Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Kita dan tangisan


__ADS_3

Fitting pakaian pengantin


Gallery mewah xxxxxxxx


Fifth Avenue


Manhattan.


Alessia terlihat meremas telapak tangan nya untuk beberapa waktu, dia terlihat sedikit khawatir karena berada di tempat yang bukan dalam kalangan nya, bagi nya tempat ini sangat tidak pantas untuk dimasukin oleh seseorang seperti dirinya, tempat ini jelas adalah tempat orang-orang kaya yang berlalu lalai dan bahkan untuk melakukan fitting pakaian pengantin kelas atas, dia hanya gadis miskin yang tidak pantas menerima semua ini, rasanya terlalu berlebihan untuk dirinya.


"Kemarilah"


Seorang gadis berusia hampir 25 tahunan bicara sembari mengembangkan senyuman nya kearah Alessia, dia menunggu gadis tersebut bergerak mendekati dirinya.


"Katakan pada ku mana yang paling kamu sukai di antara semua pilihan?"


Gadis tersebut bertanya sembari memperlihatkan kembali barisan pakaian pengantin yang ada di beberapa patung di hadapan Alessia.


mereka jelas sangat cantik dan indah, bahkan terkesan begitu elegan dan mewah, Alessia pikir dia tidak pantas mendapatkan salah satu di antara mereka mengingat betapa rendahnya kelas kehidupan nya.


"Aku pikir ini terlalu berlebihan nona"


Ucap Alessia pelan.


mendengar gadis itu memanggilnya Nona seketika dia langsung berkata.


"Come Alessia aku bukan nona muda, kamu lah nona muda yang sesungguhnya"


Jawab gadis tersebut kemudian.


"Kamu lama-lama akan terbiasa dengan semuanya, mungkin saat ini akan sulit sekali untuk menyesuaikan diri tapi percayalah seiring berjalannya waktu kamu akan terbiasa dan berpikir kamu memang pantas mendapatkannya"


gadis itu bisa resep sembari kembali mengembangkan senyumannya.


setelah berkata seperti itu gadis tersebut mencoba untuk meminta pelayan agar melepaskan satu gaun yang ada di patung dihadapan mereka.


"Aku pikir ini cocok untuk kamu, mewah dan sederhana persis seperti karakter kamu"


Bisik gadis tersebut pelan sembari membàwa Alessia tepat kehadapan sebuah keca besar yang indah, dia membiarkan Alessia duduk disana kemudian gadis itu mencoba Meraih rambut Alessia dan mulai merapikan rambut nya secara perlahan.


"Di dalam keluarga Khadafi, semua memiliki wajah 12"


Ucap gadis itu tiba-tiba.


"Ayah Bibi Hana merupakan laki-laki penggila Perempuan, dia menikah dengan istri pertama yang tidak lain adalah ibu bibi Hana secara sah dan legal baik menurut agama dan pemerintah, meskipun pernikahan berdasarkan perjodohan semua berjalan baik-baik saja tapi karena sakit ibu bibi Hana meninggal di usia yang masih cukup muda, kemudian dia menikah lagi dengan seorang perempuan yang merupakan istri ke dua nya mereka bilang perempuan tersebut adalah Cinta pertama nya dimana mereka tidak mendapat kan restu dari ayah tuan Khadafi , mereka menikah diam-diam dibelakang semua orang termasuk ayah dan ibu tuan Khadafi sendiri"


Saat gadis tersebut membicarakan soal ayah nyonya Hana, seketika membuat Alessia terdiam.


"Tapi sayang nya pernikahan tersebut tidak bertahan lama karena istri nya tersebut tersingkirkan oleh sekretaris baru nya yang tidak lain adalah ibu dari Diana, peristiwa puluhan tahun yang lalu menyisakan trauma mendalam didalam hidup bibi Hana, meskipun istri kedua tuan Khadafi, dia mencintai wanita tersebut layak nya ibu nya sendiri, kematian nya begitu mengerikan, wanita itu ditemukan meninggal dalam keadaan overdosis obat tidur, padahal bibi Hana jelas-jelas melihat malam itu ada seseorang yang masuk ke kamar ibu sambung nya dimana di keesokan harinya sang ibu sambung nya ditemukan sudah tidak bernyawa"


Seketika Alessia bergidik ngeri mendengar cerita gadis tersebut.


"Kamu tahu siapa yang dijadikan tersangka dalam ingatan bibi Hana?"


Ketika gadis tersebut bertanya, seketika Alessia menoleh dan menggelengkan kepalanya.


"Madhuri, ibu Diana, istri ke tiga nya"


Alessia terlihat menelan salivanya mendengar kisah yang dijabarkan oleh gadis tersebut saat ini, bola mata nya menatap dalam bola mata gadis tersebut.


"Kamu tahu? mereka persis seperti ular berbisa, diam-diam bisa membelit lawan nya kemudian menggigit nya dengan cara yang mengerikan, mereka menyingkirkan beberapa orang untuk bisa sampai pada masa sekarang ini, bahkan berulang kali dimasa muda nya Bibi Hana nyaris celaka, bagi mereka siapapun yang ada di sekitar mereka persis seperti sebuah batu hambatan yang harus disingkirkan secepat nya"


Lanjut gadis itu lagi sembari tangannya secara perlahan menyisir rambut Alessia.


"Diana mencintai Yash sudah begitu lama, bisa dibilang sejak masa sekolah SMA nya, mendengar Hana sekarat bisa dibayangkan bagaimana bahagianya perempuan tersebut saat ini? dia bergerak bersama ibunya untuk bicara pada tuan Khadafi agar dia bisa turun ranjang bersama ya setelah kematian Hana"


Kini gadis itu mengikat Perlahan rambut Alessia.


"Kamu tahu? harapan Hana memilih kamu dan juga semua orang memilih kamu karena kami berharap kamu bisa menyingkirkan mereka berdua bersama orang-orang nya secara halus dari keluarga Khadafi dan Khalid , dan jangan mau di pukul mundur oleh kedua ular tersebut"


Alessia sama sekali tidak bergeming, dia mencoba mendengarkan ucapan gadis tersebut untuk waktu yang cukup lama sembari bisa dia lihat gadis tersebut sudah merapikan rambut nya dengan begitu baik.


"Aku tidak tahu kenapa nyonya Hana mau memilih ku dan mempercayaiku untuk melakukan hal tersebut, begitu juga dengan semua orang, realitanya aku tidak memiliki kemampuan itu sama sekali"


Pada akhirnya Alessia mulai membuka suaranya, dia menatap bayangan gadis yang ada di belakangnya itu melalui cermin yang ada di hadapannya.


"Bukankah jika didalam keadaan terdesak, orang-orang yang tidak mampu untuk melakukan sesuatu akan menjadi mampu melakukan apapun yang ada di luar ekspektasinya?"


Gadis tersebut membiarkan Alessia berdiri, dia mulai memasangkan gaun pilihan nya secara perlahan.


"Dengan imbalan kesejahteraan seumur hidup, keluarga baru dan satu perusahaan Khadafi aku pikir itu jelas setara dengan semua nya"


Lanjut gadis tersebut lagi.

__ADS_1


Alessia terlihat tidak menjawab, dia Diam seribu bahasa untuk beberapa waktu sembari membiarkan gadis itu memakaikan pakaian pengantin tersebut di tubuhnya.


"Dalam 2 tahun aku yakin kamu bisa melakukan nya"


Ucap gadis itu lagi.


"Bagaimana jika aku gagal?"


Tanya Alessia kemudian.


"Maka kami akan membuat Yash mau tidak mau menambah kontrak pernikahan nya, hingga masa kejayaan Diana dan Madhuri jatuh dengan sendirinya"


"Cukup bergerak bermain didalam perusahaan untuk Melakukan rencananya, sisa nya aku dan Erlan akan mengurus nya"


Lanjut gadis itu lagi kemudian menatap dalam sosok Alessia yang kini terlihat begitu cantik didalam balutan gaun pengantin mewah dan elegan tersebut.


"Lihatlah, bukankah gadis tidak berdaya itu terlihat sangat berbeda dan berkelas ketika menggunakan pakaian para bangsawan? kau terlihat cantik sempurna dengan gaun nya, Miss Alessia"


******


Khalid company


Proyek besar yang dia tengah kerjakan dalam bukan ini membuat kepala Yash mulai berteriak meminta di istirahat kan, selain harus berkutat dan fokus dengan proyek nya, dia harus terus mengawasi Hana dan mengecek berkala kesehatan istrinya.


Apakah dia mengeluh?!.


Untuk istri nya, tidak.


Untuk pekerjaan nya, iya jelas.


Kepala laki-laki tersebut kini berdenyut-denyut, efek kurang tidur benar-benar menyiksa dirinya, Yash mencoba untuk memijat sejenak pelipis nya sembari dia mencoba menyandarkan tubuhnya.


Sejak kejadian Diana masuk tanpa sopan santun kedalam ruangan nya tempo hari, Yash sekarang lebih suka mengunci pintu ruang kerja diperusahaan nya, karena bagi dirinya dengan begitu dia akan lebih leluasa mencuri-curi waktu untuk beristirahat dan memejamkan sejenak bola mata nya.


Laki-laki tersebut mengehela kasar nafasnya untuk beberapa waktu.


dia pikir dia cukup mengantuk saat ini, tapi benar-benar memejamkan bola matanya takut cukup beresiko besar karena sekali dia terlelap takut nya dia khilaf ketiduran, mengingat dalam 30 menit lagi akan ada rapat yang harus dia selesaikan.


orang-orang berkata hidup dan memiliki sebuah perusahaan itu indah dan nikmat seperti kisah-kisah di drama atau bahkan novel-novel percintaan yang berkata tugas seorang CEO hanya tinggal tunjuk dan memerintah bawahan nya, realitanya mereka hidup dalam banyak tekanan.


semakin besar sebuah usaha semakin besar tekanan mereka semakin besar beban hidup juga semakin besar hutang-hutang yang menumpuk, tidak ada yang indah dan gratis di dunia ini bahkan sebuah perusahaan besar telah terbiasa bergelut hutang dengan bank dan setoran dalam setiap bulannya.


belum lagi resiko-resiko yang harus dihadapi baik dari kerugian yang mungkin akan datang secara tiba-tiba karena sebuah kesalahan atau kecerobohan, bisa jadi terkadang akan terciptanya merosot nya nilai saham, risiko beberapa pegawai yang tidak kompeten dan mampu membuat kerugian satu perusahaan, tidak luput dan lepas juga dari para pegawai yang melakukan korupsi diam-diam, belum lagi terkadang proyek yang dijalankan tidak sesuai dengan impian atau yang diinginkan.


ketika memilih untuk membuka sebuah usaha yang besar jelas saja yang paling sulit adalah bagaimana cara untuk mempertahankan usaha tersebut, karena untuk mempertahankan sesuatu harus ada usaha ekstra dan kehilangan banyak waktu bersama orang-orang yang dicintai.


dia sempat merasakannya dan masuk ke dalam fase tersebut, tidak mudah untuk mendirikan perusahaan ini di mana Hana selalu bersabar dan selalu mensupornya serta sering berkata tidak apa-apa.


di masa lalu terkadang dia kehilangan waktu berharga bersama istri dan anak-anaknya, dan baginya Hana benar-benar istri yang luar biasa, tidak sekalipun keluar-keluar dari bibir perempuan itu selama pernikahan mereka dan selama dia merintis dari nol ketika mereka membuat usaha.


Yash memikat pelipis nya untuk beberapa waktu, bola matanya sudah terasa berat dan panas seolah-olah dia siap tenggelam ke dalam alam mimpinya tapi apalah hendak dikata dia tidak mungkin melakukannya.


laki-laki itu menguap sekali tidak mencoba untuk menutup mulutnya hingga akhirnya sebuah ketukan terjadi di luar sana Yash langsung mengeluarkan sebuah remote control yang membuka pintu ruangan nya secara otomatis.


Bisa dia lihat Erlan tampak bergerak masuk dari luar sana dan berjalan mendekati dirinya.


"Ada apa?"


Yash bertanya Sembari mengerutkan keningnya, dia pikir dia tidak membutuhkan laki-laki itu saat ini dan dia sama sekali tidak memanggil Erlan sejak tadi.


Laki-laki tersebut menundukkan kepalanya secara perlahan kemudian dia berkata.


"Nyonya meminta Anda pulang lebih awal dari biasanya"


ketika erlan berkata seperti itu seketika Yash Langsung membulatkan bola matanya.


"Sesuatu yang buruk terjadi?"


Tanya laki-laki tersebut cepat, dia mencoba berdiri dari posisi duduknya.


"Tidak tuan, semua baik-baik saja hingga sejauh ini"


Erlan bicara cepat kearah laki-laki tersebut.


"Lalu?"


Yash kembali mengerutkan keningnya.


"Apa ada sesuatu yang genting?"


"Aku pikir tidak tuan anda bisa pergi setelah rapat nya selesai"


Ucapan Erlan benar-benar sedikit mengganggu nya, dia menjadi sedikit gelisah hingga akhirnya setelah laki-laki tersebut pergi dari ruangannya Yash langsung mencoba untuk menghubungi istrinya tersebut.

__ADS_1


"Kamu ada di mana?"


laki-laki tersebut langsung bertanya begitu panggilan telepon nya langsung tersambung ke seberang sana.


"Bagaimana bisa imam ku lupa memberikan salam?"


terdengar suara sahutan dari Hana, suara yang membuat tentram jiwanya di mana perempuan itu adalah rumah yang paling nyaman untuk dirinya.


"Assalamualaikum ya bidadari surga ku"


Sebaris kalimat itu meluncur dari balik bibir Yash, seulas senyuman mengembang dari Balik bibir nya.


Itu adalah panggilan Paling dia sukai untuk Hana sejak dulu, bidadari surga nya, yang selalu dia harapkan untuk bisa bersama Hana dan bertahan hingga menua bersama.


Meskipun dia tahu mimpi nya hanya sebatas angan, tapi dia masih tetap optimis pada kehidupan dan takdir garisan Allah SWT.


"Itu membuat ku begitu dicintai, kau tahu Yash? aku sedang tersipu-sipu malu disini"


Hana terdengar bicara sambil menggoda dirinya, Perempuan tersebut tertawa kecil terdengar begitu indah dibalik telinga nya.


"Aku tiba-tiba merasa kembali muda"


Lanjut Hana lagi kemudian.


"Aku merasa kamu sedang menginginkan sesuatu dari ku saat belajar untuk merayu ku"


Yash tiba-tiba bicara Sembari mencoba untuk menerka-nerka.


Mendengar ucapan suaminya seketika membuat keheningan sejenak di antara mereka.


"Mari pergi melihat sunset Yash, aku merindukan moment kebersamaan kita hmmm"


Ucap perempuan itu pelan diseberang sana.


Yash terlihat diam untuk beberapa waktu.


"Setelah rapat aku akan menjemputmu hmmm"


Ucap laki-laki tersebut kemudian.


"He em...aku akan menunggu"


Setelah itu keheningan kembali terjadi, lama hingga akhirnya satu tanda klik dimana Hana mematikan panggilan mereka.


Tidak ada salam penutup untuk dirinya.


Yash menurunkan handphone nya secara perlahan, dia meletakkan handphonenya ke atas meja, kemudian Secara perlahan laki-laki tersebut menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.


Satu ingatan menghantam dirinya.


"Aku pikir ini tidak akan lama lagi Yash, maafkan kami"


"Nikmati hari-hari kalian dan jangan mengecewakan dirinya"


Seketika tangis Yash pecah, dia tahu air matanya telah membasahi seluruh permukaan telapak tangan nya, dia mencoba menahan isakan nya karena dia tahu sejatinya laki-laki tidak pernah menangis seperti seorang wanita.


*****


Di sisi lain


Begitu Hana menutup panggilan nya, Perempuan tersebut memilih menatap kearah langit mendung yang mulai menggelap di atas atap rumah sakit dimana dia di rawat.


Lama dia menatap kearah langit, Membiarkan dirinya membisu tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun, membiarkan angin hari ini menerpa wajahnya dan juga tubuhnya.


Apakah sunset akan datang?!.


Gumam nya dalam hati.


perempuan itu terlihat dia membiarkan bola matanya menembus langit cakrawala, berbagai macam ingatan datang kepalanya tentang dirinya dan Yash suaminya juga anak-anak mereka di masa lalu.


Seulas senyuman mengambang dibalik wajah pucat tersebut, dimana kini bisa Hana lihat tangan-tangan nya tampak mulai gemetaran ketika di angkat sedikit ke atas, perempuan tersebut kini mencoba menarik jaket sweater yang dia gunakan untuk menutup seluruh bagian tubuh nya, bibi Tory terlihat berdiri di belakang nya cukup jauh.


Seketika tangis Hana pecah, dia mencoba menahan suaranya untuk beberapa waktu, membiarkan air membasahi kedua belah pipinya.


*****


Bolehkah aku mengulang waktu?! kembali ke masa lalu dimana aku merindukan dia yang begitu aku rindukan.


Terkadang ada satu masa aku berpikir tidak menjadi istri yang baik untuk diri mu,


Terkadang ada juga satu masa aku lupa bagaimana cara nya membuat mu tersenyum dikala lelah.


Yash aku merindukan masa-masa itu, sungguh.

__ADS_1


Tapi Realita nya kita sama-sama tidak bisa mengulang waktu.


__ADS_2