
Mama Hans terlihat diam untuk beberapa waktu, dia menatap Agnes sejenak kemudian menatap ke arah Hans.
Wanita itu tidak menampilkan ekspresi apapun Sejak tadi, hanya memilih bungkam seribu bahasa untuk beberapa waktu.
Kemudian bola mata Mama Hans terarah pada sosok Ara yang terlelap di atas kursi sejak tadi, dia melihat wajah polos tanpa dosa tersebut untuk beberapa waktu.
Sejenak wanita itu menghela pelan nafasnya.
Apa dia harus marah dengan apa yang barusan dia dengar tadi, marah karena sebuah kenyataan yang begitu mengerikan dan mengejutkan.
Padahal dia jelas-jelas mulai menyukai Ara, tapi dia harus menerima sebuah kenyataan mengerikan soal anak Tersebut.
Lalu apakah dia harus mengusir Agnes? membuang Ara dan meneriaki kedua orang tersebut saat ini juga?!.
Haruskah dia bersikap penuh penekanan, menghalangi cinta Hans dan Agnes juga?!.
"Ma?"
Hans mencoba mendekati Mama nya, menggenggam erat telapak tangan wanita tua itu untuk beberapa waktu.
__ADS_1
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menyembunyikan semua ini sejak lama, Agnes sudah meminta agar aku berkata jujur tapi aku tidak pernah mau melakukan nya"
Laki-laki itu bicara sambil menelisik bola mata Mama nya, Begitu takut jika Mama nya marah dan membenci Agnes dan juga Ara.
Dia tahu betapa keras Mama nya selama ini, jika ingat bagaimana sang Mama selalu berusaha untuk membatasi seluruh pergerakan nya di masa lalu untuk bisa bertahan bersama Agnes.
Dia hanya berharap wanita itu bisa sedikit saja memberikan kesempatan untuk mereka.
"Ma...?'
"Mari tidak membahas soal ini"
Sejenak Hans dan Agnes saling menoleh.
"Anggap Mama tidak pernah mendengar soal semuanya malam ini, dan jangan pernah membicarakan nya lagi pada Mama, Ara atau Papa kalian"
Setelah berkata begitu wanita itu langsung beranjak dari posisi nya, dia berjalan mendekati Ara lantas langsung meraih tubuh Ara dan memasukkan nya kedalam gendongan nya.
"Jangan lupa besok periksakan diri kamu dan Agnes kedokter, secepat nya setelah menikah merencanakan program adik untuk Ara, dia mungkin kesepian karena tidak memiliki teman dirumah"
__ADS_1
Wanita itu berlalu sambil membawa Ara pergi menjauh dari sana menuju ke kamar nya.
"Yes Ma"
Ditengah kebingungan mereka, Agnes menyahut pelan, dia menatap punggung sang calon Mama mertua nya untuk beberapa waktu.
Kamu tahu kenapa wanita tua ini enggan membahas soal apa yang dibicarakan Agnes dan putra nya Hans?!.
Karena baginya dia benar-benar tidak bisa kehilangan Ara, satu-satunya orang yang membuat dia tertawa bahagia dan bisa pamer kesana-kemari saol anak-menantu dan cucu nya karena semenjak ada kehadiran Ara.
Selain itu melihat cinta kasih putra nya Pada Ara dan perjuangan nya untuk terus bersama Agnes membuat dia berfikir tidak ada alasan nya untuk membahas sesuatu yang tidak ingin dia bahas.
Apalagi masa lalu Ara yang cukup menyedihkan dan buruk akan semakin membuat perasaan gadis kecil itu hancur nanti nya.
Bahkan dia tahu kurang hadirnya sosok ayah di benak anak perempuan memberi dampak yang cukup besar bagi kestabilan emosi. Seorang perempuan yang tumbuh besar tanpa kasih sayang dan perhatian dari ayah akan mengalami gejolak emosi yang labil mulai dari lebih mudah marah, tidak dapat mengontrol emosi sedih, agresif, sampai depresi.
Untuk anak seusia Ara jelas sangat membutuhkan seorang ayah yang baik dan benar dalam mendidik nya.
Dia bahkan telanjur menyayangi gadis kecil tersebut.
__ADS_1
Karena itu dia enggan membahas soal hal yang di anggap nya tidak penting Tersebut.