
Alessia seketika membulatkan bola matanya saat dia melihat nyonya Khalid sudah bergerak dengan Kursi roda nya di bantu oleh seorang wanita paruh baya dibelakang nya.
"Nyonya?"
gadis itu buru-buru langsung berdiri dan bergerak cepat mendekati nyonya Khalid, dia menundukan kepalanya untuk beberapa waktu lantas mencoba menundukkan kepalanya kearah wanita paruh baya di belakang nyonya Khalid yang tidak lain adalah bibi Tory.
"Jangan tundukkan kepala anda pada saya, nona muda"
Wanita itu bicara cepat, merasa sedikit risih setiap kali mereka bertemu Alessia selalu menundukkan kepalanya terhadap dirinya.
"Ya?"
Alessia terlihat bingung ketika dia dipanggil Nona muda oleh wanita itu.
"Aku bukan nona muda"
Jawab Alessia pelan, merasa sedikit berlebihan dipanggil seperti itu mengingat betapa rendahnya derajat dirinya dibandingkan nyonya Khalid dan wanita itu.
mendengar jawaban Alessia seketika membuat Hana mengembangkan senyumannya.
"Kamu akan jadi istri Khalid sebentar lagi, itu akan sangat wajar jika orang-orang memanggil kamu nona muda"
jawab Hana sambil membiarkan bibi Tory memajukan Kursi roda nya.
mendengar ucapan perempuan tersebut seketika membuat Alessia diam, dia seperti nya masih agak bingung namun gadis itu mencoba untuk memahami ucapan perempuan yang ada di hadapannya tersebut.
Alessia terlihat bergerak mengikuti langkah wanita yang ada di belakang Nyonya Khalid dimana wanita tersebut mendorong kursi roda Tersebut mendekati meja Dokter Rick.
Dokter Rick jelas aja langsung mengerutkan keningnya saat melihat kedatangan Hana.
"Kamu seharusnya tidak datang kemari, kamu tahu? belakangan kesehatan mu tidak baik-baik saja"
Lanjut dokter Rick lagi.
jangan ditanya bagaimana kekhawatirannya saat ini terhadap perempuan yang ada di hadapannya itu, namun dibalik semua orang yang mengkhawatirkannya Hana sama sekali tidak ingin terlihat sakit ataupun tidak berdaya, perempuan itu tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya sedikitpun kepada orang lain, seolah-olah dia kuat menghadapi semua hal bahkan menghadapi penyakitnya sendiri.
jika ada yang bertanya kuatkah Hana sebenarnya?.
perempuan itu tidak sekuat dan setegar yang terlihat, beberapa kali dia pernah melihat Hana menangis seorang diri di dalam kamarnya, seolah-olah perempuan itu tidak rela dengan penyakitnya ataupun vonis dokter yang berkata dia mungkin tidak akan bertahan lama.
tapi Alih-alih mau menampilkan kelemahan dan kesedihannya di hadapan semua orang, perempuan itu menepi semua perasaannya dan selalu berkata dia baik-baik saja.
mendengar ucapan laki-laki tersebut membuat Hana mengembangkan senyumannya.
"Aku tidak suka menyesali sesuatu di bagian akhir cerita Rich, membiarkan diri ku tergeletak di tempat tidur untuk waktu yang lama sama dengan menyia-nyiakan waktu hidupku dengan buruk, aku tidak suka melakukan hal seperti itu"
perempuan itu bicara lantas kini dia telah duduk tepat dihadapan meja dokter Rick berada.
"bukankah kita hidup jangan sampai menyia-nyiakan waktu? jadi ketika kita pergi dan memejamkan mata kita tidak memiliki sedikitpun penyesalan di dalam diri kita"
Lanjut nya lagi.
mendengar ucapan Hana membuat dokter Rich menghela pelan nafasnya, seperti yang dia duga perempuan itu akan menjawab seperti itu.
"Katakan prosedur nya, aku adalah saudara perempuan nya saat ini, kamu bisa bercerita, menjabarkan dan meminta apapun yang kamu butuhkan soal Alessia"
kali ini Hana tidak ingin berbelit-belit atau memutar-mutar pertanyaannya, dia langsung bicara kepada Rich pada intinya, bola mata perempuan tersebut menatap laki-laki yang ada di hadapannya itu dengan tatapan yang dalam.
Mendengar ucapan Nyonya Khalid Seketika membuat Alessia menggigit pelan bibir bawahnya.
"Nyonya aku pikir ini sedikit..."
Alessia ingin berkata ini sedikit berlebihan tapi perempuan itu langsung meraih telapak tangan nya dengan cepat.
"Kakak, panggil aku kakak"
Ucap nyonya Khalid kemudian.
"Ya?"
Alessia jelas membulatkan bola matanya, agak kikuk dengan permintaan Nyonya Khalid.
Kakak?!.
__ADS_1
rasanya sangat aneh saat perempuan itu berkata agar dia memanggilnya kakak.
"Kamu bisa melanjutkan nya, Rick"
Ucap Hana lagi sambil bola matanya kembali menoleh ke arah dokter Rick, dia sengaja datang ke tempat laki-laki tersebut hanya untuk mengetahui bagaimana prosedur dan kelanjutan dari operasi Alessia.
melihat diskusi yang cukup serius diantar Hana dan dokter Rich, seketika Alessia langsung duduk tepat di sisi kiri Nyonya Khalid, dia ikut mendengarkan apa yang diucapkan oleh laki-laki tersebut.
Cukup lama mereka mendiskusikan soal banyak hal, dimulai dari operasi, pengobatan setelah operasi dan perawatan-perawatan lainnya.
Dan bahkan tiba-tiba obrolan serius itu masuk pada sesi obrolan soal pernikahan Alessia dan Yash juga kapan Alessia harus masuk ke rumah keluarga Khalid.
hal tersebut jelas saja membuat Alicia mengerutkan keningnya, nyonya Khalid menjelaskan dan mendiskusikan semuanya secara matang.
Meskipun agak bingung Kenapa dokter Rick diizinkan membiarkan tahu dengan semua keadaan.
"Itu... nyonya..."
"Kakak"
Saat Alessia memanggil kembali perempuan dihadapan nya itu dengan sebutan nyonya, perempuan tersebut langsung meralat nya.
"Kamu harus terbiasa memanggil ku kakak"
Pinta Nyonya Khalid lagi.
"Ya?... kak.."
Ucap Alessia pelan.
rasanya terdengar aneh dan asing, dia yang tidak pernah memiliki satu keluarga pun kecuali Agnes dan ayahnya juga bibi muda jelas merasa sedikit asing dengan panggilan tersebut.
karena dia adalah anak pertama dari tertua jadi dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang kakak, jadi begitu perempuan itu berkata agar membahagiakan rasanya seolah-olah dia menjadi anak bungsu dari dalam rumahnya.
Meksipun agak sulit pada akhirnya gadis itu mencoba membiasakan lidah nya untuk memanggil Perempuan cantik dan kaya raya tersebut yang ada di hadapannya itu dengan panggilan kakak.
Entahlah rasanya ada sesuatu yang aneh ketika dia memanggil perempuan itu dengan sebutan kakak, apalagi dia merasa seolah-olah saat dia memanggil perempuan yang dihadapannya itu dengan sebutan kakak itu sama saja dia baru saja mengkhianati saudara perempuan nya sendiri karena begitu tega akan menikahi suaminya karena alasan ekonomi.
"Katakan ada apa?"
tanya Hana pelan.
"Apakah tidak masalah?"
Alessia bertanya sembari melirik ke arah Dokter Rick, bertanya apakah baik-baik saja laki-laki itu tahu urusan mereka.
rasanya terkesan sangat aneh sekali saat orang asing tiba-tiba ikut masuk dalam diskusi soal perjanjian mereka.
dia khawatir jika dokter Rich akan memandangnya dengan sebelah mata, bahkan dia juga khawatir jika laki-laki itu berpikir bahwa dia melakukan semuanya karena uang.
Melihat ekspresi Alessia seketika Hana mengembangkan senyuman nya.
"Jangan khawatir soal Rick, dia adalah sepupu ku sendiri"
Ucap Nyonya Khalid kemudian.
"Ya?"
Mendengar ucapan Perempuan itu seketika membuat Alessia cukup terkejut.
Sepupu?.
dia pikir kenapa dia baru tahu soal itu sekarang.
******
Rumah sakit xxxxxxx
Kamar rawat Agnes.
Alessia terlihat dia sembari menatap Agnes yang masih terbaring lemah di atas kasur ruang rawat inapnya, perempuan itu baru saja melewati masa operasinya, satu kelegaan dan kebahagiaan menghantam dirinya jika Agnes melewati operasinya dengan lancar dan baik-baik saja.
"Dia melahirkan seorang putri"
__ADS_1
saat mendengar ucapan dari bibi Mega nya, seketika membuat Alessia mengembangkan senyumannya.
dia pikir anggota keluarganya benar-benar penuh dengan kata perempuan, mereka belum memiliki satupun sosok laki-laki di dalam bagian keluarga mereka.
tapi dia jelas bahagia yang penting keponakannya lahir dengan normal dan juga tanpa cacat sedikitpun, namun sayangnya sang keponakan harus masuk ke dalam tabung inkubator untuk beberapa waktu mengingat bagaimana proses persalinan dan juga buruknya kesehatan Agnesia selama ini, dokter cukup takut jika ada hal yang buruk terjadi jika mereka tidak memasukkan bayi mungil itu ke dalam tabung inkubator.
bola mata gadis itu terus menatap ke arah saudara kembarnya di mana dia duduk di atas sebuah kursi kayu yang jaraknya tidak begitu jauh dari posisi kasur di mana Agnesia terbaring saat ini.
sembari dia menatap Agnes, pikiran alesia jelas jelas melanglang buana entah ke mana, secara jujur dia cukup khawatir dengan operasi yang akan dia jalani, apakah dia akan baik-baik saja atau tidak sama sekali.
namun meskipun dia mengkhawatirkan soal operasinya realitanya dokter Rick selalu berkata dengan antusias jika semua akan berjalan dengan lancar dan tidak akan ada batu hambatan sedikitpun.
bahkan laki-laki itu berkali-kali menyemangati dirinya dan jangan khawatir dengan kemungkinan tidak berhasil dalam operasinya sebab laki-laki tersebut berkata keberhasilan terlihat banyak didalam Operasi nya nanti.
Alessia sebenarnya cukup lega mendengar nya, namun bukankah tetap saja meskipun operasinya berhasil dia tidak benar-benar bahagia dengan keadaannya sebab pada akhirnya dia tetap akan menjadi Alessia yang tidak akan pernah menikmati apa yang diharapkan oleh perempuan normal pada umumnya setelah dia menikah.
dan keputusannya menerima pernikahan dengan suami nyonya kalian jelas merupakan keputusan yang paling tepat di dalam hidupnya, dia tidak mungkin kembali meneruskan hubungannya dengan Kallan di dalam banyak pertimbangan berat.
bahkan cinta satu hari akan berubah seiring berjalannya waktu setelah pernikahan terjadi, dia yakin meskipun Kallan berkata tidak apa-apa tentang sakitnya, namun seiring berjalannya waktu laki-laki itu mungkin akan bosan menunggu dan berpikir untuk mencari perempuan lain yang bisa memenuhi keinginannya untuk melengkapi dalam satu status rumah tangga di antara sepasang suami dan istri di mana anak-anak biasanya menjadi momok paling penting di dalam rumah tangga seseorang dan Alessia sendiri tahu dia tidak akan bisa memberikannya kepada Kallan atau bahkan laki-laki lainnya.
sejenak gadis tersebut mengehela nafasnya perlahan, dia mencoba untuk memajukan kursinya secara perlahan mendekati Agnes, kemudian tangan gadis tersebut meraih tangan kembarannya dengan gerakan yang begitu hati-hati.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Bisik Alessia pelan, dia menggenggam erat telapak tangan Agnes kemudian membiarkan punggung tangan perempuan itu menyentuh lembut pipi sebelah kirinya.
Sejenak gadis tersebut memejamkan bola matanya.
"Aku pikir aku tidak baik-baik saja"
Ucap Alessia lagi kemudian.
dia menikmati kehangatan dari punggung tangan saudara kembarnya untuk beberapa waktu, seolah-olah cara ini menjadi cara paling ampuh untuk dirinya berkeluh kesah di dalam diam.
Alessia bukan tipe orang yang mau mengadu atau berkeluh kesah kepada orang lain meskipun itu adalah kembarannya sendiri, setiap kali memiliki persoalan dan permasalahan serius gadis itu lebih suka memendam perasaannya tanpa banyak bicara.
baginya diam merupakan pilihan yang paling tepat di antara banyak pilihan, ketimbang mengumbar persoalan dan permasalahan dimana belum tentu ada orang yang bisa membantu atau bahkan meringankan masalah yang dia miliki, Alicia lebih suka memilih diam dan tidak membicarakannya sama sekali.
"cepatlah bangun dan sadar dari tidur mu, kau tahu Agnes? sepertinya cita-citamu akan terlaksana untuk membuka usaha sendiri dan mengembangkan sayapmu seperti apa yang kau inginkan"
ucap gadis itu pelan sembari terus mengelus lembut punggung tangan Agnes.
"mungkin tidak banyak hal yang bisa aku lakukan untuk kamu, aku juga mungkin belum bisa menjadi kakak yang terbaik untuk kamu, tapi aku harap ketika kamu bangun hidupmu akan jauh menjadi lebih baik bersama putrimu, yang tidak lain adalah keponakan ku hmmm"
tidak tahu rasanya kenapa tapi Alessia tiba-tiba meneteskan air matanya.
"hiduplah dengan baik setelah hari ini, kejar kembali ya pengen kamu kejar dan besarkan putrimu dengan baik, bukankah kita selalu berkata Allah tidak menguji umatnya di luar batas kemampuan mereka, namun Allah menguji umatnya karena Allah tahu orang-orang yang diberi ujian adalah orang-orang terpilih yang mampu melewati segala kesulitan dalam ujiannya"
"berbahagialah kita yang diberikan ujian, karena itu bertanda Allah masih mengingat kita dan rindu agar kita bersujud kepada dirinya"
bisa nggak di situ lagi sembari perlahan dia meneteskan air matanya.
*****
bukankah Allah berikan kita ujian karena dia ingin memberikan bonus yang tidak terduga di kemudian hari.
jangan pernah merasa ujian itu menyakitkan, karena sesungguhnya di balik ujian yang menyakitkan kita akan menerima satu bonus luar biasa ia tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
hadapi segala ujian dengan senyuman, karena ketika kita melambung ke atas dan diberikan kenikmatan kita akan merindukan masa-masa ini di mana bahasa ini akan menjadi kenangan paling terindah di kala Allah SWT pernah memberi kita ujian Nya.
Alessia.
****
Semakin Allah Cinta Hamba, Kian Berat Ujian akan Dihadapi.
Pada hakikatnya ujian mencerminkan kasih sayang dan keadilan Allah SWT pada hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah SWT 'tidak rela' menimpakan azab yang tidak terperi sakitnya di akhirat kelak, hingga Ia menggantinya dengan azab dunia yang 'sangat ringan'. Dalam perspektif seperti ini, musibah berfungsi sebagai penggugur dosa-dosa.
Jadi, semakin Allah cinta pada seseorang, maka ujian yang diberikan padanya bisa semakin berat. Karena ujian tersebut akan semakin menaikkan derajat dan kemuliaannya di hadapan Allah. Orang yang paling dicintai Allah adalah para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang yang paling berat menerima ujian semasa hidupnya.
''Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, lantas tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta'' (QS Al Ankabut: 2-3).
"Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia menahan hukuman kesalahannya sampai disempurnakannya pada hari Kiamat'' (HR Imam Ahmad, At Turmidzi, Hakim, Ath Thabrani, dan Baihaqi).
__ADS_1