
Berbeda dengan Bima, terlihat nyonya Rose malah tersenyum penuh kelicikan.
"Seharusnya kamu sudah kenal sama mama Bima, jangan pernah main api sama mama jika kamu tidak ingin terbakar di dalamnya." gumam nyonya Rose.
"Sekarang lihat apa yang bisa mama lakukan untuk ini."
Nyonya Rose kembali bergabung dengan pria-pria berdasi itu, ia juga mendekati para pasangannya. Sok akrab dengan semua tamu seolah-olah dialah pemilik pesta amal malam itu.
Sedangkan Indah dan Aya memilih duduk di kursi tamu dengan tangan yang sudah menggenggam gelas yang berisi minuman soda.
Dia gadis yang tidak tahu bahaya apa yang akan mengintai mereka.
"Kayaknya bener deh kata suami kamu, Ndah." Aya mulai berpikir benar tentang apa yang di katakan oleh Bima, tapi bagaimana pun Indah sudah terlanjur negatif thinking dengan sosok suaminya itu membuatnya tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Di matanya, apa yang di lakukan oleh suaminya selalu salah meskipun itu sebuah kebenaran yang mungkin akan segera ia sesali.
"Mantan, Aya!" jawab Indah dengan kesal. Ia masih selalu kesal saat mengingat wajah suaminya.
"Tapi kan belum resmi cerai, ayolah Indah aku ngerasa ada yang tidak beres dengan wanita yang kamu bilang mama mertua kamu itu, senyumnya itu loh yang bikin terlihat semakin nggak beres. Pokoknya menakutkan!"
"Tapi kan sudah proses. Apalagi dia yang sekarang menguasai perusahaan Aya. Bisa jadi malah kebalikannya, siapa yang tahu!"
"Kamu memang nggak curiga apa sama nyonya Rose yang terhormat itu?"
"Ya curiga! Tapi untuk saat ini aku bahkan tidak tahu harus percaya sama siapa!?"
Indah jadi kepikiran, tadi terlihat sekali jika Bima begitu khawatir terhadapnya tapi ia malah berpikir buruk terhadapnya. Atau mungkin karena ia terlalu terbakar cemburu saat melihat Bima memilih bersama Renata.
Tapi dimana letak salahnya Bima, Indah sendiri yang memutuskan untuk pergi bukan Bima yang menginginkan ia untuk pergi. Tapi hati, siapa yang bisa mengendalikan. Meski bibir terus berkata benci tapi hati siapa yang tahu.
"Indah!"
Ckkkkk
__ADS_1
Indah langsung berdecak kesal begitu mendengar suara yang tengah memanggilnya,
Sudah aku duga ...., batin Indah sambil berkedip pada Aya. Ia ingin memperlihatkan bagaimana perangai wanita yang sudah menjadikannya madu dalam pernikahannya sendiri.
Indah segera menoleh pada wanita yang berdiri di belakangnya,
"Ada apa lagi?" tanya Indah dengan nada yang begitu ketus. Ia ingin memberitahu wanita itu bahwa ia benar-benar tidak suka dengannya, tapi tetap saja wanita itu tidak mau mengerti.
"Kita harus bicara." ucap Renata berharap Indah mau di ajaknya pergi dari tempat itu, setidaknya menyingkir sebentar dari keramaian.
"Kalau mau bicara di sini saja." ucap Indah, ia tidak ingin meninggalkan Aya sendiri.
Renata menatap pada Aya, Indah tahu maksud pandangan Renata. Lagi pula Aya juga sudah tahu semuanya.
"Dia sahabatku, dia tidak akan pergi dari sini. Jadi kalau mau bicara, silahkan bicara di sini, di depan dia juga. Aya tahu semua tentang masalah saya."
"Baiklah, aku cuma ingin membicarakan kembali apa yang telah menjadi pembicaraan kita beberapa waktu lalu." ucap Renata sambil melipat kedua lengannya di depan dada, tatapannya juga terlihat angkuh.
"Bisa kan kamu mengubah pemikirannya, mas Bima masih begitu mencintai kamu."
Dan kamu membutuhkan hartaku untuk kehidupan mewahmu ..., batin Indah. Ia tahu maksud tersembunyi dari wanita bermuka dua di depannya.
"Aku tahu, lalu?" Indah sengaja memancing Renata untuk mengungkapkan motif pembicaraan ini sebenarnya.
"Ayolah, kita bisa berbagi suami seperti pasangan-pasangan poligami lainnya."
Ha ha ha ...., pengen banget jungkir balik. Emang dulu siapa yang cari masalah denganku, serakah dengan keberadaan mas Bima dan sekarang dia yang uring-uringan. rasanya Indah ingin sekali menertawakan wanita yang berada di depannya itu.
"Kamu mungkin bisa, tapi saya tidak. Jika kamu ingin membangun rumah tangga poligami, boleh. Boleh banget! Tapi tidak dengan saya, cari wanita lain yang bisa kamu jadikan umpan untuk kehidupan mewah kamu."
"Kamu jangan keras kepala Indah, jangan di kira perusahaan itu milik orang tuamu tapi kamu juga jangan lupa, yang sudah membuat perusahaan itu sebesar sekarang itu Bima."
__ADS_1
"Ohhhh, kalau untuk itu. Saya sangat berterimakasih, banget! Mungkin saya bisa berbagi perusahaan tapi saya tidak akan pernah bisa berbagi suami. Saya hanya ingin jadi satu-satunya bagi suamiku."
"Terserahlah."
Akhirnya Renata tidak bisa menanghapi ucapan Indah lagi, ia memilih pergi begitu saja.
Aya sampai menggelengkan kepalanya sambil menatap kepergian Renata, ia benar-benar bisa melihat apa yang di ceritakan Indah selama ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Indah sebelumnya yang harus selalu berurusan dengan orang-orang itu.
"Kamu kenapa Aya?"
"Gila, kok ada ya orang yang kayak gitu. Demi harta, dia rela menggadaikan cintanya. Itu kayaknya judul yang tepat."
"Lama-lama kamu benar-benar jadi penulis skenario sinetron ikan terbang deh."
Ha ha ha
Aya malah tertawa mendengarkan lelucon dari Indah.
Akhirnya pesta amal benar-benar akan di mulai, semua tamu undangan pun mendekat ke panggung saat MC memberikan aba-aba untuk berkumpul.
"Aya, ayo kita ke sama!" ajak Indah. dan Aya pun hanya bisa pasrah.
Mereka berdiri di salah satu sisi terdekat dengan panggung. Ingin melihat apa acara inti dari pesta ini sebenarnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...