
Mansion Utama keluarga Nakhel
Jam Makan malam
Ara terlihat terus mengembangkan senyuman nya saat semua orang terlihat memberikan begitu banyak hadiah untuk dirinya.
Bahkan Tante yang paling dia sukai, Indri terus duduk di samping nya.
Dia menyukai perempuan itu karena setelah Mama nya, nenek nya dan Tante Renata nya, perempuan itu yang berlaku begitu hangat pada nya.
Mereka bilang Mama nya sakit, sudah berminggu-minggu belum mau bangun dari tidur nya, jika Tante Renata nya sibuk menggantikan pekerjaan Mama nya dan Om Hans nya terpaksa pergi sedangkan nenek nya harus mengurus Mama nya yang sakit, satu-satunya orang yang akan membawanya kesana-kemari adalah Tante Indri nya.
Dan berkat perempuan itu ada banyak orang yang berebut ingin agar dirinya tinggal kesana-kemari, kadang itu membuat Ara kebingungan sendiri.
"Oma Hans kemarin menjemput Ara?"
Indri bertanya sambil menyuapi gadis kecil tersebut.
Yang di tanya buru-buru menjawab.
Belakangan wanita tua itu terus membàwa nya kesana-kemari, dia memamerkan Ara kepada banyak teman-teman nya.
"Bagaimana dengan Oma? apakah Oma membuat Ara tidak nyaman?"
Indri kembali bertanya pada Ara, masih cukup khawatir jika Mama Hans belum sepenuhnya menerima bocah kecil tersebut.
Buru-buru Ara menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Oma membelikan banyak sekali hadiah, lalu Oma membeyikan Kamal yang besaallllll buat Ala"
Ucap gadis itu sambil menggerakkan kedua tangan nya, dia merentang kan tangan nya dengan begitu luas masih dengan mulut berisi nasi dan sayuran.
"Wahhhh benarkah? itu bagus sekali"
Indri bertanya dengan nada riang.
Semua orang yang melihat tampak mengembangkan senyuman mereka, mendengarkan celotehan Ara dengan seksama.
Ara mengangguk-angguk kan kepala nya dengan cepat.
"Tapi....."
Setelah menghabiskan sisa kunyahan nya, seketika Ara bicara sambil menundukkan kepalanya, rona sedih terlihat jelas dibalik wajah Ara.
Seketika air mata Ara tumpah.
"Ala janji tidak nakal, Mama bilang kalau Ala tidak nakal Mama tidak akan malah dan mengabaikan Ala"
Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya, air matanya benar-benar tumpah.
Seketika semua orang terdiam, menatap wajah kecil penuh kesedihan itu untuk beberapa waktu.
Hans langsung meraih tubuh Ara secara perlahan.
"Mama hanya sedang merasa lelah Hmmmm, tunggu lah sebentar lagi, Mama pasti akan bangun dan menemani kita lagi"
__ADS_1
Ucap laki-laki itu sambil memeluk erat tubuh Ara.
Indri mencoba menyusun kalimat paling baik untuk menghibur Ara, dia melirik ke arah gadis kecil itu untuk beberapa waktu.
"Kemarilah"
Ucap Indri sambil melebarkan tangan nya.
Melihat Indri melebarkan senyuman nya sambil merentangkan kedua tangannya, Ara menoleh untuk beberapa waktu kemudian langsung bergerak dari pangkuan Om Hans nya.
Laki-laki itu secara perlahan menyerahkan Ara kepada Indri, membiarkan gadis kecil itu masuk ke dalam pangkuan Perempuan Tersebut.
"Jangan bersedih dan menangis lagi Hmmmm, Mama pasti ikut sedih melihat Ara menangis"
Ucap Indri sambil memeluk hangat tubuh Ara, di mengusap punggung Ara secara perlahan.
"Mama hanya ingin tidur sebentar, sebab belakangan ada banyak hal yang membuat Mama Agnes kelelahan"
Perempuan itu terus mengusap lembut punggung Ara.
"Ara cukup berdoa, meminta kepada Allah agar Mama tidak merasa lelah lagi, kembali bangun dari tidur nya dan siap kembali bersama Ara untuk melakukan banyak hal bersama hmmm"
Lanjut Indri sambil memejamkan bola matanya perlahan.
Ara terlihat diam, membiarkan dirinya berada di pelukan Perempuan itu, dia mengangguk kan kepala nya pelan.
"Tidak lama lagi, tunggulah sebentar lagi hmmm"
__ADS_1