
Mansion utama Nakhel
Ditengah semua orang merasakan kelelahan setelah kesibukan seharian yang tidak kunjung usai dalam mempersiapkan pernikahan Kalan dan Meisya.
Disaat semua memilih untuk bersandar, bersantai dan duduk-duduk di beberapa tempat di setiap sisi dan tengah mansion utama Nakhel.
Dikala masih terdengar suara canda tawa dan beberapa suara musik yang melantunkan lagu indah saling bersahutan.
Rupanya Syahnaz lebih dulu memilih untuk menepi mencoba menarik diri, bersandar di tepian kursi sofa mencoba untuk diam-diam mengistirahatkan diri dari rasa lelah karena seharian berkutat dengan berbagai aktivitas tanpa henti.
Benar kata orang, setiap kali ada acara hajatan, nikahan atau sejenis acara besar-besaran yang dilangsungkan oleh pihak keluarga besar.
Meskipun semua sudah di handle oleh beberapa orang-orang dan tim khusus, tetap saja pada akhirnya pihak keluarga akan ikut turun tangan dan merasa lelah.
Gadis itu tanpa sadar terlelap begitu saja sambil bersandar di atas kursi sofa, sebab dia sudah nyaris tidak bisa menahan lelah dan kantuk Secara bersamaan saat ini.
Tanpa dia sadari, Dimas terlihat menatap dirinya dari kejauhan.
Laki-laki berjalan melangkah menuju ke arah diri secara perlahan, kemudian langsung duduk tepat disamping dirinya tanpa mengeluarkan banyak suara.
"Mama fikir dia kelelahan"
Tiba-tiba terdengar suara Mama Abizard mengejutkan laki-laki tersebut.
Wanita itu bicara setengah berbisik.
"He em, seharian ini mengurusi pakaian untuk semua keluarga besar"
__ADS_1
Jawab Dimas pelan.
Mereka harus mondar-mandir ke bagian penjahitan untuk merevisi ukuran pakaian beberapa anggota keluarga dan penggantian model untuk request beberapa orang.
Belum lagi mereka harus mendatangi toko khusus untuk mengurus soal aksesoris souvernir pernikahan pilihan Kalan dan Meisya.
"Mama akan minta bibi untuk mencarikan Syahnaz selimut dan bantal'
Saat Mama Helen berkata begitu Dimas buru-buru menolak, dia Fikir terlalu tidak sopan saat orang tua yang memiliki inisiatif dan bergerak mencari orang lain untuk mendapatkan bantal dan selimut untuk Syahnaz.
"Aku akan mencari dan mengambil nya sendiri, Ma"
Jawab Dimas cepat, laki-laki itu langsung berdiri dari posisi duduknya.
"Nggak apa-apa dim"
Mama Helen bicara cepat.
Pada akhirnya wanita itu mengembang kan senyuman nya, dia hanya mengangguk kan kepalanya secara perlahan.
"Kalau butuh sesuatu, kamu bisa cari Mama"
Ucap wanita itu lagi sambil berjalan menjauhi Dimas.
Laki-laki itu terlihat mengangguk kan kepalanya sambil ikut mengembangkan senyuman nya.
Pada akhirnya dia beranjak menjauhi Syahnaz, mencari arah kamar yang ditempati Indri atau Mama Nur, dia fikir dia tempat itu yang mempermudah dirinya untuk mendapatkan bantal dan selimut.
__ADS_1
Dikala bola mata nya tidak bisa mendapatkan orang yang dia kenal, Dimas pada akhirnya mencoba mendekati kamar yang di tempati Mama nya sendiri, tetap bergerak dan melakukan sesuai adab yang berlaku, mengetuk pintu memastikan sang Mama ada didalam sana.
Dan benar saja wanita cantik itu ada didalam sana.
"Loh kenapa kesini Wa?"
Mama nya bertanya menggunakan nama belakang nya.
"Ada bantal nganggur Ma?"
Tanya Dimas pelan.
"Yah kalau bantal nganggur semua setau Mama, mereka kan tidak bergerak, tidak kerja, tidak masak, tidak cari duit"
Seketika Dimas mencoba mengulum senyumannya mendengar candaan sang Mama.
"Kalau mereka kerja kan berabe buk? nanti kita semakin terkenal di televisi dan YouTube, jadi banyak duit kita nanti"
Tahu-tahu Papa Dimas muncul dari arah belakang Mama nya.
"Siapa yang tidur?"
Kali ini tingkat ke kepoan Papa nya kembali meronta-ronta.
Alih-alih menjawab, Dimas lebih suka berkata.
"Satu aja Pa, sekalian selimut nya"
__ADS_1
Mendengar ucapan Dimas, kedua orang itu saling menoleh.
Mereka fikir itu sangat mencurigakan.