
"Nona, apa anda tidak ingin pulang?" pertanyaan seseorang yang selalu saja memeriksa ruangannya sebelum benar-benar meninggalkan kantor selalu menjadi alarm wajib bagi Indah.
Indah menatapnya jengah, tapi sepertinya pria itu tidak peduli, ia lebih peduli dengan kesehatan Indah.
"Sudah jam sepuluh malam, jadi jika nona tidak meninggalkan ruangan ini saya akan menggendong nona sampai mobil!"
"Dio, bisa tidak sih tidak usah mengatur urusanku!?" Indah benar-benar kesal.
Tapi sepertinya pria berada Dio itu tidak peduli, ia berjalan dengan langkah pasti ya menghampiri Indah.
"Ehhh mau ngapain?"
"Melakukan tugas saya!" ucap Dio. Dan dalam waktu singkat tubuh Indah sudah beralih ke dalam gendongannya.
Bug bug bug
"Lepaskan, aku mau jalan sendiri!" ucap Indah sepanjang perjalanan menuju ke pintu lift sambil terus memukul dada Dio, tapi pria dengan wajah dingin dan tegas itu sama sekali bergeming. Ia menatap pintu lift menunggu hingga pintu itu terbuka.
__ADS_1
"Dasar keras kepala!" keluh Indah, tapi percuma karena sekeras apapun ia meronta pria itu tidak akan semudah itu melepaskannya.
Hingga pintu lift terbuka dan lift pun membawa mereka ke lantai bawah. Seseorang sudah menyiapkan mobil untuk mereka.
"Silahkan tuan!" ucap seseorang sambil membukakan pintu mobil untuk Dio dan Indah. Dio pun segera memasukkan Indah ke dalam mobil.
"Terimakasih!" ucapnya sambil mengambil kunci mobil dari pria itu dan berlari mengitari mobil, masuk melalui pintu yang lainnya.
Setelah masuk, ia pun menghidupkan mesin mobil. Tapi saat memperhatikan kursi samping, ia pun terdengar menghela nafas. Dengan cepat tangannya terulur membuat Indah terkejut di buatnya karena kini posisi tubuh pria itu tepat berada di depan tubuhnya.
Setelah memastikan semua siap, ia pun melajukan mobilnya. Mengantar Indah pulang memastikan jika Indah selamat sampai di rumah.
"Kenapa masih mengikutiku?" tanya Indah saat Dio masih berjalan di belakangnya, membuat Indah menghentikan langkahnya dan menoleh pada Dio.
Dio tidak menjawab pertanyaan Indah, ia lebih memilih berlalu meninggalkan. Indah dan berjalan menuju ke kamar Indah.
"Sebenarnya siapa sih yang bos di sini? Kenapa dia yang selalu memerintahkan?" gerutu Indah sambil menatap punggung tetap itu.
__ADS_1
Setelah berada di tengah tangan, Dio tiba-tiba berhenti dan menatap Indah yang masih berdiri di tempatnya,
"Apa nona akan berdiri di situ semalaman?" itu pertanyaan, atau semacam ancaman. Dan hal itu berhasil membuat Indah menurut pada pria itu, walaupun kesal tapi Indah tetap mengikuti perintah Dio.
"Bagaimana? Apa semuanya sudah siap?" tanya Dio pada asisten rumah tangga yang sudah menyambut kedatangan mereka tepat di depan pintu kamar Indah.
"Semua sudah siap tuan, air hangat dan baju ganti untuk nona Indah!"
"Baiklah, pastikan nona Indah mandi dengan benar dan segera beristirahat, saya di ruang tengah. Saya akan pulang setelah memastikan nona Indah istirahat!"
Ishtttt, dia benar-benar sudah seperti bodyguard saja ..
batin Indah kesal. Ia pun terpaksa masuk ke dalam kamar dan melakukan seperti perintah Dio jika ingin Dio cepat pergi dari rumahnya.
Sebenarnya tenaganya terbuat dari apa sih, dia mau kerja sampai jam berapa?" keluh Indah dalam hati. Kadang ia merasa heran dengan asisten pribadinya itu. Bahkan jika ia membutuhkan Dio di pagi buta, jam dua malam atau jam empat pagi, dengan cepat pria itu akan datang.
Begitulah setiap hari kehidupan Indah dan Dio. Seperti yang di perintahkan kuasa hukum Indah, Dio benar-benar menjaga Indah dengan baik.
__ADS_1