
Mansion Utama Yash
Waktu makan malam
Sebelum pernikahan Kalan dan Meisya
Sejenak Alessia menatap wajah Kalan yang terlihat serba salah melihat kearah diri nya.
Entahlah mungkin laki-laki itu masih merasa canggung saat harus membiasakan diri untuk memanggil dirinya Mama.
Cukup aneh memang, dimasa lalu mereka pernah bersama, menjalin hubungan spesial, berpacaran dan kini mereka menjadi ibu dan anak.
Belum lagi di masa kemarin hubungan dingin yang terjadi di antara mereka setelah kalan tahu Alessia menikah dengan Papa nya hanya dalam beberapa hari setelah kematian Mamanya.
Hingga membuat hubungan mereka memburuk dan begitu memanas, dimana pada akhirnya kalan semakin memasang jarak dengan Papa nya dan semakin membenci Alessia.
Realita nya Kalan tidak pernah tahu alasan di balik pernikahan yang di buat antara Papa nya dan Alessia.
Hingga satu kenyataan menghantam Diri nya.
Alessia punya alasan paling masuk akal ketika melepaskan dirinya dan menerima pernikahan dengan Papa nya.
Perempuan itu menyembunyikan luka selama bertahun-tahun, bertahan disamping Papa nya demi kelangsungan hidup banyak orang.
Mengorbankan masa depan nya demi kebahagiaan saudara kembar nya bahkan demi memenuhi permintaan terakhir Mama kalan sendiri.
Karena itu hari ini ketika untuk pertama kalinya Kalan kembali ke rumah Orang tua nya, dia cukup merasa bersalah atas sifat buruk sangka nya selama hampir 6 tahun ini pada Alessia.
"Bagaimana dengan pernikahan kalian?"
Tanya Papa kalan kemudian mencoba mencairkan suasana yang sedikit tegang.
Alessia Secara perlahan memasukkan nasi kedalam sebuah piring lantas meletakkan nya kehadapan Yash, kemudian dia mulai memasukkan beberapa menu kesukaan suaminya itu.
Bertahun-tahun Menikah dengan laki-laki yang usia nya berbeda begitu jauh dengan dirinya itu membuat Alessia hapal betul menu kesukaan laki-laki tersebut.
"Semua sudah di atur oleh keluarga Nakhel, Mama Helen bilang pihak laki-laki cukup duduk manis di rumah"
Jawab Kalan pelan.
Disampingnya tampak Meisya ikut mengatur piring makan Kalan, mencoba belajar dari Alessia bagaimana meletakkan makanan ke piring milik suaminya.
Gadis itu suka belajar hal-hal yang belum pernah dia pelajari sebelumnya, karena dia tahu menjadi seorang istri tidak cukup hanya berpaku pada cinta, meminta,menerima tanpa memberi dan menyenangkan balik pasangan.
Sebab dalam pernikahan kata Mama Helen agar awet adalah, saling memberi dan melengkapi, bukan menuntut dan meminta pasangan terus mengerti keinginan kita.
"Sudah menyiapkan semua mahar dan antar-antaran nya?"
__ADS_1
Tanya Alessia cepat, dia duduk disamping Yash kemudian menatap ke arah Kalan.
Mendengar pertanyaan Alessia, Kalan menggelengkan pelan kepalanya.
"Aku akan bantu mencari nya, Hmmmm Aku fikir akan mengajak Indri untuk memastikan selera bagaimana selera Meisya"
Perempuan itu mengembang kan senyumnya, melirik kearah Meisya untuk beberapa waktu.
"Tidak perlu yang terlalu mahal Ma, cukup yang sederhana tapi berguna"
Jawab Meisya cepat.
Gadis itu tahu hubungan masa lalu Calon suaminya dan Mama tiri Kalan, tapi dia bukan type gadis yang mau ambil pusing soal masa lalu.
Toh bagi nya Alessia perempuan yang baik, jika dia perempuan yang jahat Kalan tidak mungkin ada di sini saat ini, Agnes tidak mungkin menemukan kebahagiaan nya dan semua orang tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan mereka.
Sejatinya Manusia itu semuanya baik, tergantung pada diri mereka masing-masing ingin kemana membàwa kepribadian serta cara hidup mereka.
Menjadi baik atau buruk, ingin di cintai atau dibenci.
"Dan maharnya aku sudah bilang pada Kalan, aku tidak minta yang besar-besar Ma"
Lanjut gadis itu lagi.
"Baiklah, Mama akan mencari nya bersama Indri besok"
"Ngomong-ngomong apakah tidak sebaiknya kita buat pakaian khusus dua keluarga besar di saat pesta pernikahan? itu akan terlihat cantik, Kita bisa mencari bahan nya mulai dari sekarang"
Lagi Alessia bertanya sambil menatap ke arah Meisya dan Kalan Secara bergantian.
"Apa kamu setuju sayang?"
Dia langsung bertanya kearah suaminya.
"Kamu bebas memutus kan nya"
Yash terlihat mengembangkan senyuman nya, laki-laki itu meraih beberapa menu sayuran, meletakkan nya ke arah piring nasi milik Alessia.
"Boleh?"
Mendengar jawaban Yash,Bola mata Alessia terlihat berkaca-kaca.
Ini kali pertama laki-laki itu menyerah kan semua keputusan kepada dirinya.
"Tentu saja, kamu ibu dari anak-anak, jadi kamu boleh berdiskusi dengan anak-anak dan memutuskan mana hal yang terbaik untuk mereka"
Entahlah mendengar kata ibu dari anak-anak membuat Alessia merasa berdebar-debar, seolah-olah laki-laki itu benar-benar telah menyakinkan diri nya jika dia saat ini benar-benar ibu yang tepat untuk anak-anak mereka.
__ADS_1
"Bagaimana, Kalan?"
Tanya Papa nya kemudian.
Sejenak Kalan diam, dia menoleh kearah Meisya untuk beberapa waktu
Meisya terlihat mengembangkan senyuman nya, dia menggenggam telapak tangan laki-laki tersebut secara perlahan.
"Ya, kalian bisa mendiskusikan nya berdua, Ma"
Ucap Kalan sambil menoleh kearah Alessia.
Seketika Alessia terdiam saat Kalan memanggil diri nya dengan kata Ma.
Terdengar begitu lucu dan manis.
Dia mencoba Menahan air matanya agar tidak tumpah.
6 tahun dia menunggu seluruh keluarga itu menerima kehadiran nya ditengah-tengah mereka, jatuh bangun dengan jutaan kesabaran yang menghantam perasaan nya.
Dan hari seolah-olah penantian panjang itu berakhir juga.
"Ya...Mama akan mendiskusikan nya dengan Meisya dan juga Pinkan, anak itu selera pakaian nya begitu bagus"
Ucap Alessia sambil mengembangkan senyuman Bahagia nya.
"Ma....ma..."
Dan baru saja nama itu disebut, Pinkan terdengar berteriak dari luar sana.
"Sayang berhentilah berteriak"
Yash bicara sambil menoleh ke arah depan.
Putri bungsu nya itu terlihat berlarian dari arah depan, wajah nya dipenuhi oleh keringat dimana-mana.
"Apakah kalian sudah menghabiskan makan malam nya? Mang Amran lama sekali membawa ku ke sini, aku bilang cepat dia malah membawa mobil nya seperti siput kampung"
Gadis itu mulai merengek kesal, mendekati Alessia kemudian duduk disamping perempuan tersebut.
"Dimana nenek mu?"
Dia lebih suka bermain dengan Ara, katanya dia merindukan gadis kecil itu.
"Ah..."
Dan bayangkan bagaimana pada akhirnya kebersamaan di antara mereka terus berlanjut hingga makan malam bersama keluarga terus berjalan hingga usai.
__ADS_1