Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Dalam pertimbangan berat


__ADS_3

Kembali ke masa sekarang


Rumah Sederhana keluarga Indri


Begitu mendengar pertanyaan.


"Apa ada yang tidak aku ketahui belakangan ini?"


Seketika membuat Indri menelan salivanya.


Sang kakak yang tadi nya berdiri di arah daun pintu penghubung dapur dan ruang depan seketika berjalan mendekati ke arah mereka.


Mama Nur yang melihat anak nya datang buru-buru berdiri.


"Mau ngopi Dewa?"


Tanya sang mama pada putra nya.


"Wah ini anak laki-laki Mama Nur?"


Mama Helen bertanya Cepat sambil menoleh ke arah Dimas.


"Mama kira Indri hanya semata wayang?"


Ucap Mama Helen lagi.


Dimas mengernyitkan dahi, dia butuh jawaban pasti kenapa ada laki-laki asing yang berani nya menyentuh puncak kepala adik kesayangannya.


"Ma?"


Dimas kembali bertanya pada sang Mama saat wanita cantik itu meraih gelas kopi nya.

__ADS_1


"Itu..."


"Duduk lah kemari Dewa"


Sang Papa bicara cepat, laki-laki itu yang biasa nya terlihat lucu, kali ini memasang wajah yang begitu serius.


Laki-laki paruh baya itu duduk di atas kursi makan, bisa dia lihat Wanita asing paruh baya yang bertanya soal jika dia anak laki-laki keluarga nya ikut duduk disana dan disusul oleh laki-laki yang menyentuh kepala adik nya.


Dimas pada akhirnya ikut beranjak melangkah menuju ke arah meja makan, duduk disana masih sambil mengerutkan keningnya.


Dia duduk tepat berhadapan dengan laki-laki asing di hadapannya itu, menatap Laki-laki itu untuk beberapa waktu.


"Jadi kedatangan kami kemari sebenarnya...."


Wanita paruh baya seusia Mama nya itu mulai membuka percakapan di antara mereka.


********


Entah apa yang mereka bicarakan tadi dengan serius di dapur Indri tidak tahu, yang jelas memakan waktu cukup lama.


Meskipun ada keinginan untuk keluar dan mencuri dengar, tapi sebelum nya Abizard sudah berkata semua akan baik-baik saja, tetap di kamar bersama misca sambil mengobrol dengan laki-laki Cantik tersebut.


Dia sebenarnya cukup khawatir dan panik, tapi misca jelas merupakan teman ngobrol yang baik untuk bisa mengalihkan pemikiran nya.


"Kami kembali ke rumah, besok seperti biasa datang bekerja, kerumah dan kekantor bersama hmm"


Ucap Abizard sambil menyentuh lembut wajah Indri.


Dia ingin bertanya sebenarnya apa hasil dari pembicaraan laki-laki itu dan keluarga nya, tapi Abizard terlihat begitu tenang, seolah-olah tidak ingin membahas nya saat ini.


Namun bisa Indri rasakan, batu halangan terbesar Abizard seperti nya sang kakak nya Dimas, sebab setelah melakukan pembicaraan serius sang kakak tampak membuang wajah nya, seolah-olah berfikir keras untuk berkata Iya kepada mereka.

__ADS_1


"Apa kak Dimas tidak mengizinkan nya?"


Tanya Indri pelan sambil berusaha menatap dalam bola mata Abizard.


"Hanya butuh sedikit perjuangan hmmm, itu reaksi lumrah seorang kakak untuk adik kesayangannya, aku pun mungkin akan mengeluarkan reaksi yang sama untuk Meisya saat seorang laki-laki ingin meminangnya hmmm"


Ucap Abizard sambil terus mengelus lembut wajah Indri.


"Tunggulah sebentar, aku akan menyakinkan dia"


Setelah berkata begitu Abizard mencium lembut puncak kepala, kemudian laki-laki itu mulai berjalan menjauhi semua orang.


Indri menatap punggung laki-laki itu yang mulai berjalan menjauh, rasa sesak seketika menghantam Palung hatinya.


"Fikirkan kembali dengan matang selama 1 bulan ini, laki-laki itu seorang duda, ingat seorang duda"


Tiba-tiba suara kakak nya terdengar memenuhi gendang telinga sebelah kanan nya, Indri jelas terkejut, dia langsung menoleh ke arah Laki-laki yang begitu dia sayangi itu.


"Kak..?"


Indri terlihat menggenggam pelan ujung pakaian nya.


"Kakak belum menyetujui nya"


Setelah berkata begitu, laki-laki itu berbalik dengan cepat, masuk ke dalam rumah meninggalkan Indri yang berdiri mematung di belakang rumah.


Sang Mama secara perlahan mendekati Indri, dengan gerakan lembut wanita cantik itu memeluk erat putri nya.


"Dimas bukan nya kejam, tapi dia ingin kamu bahagia saat seseorang membàwa mu keluar dari rumah ini Indri, sebab kata cinta saja tidak cukup didalam sebuah mahligai pernikahan"


Bisik Mama nya pelan sambil mencium lembut kening putri nya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Mama nya, Indri sejenak menggigit bibir bawahnya.


__ADS_2