
Villa puncak
Bogor
Indri terlihat menatap bangunan indah dan besar yang mendominasi dihadapan nya itu, sebuah villa yang bertengger indah di kawasan wisata daerah pegunungan Bogor tersebut.
Tidak tahu kenapa Abizard tiba-tiba membawa nya kesana, tapi laki-laki itu berkata mereka akan menemui Papa Abizard ditempat tersebut.
Gadis itu sejenak menatap Abizard dari sisi samping kanannya dimana Laki-laki itu terus menggenggam erat telapak tangan nya.
Indri yang biasa nya terlihat konyol dan kocak kali ini benar-benar menampilkan ekspresi serius nya, tidak tahu apa yang akan terjadi didalam sana, tapi dia tahu Abizard akan terus menggenggam erat tangan nya dan selalu berkata semua pasti baik-baik saja.
Mereka memasuki Villa dengan bangunan kokoh Tersebut, melangkah masuk ke dalam secara perlahan.
Bisa Indri lihat sosok seorang laki-laki yang pernah dia temui tempo hari di acara jamuan makan malam bersama di rumah mewah keluarga Abizard malam itu, kali ini laki-laki itu tampak serius memperhatikan sebuah mahakarya indah dimana sebuah piano terlihat berdiri kokoh di tengah-tengah ruang tamu villa tersebut.
Indri cukup terkesima melihat piano indah tersebut untuk beberapa waktu.
Papa Abizard sejenak membalikkan tubuhnya saat sadar siapa yang melangkah masuk mendekati dirinya.
Sebuah salam di sematkan oleh Indri, gadis itu tampak melebarkan senyumannya, menundukkan pelan kepalanya lantas kembali melirik ke arah piano yang ada di hadapannya.
"Apa yang kamu rasakan saat melihat benda ini?"
Tanya laki-laki itu tiba-tiba ke arah Indri.
__ADS_1
Indri yang di tanya soal itu seketika menatap wajah laki-laki seumuran Papa nya itu.
"Alat musik berdawai baja, tapi meskipun baja tetap saja dia bisa menjadi begitu lembut ketika di mainkan"
Jawab Indri cepat.
Mendengar jawaban Indri laki-laki itu diam sejenak.
"Suka memainkan nya?"
Tanya Papa Abizard lagi.
Sejenak Indri menoleh ke arah Abizard.
Laki-laki itu tampak mengembangkan senyuman nya, menggenggam erat telapak tangan Indri lantas dia mengangguk kan pelan kepalanya.
Jawab Indri lagi sambil menoleh ke arah Papa Abizard.
"Kita bisa mencoba mendengar kan nya"
Ucap laki-laki itu lagi, mempersilahkan Indri untuk duduk di sana, membiarkan gadis itu melewati rasa nyaman nya.
"Dengan senang hati"
Indri lagi-lagi mengembangkan senyuman, dia mulai duduk di atas kursi dimana piano tersebut berdiri kokoh di sana.
Sejenak gadis itu menghela pelan nafasnya, dia secara perlahan mulai menaikkan Jemari nya ke atas tuts-tuts piano tersebut.
__ADS_1
Kapan kali terakhir dia bermain piano?.
Entahlah dia lupa.
Seolah-olah mengenang moment masa kemarin, Indri mulai menggerakkan jari-jari indah nya.
Abizard sedikit berdebar-debar menunggu penampilan Indri, dia tidak tahu dan tidak menduga jika gadis itu benar-benar sesuai apa yang di ucapkan nya saat pertama kali melakukan wawancara kerja.
"Memang nya kemampuan apa yang kamu miliki hingga begitu yakin kami akan menerima Anda dalam pekerjaan ini?"
Saat misca menanyakan soal itu, Indri dengan tegas menjawab.
"Kalian tidak akan menemukan satu sosok pun yang seperti aku diluaran sana, karena aku bisa dikatakan sebagai gadis serba bisa"
Jawaban Indri kala itu membuat nya langsung mendongakkan kepalanya, dengan jutaan rasa penasaran yang tinggi dia mencoba menelisik sosok tersebut.
Sosok itu membuat dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sejenak Laki-laki itu memejamkan bola matanya.
Dan ketika gadis itu mulai memainkan nada-nada indah di bawah Jemari nya, seketika Abizard mengembangkan senyuman nya.
Gadis itu benar-benar serba bisa.
Karena itu dia semakin jatuh cinta pada nya, tidak ada yang bisa membuat dirinya berdebar-debar tidak menentu kecuali sosok cantik dengan jutaan keahlian nya itu.
__ADS_1