Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Gadis yang membuat dia nyaman


__ADS_3

Apartemen utama dokter Hesty


Reno terlihat masih terlelap didalam tidurnya sejak 4 jam lebih yang lalu, setelah melewati masa terapi hipnoterapi yang dilakukan oleh dokter Hesty yang juga teman baiknya itu akhirnya laki-laki itu bisa terlelap juga untuk waktu yang cukup lama.


Belakangan dia lebih suka menghabiskan waktu nya di apartemen dokter tersebut, dia yang biasa nya kesulitan mendapatkan waktu tidur baik nya menjadi lebih baik karena gadis itu terus berada di sekitar nya dan membantu dirinya.


Efek trauma di masa lalu dan juga tekanan demi tekanan oleh mamanya selama bertahun-tahun yang nyaris membuat dirinya gila secara perlahan mulai menghilang.


Awalnya memang sulit bahkan dia cukup pesimis, dia fikir bisa jadi dia akan gila menghadapi semua hal selama ini seorang diri, tapi Hesty selalu mencoba menyakini Dirinya, menggenggam erat tangan nya dan terus berada di samping nya selama bertahun-tahun ini untuk bisa membuat dia kembali seperti Reno yang dulu.


Sejenak gadis itu mengembangkan senyuman nya saat dia melihat Reno mulai menggerakkan tangannya secara perlahan.


Dia duduk tepat di sisi kanan Reno, Tangan kirinya masih menggenggam erat telapak tangan laki-laki itu sesuai dengan permintaan nya sejak awal.


Begitu laki-laki itu membuka bola matanya, seketika Hesty membiarkan tangan kanan nya menyentuh lembut wajah Reno.


"Sudah merasa nyaman?"


Tanya gadis itu pelan.


Reno terlihat menatap dalam bola mata gadis tersebut cukup beberapa waktu kemudian dia ikut mengembangkan senyuman nya.


"He em"


Laki-laki itu mengangguk kan pelan kepalanya kemudian dia langsung berusaha bangun dari tidur nya.


Hesty Secara perlahan membantu Reno untuk duduk di kursi tersebut.


Setelah itu dia meraih gelar yang berisi air putih kemudian menyerahkan nya pada Reno.


Laki-laki itu secara perlahan menghabiskan air minum tersebut untuk beberapa waktu.


"Ini waktu tidur terlama ku"


Reno berkata sambil menyerahkan gelas nya ke tangan Hesty.

__ADS_1


"Benar, sudah ada begitu banyak kemajuan"


Setelah berkata begitu, Hesty mencoba untuk beranjak menjauh dari Reno, tapi tiba-tiba tangan nya di tarik dengan cepat oleh laki-laki tersebut.


Eh..?"


Dia jelas terkejut, secara spontan langsung terduduk dan masuk ke dalam pelukan laki-laki tersebut.


"Ren..?"


"Berikan aku pelukan yang hanga"


Setelah berkata begitu, laki-laki itu langsung membiarkan dirinya masuk kedalam pelukan gadis itu.


"Aku merindukan Mama"


Ucap nya sambil menarik pelan nafas nya.


Dia membiarkan dagunya berada di bahu Hesty, secara perlahan dia memejamkan bola matanya.


Hesty menjawab sambil mengelus lembut punggung laki-laki tersebut.


Bagi Reno Gadis itu selalu mampu membuat dia menjadi Reno yang sesungguhnya, begitu pandai memberikan kenyamanan dan selalu bersikap lembut kepada nya.


Selama bertahun-tahun selalu setia mendampingi dirinya tapi dia selalu mengabaikan nya.


Terdengar egois memang tapi Realita nya dia takut menyakiti gadis tersebut seperti dia menyakiti Agnes.


Dia tidak paham arti sebuah cinta.


Bagi nya selama dia nyaman dan bisa menjadikan orang tersebut tempat Untuk bercerita sedikit saja itu adalah cinta.


Dia berusaha untuk menerima gadis manapun yang masuk didalam kehidupan nya setelah hubungan dia dan Syahnaz hancur dan hubungan dia dan Agnes kandas.


Tapi realita nya dia baru sadar sesungguhnya dia hanya berusaha untuk mencari tempat pelarian saja.

__ADS_1


Dia hanya belum tahu kemana sebenarnya kaki nya melangkah, mengikuti kemauan mama nya atau memberontak dan mencoba jatuh cinta pada siapa saja yang dia sukai.


Hingga akhirnya dia sadar bukan orang-orang itu, bukan gadis-gadis lain yang dia butuhkan, dia sedang berdusta soal hatinya.


Dia butuh seseorang yang bisa menerima dia dan dia bisa menerima orang itu karena dia memang membutuhkan nya dan mencintai nya.


Dan Hesty begitu Sabar menunggu dirinya.


"Aku hanya belum siap untuk kembali menemui Mama"


Jawab Reno pelan.


"Kenapa?"


Ketika Hesty bertanya Reno Lebih memilih untuk diam.


"Masih merasa kecewa?"


Hesty kembali bertanya, tangan kanan nya masih setia mengusap lembut punggung Reno.


Laki-laki itu selalu begitu belakangan ini, begitu manja pada nya dan betah tenggelam didalam pelukan nya.


"Kamu tahu Ren? titik terberat seorang istri adalah ketika dia kehilangan Suami nya dan titik terberat seorang ibu adalah ketika dia kehilangan seorang anaknya"


"Mama hanya merasa dia tidak memiliki tempat untuk berbagi ketika berada di titik terberat nya di masa lalu, mungkin Karena Sifat Mama yang berfikir beliau tidak hidup bergantung dengan orang lain membuat Mama lebih betah menyendiri dan menyimpan perasaan nya sendiri"


"Kita hanya tidak sadar Mama terluka diam-diam, karena itu pada akhirnya untuk melampiaskan perasaan terluka atau bahkan kecewa nya Mama berlaku tidak baik dan bersikap sarkastik hmmm"


"Jangan membenci dan marah pada Mama, karena sejatinya membenci orangtua hanya akan menyakiti diri kita sendiri hmmm Jadi cobalah untuk melepaskan emosi yang ada dan berusaha berdamai dengan kondisi yang terjadi."


"Sebab kita tidak pernah bisa menyelam isi hati seseorang, Mama bisa jadi begitu membutuhkan kamu saat ini"


Setelah berkata begitu Hesty melepas kan pelukan nya, dia menatap dalam bola mata Reno kemudian berkata.


"Mari mengunjungi Mama besok bersama"

__ADS_1


Ucap gadis itu sambil mengembangkan senyuman nya.


__ADS_2