
Indah mulai menikmati hidup barunya, statusnya sebagai janda bukan menjadi beban baginya. Ia memilih fokus untuk kuliah dan mengurus perusahaan.
Dengan di bantu pak Hadi, Aya serta Dio. Indah memulai semuanya, sekarang Aya sudah menjadi salah satu karyawan di perusahaan Indah. Walaupun sahabat, tapi Indah tidak menempatkan Aya di posisi atas. Ia tidak mau membuat iri karyawan yang lain, ia sengaja memberi kesempatan pada Aya untuk membuktikan kemampuannya.
Selain fokus dengan perusahaan, Indah juga semakin fokus dengan kuliahnya, demi memenuhi syarat sebagai seorang entrepreneur sejati. Pendidikan tentunya sangat di utamakan agar tidak di remehkan oleh para koleganya.
Hari ini Indah mengajak Aya untuk pindah ke rumah besarnya,
"Selamat datang di rumah kita yang baru!?" ucap Indah dengan begitu senang.
"Ya ampun Indah, ini rasanya seperti dunia di negri dongeng. Aku ngerasa jadi Putri semalam."
"Nggak hanya semalam, tapi kamu bisa tinggal di sini sampai kamu jenuh."
"Ya ampun, baik banget sih kamu!" Aya segera memeluk Indah.
"Kamu juga!"
"Sudah lepaskan pelukannya, sekarang kamu bebas memilih kamar mana saja yang kamu sukai!"
"Benarkah?"
"Hmmm!?"
"Ok siap, aku akan berkeliling dulu."
Aya begitu kegirangan, ia berkeliling rumah di temani oleh seorang pelayan agar tidak tersesat di rumah besar itu.
Sedangkan Indah, ia sudah punya satu kamar yang ia suka, kamar yang dekat dengan ruang kerja. Ia tidak terlalu suka banyak bergerak di dalam rumah, untuk memudahkannya beraktifitas ia memilih kamar yang dekat dengan ruang kerja dan juga dapur agar saat sewaktu-waktu lapar, ia bisa segera ke dapur.
Sedangkan Aya, ternyata ia tidak jauh beda, ia memilih kamar yang dekat dengan taman dan juga dapur, agar ia bisa menikmati pemandangan taman saat pulang kerja atau kuliah.
Indah mengamati kamar itu, beberapa pelayan tengah membantunya mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam lemari-lemari besar. Di rumah itu, sudah ada kepala pelayan yang akan membantunya mengurus segala keperluan rumah, jadi Indah tidak perlu mengurus ini itu.
"Semuanya sudah selesai nona!"
"Terimakasih ya Bi!"
"Sama-sama nona, jika butuh sesuatu, nona bisa menghubungi kami dengan nomor yang ada di sini." ucap kepala pelayan itu sambil menyerahkan sebuah gagang telpon yang sepertinya sudah di setting untuk menghubungkan ke seluruh rumah.
"Aku mengerti, terimakasih!?"
__ADS_1
"Kalau begitu kami permisi!"
Para pelayan juga kepala pelayan itu pun meninggalkan Indah.
Indah membuka jendela kaca besar yang ada di bagian sisi kamar itu.
Dari kamarnya, ia bisa melihat pemandangan kolam di bagian sisi taman, begitu indah.
"Aku pernah di sini dulu, bersama papa dan mama!" gumamnya, walaupun tidak jelas tapi sedikit ingatannya seperti sebuah kenangan yang indah yang tidak akan bisa ia lupakan.
"Aku akan berusaha menjaga milik kalian, seperti harapan kalian di masa lalu."
...***...
Bima berencana untuk membuka usaha, tapi untuk itu ia harus membeli sebuah tanah untuk usahanya.
Hingga akhirnya ia mendapatkan tempat yang strategis di salah satu kota kecil tidak jauh dari pusat kota,
"Kamu yakin?" Renata terlihat begitu keberatan dengan usul Bima.
"Kita tidak bisa mengandalkan uang yang tidak seberapa ini, jadi aku harus mulai memutar otak untuk mendapatkan penghasilan."
"Kenapa harus bahas itu lagi sih, keputusan aku sudah bulat, kamu mau terima atau tidak kita akan tetap pindah. Aku juga sudah membeli sebuah rumah di sana, jadi jangan khawatir kita akan tinggal di mana!?"
Saat Renata dan bima tengah berdebat, tiba-tiba nyonya Rose datang. Ia sepertinya baru saja berbelanja, terlihat dari beberapa paperbag yang ada di tangannya.
"Kalian ada apa sih, setiap hari kerjaannya ribut aja?" tanya nyonya Rose sambil duduk di sofa dan meletakan semua barang belanjaannya di sampingnya hingga memenuhi sofa besar itu.
"Mama habis dari mana?" tanya Bima, walaupun ia tahu tapi ia hanya ingin memberi pengertian pada mamanya bahwa hidup mereka tidak seperti dulu lagi yang bebas untuk belanja kapan sana.
"Ohhh ini, mama baru aja belanja, beberapa brand kesayangan mama lagi launching produk terbarunya. Mama nggak mau sampai ketinggalan produk baru mereka."
"Ma_!?" keluh Bima.
"Mama nggak mau ya ikut-ikutan susah. Kalau kalian mau berhemat, ya berhemat saja sendiri. Lagi pula mama punya uang sendiri."
"Terserah lah ma!" Bima memilih pergi meninggalkan mamanya dengan kesal, ia tidak tahu lagi harus memberitahu mamanya seperti apa.
Setelah Bima pergi, Renata memilih mendekati mama mertuanya. Ia duduk di samping mama mertuanya,
"Bima kenapa?" tanya nyonya Rose.
__ADS_1
"Bima mau ngajak pindah ke sebuah kota kecil, katanya dia mau membangun usaha di sana."
"Memang bodoh tuh anak, sudah enak hidup mewah malah memilih hidup susah."
"Mama, tolong bantu bujuk Bima dong ma, aku nggak mau hidup susah."
"Semua ini gara-gara kamu. Seandainya kamu nggak serakah ingin menguasai Bima sendiri semuanya juga tidak akan seperti ini. Kalau Indah tidak tahu jika Bima punya istri kamu, semuanya masih baik-baik saja."
"Kok mama malah menyalahkan aku sih!?"
"Memang nyatanya seperti itu, kamu itu pangkal dari semua masalah ini. Seandainya kamu nggak memaksakan diri untuk menikah dengan Bima, tentu istri Bima hanya Indah."
"Susah memang ngomong sama mama, malah bikin pusing!"
Renata begitu kesal dan memilih meninggalkan nyonya Rose juga.
"Siapa juga mau bicara sama kamu, jangan pikir aku sudah menerimaku ya!?"
Akhirnya Bima benar-benar melaksanakan rencananya, ia mengajak Renata untuk pindah ke kota kecil.
"Kalau mama nggak mau ikut, Bima juga nggak akan memaksa."
"Aku lebih baik tinggal di hotel aja dari pada hidup susah sama kamu!" nyonya Rose sudah menentukan keputusannya untuk tidak ikut.
Sedangkan Renata, ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemana pun Bima pergi. Ia tidak mungkin hamil sendirian, setidaknya sampai ia melahirkan ia akan mengikuti kemanapun Bima pergi dan setelah melahirkan ia berencana meninggalkan bayinya dengan Bima dan memilih pergi.
Ini hanya akan berlangsung tujuh bulan, aku harus tahan sampai saat itu tiba ....
Bima sengaja memilih pindah karena menurutnya biaya bulanan untuk rumah besar Renata cukup besar. Dari pada digunakan untuk membayar semua itu, Bima lebih memilih membeli rumah yang sederhana dan menjual semua rumahnya.
Listrik tidak bulannya setidaknya ia hanya akan membayar untuk ratusan ribu saja, tidak sampai jutaan seperti rumah yang mereka tinggali saat ini, begitu juga dengan airnya, untuk rumah besar biaya air juga tidak sedikit. Di rumah besar, ia harus menggunakan jasa asisten rumah tangga tapi jika di rumah kecil, ia bisa mengurus sendiri rumahnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1