
Apartemen
pusat kota
Jakarta
Setelah melewati jam makan malam, Agnes Tampak sibuk membereskan sisa makanan dan peralatan makan di dapur untuk beberapa waktu.
Ara terlihat mulai mengantuk sebab Sejak siang gadis kecil itu belum juga tidur, biasanya ketika melewati tidur siang nya, Ara akan mendapatkan tidur malam jauh lebih awal.
Hans terlihat mulai menggendong perlahan tubuh gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang, dia menepuk-nepuk lembut punggung Ara sambil menyanyikan lagu penghantar tidur untuk gadis cantik tersebut.
Setelah dirasa Ara benar-benar terlelap dari tidur nya, laki-laki itu secara perlahan membawa Ara menuju ke kamar milik gadis kecil itu.
Dengan gerakan lembut Hans mulai meletakkan tubuh gadis itu di atas kasur nya, sesekali dia menepuk-nepuk lembut dada Ara agar gadis kecil itu tidak merengek dan terbangun ketika sadar dirinya sudah melepas kan gendongan nya.
Hans benar-benar melihat Ara seperti putri nya sendiri, sebab sejatinya sejak Ara masih berada diperut Agnes, dia lah yang selalu menemani perempuan itu kemanapun perempuan itu melangkah.
Dia sempat menjauhi Agnes Ketika perempuan itu akan menikah, hampir setengah tahun menghilang dari kehidupan Agnes, di satu malam saudara perempuan Agnes mencoba menghubungi Dirinya, meminta bantuan nya untuk membawa perempuan itu keluar dari Indonesia.
"Ada apa?"
Kala itu Hans benar-benar terkejut saat menerima soal sebuah berita di balik bibir saudara perempuan Agnes yang menangis sesenggukan di balik handphone nya.
"Bantu aku untuk menjaga dan merawat nya"
Dan yang lebih mengejutkan lagi ada kehidupan lain di dalam tubuh Agnes saat itu.
"Siapa?"
Dia bertanya dengan penuh kemarahan, begitu benci saat tahu Agnes hamil dan laki-laki itu meninggalkan nya.
Awalnya dia fikir Ayah dari bakal bayi itu adalah calon suami Agnes .cucu keluarga Nakhel, tapi ternyata dia salah, Agnes yang memilih menceraikan laki-laki itu karena kehamilan nya dengan laki-laki lain.
Pada akhirnya Hans memilih tidak lagi membuka kisah lama dan Agnes lebih memilih diam soal siapa ayah dari bakal calon bayinya.
__ADS_1
Hans terus berada di sisi Agnes, menemani perempuan itu hingga prosesi melahirkan nya, kemanapun Agnes berada dia selalu menggenggam erat tangan perempuan itu, bahkan setiap kali pemeriksaan dilakukan dia yang selalu berkata jika dirinya adalah ayah dari bayi yang di kandung perempuan tersebut.
Bahkan saat Agnes melewati masa kritis nya saat melahirkan, dia nyaris seperti orang gila, begitu panik dan histeris, seolah-olah dia berfikir dirinya lah suami dari perempuan yang bertarung dengan nyawanya di ruang operasi dan dia adalah ayah dari bakal calon bayi yang akan lahir Tersebut.
Dia ingin berhenti persis seperti permintaan Agnes agar meninggal kan mereka setelah Ara di lahirkan, tapi sumpah demi apapun dia tidak bisa melakukan nya.
Dia bahkan rela melepaskan kekasih nya demi Agnes dan putri nya, juga menolak perjodohan yang di buat Mama nya demi Agnes dan Ara.
Bahkan demi melindungi Agnes dari kebencian Mama nya, dia menipu semua orang dan berkata jika Ara adalah putri kandung nya, dia Bahkan terpaksa memanipulasi Tes DNA Ara dan membuat akte Ara atas nama dirinya.
"Hans?"
Kala itu Agnes benar-benar bingung dengan semua perlakuan Hans.
"Ini untuk melindungi kalian dari cemoohan dunia hmmm"
"Kau memiliki laki-laki yang mencintai kamu, dan Ara memiliki ayah yang menginginkan diri nya"
"Jika orang-orang bertanya kenapa kita belum menikah, itu Karena kita belum mendapatkan restu dari Mama ku hmmm"
Dia tahu Agnes belum mampu membuka hati nya, tapi setidaknya dia sudah melakukan hal yang terbaik untuk orang-orang yang begitu dia cintai itu.
Tapi semakin lama dia menunggu dia pada akhirnya mulai lelah, Hans fikir mungkin benar ini waktunya dia melepaskan Agnes dan Ara.
Sejati nya cinta itu memang tidak bisa di paksakan.
3 bulan menghilang untuk dirinya menata hati, mengikis rindu dan membuang cinta nya yang menggebu-gebu.
Sejenak Laki-laki itu mengehela nafasnya berat, kemudian Hans mencium lembut kening Ara, mengucapkan kata selamat tidur dengan penuh kasih sayang kemudian secara perlahan dia melangkah kan kaki nya keluar dari dalam kamar mendominasi berwarna pink tersebut.
Setelah menutup perlahan pintu tersebut, dia melangkah perlahan menuju ke arah dapur.
Bisa dia lihat Agnes baru menyelesaikan pekerjaan nya, Laki-laki itu perlahan duduk di atas kursi makan.
"Aku akan pulang sebentar lagi"
__ADS_1
Ucap Hans pelan.
Sejenak Agnes terkejut saat mendengar suara laki-laki tersebut.
"Hmmm"
Jawab Agnes sambil membalikkan tubuhnya, mencoba menatap dalam bola mata Hans.
"Kenapa menghilang begitu lama?"
Tanya Agnes pelan ke arah laki-laki itu.
Alih-alih menjawab laki-laki itu melebarkan senyuman nya.
"Apakah hubungan kamu dan Renata baik-baik saja?"
Tanya Agnes lagi.
Renata?!.
Nama itu seolah-olah menjadi kunci Agnes untuk menghindari Diri nya.
"Aku sedang memikirkan untuk menerima perasaan nya"
jawab Hans sambil menatap balik bola mata Agnes.
"Ya?"
"Aku telah memikirkan permintaan kamu kemarin, aku fikir akan membuat lamaran untuk nya dalam waktu dekat ini"
Lanjut Hans lagi.
Mendengar ucapan laki-laki itu seketika Agnes menggenggam erat telapak tangannya, dia selalu berkata tidak mencintai laki-laki itu selama berpuluh-puluh tahun lama nya tapi saat Hans berkata akan mengikhlaskan dirinya dan Ara, bersiap meninggalkan mereka sesuai permintaan nya kemarin dan meminta Hans menikahi sahabat baik mereka Renata tidak tahu kenapa hatinya terasa sakit dan tidak baik-baik saja.
Kenapa rasanya sesuatu seolah-olah akan menghilang dari kehidupan nya.
__ADS_1
Sosok yang selalu ada untuk dirinya dan Ara seolah-olah mulai memasang jarak atas ke egoisan nya sendiri.