Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Rena sakit


__ADS_3

Indah terpancing untuk melihat layar laptop, ia melihat semacam kurva dan beberapa tabel. Tapi tetap saja Indah tidak tahu apa dan bagaimana cara bacanya.


"Ini apa?"


Dava menatap Indah dengan tatapan jengah, tampak ia menghela nafas kesal. "Jadi kamu tidak bisa membacanya?"


Indah hanya bisa menggelengkan kepalanya, itu hanya berisi angka dan beberapa huruf dengan inisial saja.


"Ini di bawah ada cara bacanya, makanya jangan malas baca."


"Ya maaf, aku kan memang tidak tahu." walaupun melihat kotak kecil cara baca, tetap saja Indah tidak mengerti. Itu seperti kode perusahaan.


"Baiklah." akhirnya Dava menyerah dan menarik tempat duduknya agar lebih dekat dengan Indah. "Jadi begini, disini_!" Dava membagi layar komputer menjadi dua, dengan kurva yang menurut Indah sama.


"Ini adalah kurva perusahaan Keluarga Bima, atau lebih tepatnya perusahaan orang tuamu dua Minggu sebelum kecelakaan itu dan ini adalah kurva perusahaan satu hari setelah kecelakaan."


"Aku nggak ngerti, coba deh kamu jelaskan dengan bahasa yang bisa aku mengerti, aku benar-benar tidak tahu tentang perusahaan."


Dava hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya, ia sudah menjelaskan dengan bahasa yang paling jelas.


"Jadi begini," tampak Dava mulai berpikir bagaimana ia mencoba menjelaskan dengan bahasa yang bisa di mengerti oleh Indah, "Tentang turunnya saham perusahan orang tua kamu, dua Minggu sebelum kejadian itu memang benar ada semacam konspirasi yang mengatakan kalau perusahaan orang tua kamu bangkrut. Tapi sepertinya sebelum kecelakaan itu terjadi papa kamu sudah bekerja dengan sangat keras hingga mampu menyelesaikannya. Itulah mungkin alasan orang tuamu menitipkan kamu di kampung."


"Maksudnya, kecelakaan itu?"


"Iya, mungkin kecelakaan itu memang benar di sengaja oleh beberapa oknum!"


"Jadi ini pembunuhan berencana?"


"Untuk itu kita harus cari buktinya!"

__ADS_1


"Jadi perusahaan itu seharusnya milik keluarga ku? Lalu bagaimana dengan keluarga mas Bima, kenapa bisa sampai di tangan keluarga mas Bima?"


Di tempat lain tampak Bima tengah berjibaku di jalanan, jalanan terlihat begitu macet. Bima memukul stang setirnya, ia benar-benar kesal tidak bisa menyusul Indah tepat waktu.


Ia meletakan aerophone di telinga dan menghubungi seseorang.


"Hallo Dio!"


"Iya pak!"


"Saya hari ini tidak bisa ke kantor, tolong kamu handle semuanya!"


"Baik pak!"


Bima segera mematikan sambungan telponnya, ia menunggu hingga jalan an kembali normal.


Akhirnya setelah hampir satu jam, Bima sampai juga di depan kampus Indah. Bima berusaha untuk menghubungi Indah tapi percuma karena Indah tidak juga menjawabnya.


"Ada apa lagi sih Rena?" gumamnya begitu malas untuk menjawabnya.


Walaupun begitu malas akhirnya ia pun menerima telpon itu,


"Hallo ada apa?"


Wajah Bima berubah panik, ia segera memutar mobilnya kembali dan melanjutkan dengan begitu cepat.


Wanita itu tengah berbaring di rumah sakit,


"Apa yang terjadi dok?" tanya Bima pada dokter yang menangani Rena.

__ADS_1


"Saya sudah pernah mengatakan kalau lambung nona Rena bermasalah, jadi dia harus menjaga pola makannya."


"Maksudnya?"


"Sepertinya akhir-akhir ini pola makan nona Rena berantakan dan lambungnya kerap di biarkan dalam keadaan kosong."


Setelah dokter meninggalkan Bima, Bima pun segera menghampiri Rena yang masih tertidur di atas tempat tidur pasien dengan wajah pucat dan slang infus yang menempel di lengannya.


Bima duduk di samping ranjang itu, ia menatap wajah Rena. Rasa bersalahnya muncul, ia yang menyebabkan Rena sampai masuk rumah sakit. Seandainya malam itu ia mau di ajak makan oleh Rena, pasti Rena tidak akan membiarkan perutnya kosong.


"Bim!?" suara lemah dan serap itu segera menyadarkan Bima yang tengah menelungkupkan kepalanya, Bima mengangkat kepalanya dan melihat Rena sudah membuka matanya,


"Bagaimana keadaanmu?"


"Dokter sudah merawatku, kamu jangan khawatir!"


"Maafkan aku!"


Rena mengusap tangan Bima dan tersenyum, "Aku senang, setidaknya kamu masih peduli sama aku!"


"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu, aku peduli sama kamu. Lain kali jangan biarkan perutmu kosong!"


"Tidak pa pa, aku tidak menyesal. Setidaknya dengan begini kamu mau menemaniku!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2