
Entah berapa lama Alessia menangis dia lupa, tubuh nya mulai basah kuyup karena rinai hujan telah berubah benar-benar menjadi hujan deras yang mengguyur bumi.
Sejenak Alessia menghapus air mata nya dengan cepat, saat dia menyadari seseorang memayungi dirinya secara perlahan, gadis tersebut menghilang kan sisa tangisannya, kemudian dia dengan cepat mendongakkan kepalanya keatas, menatap sosok siapa yang memberikan dirinya payung saat ini.
Bola mata gadis tersebut seketika membulat, ketika dia sadar siapa yang memayungi nya saat ini.
"Nyonya?"
Alessia berguman pelan.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Hana Bertanya sembari menatap balik bola mata Alessia, dia menduduki dirinya, menata Alessia untuk waktu yang cukup lama.
Gadis tersebut secepat kilat mengembang kan senyuman nya.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit tersandung sebab terlalu ceroboh berjalan"
Alessia bicara cepat, mengalihkan wajahnya agar tidak terlihat sisa air mata yang telah menghilang di balik terpaan air hujan, namun warna merah pada bagian bola matanya tentu tidak bisa dia sembunyikan begitu saja.
Alessia kemudian berusaha berdiri, dia mengangkat nyonya Khalid perlahan, membiarkan mereka berdiri saling berhadapan.
"Apa kamu menangis?"
Pertanyaan tersebut melesat dari balik bibir Hana, dia tahu namun pura-pura tidak tahu sama sekali.
Mendengar pertanyaan nyonya Khalid, Alessia kembali mengembangkan senyuman nya.
"Aku tidak memiliki alasan khusus untuk menangis nyonya, aku baik-baik saja"
Setelah berkata begitu Alessia mencoba meraih gagang payung yang ada di tangan perempuan dihadapan nya tersebut.
"Maaf nyonya, biarkan aku yang membawanya"
ucapnya masih sambil memaksakan senyumannya, Hana terlihat diam membiarkan Alessia meraih payung yang ada di tangannya tersebut.
saat gadis itu akan melangkah bergerak menuju ke arah sisi kiri di mana rumah sakit berada, Hana dengan cepat berkata.
"Ikutlah denganku, aku ingin membawamu ke satu tempat"
ucap perempuan itu kemudian hingga membuat langkah Alessia langsung berhenti, gadisnya terasa menoleh ke arah nyonya Khalid.
__ADS_1
"Ya?"
"bukankah kamu tidak dalam keadaan terburu-buru? juga tidak dalam keadaan memiliki janji lain?"
Hana bertanya sembari mencoba untuk memastikan.
"yah, aku tidak dalam keadaan terburu-buru atau memiliki janji"
Jawab Alessia pelan.
mendengar jawaban gadis itu membuat Hana melebarkan senyumannya, dia kemudian secara perlahan memasukkan tangannya ke lengan Alessia.
melihat perempuan itu memasukkan tangannya ke lengan kanannya seketika membuat Alessia sedikit terkejut, dia menoleh ke arah nyonya Khalid.
Alih-alih mempedulikan ekspresi Alessia, Hana terlihat mengembang kan senyuman nya, membiarkan tangan kiri gadis itu terus menggenggam payung yang melindungi mereka dari hujan dan dia menuntun gadis tersebut bergerak menjauhi rumah sakit.
pada akhirnya Alessia membiarkan Hana menuntun diri nya, meskipun sebenarnya dia tidak tahu kemana perempuan itu akan membawanya saat ini.
di balik rasa sedih dan sisa tangis yang tidak ingin dia tampakkan, gadis itu membiarkan banyak kali membawanya kemanapun yang perempuan itu inginkan, dia pikir mungkin itu bisa menyingkirkan rasa luka dan sakit serta kesedihan yang mendalam di dalam hatinya.
hingga akhirnya perempuan itu memboyongnya menuju ke arah mobil milik nyonya Khalid.
Alessia sama sekali tidak bertanya, meskipun dia tahu ada laki-laki yang dia tahu sebagai sopir pribadi nyonya Khalid dan perempuan yang beberapa kali bertemu dengan dirinya yang dia tahu adalah orang kepercayaan nyonya Khalid.
Entah sejauh apa perempuan itu membawa dirinya dia tidak tahu, bahkan dia sama sekali tidak paham kemana arah tujuannya, namun kini bola matanya terpaku pada satu bangunan besar yang ada di hadapan mereka di mana mobil yang dia naiki memasuki area tempat tersebut secara perlahan.
Dua penjaga terlihat membuka pintu gerbang yang di jalan tinggi mendominasi berwarna putih tersebut, kemudian secara perlahan mobil itu masuk ke tempat sebuah bangunan yang sangat megah dan juga mewah.
Meskipun tidak dipungkiri kebingungan menghantam gadis tersebut ditambah lagi ada jutaan pertanyaan yang menari-nari di kepalanya sebenarnya mereka ada dimana saat ini, dan nyonya Khalid sebenarnya ingin membawa nya ke mana atau ingin memperkenalkannya kepada siapa dia tidak tahu.
gadis itu sejenak melirik ke arah perempuan yang ada di samping kanannya.
"Turunlah aku ingin memperlihatkanmu pada sesuatu"
begitu mobil telah berhenti nyonya kali langsung bicara kepada Alessia sembari mengembangkan senyumannya.
menurut Alessia, perempuan yang ada di sampingnya itu begitu ramah dan juga lemah lembut, perempuan tersebut selalu menampilkan senyuman paling tulusnya untuk dirinya, karena itu sangat sulit sekali untuk menolak permintaan atau kata-kata dari banyak kali sejak pertama kali mereka bertemu dan berbicara.
seolah senyuman itu mengingatkannya pada diri seseorang.
mendengar ucapan perempuan tersebut Alessia tidak menjawab, gadis itu secara perlahan turun dari mobil tersebut yang di dahului oleh bibi Tory di mana wanita itu memang jodoh di paling pinggir dekat pintu mobil.
__ADS_1
ketika Alicia menurunkan kakinya dari dalam mobil tersebut dan menampakkan kakinya ke jalanan, seketika bola matanya menatap rumah megah itu dengan berdecak kagum di dalam hatinya.
Tempat itu begitu mewah.
itu yang ada di dalam pikirannya.
tidak dia pungkiri dia mengagumi tempat tersebut, terlihat seperti sebuah rumah impian yang jelas diinginkan oleh banyak orang di dunia ini termasuk dirinya.
secara perlahan dia menggerakkan langkah kakinya di mana nyonya Hana secara perlahan kini membawa dia untuk beranjak dari posisinya dan masuk ke tempat tersebut.
mereka mulai melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam tempat tersebut, di mana beberapa pelayan terlihat keluar dengan cepat kemudian menundukkan kepala mereka, Alessia pikir ini seperti di negeri dongeng atau seperti drama-drama yang pernah dia tonton sebelumnya di mana orang-orang kaya memang memiliki apapun yang dia inginkan serta memiliki banyak pelayan yang menyambut mereka mulai dari pintu masuk hingga mereka masuk ke dalam dunia mewah tersebut.
meskipun sebenarnya dia bingung tapi tidak dia pungkiri nyonya Khalid pasti merupakan orang kaya sejak awal, diingat berapa besar tawaran yang diberikan perempuan tersebut kepada dirinya sebelumnya ditambah dengan beberapa penawaran lain yang membuat dirinya mungkin tidak akan pernah hidup dalam kekurangan.
"apakah Yash bicara menyakiti perasaanmu?"
tiba-tiba perempuan tersebut bertanya ketika mereka berdiri di tengah-tengah bangunan tersebut, dia tidak lagi melihat para pelayan yang menundukkan kepala kepada mereka juga tidak melihat bibi Tory atau bahkan laki-laki yang mengendarai mobil tadi.
"aku pikir tidak, mungkin lebih tepatnya aku yang sedikit melakukan kesalahan dan menyinggung perasaannya"
jawab Alessia perlahan.
mendengar jawaban gadis tersebut membuat Hana diam, detik berikutnya perempuan itu membuka sebuah pintu yang ada di sisi kiri mereka, setelah pintu terbuka Hana langsung mempersilahkan Alessia untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang gadis itu tidak tahu apa, begitu pintu terbuka bola mata Alessia jelas membulat dengan sempurna.
Alessia melangkahkan kakinya dengan takjub dan sedikit ragu-ragu, dia menatap area ruangan tersebut dengan bola mata berkaca-kaca, dia pikir bukankah apa yang dia lihat ini begitu luar biasa.
"aku harap kau menyukainya"
Ucap Hana kemudian sembari berbisik di samping telinga nya.
"Ya?"
Alessia jelas Terkejut, dia menoleh kearah Hana sembari gadis itu mengerutkan keningnya.
"Ini semua akan jadi milik mu"
Kembali seulas senyuman paling tulus melebar dibalik wajah cantik nan pucat tersebut, Alessia semakin mengerutkan keningnya, dia masih tidak paham atas apa yang di ucapkan oleh perempuan yang ada di samping nya itu kini.
"Milik ku?"
Dia bertanya dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Yah ini sejak awal memang seharusnya jadi milik mu, dia menunggu Begitu lama atas kedatangan pemilik nya terhitung mulai hari dimana dia kehilangan gadis kecil itu dimasa lalu"
Alessia mematung dalam jutaan tanda tanya yang tidak dia pahami sama sekali jawaban nya.