
Kembali ke masa Agnes
Rumah sakit xxxxxxx
Hans terlihat duduk tepat di sisi kanan dimana Agnes masih terbaring di atas kasur rumah sakit.
Laki-laki itu duduk di sebuah kursi sofa dimana terdapat beberapa berkas pekerjaan nya yang berserakan dimana-mana.
Ditemani secangkir Kopi serta laptop yang menjadi kawan hidup nya belakangan ini.
Dia masih dengan setia menunggu kesadaran Agnes sambil sibuk berkutat pada pekerjaan nya, sejak sang Mama membuka hatinya pada Agnes, dia mau tidak mau kembali ke perusahaan untuk membantu sang Mama nya.
Hans yakin Agnes pasti baik-baik saja.
Meskipun sudah lewat 1 bulan masih belum memiliki perkembangan yang signifikan, Laki-laki itu percaya Agnes baik-baik saja.
Sejenak laki-laki menekan kelopak matanya, menghadapi layar di laptop nya cukup membuat mata nya lelah yang teramat sangat.
Malam ini Ara dibawa oleh Renita dan calon suaminya, dia sebenarnya tidak rela berpisah terlalu sering dengan gadis kecil itu, tapi mengingat ucapan Renata mau tidak mau dia membiarkan Ara tidak berada di rumah sakit terus menerus.
"Melihat Mama nya tidak kunjung bangun, aku khawatir itu mempengaruhi mental Ara, sebaiknya biarkan dia tidak terlalu sering menetap di rumah sakit"
Sang Mama Hans terlihat mulai menarik Selimut di tubuh Agnes, wanita tua itu beberapa kali menghela nafas nya.
__ADS_1
"Jika tidak ada perkembangan, sebaiknya kita bawa Agnes ke new York, disana ada banyak para dokter serta peralatan canggih yang mereka gunakan untuk menyadarkan Agnes"
Wanita tua itu bicara sambil mendekati Hans, kekhawatiran jelas menghantam wanita itu.
Dia fikir ini bisa jadi hukuman untuk nya karena dulu menolak kehadiran Agnes dan Ara.
Dia bukan nya membenci Agnes, hanya saja dia belum siap jika Hans membagi kehidupan nya dengan seorang perempuan, apalagi asal-usul Agnes yang tidak dia pahami.
Ditambah lagi kemarahan lainnya yang menyelimuti hati nya adalah, Hans Berkata dia dan Agnes telah menikah dibelakang dirinya.
Itu menambah tingkat kemarahan diri nya.
Bahkan diam-diam mereka memiliki seorang anak tanpa seizin dirinya.
Mendengar ucapan sang Mama, Hans menghentikan seluruh kegiatan nya.
"Tunggu lah hingga akhir Minggu ini Ma"
Jawab Hans pelan.
"Mama khawatir sesuatu yang buruk terjadi, semakin lama kita menahan nya akan semakin memperburuk keadaan Angel"
Sang Mama bicara sambil melirik ke arah Agnes.
__ADS_1
Angel menjadi nama yang begitu di sukai oleh wanita tua tersebut.
Hans terlihat diam, laki-laki itu sejenak menatap tubuh Agnes yang masih terlalu nyaman dengan tidur pulas nya.
"Mama akan pulang untuk mendapatkan istirahat'
Ucap wanita itu pelan.
Alih-alih menjawab, Hans lebih memilih mengangguk kan kepalanya.
Setelah sang Mama pergi laki-laki itu secara perlahan mulai beranjak dari posisi nya, di berjalan mendekati sososk Agnes untuk beberapa waktu.
Laki-laki itu duduk tepat disamping Agnes, dia secara perlahan menggenggam erat telapak tangan perempuan yang masih terus tertidur pulas itu.
" Bangunlah sayang, semua orang merindukan kamu hmm"
Ucap Hans pelan sambil terus menggenggam erat telapak tangan Agnes.
Hans menatap wajah Agnes untuk beberapa waktu, dia pada akhirnya menghela pelan nafasnya.
Dikala pemikiran nya berkecamuk menjadi satu, tiba-tiba dia merasakan pergerakan lembut dari tangan Agnes.
Laki-laki itu seketika membulat kan bola matanya, dengan perasaan panik Hans seketika langsung menekan tombol darurat di di bawah tempat tidur Agnes.
__ADS_1