
Walaupun penasaran, tapi Indah lebih tertarik untuk menyelesaikan melihat album foto lama itu. Mungkin saja ia bisa menemukan sesuatu di sana, 'mungkin foto orang tuaku'
Walaupun ia tahu bukan anak kandung dari bibi yang telah mengasuhnya tapi sungguh ia belum pernah menemukan hal apapun yang di tinggalkan orang tuanya. Tentu itu membuat Indah curiga apalagi tiba-tiba ia harus menikah dengan Bima.
Bahkan foto kedua orang tuanya, ia tidak pernah menjumpai. Ia hanya punya memori dalam dirinya bahwa pernah menjadi seorang putri yang sangat bahagia.
"Bahkan di sini pun tidak ada." ia bahkan tidak menemukan foto lain selain foto kecil Bima dengan berbagai moment.
Indah pun mengembalikan foto itu di tempatnya, menumpuk kembali dengan tumpukan komik lama milik Bima.
"Mungkin bukan di sini!"
Indah segera meninggalkan kamar itu, ia mungkin bisa menemukan sesuatu di tempat lain. Rumah ini cukup luas, bahkan mungkin sangat luas.
Ia bahkan harus melewati berbagai lorong panjang hanya untuk sampai di ruangan lainnya, hingga langkahnya terhenti di sebuah lorong yang langsung terhubung dengan taman, ia bisa melihat Bima tengah berdiri di sana bersama nyonya Rose yang juga berdiri di belakangnya, mereka tampak membicarakan hal yang serius.
Indah pun memangkas jarak mereka agar bisa mendengarkan percapakan dua orang itu, Indah memilih berdiri di balik dinding pemisah.
"Bim, kamu jangan mempersulit mama!"
"Tapi mama sama papa yang mempersulit Bima, seharusnya Bima tidak melakukan ini!"
"Lalu apa yang mau kamu lakukan, mengatakan semuanya pada Indah dan kita harus melepas semua ini?"
"Jika ini yang terbaik, Bima rela ma!"
"Kamu siap kehilangan Indah juga?"
"Maksud mama?"
"Jika Indah tahu, bukan tidak mungkin jika dia juga akan pergi darimu, lalu apa yang bisa kamu lakukan?"
"Tapi ma_!"
"Dan lagi Bima, jangan egois masih ada Kasandra yang harus kamu pikirkan, dia butuh dana yang banyak untuk kuliahnya di luar negri. Mulai sekarang kamu harus bisa memutuskan hubunganmu dengan Renata, bagaimana pun caranya!"
Indah benar-benar terkejut mendengar itu, ia tidak menyangka jika ternyata nyonya Rose juga tahu hubungan Bima dengan Renata.
__ADS_1
"Jadi ini sebuah konspirasi? Lalu konspirasi macam apa? Kenapa harus aku terjebak di dalamnya?"
"Nona Indah!" sapaan dari seorang pelayan membuat perbincangan dia orang di sisi belakang Indah terhenti.
"Ahh iya, saya baru datang dan mau ke taman." Indah segera mengkonfirmasi agar ia terlihat baru datang,
"Indah, sejak kapan kamu di situ?" nyonya Rose segera menghampiri Indah, membuat pelayan itu berlalu.
"Ini ma, Indah tadi kesepian di taman, jadi mau cari angin di taman!"
"Apakah sudah lama?"
"Enggak ma, baru saja."
"Ya udah, itu Bima juga di sini. Kita sebaiknya ngobrol di sini sambil lihat langit malam!"
"Iya ma!"
Nyonya rose segera menggiring Indah mendekati Bima.
"Ndah, aku keluar dulu ya!" Bima terlihat memakai jaketnya dengan penampilan yang lebih casual. Walaupun tidak bertanya, Indah sudah cukup tahu kemana pria itu akan pergi. Sedari tadi ponsel pria yang berstatus suaminya itu terus saja berdering.
"Kemana mas?" Indah yang sudah berada di atas tempat tidur itu kembali bangun.
"Ada pekerjaan sedikit yang harus di selesaikan hari ini!"
"Selarut ini?"
"Hmmm, tidak pa pa kan?"
"Baiklah, terserah mas Bima, tapi boleh tidak Indah pinjam laptopnya?"
"Buat apa?"
"Aku mau mengerjakan tugas sedikit!"
"Laptopnya ada di ruang kerja papa, biar aku ambilkan untukmu!"
__ADS_1
Kebetulan sekali .....
"Tidak usah, biar aku kerjanya di sana nggak pa pa kan?"
"Baiklah, ayo aku antar!"
"Hmmm!"
Indah pun segera mengikuti Bima di belakangnya menuju ke sebuah ruangan yang begitu luas dengan rak buku besar di sisi dindingnya,
"Waw, ini semua buku papa kamu?"
"Hmmm, sebenarnya tidak semua karena buku ini sudah ada sejak dulu!"
"Maksudnya penghuni yang dulu?"
"Hmmm!"
"Baik sekali penghuninya hingga meninggalkan buku sebanyak ini!" gumam Indah sambil melihat-lihat buku yang tengah berjejer rapi di rak dengan daftar yang begitu tertata rapi.
"Ini laptopnya, jika kamu merasa takut di sini, kamu bisa membawanya ke kamar!" Bima sudah mengeluarkan laptop di atas meja dan membantu menghidupkannya.
"Nggak lah kalau takut!"
"Ya udah, aku pergi dulu ya. Nggak usah di tunggu!"
Bima meninggalkan kecupan di kening Indah sebelum benar-benar meninggalkannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1