Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Papa Mertua


__ADS_3

Begitu tuts nada terakhir berakhir, Indri lngsung mengangkat kedua tangan nya lantas mengembangkan senyuman manis nya.


Abizard jelas langsung memberikan Applause terbaik nya dan di ikuti oleh sang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Papa Abizard.


Gadis itu membalikkan tubuhnya, berniat berdiri dari duduk nya tapi sesuatu cukup mengejutkan dirinya saat tangan Papa Abizard terulur secara sempurna.


Laki-laki paruh baya itu menunggu respon balik dari Indri.


"Sudah mengisi perut sebelum kemari, nak?"


Sebaris pertanyaan terdengar dari Balik bibir laki-laki itu, cukup membuat Indri yakin jika laki-laki itu tidak sedang membentang jarak di antara mereka.


"Sebenarnya ada Sedikit kekhwatiran terjadi hingga membuat kami mengurungkan niat untuk mengisi perut, selain itu kami takut Om juga belum mengisi perut karena menunggu kami"


Jawab Indri cepat sambil mengulurkan tangannya, menerima telapak tangan kokoh itu yang menggenggam erat tangan nya.


"Takut jika sosok laki-laki tua ini marah?"


Tanya Papa Abizard sambil membawa langkah Indri menuju ke arah sebuah meja besar yang telah di siapkan berbagai macam makanan di dalam nya.


Abizard terlihat mengikuti langkah, Laki-laki itu terus mengembangkan senyuman manis nya.


Cukup senang Papa nya mengeluarkan respon baik untuk gadis tersebut.

__ADS_1


"Hanya Sedikit khawatir"


Jawab Indri sambil melirik ke arah Papa Abizard.


"Seolah-olah kekhawatiran Itu jauh lebih efektif daripada berdiet."


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Indri, laki-laki tua itu seketika tertawa kecil.


Kemudian dia Membiarkan Indri duduk disalah satu kursi makan tersebut lantas secara perlahan dia ikut duduk di atas kursi makan yang ada dihadapan gadis tersebut.


"Kamu tahu? Khawatir adalah aliran ketakutan tipis yang mengalir melalui pikiran. Jika didorong, maka akan memotong saluran di mana semua pikiran lain bakal terkuras." ( Arthur Somers Roche).


Jawab laki-laki itu pelan.


Indri langsung mengambil sebuah piring, mempersiapkan nasi dan menggeser Beberapa menu makanan untuk Papa Abizard.


"Aku tahu itu Om, hanya ekspresi normal untuk gadis muda seumuran ku dalam memahami dan berbaur dengan keadaan baru, sebab yang terjadi belakangan seperti di drama-drama televisi, realita nya yang dijalankan tidak seperti drama melainkan kehidupan nyata yang tidak ada setting naskah nya sama sekali, aku harus pandai sendiri dalam memahami situasi"


Mendengar penuturan indri Laki-laki tua itu mengangguk-angguk kan kepala, sejenak dia menatap Indri dan Abizard secara bergantian.


"Suka bermain catur?"


Tanya laki-laki tua itu kemudian.

__ADS_1


Seketika Indri terkekeh pelan.


"Di masa SD aku pernah menang lomba catur selama 4 tahun berturut-turut"


laki-laki itu ikut terkekeh.


"Aku suka gadis multitalenta"


"Tapi mungkin aku akan lupa bagaimana cara bermain nya, itu cukup lama terjadi Om"


Papa Abizard menuangkan air mineral dingin kedalam beberapa gelas yang ada di hadapannya.


"Kita bisa kembali mengasah bakat lama, Makan lah, setelah ini kita akan bicara soal pernikahan kalian"


Ucap laki-laki itu tiba-tiba.


"Ya?"


Indri jelas terkejut mendengar penuturan laki-laki dihadapan nya itu, sedangkan Abizard hanya menatap dalam bola mata laki-laki tua itu untuk beberapa waktu.


"Dan kamu bisa memanggil ku Papa mertua, kata Om terdengar biasa-biasa saja"


Setelah berkata begitu, laki-laki paruh baya itu mulai melahap makanan nya.

__ADS_1


Abizard jelas langsung menoleh kearah Indri yang terlihat bingung, laki-laki itu mengembangkan senyuman, menggenggam perlahan telapak tangan Indri untuk beberapa waktu.


Seolah-olah berkata kamu membuat orang tua di hadapan kamu kagum dengan karakteristik unik dan Santai yang tidak dimiliki oleh orang lain nya didalam diri mu.


__ADS_2