Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Menjadi seorang ayah


__ADS_3

Bima masih setia menatap layar ponselnya yang masih menyala tapi sambungan telponnya sudah terputus. Meskipun sudah beberapa bulan berlalu tetap saja degupan itu masih ada.


Rasanya belum siap untuk kembali lagi berhadapan dengan Indah, hatinya masih belum siap.


Apa Indah masih bersikap sama seperti sebelumnya, atau seiring berjalannya waktu semua juga akan berubah ....


Banyak yang harus ia pikirkan, perasaanya, sikapnya nanti dan bagaimana ia harus bicara setelah ini.


Tapi sekali lagi, memikirkan tentang keadaan anak yang tidak berdosa itu membuat Bima mengesampingkan semuanya.


Ia segera bangkit, dan menyambar tas kecil serta kunci mobilnya.


Tepat saat i keluar rumah, Dirman kembali lagi.


"Mas Bima mau ke mana?" tanyanya saat melihat Bima pergi dengan terburu-buru.


"Saya harus ke rumah sakit di kota, istri saya di rumah sakit!?"


"Astaghfirullah hal azim! Saya nyusul nanti mas, mas duluan biar saya urus ladang sebentar!"


"Terimakasih ya Man!?"


"Jangan khawatir mas, nanti kirim lokasinya saja."


"Hmmm!?"


Akhirnya Bima pun memacu mobil pick upnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Ia begitu khawatir dengan keadaan anak yang ada dalam kandungan Renata. Walau bagaimanapun anak itu tidak berdosa.


Hingga setelah melakukan perjalanan selama satu jam lebih, akhirnya mobil pick up itu ia parkir di depan rumah sakit yang di tunjukkan oleh Indah.


Bima berlari cepat menuju ke ruang gawat darurat, tapi langkahnya melambat saat melihat tiga orang yang tengah duduk di depan ruangan itu.


Aku harus apa?


Lagi-lagi bagaimana cara ia untuk bersikap membuatnya ragu untuk berjalan. Apalagi saat melihat penampilannya saat itu, tentu jauh berbeda dengan ketiga orang itu. Ia sekarang bukan lagi pria dengan kemeja dan jas yang rapi, tapi kini ia tengah memakai kaos oblong yang tidak tersentuh setrika, jaketnya juga kusam karena setiap hari terpapar sinar matahari.

__ADS_1


"Bim!?" pria yang duduk di ujung itu segera berdiri dan memanggilnya.


Bima segera menormalkan perasaanya, menyiapkan diri untuk siap dengan apapun pandangan mereka, Bima kembali mempercepat langkahnya,


"Bagaimana keadaanya?" tanya Bima sambil melirik pada dia wanita yang masih duduk di tempatnya itu.


"Dokter memintamu masuk!" ucap chef Bram dan ia mengantar Bima untuk masuk ke ruangan yang tertutup itu. dan chef Bram memilih kembali duduk setelah memastikan Bima benar-benar masuk ke ruangan itu.


"Anda siapanya pasien ini?" tanya seorang suster pada Bima,


"Saya suaminya!"


"Kami membutuhkan persetujuan anda untuk melakukan berbagai tindakan cepat. Walaupun hpl nya masak beberapa Minggu lagi, tapi harus segera di lakukan tindakan operasi."


"Lakukan apa saja, asal anak saya selamat!?"


"Tolong tanda tangan di sini!" suster itu menunjukkan di mana Bima harus membubuhkan tanda tangan,


"Baik terimakasih, anda bisa keluar lagi."


"Apa yang terjadi?"


"Renata harus operasi!"


"Yang sabar ya!?" ucap chef Bram sambil mengusap punggung Bima.


Kini Indah dan Aya sudah berdiri dan menghampiri Bima,


"Mas, bagaimana kabar kamu?" tanya Indah.


Bima tersenyum tipis hingga menunjukkan gigi-giginya, "Baik!"


"Syukurlah!"


Mereka kembali duduk di tempatnya masing-masing sambil menunggu selesai proses operasi.


Dan benar saja, setelah menunggu hingga satu jam. Dokter kembali keluar, Bima dengan cepat berdiri dan menghampiri dokter itu.

__ADS_1


"Bagaimana dok, anak saya?"


"Selamat, anak anda laki-laki dan selamat. "


"Alhamdulillah!?" ucap Bima sambil mengusap kedua tangannya ke wajahnya.


"Lalu bagaimana dengan ibunya?" walau bagaimana pun ia tidak bisa mengabaikan wanita yang telah melahirkan anaknya ke dunia.


"Bu Renata perlu penanganan khusus, jadi kamu perlu persetujuan lagi dari anda."


"Maksudnya?"


"Ternyata terjadi kerusakan pada rahim Bu Renata sehingga kami butuh persetujuan dari pak Bima untuk melakukan pengangkatan rahim Bu Renata!"


"Di angkat?"


"Iya!"


"Jika tidak di angkat?"


"Saya khawatir akan berpengaruh dengan kesehatan Bu Renata kedepannya!"


"Saya harus meminta persetujuan dari dia dulu, dok!?"


"Baiklah, kita tunggu sampai pengaruh anastesi Bu Renata habis!"


"Iya dok!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2