Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Egoisnya Renata


__ADS_3

Setelah mendapat saran dari Dirman, akhirnya Bima pun memutuskan untuk menjual mobilnya dan mencari mobil pick up sebagai gantinya.


Selain untuk mengangkat sayuran, ia juga membutuhkan pick up untuk membawa pupuk, dari pada ia harus cari ojek lagi untuk mengangkatnya.


Setelah bernegosiasi, akhirnya ia menemukan pick up yang cocok dengan harga yang tidak terlalu tinggi,


"Terimakasih ya mas, semoga awet!" ucap penjual pick up itu.


"Sama-sama! Kalau begitu saya permisi!?"


Bima menemui orang itu juga atas saran dari Dirman, karena beberapa hari yang lalu orang itu menawarkan pick upnya. Barangnya masih bagus dan mesinnya juga masih mulus.


"Aku masih ada sisa dua puluh juta, aku rasa ini cukup untuk biaya persalinan Renata."


Bima kembali menyimpan uangnya di dalam kantong plastik dan ia pun memutuskan untuk pulang. Bukan karena ia ingin bertemu dengan Renata, tapi ia sudah sangat capek ingin beristirahat sebentar dan memulai kembali aktifitasnya.


Renata begitu terkejut melihat kedatangan Bima dengan mobil pick up, bukan mobil Bima seperti biasanya.


"Bim, ini mobil siapa?" tanyanya saat melintas di depannya,


"Mobilku!" tapi Bima tidak berniat untuk berhenti membuat Renata mengikutinya hingga ke dalam rumah.


"Ku? Itu artinya kamu beli mobil lagi? Trus mobilnya yang satu mana?"


Bima melanjutkan langkahnya ke dapur, mengambil segelas air dan meneguknya,


"Aku jual."


Renata begitu terkejut, "Di jual? Kamu ini bodoh atau apa sih, mobil di jual di tukar yang kayak gitu. Kalau mau ngantar aku ke dokter pakek mobil apa?"


"Mobil itu juga bisa,di depan ada tempat duduknya. Jadi nggak usah lah dibikin ribet. Aku capek, jangan buat aku semakin capek karena Omelan kamu."


"Trus sisa uangnya mana?" tanya Renata berhasil membuat Bima menghentikan kegiatannya yang tengah melepas jaket yang ia kenakan, ia menoleh pada Renata dengan tatapan penuh tanda tanya, "Masih sisa kan?"


"Sisa, memang ada apa?"

__ADS_1


"Siniin buat aku!"


"Enak banget kamu ngomongnya, sisanya buat jaga-jaga kamu melahirkan. Jadi nggak usah macam-macam!"


"Aku ini istrimu, aku juga berhak atas uang itu, aku butuh ke salon, butuh belanja. Kamu tahu aku sudah kayak mayat hidup di sini, nggak kemana-mana, cuma mantengin hp aja, WiFi juga nggak ada."


"Maksud kamu istri yang nggak pernah melayani suami, apa itu yang di sebut sebagai istri?" Bima benar-benar marah kali ini, ia benar-benar tidak menyangka jika Renata akan seegois itu. Dulu tidak begitu terlihat, atau mungkin dulu ia masih memakai topengnya dan sekarang ia sudah membukanya lebar-lebar.


"Jangan bawa-bawa itu ya, kita sudah sepakat soal itu. Nggak usah diungkit lagi, selain karena anak ini kita tidak ada ikatan lagi."


"Bagus, sekarang sudah jelas kan!"


Karena terlalu marah, Bima pun mengurungkan niatnya untuk beristirahat, ia memilih pergi lagi.


"Mau kemana lagi, aku belum selesai bicara." teriak Renata.


"Capek ngadepin wanita tidak tahu diri sepertimu."


Bima kembali naik ke mobil pick upnya dan meninggalkan Renata yang masih sangat marah.


Bima lebih memilih melanjutkan pekerjaannya dari pada di rumah. Menurutnya di rumah malah semakin capek karena harus beradu mulut dengan Renata. Beruntung ia selalu menyimpan baju ganti di mobil,


Setelah sholat ashar di masjid, ia sengaja mengganti bajunya dengan baju kotor, karena ia harus pergi ke ladang. Kalau masalah sayuran, nanti para petani yang akan mendatanginya sendiri untuk menjual hasil panennya.


"Loh mas Bima, katanya mau istirahat?" tanya Dirman yang kebetulan juga tengah di ladang.


"Enak di ladang aja Man, rasanya hati tenang."


"Mas itu kadang aku pikir terlalu sabar sama istri, sekali-kali istri itu perlu di kerasin biar nggak nglunjak."


"Nggak pa pa, biarin aja, nggak lama juga!" ucap Bima sambil mengambil cangkul yang sengaja ia simpan di gubuk dan mulai membersihkan rumput pengganggu dengan cangkulnya.


Dirman memang tidak tahu apa masalah yang di hadapi oleh Bima, tapi ia tahu bagaimana kelakuan istri Bima padanya.


Karena Bima tidak cerita, ia juga tidak punya solusi banyak tentang masalah bosnya itu.

__ADS_1


"Mas Bima, ikut Dirman aja ke rumah mas. Tadi istri saya masak banyak!"


"Nggak usah man, habis ini aku langsung ke mushola aja sekalian mandi di sana. Nanti kalau ada petani yang mau jual sayurnya suruh cari aku di masjid ya!"


"Iya mas, kalau gitu Dirman duluan ya mas!"


"Iya, salam buat anak dan istri kamu!"


"Nanti saya sampaikan, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Dirman memang sudah sedari siang di ladang, ia pun memutuskan untuk pulang sedangkan Bima memilih menghabiskan waktunya di ladang sambil menunggu waktu magrib.


Sebenarnya di dekat ladangnya ada air tanah yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk mandi, ada pancurannya juga. Tapi tetap saja Bima tidak nyaman jika harus mandi di tempat terbuka. Ia memilih mandi di mushola setelah mengakhiri pekerjaannya.


Sembari menunggu azan magrib, beberapa petani sudah mendatanginya dan meletakan sendiri-sendiri sayurannya di atas pick up dan melaporkan jumlah kiloan yang di bawa dan Bima akan melakukan pembayaran.


"Terimakasih ya mas Bima, untung ada mas Bima jadi kamu nggak perlu bawa ke kota untuk menjual hasil panen kami."


"Sama-sama pak."


Akhirnya mobil pick up yang mulainya kosong itu, sudah terisi penuh dengan berbagai macam hasil panen petani, bukan hanya sayuran saja. Ada pisang, ada singkong, umbi dan lain sebagainya. Bima tidak pernah menolak untuk membawa apapun yang di hasilkan oleh petani.


Hingga azan berkumandang, beberapa petani yang sudah siap langsung memasuki mushola sedangkan yang baru saja pulang dari ladang, mereka memilih pulang lebih dulu untuk membersihkan diri.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰 ...

__ADS_1


__ADS_2