Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Berbahagialah Ma


__ADS_3

"Mama....mama...are you cly (Cry)?"


Suara Ara seketika mengejutkan Agnes.


Perempuan itu jelas tersentak dari pemikiran nya, buru-buru Agnes menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir.


"No baby, ada sesuatu yang masuk ke mata Mama"


Perempuan itu bicara lantas mencoba membuang kemungkinan-kemungkinan.


Tapi Ara kecil langsung menyentuh tangan nya.


"Apa aku menyakiti hati Mama? aku janji akan jadi anak yang baik..."


Ara menggenggam erat telapak tangan Mama nya, dia mencoba menunggu sang Mama menoleh ke arah dirinya.


Agnes buru-buru berbalik, perempuan itu menjongkok kan tubuhnya sambil menghadap ke arah Putrinya.


"Tidak pernah, Ara Mama tidak pernah menyakiti hati Mama sekalipun"


Ucap Agnes Sambil menatap dalam bola mata gadis kecil itu.


Gadis cantik itu diam, jemari-jemari mungilnya menyentuh lembut wajah sang Mama.


"Maukah Mama Duduk?"


Ara Bertanya pelan pada sang Mama.


Agnes melebarkan senyuman nya, dia mencoba mengubah posisinya.


Ara secara perlahan duduk di atas pangkuan nya.


"Beljanjilah pada ku Mama tidak boleh menangis"


Ucap Ara pelan sambil menelusuri bola mata sang Mama.


"Hmmm"


Agnes mengangguk pelan.


"Tidak boleh lemah"


"Hmmm"


Agnes mengangguk kembali.


"Jangan mengalah pada siapapun yang menindas kita"

__ADS_1


"Hmmm"


"Dan belbahagialah, Ma"


Bergitu mendengar kata berbahagialah, seketika Agnes memeluk erat tubuh Ara.


"Hmmm"


Dia menangis tanpa mengeluarkan suara nya.


"Semua pasti baik-baik saja"


Ara menepuk-nepuk punggung Mamanya dengan penuh cinta.


"Belikan aku satu ciuman Mama"


Ucap Ara tiba-tiba.


Agnes menghapus cepat air matanya, kemudian secara perlahan dia melepaskan pelukannya.



"Seperti ini?"


Agnes melebarkan senyumannya, mencium lembut bibir putri nya.


Ara bicara sambil ikut mencium bibir Mama nya.


"Ahhhh hubungan anak dan ibu yang membuat orang-orang iri"


Tiba-tiba dari pintu depan Renata masuk sambil membawa sesuatu.


Agnes Tampak tersenyum, masih membiarkan Ara yang duduk dipangkuan nya ikut menoleh ke arah Sahabat baik nya itu.


"Ah .. Tante, coba lihat apakah aku milip dengan Mama? meleka bilang aku tidak milip Mama?.


Ara tiba-tiba bertanya, mencoba menyatukan wajahnya ke wajah sang Mama.


Belakangan dia merasa gelisah, teman-teman satu permainan nya berkata dia tidak mirip Mama nya, dia takut jika dia bukan putri Mama nya.


"Meleka bilang jika aku tidak milip Mama, maka itu alti nya aku bukan anak Mama"


Seketika ekspresi wajahnya menjadi mendung.


Renata memperhatikan wajah kedua orang dihadapan nya itu.


Yahhh tidak mirip, Ara benar-benar foto copy dari Papa nya.

__ADS_1


Kau benar-benar mirip si brengsek itu.


Batin Renata sambil menarik pelan nafasnya.


"Tante.... tidakkah Tante mau menjawab nya?"


"Oh sayang tentu saja kamu begitu mirip dengan Mama kamu, coba lihat..."


Rena bicara cepat, meletakkan barang bawaan nya ke atas kasur milik Agnes kemudian secara perlahan Renata ikut duduk mendekati sepasang anak dan ibu itu.


"Coba lihat hidung ini, mata ini dan pipi ini miripppp...."


Jawab Rena sambil menyentuh hidung, kelopak mata dan kedua belah pipi Ara.


"Berani-beraninya orang-orang itu berkata kamu tidak mirip dengan Mama kamu, apa perlu Tante datangi mereka hmmm?!"


Renata pura-pura menggulung lengan baju nya, dia mengepalkan kedua tangannya.


"Tante akan mengggggg hajar mereka yang berani-beraninya berkata begitu"


Dia bicara sambil melirik ke arah Agnes, tersenyum geli karena selalu menghibur Ara dengan gaya yang konyol.


"Anak-anak laki-laki di tempat kulsus ku bicala begitu, saat kembali ke new yolk aku akan bawa Tante agal menghajal nya"


Ara terlihat begitu bersemangat mengadu.


"Anak aunty Monica juga bilang begitu, aku akan bawa Tante untuk mencubit nya"


"Baiklah, Tante akan melakukan nya"


Obrolan demi obrolan terus terjadi di antara mereka, kadang Terdengar suara gelak tawa didalam kamar tersebut, kadang Celotehan demi celotehan Ara membuat Renata menjadi begitu ingin mencubit kedua pipi wajah cantik dan imut tersebut.


Dibalik pintu Hans terlihat bersandar disana dengan posisi berdiri, dia tidak mengeluarkan suara nya, hanya berdiam dalam keheningan nya mendengar kan Celotehan demi celotehan Ara.


Sejenak laki-laki itu memejamkan bola matanya.


"Kau yakin akan melakukan semuanya?"


"Aku sudah memikirkan nya, Re"


"Baiklah, aku akan membantu mu membuat nya berkata Iya"


"Kemungkinan nya 50-50, jika kali ini gagal aku bersumpah akan melepaskan dirinya"


"Allah tahu mana yang paling terbaik untuk umatnya, kita hanya berusaha, sisa nya biarkan Allah yang mengatur nya, Hans"


"Thank you Renata, thank you"

__ADS_1


__ADS_2