
Bima benar-benar tidak menyerah, ia tidak ingin melepaskan kaki Indah, "Dengarkan aku baik-baik. Memang awalnya pernikahan kita hanya soal perjodohan. Benar saat itu aku sama sekali tidak punya perasaan terhadapmu, tapi semakin ke sini aku mulai mencintaimu, bahkan cinta ini jauh lebih besar dari perasaanku pada Renata."
Bima memberi jeda pada ucapannya, melihat Indah yang diam bergeming di tempatnya, Bima pun kembali berdiri. Ia meletakkan kedua tangannya di atas bahu Indah, "Jika kamu pikir pernikahan ini hanya untuk harta, kamu salah. Jika kamu mau semuanya kembali padamu, aku akan bantu. Aku juga mau semuanya kembali padamu, tapi bukan sekarang. Beri aku waktu, ini tidak semudah seperti yang kamu pikir!"
"Aku bisa melakukan sendiri, meski itu tanpa mas Bima! Jadi untuk sekarang, biarkan aku pergi!" Indah mengibaskan kedua tangan Bima dan akhirnya benar-benar berlalu meninggalkan Bima.
"Indah!"
Teriakan Bima kembali membuat langkah Indah terhenti tepat di depan pintu, bahkan tangan Indah kini sudah memegang handle pintu,
"Kejujuran, kesetiaan, dan cinta tidak bisa di pisah-pisah. Jika satu saja tidak terpenuhi maka buat apa kita pertahankan hubungan ini? Aku pergi mas, cukup aku yang pergi!"
"Tidak! Jika pun ada yang pergi, maka aku yang akan pergi. Tetaplah di sini!" ucap Bima, ia segera menyambar jas yang ia letakkan begitu saja di atas sofa,
Menarik tangan Indah yang berada di handle pintu, "Tetaplah di sini, jika kamu mau semuanya kembali. Aku akan membantumu!" ucap Bima kemudian berlalu meninggalkan apartemen itu, meninggalkan Indah yang terpaku di tempatnya.
Indah tidak percaya dengan yang baru ia rasakan. Bima yang begitu ia benci nyatanya masih peduli padanya, ia bahkan tidak membiarkannya pergi di tengah malam.
"Apa aku salah?" gumamnya sambil menjatuhkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya di daun pintu.
Bima sudah keluar, ia bahkan tidak membawa apapun selain yang ia kenakan saat ini. Ia tidak mungkin kembali ke rumah orang tuanya, tapi untuk tinggal di rumah Renata juga tidak mungkin. Ia tidak mau membuat Indah semakin marah padanya.
Bima pun mengambil mobilnya, ia memilih kembali ke kantor, setidaknya di sana ia bisa tidur nyenyak sampai besok pagi.
Renata yang baru saja pulang dari rumah sakit, ia harus menelan kecewa saat Bima menolak untuk menemaninya, Bima lebih memilih untuk menemui Indah.
Tapi yang tidak di ketahui Renata, Bima ternyata mendapat telpon dari Dio, asisten pribadinya. Ia memberi tahu jika Indah tengah berkunjung ke pengacara Hadi. Saat itu Bima langsung tahu jika Indah sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
Mang seharusnya ia tidak membuang waktu, tapi keadaannya belum memungkinkan baginya untuk bertindak terlalu banyak.
"Apa perlu saya temani tuan di sini?" tanya Dio yang mengetahui Bima tidur di kantor.
"Tidak perlu, cukup besok bawakan baju ganti untukku!"
"Baik tuan! Tapi bukankah lebih baik tuan tinggal sementara di rumah nona Renata?"
"Aku tidak mau membuat Indah semakin kecewa padaku. Pergilah, aku sedang ingin sendiri!"
"Baik, tuan."
Akhirnya Dio benar-benar meninggalkan Bima sendiri.
...***...
Walaupun ini untuk pertama kalinya, ia berharap keputusan yang akan ia ambil adalah yang terbaik.
Setelah selesai urusannya di kantor pengadilan agama, Indah tidak mau buang waktu untuk main-main. Ia bergegas ke kampus, ia harus jadi Indah yang sebar bisa dan tidak bergantung pada siapapun.
"Ndah, serius amat?" tanya Aya yang sedari tadi memperhatikan temannya itu. Hari ini Indah terlihat beda, ia terlihat lebih serius belajar.
"Aku harus serius Aya, aku harus memiliki kemampuan yang sepadan dengan mas Bima!"
"Siapa mas Bima?" Aya yang memang belum tahu soal pernikahan Indah begitu penasaran dengan sosok Bima.
"Suami aku!"
__ADS_1
"Hahhh, apa? Sua_!" dengan cepat Indah membekap mulut Aya. Ia benar-benar tidak percaya jika Indah bahkan sudah menikah.
"Bisa pelankan suaramu kan?"
"Iya, maaf, maaf. Jelaskan semuanya padaku!"
Indah pun akhirnya mulai menceritakan semuanya mulai dari pernikahannya hingga kebohongan yang di buat suaminya.
"Jadi, sepupu itu_?"
"Iya, dia mas Bima. Suami aku!"
"Ribet banget sih hidup Lo Ndah!"
"Aku juga tidak tahu!"
Perkuliahan berakhir, Indah seakan enggan meninggalkan kampus lebih cepat. Di rumah tidak ada siapapun, ia juga tidak mungkin pergi kursus memasak karena memang ia masih malas untuk bertemu dengan chef Bram.
Akhirnya kafe depan kampus menjadi tujuannya, sebenarnya ingin mengajak Aya. Tapi ternyata Aya sedang ada urusan lain, terpaksa Indah pun duduk sendiri di sana. Bukan hal yang buruk karena memang ia sedang ingin sendiri.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...