Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"

Ternyata, "Aku (Bukan) Satu-satunya"
Membeli perlengkapan bayi


__ADS_3

Setelah selesai sholat isya', Bima pun memutuskan untuk pulang. Ia sudah sangat lelah berharap sesampai di rumah ia tidak bertemu dengan Renata dan bisa langsung istirahat karena seperti biasa saat pagi-pagi sekali bahkan sebelum matahari terbit ia sudah harus berada di pasar.


Benar sekali saat ia memarkir mobil pick upnya di depan rumah, rumah sudah terlihat gelap.


"Syukurlah, sepertinya Renata sudah tidur." gumam Bima, ia mengunci mobilnya dan segara mengambil kunci cadangan rumah dari dalam tas kecilnya. Dengan sangat hati-hati ia membuka pintunya, rumah Sudja terlihat sepi. Tv tidak lagi menyala.


Ia mengunci pintunya kembali dengan sangat pelan agar tidak membangunkan wanita itu.


Krukuk


Tiba-tiba saat ia memutuskan untuk langsung ke kamar, perutnya memberi isyarat untuk diisi.


"Astaghfirullah, aku bahkan belum makan sedari siang."


Ia kerap makan di luar dari pada makan di rumahnya sendiri. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur, menyalakan lampu dapur tanpa menyalakan lampu yang lainnya.


Ia tidak menemukan makanan apapun di sana yang bisa di makan,


"Sepertinya istri Dirman tadi tidak sempat memasak!?" gumamnya, karena ia hanya menemukan bahan makanan mentah saja di dalam lemari pendingin.


Beruntung ia menemukan mie instan di atas meja, ia juga masih menemukan telur dan juga sawi di dalam lemari pendingin,


"Buat mie rebus saja!"


Dengan begitu hati-hati ia mulai menuangkan air.ke dalam panci, sambil menunggu airnya mendidih ia memilih duduk dan mengeluarkan buku kecil, buku yang menjadi catatan penjualannya hari ini dan di potong dengan ia membeli hasil panen sore ini.


"Alhamdulillah, masih ada sisa!" gumamnya sambil menghitung untung penjualan hati ini dan memasukkannya ke dalam saku yang lainnya.


Hingga akhirnya air di dalam panci kecil itu mendidih, ia mulai memasukkan mie instan itu lengkap dengan sawi yang sudah di potong dan di cuci, tidak lupa memasukkan sebutir telur dan beberapa cabai yang sengaja ia biarkan utuh.

__ADS_1


Hanya menunggu dua sampai tiga menit dan mie sudah matang, ia menuangkan mie nya ke dalam mangkuk, sambil menunggu mie nya sedikit dingin, ia melanjutkan pekerjaannya.


Menghitung pengeluaran dan juga pemasukan hari ini, memisahkan antara uang modal dan uang untung. Memisahkan antara uang hasil jualan dengan uang modal ladang dan hasil ladang. Mengakumulasikan dengan biaya yang di keluarkan untuk beli pupuk, benih dan menggaji Dirman juga istri Dirman.


"Semua masih ada sisa, memang tidak banyak tapi lumayan. Alhamdulillah!"


Walaupun kecil, tapi ia sangat bersyukur. Apa yang ia dapat hari ini jauh lebih nikmat dari pada apa yang ia dapat dulu meskipun itu banyak.


Akhirnya mie sudah sedikit dingin, ia mulai menyantapnya dan bergegas untuk istirahat setelah membersihkan kembali panci dan mangkuknya.


"Besok kayaknya belum sempat ke bank, lebih baik aku simpan dulu di rumah, nunggu hari Senin saja." gumamnya sambil memegangi kantong plastik yang berisi uang sisa penjualan mobilnya, ia hanya mengambil sedikit untuk membeli perlengkapan bayi besok di pasar dan sisanya sengaja ia simpan karena bank tidak ada yang buka hari Minggu.


Bima pun menyimpan uang itu di laci lemari pakaiannya dan bawah lipatan bajunya, kemudian ia memutuskan untuk benar-benar beristirahat.


Seperti biasa, pagi-pagi sekali Dirman sudah menghampiri rumahnya. Karena malam ini ia bisa tidur nyenyak akhirnya Bima menyempatkan diri untuk sholat tahajud sebelum berangkat ke pasar,


"Iya, malam ini tidur cukup!"


Mereka pun bergegas naik mobil dan pergi ke pasar untuk menjemput Riski.


"Hari ini nggak pa pa ya man kalau pulangnya agak siangan dikit?"


"Mau kemana mas?"


"Aku mau beli peralatan bayi, kan harus nunggu toko buka dulu."


"Nggak pa pa mas, lagian Dirman juag sudah lama nggak liat pasar pas siang-siang, sekalian nanti mau belikan mainan buat Rara, vino dan Dea, mereka pasti senang."


"Syukurlah kalau begitu."

__ADS_1


Seperti yang di rencanakan, walaupun dagangan mereka habis sebelum subuh. Mereka masih tetap di pasar untuk menunggu pasar siang buka. Biasanya akan buka setelah jam delapan.


"Kita cari sarapan dulu aja man, perutkan lapar sekali."


Jika pagi-pagi seperti ini, kedai makanan yang buka hanya bubur, nasi pecel, nasi campur dan rujak.


"Kita sarapan pecel aja ya man?"


"Iya Mas!"


Kedai pecel menjadi pilihannya, walaupun hanya nasi pecel tapi sudah ada beberapa lauk yang tersedia, ada lele, ayam, telur, tempe dan juga tahu.


Mereka pun memilih lele sebagai lauknya, tepat setelah selesai makan dan menghabiskan kopinya beberapa toko mulai buka.


"Nanti bantu aku pilih peralatan bayi ya man, aku nggak tahu apa saja yang harus di beli. Kamu kan sudah berpengalaman."


"Siap mas!"


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk masuk, meskipun baru beberapa yang buka mereka tetap memutuskan untuk berkeliling sambil menunggu toko lain buka dan mencari yang ingin di beli di toko yang sudah buka.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2