Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Si menyebalkan


__ADS_3

Pagi ini Indah sudah bersiap-siap, menggunakan baju casual yang di sediakan oleh Bima dan membawa beberapa buku yang sudah di siapakan semalam.


"Bagaimana? Sudah siapa untuk berangkat?"


"Siap!"


"Untuk hari ini aku akan mengantarmu, tapi besok Dio yang akan mengantar dan menjemputmu!"


"Kenapa?"


"Ya karena aku banyak pekerjaan. Tidak masalah kan?"


Indah hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah.


Mereka segara menuju ke kampus tempat Indah kuliah, Bima hanya mengantar sampai gerbang.


"Pakai ini?" Bima menyerahkan sebuah gelang.


"Ini gelang! Gelang ini sudah dilengkapi dengan GPS-nya, jadi nanti kalau kamu ke sasar atau hilang. Aku langsung bisa menemukan keberadaan mu, kamu kan masih baru jadi takut aja kalau tiba-tiba nyasar!"


Indah menatapi gelang itu, sekilas tidak ada yang aneh.


"Oh iya, nanti kamu langsung di jemput Dio selesai kuliah dan di antar ke tempat kursus memasak kamu!"


"Benarkah?" terlihat Indah kali ini begitu senang, setidaknya sekarang ia punya kesibukan di tempat yang begitu asing ini.


"Sudah sana masuk, keburu kelas di mulai!"


Tapi Indah tetap diam di tempatnya, ia menunggu sesuatu yang mungkin akan di lakukan suaminya saat mereka berpisah.


"Kenapa masih di sini? Ayo keluar!"


"Apa mas Bima tidak ingin mengucapkan apa gitu, atau melakukan sesuatu!?"


"Sudah deh jangan macam-macam, aku sudah kesiangan, satu jam lagi ada meeting!"


"Baiklah!"


Walaupun kecewa, tetap saja Indah tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti permintaan suaminya. Ia pun segera turun dan berdiri di bahu jalan, sedikit memberi jarak pada mobil suaminya.


Ia melambaikan tangannya, tapi sang suami sama sekali tidak menoleh padanya dan menjalankan mobilnya begitu saja.


"Mas Bima kok jadi dingin gitu sih!?" gumamnya pelan.


Ia pun segera berbalik dan menatap gedung yang tinggi dengan halaman yang luas, banyak anak muda yang lalu lalang dengan menenteng tasnya. Beberapa sedang berjalan cepat dan beberapa lagi sedang berjalan sambil bersenda gurau dengan teman-temannya.


Indah perlahan menyusuri tempat itu, mencari tahu di mana kelasnya. Ia mengambil jurusan bahasa dan sastra. Mencari kelasnya ternyata bukan hal yang mudah, entah sudah berapa ruangan yang ia telusuri tapi ternyata belum ketemu juga.


"Belum juga masuk, kakiku udah mau copot aja!" gumamnya sambil memegangi lututnya yang ngilu karena berjalan ke sana kemari.


Hingga matanya menangkap seorang pemuda yang tengah membaca buku di bangku samping tangga dengan headset yang menutupi telinganya.


"Hallo, saya Indah! Boleh tunjukkan di mana kelas bahasa dan sastra nggak?" tapi ternyata tidak mendapatkan respon dari pria itu, meskipun ia sudah bicara beberapa kali hingga Indah menyadari ada headset yang melekat di telinganya. Walaupun tidak sopan, akhirnya Indah melepas headset itu hingga berhasil membuat pemuda itu mendongakkan kepala dan menatapnya.

__ADS_1


"Hai!" Indah tersenyum dengan senyum termanisnya agar pemuda itu tidak marah padanya.


Tapi ternyata pemuda itu memilih untuk kembali memakai aerphonenya. Hal itu membuat Indah kesal dan kembali melepas headset itu.


Kali ini pemuda itu menatapnya dengan tatapan kesal.


"Masih banyak di sana yang bisa lo ganggu, jadi lupakan niat lo buat menggangu gue!"


"Maaf, tapi saya tidak maksud buat ganggu! Saya anak baru, belum tahu kelas saya yang mana, bisa tunjukkan kelas saya yang mana nggak?"


"Cari sendiri!" bukannya memberi tahu Indah, pria itu memilih untuk berlalu begitu saja meninggalkan Indah.


"Astaga ....., dia pelit sekali. Cuma di tanya juga, awas aja kalau ketemu lagi!" Indah hanya bisa terus menggerutu sambil mencari kelasnya.


Hingga akhirnya ia menemukan kelas yang sudah hampir setengah jam ia cari,


"Akhirnya ....!"


Tapi di dalam sepertinya kelas sudah di mulai,


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


"Maaf pak, saya terlambat. Saya anak baru, jadi tadi belum tahu kelasnya!"


"Baiklah, lain kali jangan di ulang, silahkan anda duduk!"


"Terimakasih pak!"


Indah pun segera mendermakan pandangannya, mencari tempat kosong. Ternyata hanya ada satu di depan dan satu di belakang. Untuk permulaan, ia memilih bangku di belakang.


Tapi saat ia mulai berjalan menuju ke bangku itu, tiba-tiba matanya kembali menangkap pria yang begitu sombong tadi.


Oh jadi dia satu kelas sama aku, menyebalkan sekali satu kelas dengan orang sombong seperti dia ....


Mata mereka saling bertemu dan dengan cepat Indah mengalihkannya dan memilih mempercepat langkahnya.


"Hai, saya Kanaya!" seorang gadis di sampingnya segera menyapanya.


"Hai, saya Indah!"


"Indah?"


"Iya, aneh ya namanya?"


"Sedikit!"


Mungkin memang namanya cukup unik untuk gadis jaman sekarang, kampungan. Tapi Indah bersyukur dengan nama itu, kata orang tua angkatnya. Papa dan mama nya sengaja memberi nama dia Indah agar hidupnya selalu indah seperti namanya.

__ADS_1


Kelas berakhir, beberapa anak sudah meninggalkan kelas dan akan kembali di jam berikutnya.


"Mau ke kantin?" pertanyaan dari Kanaya kenyadarkan Indah yang sedang melamun, ia sebenarnya sedang menunggu pesan dari sang suami. Tapi tidak ada satu pun pesan yang masuk.


"Ahhh boleh!"


Kanaya teman pertamanya di kota, setidaknya dengan pergi ke kantin ia bisa lebih mengenal kampusnya.


Sepanjang jalan ke kantin Indah terus bertanya ini itu pada Kanaya, ia cukup takut tersesat lagi apalagi jika sampai bertemu dengan pria sombong itu lagi.


Hingga akhirnya mereka sampai juga di kantin. Tapi karena terus memperhatikan ponselnya ia sampai tidak memperhatikan jalan dan menabrak seseorang, membuat ponselnya terjatuh.


"Kalau jalan hati-hati dong!" Indah semakin kesal saat sepatu pria itu menginjak ponselnya.


Tapi pria itu sama sekali bergeming di tempatnya hingga membuat Indah mendongakkan kepalanya.


Ahhh dia lagi ....


"Maaf ya! Tadi Indah nggak sengaja!" Kanaya berusaha untuk minta maaf.


"Oh jadi namanya Indah! Bilangin temen Lo yang udik ini untuk tidak terus cari gara-gara sama gue!" pria itu membetulkan kemejanya yang terbuka dan berlalu begitu saja, tapi kakinya dengan sengaja menginjak tangan Indah.


"Aughhhh!"


Indah hendak marah, tapi dengan cepat Kanaya menahannya.


"Sudah jangan di lanjut, ayo kita cepetan pesan makanan aja!" Kanaya segera menarik tangan Indah dan mengajak ya duduk di salah satu bangku yang masih kosong dan memesankan minuman untuk Indah.


"Minumlah!"


"Tuh orang blagu banget sih, sombong juga dia, siapa sih dia?"


"Sudah jangan marah-marah, wajar aja kali Ndah, Dava itu putra tunggal dari pemilik yayasan kampus ini, selain ganteng dia juga berprestasi. Banyak cewek yang berebut cuma biar dapat di pacari sama dia!"


"Percuma juga smart, ganteng, kata kalau etitutnya nol!"


Indah benar-benar kesal dengan pria itu, apalagi sekarang ponselnya yang tadinya mulus kini retak layarnya.


"Masih bisa di nyalain kan ponselnya?"


"Untung masih bisa, kalau nggak aku bakal bikin perhitungan sama dia!"


Kanaya hanya tersenyum melihat Indah yang marah-marah sedari tadi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2