranya.


Yah seharusnya dia cukup diam dan tidak banyak bicara, meskipun tahu tentang kenyataan dimasa lalu, bicara saat ini hanya akan menambah kesulitan kerumitan keadaan.


Rumah sakit xxxxxxx


Ruang lab


Pemeriksaan kepada Alessia


Dokter Rick dan beberapa perawat lainnya terlihat begitu fokus dalam melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kesehatan dan tubuh Alessia.


Berbagai macam rangkaian pemeriksaan dijalan kan gadis tersebut entah sejak pukul berapa.


Alessia hanya berada seorang diri di sana tanpa di temani siapa-siapa, dia pikir dirinya memang tidak diharuskan ditemani oleh siapapun, mengingat dia memang tidak lagi memiliki siapa-siapa dan tidak punya satupun keluarga yang tahu akan mereka.


setelah melewati serangkaian panjang pemeriksaan pengecekan kondisi tubuh nya yang tiada henti sejak pagi, pada akhirnya pemeriksaan tersebut selesai juga.


Gadis itu kini duduk tepat menghadap ke arah Dokter Rick, dengan perasaan khawatir dia menatap laki-laki dihadapan nya itu untuk beberapa waktu, dia menunggumu apa yang akan diucapkan oleh dokter yang ada di hadapannya tersebut.


"Kita akan melakukan prosedur operasi nya dalam beberapa hari kedepan, ini akan cukup memakan waktu lama dan aku pikir kamu butuh seseorang untuk merawat mu setelah proses operasi nya"


Ucap laki-laki tersebut kemudian.


Alessia Terlihat berpikir, dia sejenak diam kemudian menggelengkan kepalanya secara perlahan.


"Bisakah aku mengurus diri ku sendiri? maksud ku atau berikan aku seseorang yang bisa merawat ku setelah operasi nya dilakukan, aku akan membayar jasa nya"


Alessia bicara sedikit gugup, dia agak bingung harus menjawab ucapan dokter Rich.


Mendengar ucapan Alessia, laki-laki itu terlihat diam.


"Maksud ku dok, aku tidak memiliki seorang keluarga pun kecuali Agnes dan bibi ku, mereka tidak mungkin melakukan nya"


Ucap nya pelan sambil menundukkan kepalanya, Alessia terlihat begitu cemas dan Mencoba menggenggam erat telapak tangan nya.


"Bibi ku harus merawat keadaan Agnes yang jelas masih sangat membutuhkan seseorang membantu nya pasca operasi"


Lanjut nya lagi dengan suara rendah.


Bukan rahasia umum lagi jika dirinya dan saudaranya tidak memiliki orang tua atau keluarga lainnya, kini mereka hanya berdua ditambah sang bibi muda, setelah bayi Agnes lahir itu arti nya keluarga kecil mereka bertambah satu orang lagi, hal itu jelas membuat Alessia bahagia.


Realita nya di Indonesia dulu mereka tinggal di komplek kumuh bersama ayah dan ibu mereka, saat kecil ibu mereka meninggal dunia, kemudian Alessia dan Agnes dipaksa hidup mandiri dan harus bisa berjuang untuk hidup layak nya seperti anak-anak kebanyakan.


Ayah nya yang sakit-sakitan akan sulit keluar untuk bekerja, karena itu saat sekolah mereka harus secara bergantian menggunakan pakaian sekolah.


Bibi muda bekerja di rumah salah satu keluarga kaya raya, hingga akhirnya Agnes di ambil menjadi anak angkat disana, tapi satu peristiwa membuat saudara kembar nya kehilangan masa depan, hamil dan terpaksa kembali ke Manhattan saat ini.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak tahu dimana keluarga lain mereka hingga hari ini, tidak pernah tercetus oleh ayah mereka soal Keluarga mereka yang lainnya tinggal dimana dan siapa.


Sebenarnya Alessia sering bertanya kepada ayah nya dimasa anak-anak nya dulu, dia bertanya kenapa mereka tidak memiliki bola mata yang sama dan warna kulit yang sama, bahkan kenapa.....


"Ayah kenapa golongan darah kita tidak ada yang sama?"


Saat itu dia pernah bertanya soal hal itu pada ayah nya.


tapi saat itu ayah nya menjawab dengan jawaban paling tepat.


"Hahahaha pertanyaan mu terdengar lucu Alessia, kamu tahu nak? bukan hanya antar individu, golongan darah ayah dan anak kandungnya pun bisa saja berbeda. Perlu diingat bahwa meski gen, DNA, dan berbagai bagian dari diri anak bersumber dari orangtua belum tentu golongan darah anak akan sama dengan ayah atau ibunya."


Kala itu penjelasan ayah nya jelas sangat mendetail, dan itu jelas masuk akal menurut nya, golongan darah bukan hal yang harus di Persoalkan di Antara mereka.


Alessia tidak lagi menanyakan soal itu pada ayah nya tapi....


Saat ayah nya kritis dirumah sakit ada satu hal yang cukup mengejutkan yang dia dengar dari seorang dokter.


"Putri kandung? aku pikir ada kesalahan didalam pemeriksaan nya"


Kala itu seorang dokter bicara dengan begitu gelisah, bahkan dia memperhatikan dirinya dan ayah nya.


"Kalian tidak memiliki sedikit pun kemiripan"


Ucapan dokter itu cukup membuat dia gelisah.


Tidak memiliki kemiripan?!.


Beberapa kali dia berusaha untuk memperhatikan kemiripan di antara dia dan ayah nya juga Agnes.


Tapi pada akhirnya satu pemikiran buruk itu menghilang, mereka bilang terkadang anak-anak tidak condong mirip kepada ayah nya, namun lebih banyak mirip kearah ibu mereka.


Orang-orang di Asia berkata, tidak heran anak perempuan dan ibu yang mirip akan mengakibatkan perpisahan bahkan paling buruk adalah kematian.


Meskipun tidak ingat bagaimana rupa ibu mereka, bahkan dia atau Agnes tidak memiliki foto ibu Mereka, tapi ayah mereka berkata jika ibu mereka benar-benar mirip dengan dia dan Agnesia.


Pada akhirnya Alessia tidak pernah menyimpan kecurigaan nya lagi.


Hingga akhir saat ayah nya menangis menghadap dirinya, hingga sebelum dia berkata akan pergi ke luar negeri untuk menyimpulkan biaya pengobatan laki-laki itu, ayah nya memberikan dia sebuah kalung Sembari berkata.


"Yakin ingin pergi?"


Kala itu demi kesembuhan ayah nya dan mengumpulkan pundi-pundi uang, dia memutuskan berhenti sekolah dan memilih untuk bekerja.


"Mereka menawarkan sebuah pekerjaan untuk ku ayah, dengan gaji besar yang bisa membiayai operasi ayah dan sekolah Agnes hingga tuntas"


bisa dia lihat kesedihan di bola mata ayahnya kala itu, bahkan laki-laki tua itu pernah berkata dan bertanya padanya.


"Apakah kamu menyesal menjadi putri ku, nak?"


Alessia terlihat tertawa kecil.


"Tentu saja tidak, ayah adalah ayah terhebat yang pernah aku punya dan membuat aku begitu bangga, aku mana mungkin menyesal memiliki ayah sehebat ini"


Seulas senyuman mengambang dari wajah tua dan pucat itu, hingga akhirnya laki-laki tua tersebut berkata.


"Pergilah ke Manhattan, satu hari kau akan menemukan sebuah kebahagiaan disana"


"Ya?"


Alessia menggerutkan keningnya.


Saat itu dia ingin pergi ke Singapura atau Hongkong, tawaran pekerjaan dengan gaji tinggi cukup membuat dia tergiur, tapi tiba-tiba agensi tempat dia mendaftar mengubah jalur pekerjaan nya.


"Manhattan? kafe?"


Alessia mengerutkan keningnya.


Tapi dibandingkan menjadi pekerjaan rumah tangga, menjadi pelayan di kafe jelas terdengar jauh lebih baik kala itu bagi nya.


Hingga akhirnya dia menerima pekerjaan dari agensi Tersebut dan bekerja di kafe dimana rupanya kafe tersebut merupakan kafe milik orang tua teman kallan.


Pesan terakhir yang dia dapatkan dari ayah nya adalah.


"jangan pernah menjual kalung mu kepada siapapun meskipun dalam kondisi terjepit sekalipun, jika ada yang bertanya apakah Agnesia memiliki Kalung yang sama, katakan tidak ada"


Meskipun sebenarnya ucapan ayah nya membuat dia bingung, pesan laki-laki tersebut selalu tersimpan didalam hati nya.


Seketika Alessia mengehela pelan nafasnya, dia membebaskan pemikiran nya dari ingatan masa lalu nya, kini bola mata gadis itu menatap kearah dokter dihadapan nya itu lagi.


"Karena itu sangat mustahil untuk ku meminta bibi ku untuk bisa mengurus ku juga pasca operasi"


Ucap Alessia lagi kemudian.


"Jangan khawatir soal apapun, aku akan menyiapkan seseorang untuk merawat Alessia hingga masa pemulihan nya"


Tiba-tiba suara seseorang terdengar memecah keadaan.


Alessia dan dokter Rick langsung menoleh ke asal suara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2